Senin, 19 Desember 2011

Inner Beauty

                                                          
 Lontaran kata, hujaman rasa melantun jenuh seiring irama dengus napas dan tatap nyala berkobar dibola matamu yang sembab lembab membasah

aku hanya bisa memposisikan diri untuk duduk bersahaja, hanya menangkap rasa tanpa sejengkalpun berniat untuk berjingkat berkelebat

kuusahankan tidak hendak menangkap jilatan api  matanya, kuhindari disaat ini, saat api itu melekat erat  di garangmu dan kau tergerus rasa hingga melelehkankan  kekesalan

kenapa tidak memberi semampu kau dapat curahkan,  kucoba bertanya menyentuh langsung sisa jilatannya yang kini sudah semakin mengerdil

sampai saat inipun bapakmu masih sedang belajar memberi,  memberi itu berada diatas,  memohon selalu memposisikan diri dibawah

berusaha Memberi  itu berkeinginan untuk menjadi kaya, kaya harta, kaya jiwa dan kenapa tidak,  menjadi kaya hati

memberi itu tidak selamanya materi, kulirik sejenak kau sudah terduduk  menunduk dan kuambil kesempatan ini untuk meyiram baranya hingga lenyap, senyap  dan dingin melingkupi hatimu

memberi  itu bisa nasihat  juga senyum ataupun  do’a  sekalipun, serta sikap keluasan hati untuk ikhlas mendulang amal

memberi itu belajar menjadi kaya sekaligus menjadi kuat ketika segala keikhlasan amal  hanya bersandar kepada Nya

maksudku, jika ada yang memberi kenapa tidak kau terima selama tidak ada sesuatu dibaliknya,  sebagai mana juga nama Nya, sebagai Pemberi  Nikmat, kenapa tidak kau ambil berkahnya 

meminta dan memohon  kemurahan sesama itu sumpek, miskin dan selalu tampak tidak berdaya walaupun nyatanya kita memang  tidak berkecukupan

tampak kau mulai bisa merapatkan kelopak matamu menjelang  pulas dikursimu  yang akhir-akhir ini jarang menghampiri sampai selarut malam memanggil-manggil nyenyakmu

pergilah tidur sehat ditempat istirahatmu hingga esok subuh,  ketika seberkas sinar  mulai tampak diupuk timur, setelah wajahmu tersiram air sejuk dan hanya kepadaNya kau merunduk bersujud memohon, kau kembali menjadi bugar, tenang  dan jernih hatimu akan memancar kuat diaura mu

Dan suatu saat nanti jikapun kau hanya disebut sebagai mantan, dan nyatanya kau mungkin  telah sibuk dengan ladang amal baru dipelukanmu, kau akan dikenang sebagai embun  jernih pelepas  dahaga  bukan sebagai sosok pengobar amarah membahana.

       Sumber gambar: innocence

Alibukbrax

Kamis, 15 Desember 2011

Berpikir dan kerjakan

Entri Baru


Persoalan hidup itu rumit, katamu masih dalam selimut pikir menempel di sudut gerakmu, persoalan itu datang dan pergi layaknya lapar yang selalu muncul ketika berpikir tentang makanan, ketika berhenti terselasaikan tuntas kemudian muncul lapar berikutnya.

Aku masih berangan-angan dengan kebebasan, sementara kau tetap bergumul dengan penyelesaian masalah, itulah hidup katamu acuh tak acuh, keningnya tetap menguncup, think…think and action, makin terbiasa semakin mengasikkan tak pernah mencengkeram jiwamu tetapi menjadi tantangan yang memperindah gairah hidup, gumannya seolah berkata-kata pada dirinya sendiri, sementara aku didaulat harus keeps your action and don’t do to thinks.

Malam buta ketika sunyi menyelimutiku, dalam nina bobok yang melenakan, aku ingin berjalan-jalan menemui diriku sendiri, mengitari sekujur tubuh tak berdaya, membujur fana dibuai irama helaan dan hembusan nafas yang naik kemudian turun teratur.


