Tampilkan postingan dengan label Humaniora. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humaniora. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 April 2013

Tidak ada didunia ini yang gratis…Emhh Benarkah…




 Suatu hari pernah terlontar dari kalimat saya sendiri dan itupun karena pernah mendengar dan membaca yang intinya adalah sebagai berikut: “ Tidak ada didunia ini yang gratis atau tidak ada didunia ini yang tidak bisa dibeli dengan uang dan jikalau ada, itupun karena anda tidak tau dimana tempatnya untuk dapat membayar semua itu “ . Pernyataan tersebut membuat saya berpikir lagi dan memperhatikan dengan seksama, sungguh merasa sangat prihatin tentang isi dari pernyataan tersebut yang mencitrakan barangkali teman-teman yang berada disekelilingnya, curahan cinta dari seseorang yang dikasihinya benar-benar karena berdasarkan uang belaka. Sungguh sangat tidak masuk akal ketika mencoba mengartikan apa yang disampaikan dari kalimat tersebut dan apa yang tersirat dibalik pernyataan itu. Ingin sih rasanya untuk mengajukan beberapa pertanyaan menyangkut kalimat diatas, tetapi rasa-rasanya kok agak risih juga untuk benar-benar hal tersebut dapat terlaksana, mungkin hanya bermaksud sekedar ngegombal saja berbicara guyon untuk menarik perhatiaan atau memang benar-benar yang keluar dari pikirannya yang sudah terpatri dan begitu mendalam. Akan tetapi jika pernyataan itu serius dan sudah menjadi pendapat yang mendarah daging dan tersimpan kukuh dibenaknya, sekali lagi hal tersebut sungguh patut untuk disayangkan, bagaimana tidak… segala sesuatu yang membahagiakannya wanti-wanti justru hanya diperoleh dengan mengeluarkan uang semata, seolah olah menghitung-hitung berapa bajet yang harus dikeluarkan ketika hendak tertawa terbahak-bahak bersama teman-temannya, berapa duit yang telah dikeluarkannya sehingga dapat tersenyum dan hatinya penuh berbunga-bunga karena cintanya dapat menyentuh sanubari, untuk semua itu dia merasa bahwa keluarganya hanya bisa harmonis dengan beberapa nilai uang yang harus dibayarkan sehingga kelak ketika anak-anaknya sudah mandiri menjadi demikian berhak untuk menagih kembali seluruh biaya yang sudah dikeluarkanya.

Yak …seperti sudah dimaklumi memang hidup ini memerlukan uang, baik itu untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, makanan yang disantap setiap hari, pakaian yang dikenakan, sekolah anak-anak, kredit perumahan, energy listrik dan telepon yang terpakai, tranportasi dan sebagainya. Demikian juga dengan bekerja, tidak akan lepas dari harapan untuk mendapatkan gaji yang sesuai dengan standard hidup layak yang diidam-idamkan. Tidak terlalu naïf bahwa memang hidup tidak akan lepas dengan keperluan hidup itu sendiri dan keperluan untuk hidup normal adalah identik dengan biaya, akan tetapi tidak selamanya apa yang kita inginkan harus sesuai dengan apa yang dibutuhkan, barangkali ada hal-hal yang sangat prinsip demi menjaga hubungan antar manusia itu sendiri, itulah yang teramat penting. Baranglai sesuatu yang kita inginkan justru yang akan mencelakai diri sendiri merenggangkan persahabatan dan tali kekeluargaan atau minimal bahwa keinginan tersebut hanya mubadzir saja, tidak ada manfaatnya sama sekali. Untuk mengetahui apa yang dibutuhkan oleh kita adalah hanya dapat dinilai oleh sesuatu yang esensinya dapat mengetahui dan dapat menilai tentang hidup itu sendiri tiada lain yaitu Tuhan itu sendiri. Dengan demikian kalau saja ada waktu untuk sedikit merenung, apakah benar orang tua kita selama mengandung anaknya sekitar sembilan bulan, kemudian seluruh penderitaan selama persalinan itu berlangsung sehingga selamat dan selama membesarkan kemudian mendidik sampai kita bisa berdiri diatas kaki sendiri harus ada itung-itungannya dengan nilai uang yang berharap kelak harus dikembalikan …? Kalaupun ya, seluruh pengorbanan yang telah tercurah dari seorang ibu terhadap anaknya tidak dapat dinilai dengan apapun bahkan untuk mengkalkulasinya dengan mesin penghitung canggih sekalipun barangkali akan rusaklah mesin penghitung tersebut saking tidak dapat dinilainya… Bagaimana perasaan kita ketika suatu saat menginginkan teman yang dapat diajak untuk curhat tepat berada disamping kita, ketika dalam situasi tertentu mengharapkan jiwa ini menjadi kuat dalam rangka menghadapi cobaan yang berat menimpa dan selalu saja dalam benak ini harus mengkalkulasi berapa biaya yang harus dikeluarkan sehingga kejadian itu dapat berlangsung dengan lancar….ho..ho..benar-benar berabe hidup ini. Lebih parah lagi jika pertemanan dan popularitas selain ditempuh dengan iming-iming uang juga umbaran birahi bahkan dosapun lunas hanya cukup dibayar dengan beberapa lembar duit...Halaagh hancur minah...

