Selasa, 27 Agustus 2013

Puisi Bulan Perpisahan






Penyulam Jirah Selimut Malam


pada sebuah lamat-lamat alunan suara was-was
dihitungnya bunyi derit dan lirih meringkih ketika malam tak kuat menahan gigil
dikiranya itu selingan saja ketika desis berubah menjadi derak, menyalak, sebelum pecah bunga gelap langit menghiasi malam
denting-denting warna bertaburan mencemburui bintang gemintang, merangkai jenjang senyap, kemudian lagi, satu lagi, kemudian lagi, satu lagi, bertubi-tubi memekakkan sanggurdi takbir, tahmid dan tahlil
suara lamat-lamat semakin tenggelam
sekelumit embun tak kuasa melumat gemerlap gemeretuk tubuh malam, ia terus saja menyulam luka di jirahnya mempersiapkan pekik pagi kemenangan
ramai sudah, selepas rengkuh dibibir syawal ratusan ribu berjalan-jalan hilir mudik tampa sempat melirik, menghambur, bersolek bersama lembaran-lembaran
kemenangan entah kapan dapat diraih, tak pernah dapat dihitung sejak kapan dimulai apalagi diakhiri
anak-anak penyulam jirah selimut malam masih berderak menyusur jalanan masa




Aku ingin



Aku ingin tersungkur pada bilur-bilur subuh yang pernah singgah disebuah waktu yang rela memutar mundur jarum jam dalam birama yang teratur

Kulihat sebuah senyap yang hinggap di ujung jari kemudian tiba-tiba saja berlarian memperdengarkan suara-suara sangurdi melukai bibir berukir sampai pejah di cakrawala langit
Kini harum wangi bunga lilin berhamburan di pelataran yang tabah
Sebuah bulan pucat pasi jatuh dikeningku, keningmu, kening kita





Aku Lupa, kenapa tidak disimpan di tempat cuci


Kupanggut bibirmu 
serambinya sedari tadi kugantungkan minat 
sampai sesore ini pun, ketika gerimis semakin lupa pulang ke asal 

biarlah Langitku gelap tetapi semesta jiwaku benderang karenanya
hangat yang mengalir merutuk dingin gemeretuk
tetes-tetesnya melupakan keringat yang meruap ke entah 

lalu bersamamu rasa semakin berlian
dilengkung garis nan seksi
aku tidak ingin menjadi lupa dimana tadi nikmat diletakan

dahagaku lumat
lalu lamat-lamat menelikung seluruh ruang penat
basahnya mengaliri setiap nadi dan urat syaraf

sampai otot-ototku mulai melemas
tetes terakhir benar-benar rilek nan merilekkan
kini lekuk pinggang kakumu teronggok disana

semu jelaga masih tertinggal di lapis bening nya
biarlah besok saja kubersihkan
saat ini aku sedang ingin menulis

Pryang….aku lupa tadi, kenapa tidak disimpan di tempat cuci





Revolusi pena


Jika kau anggap rima-rima ritmis menelikung kata mencari maknanya sendiri-sendiri
lalu kenapa langit menjadi merah dan jerit tangis bayi hilang susuan
kusandarkan liris pada gerimis pagi yang tak pernah usai merinai dijari-jari manis
di punggung seorang revolusinis, sinis adalah bagian dari evolusi politis budaya dan kesewenang-wenangan menjadi bara yang tak pernah padam diberangus
sayup, kuyup oleh segala atribut yang kau pasang sejak subuh hingga mentari denyar-denyarnya luruh
agar dunia tau bahwa gerak jiwa, gerak kata dan gerak pena adalah cara lain berhadapan dengan senjata.