Ternyata aku adalah sebuah partikel kompleks yang pada saat tertentu diatur oleh penguasaan akalku dan pada saat yang lain dikalahkan oleh nafsu, sesuatu yang dianggap layak dikerjakan karena memang itu yang kuinginkan dan sesuatu dinilai jelek karena beranggapan itu buruk bagiku

Padahal kebebabasanku dibatasi oleh kebebasan orang lain oleh lingkungan disekitarku. Bahwa dalam alam fana ini sesungguhnya ada kekuatan Dzat yang maha agung yang akan menanyakan dan meminta pertanggung jawaban semua perbuatan di akhir hidup nanti, bahwa di dunia ini ada kekuatan yang tidak kita ketahui, yang tidak memiliki keterbatasan dengan setiap perbuatan kita, baik yang khusus maupun yang umum.

Aku tersadar di dini hari yang basah dan mendapati kau tengah rileks bercengkerama mengadu kepadaNya


Cianjur, Alibukbrax

Jumat, 09 Desember 2011

Makna Bentuk Dasar dalam Ungkapan dan Peribahasa Sunda

Entri Baru

Aku menyukai  bulat, bulat itu seksi  menurutku, maksudku bukan telanjang bulat yang dapat membuat  mata orang melotot kemudian seperti tersihir, tetapi yang dimaksud adalah bentuk  geometris bulat dan turunannya, baik itu strukturnya  tampak rapuh, tipis atau masiv padat yang jelas memang bentuk bulat itu sudah banyak ditemui didiri kita masing-masing maupun disekeliling  kita. Aku Baru tau  setelah menonton banyolan extra paganza bahwa ternyata  ada bentuk bulat yang hanya  terdapat pada cowok saja, tidak dimiliki oleh cewek,,,, nah loooo…apakah itu….hahaha …pasti semua sudah pada tau jawabannya,  apakah itu…? (bukan horror lhoo)

Youps  benar, jawabannya memang rada-rada mbanyol menurut versi mereka yaitu  : hurup “O” ( cow(o)k dibanding Cewek )

Sejak jaman dahulu kala manusia belum mengetahui bahwa bumi ini bulat, berbagai pemahaman kala itu beranggapan bahwa bumi yang kita pijak ini datar-datar  saja, sehingga pada suatu tempat nun jauh disana, bumi akan menemui ujungnya, bumi  akan mencapai  batas terakhir wilayahnya dan  keadaan seterusnya entah berupa apa, sehingga  kealam mana ketika manusia melewati batas tersebut. Namun berdasarkan berbagai pengalaman pandangan mata ketika memperhatikan kapal  menuju pantai yang terlihat pertama kali adalah tiangnya kemudian buritannya, tidak ujug-ujug Nampak semuanya. Berbagai penelitian sedikit demi  sedikit membuktikan bahwa bumi berbentuk bulat sehingga tidak mempunyai batas akhir hanya berbatas wilayah, apalagi ketika manusia sudah dapat pergi keluar angkasa dan melihat bentuk bumi  yang sebenarnya atau dari kejauhan sana  satelit dan pesawat luar angkasa mengirimkan photo-photo bentuk bumi  yang memang benar- benar  bulat.

Bentuk geometris merupakan symbol
Bentuk-bentuk geometris  dapat merupakan symbol yang membawa nilai emosional  tertentu, hal tersebut memang bisa dipahami mengingat bentuk atau rupa dapat mempunyai muatan kesan kasat mata, seperti yang diungkapkan Plato, bahwa rupa atau bentuk merupakan bahasa dunia yang tidak dirintangi oleh perbedaan-perbedaan seperti terdapat dalam bahasa kata-kata. Namun teori Plato tersebut tidak harus  berlaku sebagai mana mestinya. Ada aspek lain yang mengakibatkan bahasa bentuk tidak selalu efektif, seperti penerapan bentuk-bentuk internasional dengan target sasaran tradisional atau sebaliknya. Dengan kata lain, bila target sasaran terbiasa dengan bahasa kasat mata tradisional, pergunakan bahasa kasat mata internasional demikian pula sebaliknya. Hal tersebut dapat di pahami kenapa Negara lain tidak memilih dan  menggunakan  bentuk “keris” sebagai lambang negaranya, maupun sebagai elemen penunjang logo Negara tersebut.

Makna Bentuk Dasar dalam Ungkapan dan Peribahasa Sunda
Jamaludin dalam karya tulisnya“ Konsep Estetika dalam budaya rupa Sunda sebagai kajian awal, menyatakan bahwa :
Dalam khasanah seni rupa, desain dan arsitektur serta matematika dikenal tiga bentuk dasar yaitu segi empat bujursangkar, lingkaran dan segitiga. Ketiga bentuk dasar ini ditemukan dalam babasan (ungkapan) dan paribasa (peribahasa) Sunda.

A. Segi Empat
Bentuk segi empat bujur sangkar terdapat dalam ungkapan “Hirup kudu masagi”. Ungkapan yang berisi petuah yang artinya hidup harus serba bisa. Bentuk lain, ”jelema masagi” (Natawisastra,1979:14, Hidayat, 2005:219) artinya orang yang memiliki banyak kemampuan dan tidak ada kekurangan. Masagi berasal dari kata pasagi (persegi) yang artinya menyerupai (bentuk) persegi.
Ciri bujursangkar adalah keempat sisinya berukuran sama. Kesamaan ukuran empat bidang pada bentuk bujursangkar ini diibaratkan berbagai aspek dalam bentuk tindakan atau perbuatan di dalam kehidupan yang harus sama dalam kualitas dan kuantitasnya. Umumnya ungkapan ini dipahami sebagai perlambang untuk hidup serba bisa sehingga tercipta kesempurnaan perbuatan atau perilaku dalam hidup. Pengertian serba bisa atau serba dilakukan dalam arti positif dengan penekanan utama mengarah pada dua aspek pokok kehidupan manusia, yaitu kehidupan duniawi (bekerja, hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan alam) dan kehidupan di akhirat nanti (hubungan manusia dengan Tuhan).  Bentuk segi empat bujur sangkar secara absolut tidak terdapat di alam. Dengan kata lain, bentuk ini adalah ciptaan imajinasi manusia hasil abstraksi dari rupa yang ada di alam. Bentuk segi empat lainnya, seperti empat persegi panjang adalah turunan dari bentuk bujur sangkar ini.

B. Lingkaran
Bentuk lingkaran terdapat dalam ungkapan “Niat kudu buleud” (niat harus bulat). Niat berkaitan dengan persoalan keteguhan sikap, keyakinan serta kepercayaan yang pada ujungnya bermuara pada masalah keimanan atau spiritual. Bentuk bulat dibuat dari garis melingkar dengan ujung saling bertemu, dengan jari-jari dari titik pusat ke setiap sisi berukuran sama. Bila mengacu pada bentuk-bentuk yang ada di alam tampak bahwa lingkaran terdapat pada berbagai objek seperti bulan dan matahari di angkasa, berbagai bentuk bunga-seperti bunga teratai dan beberapa jenis daun memiliki bentuk dasar lingkaran atau bulat. Bentuk lingkaran mempunyai keunikan yang tidak dimiliki bentuk dasar lain, seperti riak di permukaan air. Bila permukaan air tersebut terganggu seperti karena suatu objek jatuh pada permukaan air tersebut, di sekitar objek, karena pengaruh gravitasi, air bereaksi dengan membentuk lingkaran yang bergerak membesar mengitari objek.

Di luar budaya Sunda, bentuk lingkaran dalam konteks yang lebih luas, telah banyak dipakai sebagai penanda bagi makna spiritual dalam berbagai wilayah seperti seni, agama dan ideologi. Misalnya dalam tradisi seni lukis Kristen/Katolik, untuk memberi tanda suci pada objek manusia, biasanya diberi lingkaran putih di sekitar kepala (halo). Sementara dalam wilayah agama Islam, meski tidak ada aturan formal mengenai lambang, bentuk bulan dalam bentuk yang mudah dikenali yaitu bulan sabit, umumnya dipahami sebagai  lambang islami. Contoh yang umum adalah sebagai tanda tempat ibadah muslim seperti yang terdapat pada puncak menara atau atap masjid. Sebagian lambang tersebut dilengkapi dengan simbol bintang segi lima.

C. Segi tiga
Bentuk segi tiga terdapat dalam ungkapan “bale nyungcung”dan Buana Nyuncung (tempat para dewa dan hyang dalam kosmologi masyarakat Kanekes). Bale Nyungcung adalah sebutan lain untuk tempat atau bangunan suci, yang dalam Islam adalah masjid. Kalimat ka bale nyungcung dalam percakapan sehari-hari maksudnya melangsungkan akad nikah, yang jaman dahulu umumnya dilakukan di masjid. Bale nyungcung menunjuk pada model atap masjid jaman dulu yang menggunakan ‘model gunungan’ atau ‘meru’ bertumpuk tiga dengan puncak berbentuk atap limas yang disusun dari empat bentuk segitiga. Bentuk yang juga dapat ditemui pada atap pura di Bali dan bangunan model tropis. Bentuk segitiga dalam posisi normal, salah satu ujungnya berada di bagian atas, menjadi bagian puncak sehingga memiliki arah orientasi yaitu ke atas (langit).
Mengacu pada alam, bentuk nyungcung adalah bentuk umum gunung. Gunung berperan penting dalam perjalanan sejarah Sunda khususnya karena berbagai situs megalitikum dan makam keramat umumnya terdapat di gunung (Wessing :2006). Wessing lebih jauh mengungkapkan penelitian Hidding (1933 dan 1935) bahwa pegunungan adalah perbatasan antara hunian manusia (settled area) dan wilayah asing tempat kehidupan manusia berakhir dan kehidupan lain mulai. Misalnya situs Gunung Padang di Cianjur dan Ciwidey, Astana Gede Kawali dan Arca Domas di gunung Kendeng desa Kanekes (Baduy).

Menurut Fadillah (2001) sejumlah keramat, terutama dalam bentuk makam, meskipun tidak berada di puncak gunung tetapi merupakan representasi gunung atau dibayangkan sebagai gunung. Fadillah menggunakan contoh makam Syarif Hidayatullah di sebuah bukit bernama Sembung di Cirebon,  masyarakat menyebutnya Sunan Gunung Jati. Menurut Claire Holt (1967:55) puncak puncak gunung di Indonesia dipercaya secara luas sebagai tempat tinggal para dewa dan roh-roh  leluhur. Juga gunung-gunung berapi dianggap memiliki kehidupan serta roh mereka sendiri, dipuja dan dihormati. Gunung dianggap sebagai jembatan dunia atas dan bawah, oleh karenanya tempat-tempat pemujaan didirikan di tempat yang tinggi atau dibuat meniru bentuk gunung (gunungan) seperti punden berundak dan candi serta piramid sebagai jembatan transendental antara dunia atas dan dunia bawah (Dharsono, 2007: 133). Dalam pandangan Hindu-Budha, gunung dianggap berperan dalam menstabilkan jagat raya (univers), menyangga langit dan bumi, menetralkan kekuatan jahat,  kekacauan, ketidakstabilan dan ketidakteraturan. Gunung adalah lambang kekuasaan tertinggi dan sebagai  pengikat jagat raya (Snodgrass, 1985:187).

Pengertian atau makna simbolik lainnya mengenai segitigadituturkan Ajip Rosidi[4], yaitu bahwa bentuk segitiga (dalam bahasa Sunda disebut jurutilu) juga dipakai sebagai simbol vagina atau yoni, tempat bagi kelahiran manusia.  Tampaknya simbol itu dalam bentuk segitiga terbalik atau salah satu sudut terletak di bawah. Dengan demikian segi tiga mengandung makna sebagai tempat suci bagi transformasi kehidupan. Segi tiga dengan satu sudut di atas melambangkan tempat suci bagi transformasi ke alam lain melalui kematian sedang segi tiga dengan satu sudut di bawah melambangkan tempat suci bagi transformasi dari alam rahim ke alam dunia melalui kelahiran.

Dari makna bentuk dasar dalam ungkapan dan peribahasa di atas tampak bahwa masing-masing bentuk dasar dalam khasanah estetika dalam budaya Sunda dipakai sebagai lambang yang memiliki makna yang sama yaitu kesempurnaan. Bentuk yang berbeda menunjuk pada wilayah kesempurnaan yang berbeda. Persegi menunjuk pada perilaku yang seimbang dalam berbagai sisi kehidupan sehingga menciptakan manusia yang sempurna, bulat/lingkaran sebagai simbol ideologis, melambangkan kesempurnaan keimanan atau keyakinan dan segitiga menunjuk pada tempat yang sempurna atau suci sebagai media transformasi kesempurnaan siklus hidup.

Yang menjadi pertanyaan dibenak saya adalah bentuk apa yang dominan di gunakan oleh manusia pada umumnya di jaman modern sekarang ini :
Kenapa ragam bentuk isi dalam Rumah didominasi oleh bentuk segi empat…?
Sehingga, karena bentuk rumah pada umumnya didominasi bidang segi empat maka segala bentuk property,  perabotan manufaktur rumah yang membutuhkan ruang pada umumnya menggunakan bentuk geometris segi empat.

Jawaban simple saja, memang karena perabotan rumah tersebut menyesuaikan dengan bentuk ruang dalam rumah sehingga diharapkan penempatannya menjadi efisien dan efektif. Tidak percaya silahkan data bentuk-bentuk property perabotan rumah anda…

Penyembelihan sapi dengan di awali tindak Pemingsanan, Halal kah…?

Entri Baru

Beberapa bulan yang lalu ( awal Juni 2011) ekspor sapi dari Australia ke Indonesia dihentikan sementara ( berlaku 6 bulan ) akibat ditemukan adanya proses penyiksaan dengan kejam terhadap sapi yang berasal dari Australia sebelum dipotong di beberapa Rumah Potong Hewan ( RPH ) di Indonesia. Kejadian tersebut yang terekam dalam video kemudian tersebar melalui Youtube memancing reaksi protes dari LSM penyayang binatang di Australia. Perlakuan tersebut dianggap tidak sesuai dengan standard World Organisation for Animal Health (OIE), terutama masalah Animal wellfare ( kesejahteraan hewan). Penghentian sementara Export dari Australia tersebut tidak berlangsung lama karena dipandang merugikan kedua belah pihak.
Pencabutan larangan ekport sapi dari Autralia resmi ditetapkan oleh pemerintah Australia Kamis (7/7-2011) setelah kunjungan Menteri Luar Negeri Australia Kevin Rudd ke Jakarta, Jum’at 98/7-2011 dan bertemu dengan beberapa pejabat yang berkepentingan dengan proses ekport import ternak.
Pasca dicabutnya larangan sementara eksport sapi asal Australia tersebut dipandang oleh berbagai pihak perlu diadakannya Audit Independent terhadap Rumah Potong Hewan (RPH) di Indonesia yang biasa melaksanakan pemotongan sapi asal Australia tersebut agar tidak ada lagi perlakuan penyiksaan sehingga bertentangan dengan kaidah kesejahteraan hewan sesuai standar OIE.
( http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2011/07/11/menyikapi-dicabutnya-larangan-eksport-sapi-dari-australia/ )

Pengertian kesejahteraan hewan yang termaktub diatas meliputi bebas dari rasa haus dan lapar, bebas dari ketidak nyamanan, bebas dari rasa sakit / kesakitan / penyakit, bebas mengekspresikan tingkah laku alaminya dan bebas dari rasa takut dan stress.

Komponen Pelaksanaan audit Rumah Pemotongan Hewan sejalan dengan standar prosedur kerja di RPH sesuai standar OIE, mulai dari:
1.Penerimaan dan penangannan sapi di RPH
2. Pemotongan Sapi
3. Kondisi dan perawatan fasilitas RPH

Berkenaan dengan standar prosedur kerja tersebut diatas, pihak Australia berkerja sama dengan importir, feed lot (perusahaan atau lembaga pengirim sapi hidup ke RPH) yang berkoordinasi dengan lembaga pemerintah Indonesia mulai dari pusat sampai ke daerah berupaya memberikan bantuan fisik terhadap beberapa RPH ditunjuk yang kondisinya tidak sesuai standard.

Perlu digaris bawahi dari ke tiga prosedur kerja tersebut yang erat kaitannya dengan permasalah penting dengan tidak mengesampingkan aspek lainnya tetapi semata memperhatikan prosedur yang dipandang erat kaitannya dengan kesejahteraan hewan dan Ke halal an adalah poin 2 yaitu Pemotongan sapi di RPH.
Prosedur pemotongan hewan sesuai standar dimulai sejak persiapan sapi yang akan dipotong, penggiringan sapi ke tempat pemotongan sampai proses pemotongan sapi.

Beberapa istilah penting berkenaan dengan proses pemotongan sapi sesuai strandar OIE diantaranya
1. Restraining box : Tempat khusus untuk pemotongan sapi
2. Cash magnum stunner : Alat berpeluru untuk memingsankan sapi
3. Micro chip : komponen yang ditanam dalam tubuh sapi biasanya disekitar telinga yang menyimpan identitas sapi
4. Scanner : Alat pembaca nomor identitas sapi / barcode 

Pemingsanan sebelum sapi dipotong dalam restraining box dilakukan dengan menggunakan Cash magnum stunner, bertujuan untuk memudahkan dalam proses pemotongan. Perlakuan pemingsanan tersebut dianggap lebih “berperikehewanan” sesuai kaidah kesejahteraan hewan dibanding pemotongan dalam keadaan sadar.

Pemotongan melalui proses dipingsankan
Setelah proses stunning (pemingsanan), sapi kemudian ambruk dan tidak bergerak lagi, dengan demikian proses pemotongan akan lebih mudah dilaksanakan karena kondisi sapi dalam keadaan tidak sadar, sehingga praktis tidak meronta dan tampaknya tidak merasakan sakit.
(http://duniasapi.com/id/pasca-produksi-potong/2337-metode-pemingsanan-pada-proses-penyembelihan-ternak-sapi.html)

Ada beberapa tanda ketika proses penyembelihan sapi dengan proses stunning (pemingsanan)
Tampak sapi tidak merasakan sakitnya proses penyembelihan, namun menurut penelitian dua akhli bidang peternakan dari Hannover University, Jerman. Prof Schultz dan Hazim membandingkan perlakuan pemotongan sapi antara metode pemingsanan dan dalam kondisi sadar. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemotongan dalam kondisi sadar, proses pengeluaran darah segera setelah proses pemotongan lebih cepat, lebih deras dan lebih lancar dibanding pemotongan dengan proses pemingsanan yang menunjukan gejala lebih lambat.

1. Ternyata dengan menggunakan metode pemingsanan yang terekam Electro Cardiograph (ECG) untuk merekam aktivitas jantung saat darah keluar dan Electro-Encephalograph (EEG) microchip di permukaan otak sapi untuk mencatat derajat rasa sakit ketika disembelih, ternyata lebih merasakan tekanan rasa sakit dibanding dengan pemotongan secara sadar
2. Dengan adanya proses pengeluaran darah yang tidak sempurna mengakibatkan darah yang masih tersisa dan tertinggal dalam pembuluh darah dan daging akan membeku sehingga menjadi media yang baik untuk tumbuh kembangnya bakteri pembusuk, sehingga daging yang dihasilkan menjadi tidak sehat (unhealthy meat) dan tidak layak untuk dikonsumsi.
Hasil penelitian Prof Shultz dan Dr. Hazim membuktikan bahwa pisau tajam yang mengiris leher sapi ternyata tidaklah menyentuh saraf rasa sakit, oleh karenanya kedua peneliti tersebut menyimpulkan bahwa sapi meronta-ronta dan menegangkan otot bukanlah sebagai ekspresi rasa sakit, melainkan sebagai ekspresi keterkejutan otot dan saraf saja yaitu pada saat darah mengalir keluar dengan deras. Menurut beliau, hal ini dapat dijelaskan dari paparan grafik EEG yang membuktikan tidak menunjukan adanya rasa sakit. (http://enggar-fst05.web.unair.ac.id/artikel_detail-34989.html)

Penyembelihan dengan cara Stunning (pemingsanan)
Seiring dengan perkembangan teknologi diiringi tuntutan kemudahan dan kampanye isu kesejahteraan hewan yang gencar dilakukan di Negara-negara barat menunjukan munculnya beragam metode pemotongan (penyembelihan) hewan secara modern, termasuk tata cara pemotongan (penyembelihan ) dengan metode Stunning (pemingsanan). Hal ini memancing perhatian khalayak terutama yang peduli dengan produk daging halal, diperlukan jawaban yang menetramkan batin umat islam ketika sering di pertanyakan oleh umat, halalkah daging sapi dari ternak yang di sembelih melalui proses pemingsanan terlebih dahulu tersebut…?
Terdapat beberapa titik kritis jika menyimak tata cara pemotongan hewan dengan terlebih dahulu dilakukan proses pemingsanan, timbul keraguan, apakah dengan metode pemingsanan tersebut hewan yang akan dipotong memang dalam kondisi pingsan atau malah mati akibat tekanan dahsyat setelah ditembak dengan Cash magnum stunner dikepala. Sebab beberapa kemungkinan seperti ketidak sesuaian jenis peluru yang terlalu besar dibandingkan dengan keadaan hewan (besar dan umur sapi ) berpeluang untuk terjadinya kematian sebelum dipotong menjadi lebih besar.

Berdasarkan beberapa pendapat ulama dan menurut MUI, bahwa ternak yang dipotong segera setelah proses pemingsanan dinyatakan dibolehkan sepanjang ada jaminan bahwa hewan yang mengalami pemingsanan tersebut tidak mati sebelum disembelih, dalam artian sapi yang tersebut mati setelah proses pemotongan (penyembelihan) bukan disebabkan karena tekanan akibat penembakan di sekitar kepala ketika proses pemingsanan berlangsung. Jaminan ini yang harus diperhatikan dan menjadi tanggung jawab dari pengelola Rumah Potong Hewan, eksekutor pemingsanan dan pemilik ternak untuk tujuan menghasilkan daging sapi yang halal.
Selanjutnya para Ulama menyatakan bahwa penyembelihan hewan yang akan dikonsumsi, terlebih jika pemotongan tersebut ditujukan untuk ber kurban sebaiknya menghindari hal-hal yang meragukan dengan demikian harus benar-benar sesuai dengan syariat, jangan sampai niat berkurban menjadi haram karena proses penyembelihan yang tidak tepat.

Kesimpulan :
1. Bahwa pemotongan hewan besar khususnya untuk ternak sapi eks Australia yang dipotong dengan menggunakan metode pemingsanan perlu dicermati dan diantisifasi ketika kemungkinan terjadi kesalahan fatal yang mengakibatkan sapi tersebut mati sebelum dipotong, kemudian dinyatakan tidak halal dan di haruskan untuk dimusnahkan, siapa yang akan menanggung kerugian seharga sapi tersebut, jangan sampai kejadian tersebut mebuat celah tindak pelanggaran pemotongan dan penjualan daging sapi tidak sesuai syar’i.

2. Proses pemotongan yang yang terlebih dahulu dilakukan pemingsanan berdasarkan penelitian tersebut di atas tidak menjamin menghasilkan kualitas daging sapi yang Halal, Aman, Sehat dan Utuh (HAUS).

3. Sebaiknya digunakan alternative pemotongan lain yang tidak melakukan terlebih dahulu pemingsanan dan lebih mensejahterakan hewan disamping tetap memperhatikan status halal, seperti modifikasi Restraining box menggunakan hidrolik yang berpungsi memutar tubuh sapi yang tidak berdaya sehingga rebah untuk kemudian dapat dilakukan pemotongan biasa (tanpa pemingsanan) secara aman.

4. Jika tetap menggunakan proses pemingsanan maka operator eksekutor pemingsanan harus benar-benar terlatih dan dijamin tidak adanya kesalahan sampai sapi tersebut benar-benar pingsan untuk selanjutnya dilakukan proses penyembelihan.