 Ketika memperhatikan sosok-sosok disekeliling dengan perhatiaannya yang tulus, anak-anak tumbuh dan besar dengan tanpa hambatan apapun, ketika kehidupan keluarga kita tentrem ayem loh jinawi dengan tanpa berdasar kepada uang tetapi murni karena hanya perasaaan ikhlas semata, sungguh saya tidak dapat membayar untuk semua itu dengan senilai uang, bahkan untuk sekedar menghitungnya sekalipun… Betapa beruntungnya hidup ini untuk semua yang didapat tersebut, sepatutnyalah untuk berucap syukur dan saya yakin bahwa setiap agama mengajarkan tentang keikhlasan dan rasa syukur tersebut. Barangkali patut kita berterimakasih untuk setiap lintasan kebahagiaan kita, keluarga yang mencintai dengan sepenuh hati, tetangga dan teman-teman yang tetap menjaga dan mempererat tali silaturakhmi, semoga hati kita tidak dibutakan dengan rasa syukur terhadap Allah Maha penggenggam langit dengan segala isinya yang telah memberikan berbagai nikmat tidak ternilai harganya.

Terimakasih khususnya kepada Allah SWT, yang telah memberikan segala nikmat, kepada keluarga dan teman-teman saya untuk kehidupan yang hebat ini.

Selasa, 18 September 2012

Dalam Bus Kota Seminggu Setelah Lebaran






Photo Koleksi Pribadi

Bus Kota yang kami tumpangi kali ini cukup penuh jika dibandingkan antara kapasitas daya tampung tempat duduk  dengan jumlah penumpang, kondisi Bus Kota tidak mungkin dapat memenuhi seluruh keinginan penumpang yang naik kendaraan bongsor tersebut, terpaksa sebagian penumpang bergelantungan ditengah, di koridor, diantara tempat duduk penumpang, yang tidak kebagian tempat duduk terpaksa berdiri, tangannya tetap berpegangan erat pada besi bulat yang membentang di bawah atap Bis Kota.

Sepasang lanjut usia, seorang  Kakek dan seorang Nenek tergopoh hendak memasuki pintu Bis yang berhenti mendadak, siNenek sudah berhasil masuk duluan kemudian diikuti oleh sang Kakek yang kini berusaha menjaga keseimbangan setelah bis tersebut melaju pelan tetapi tak urung menyebabkan tubuh kedua orang yang sudah lanjut usia tersebut sedikit oleng, tangannya berusaha menggapai pegangan yang ada disekitarnya agar posisinya tetap dapat tegak berdiri diantara keramaian para penumpang disekitarnya.

Nenek tersebut berdiri persis dihadapan saya yang tengah duduk santai dalam bis kota ini, beliau tampak keseimbangannya sedikit goyang namun masih dapat menjaga berdiri kukuh untuk sementara waktu, entah kalau berlama-lama apakah posisinya tetap bertahan  atau malah ambruk. Segera ku persilahkan tempat duduk pribadiku untuk diisi olehnya, walaupun pandangannya sekilas menatap sejurus ke arah mataku, reaksinya memindai niat baikku, barangkali beliau penasaran kemudian mengamati apakah benar saya memberikan kesempatan untuknya, dengan sedikit ucapan dan  dengan hanya  menganggukan sedikit gerak  kepala kupersilahkan dia untuk duduk di tempat asal saya tadi duduk dengan santai.
Keputusanku yang spontan bukan ingin sok moralis atau memandang sepele atas kemampuannya bergelantungan di dalam keramaian Bis Kota, tetapi semata ingin dapat melihat secara lebih jelas memandang sosok sang Kakek yang menurutku sangat luar biasa,  disamping itu dengan sedikit pertimbangan: tokh saya berdiri tidak akan memakan waktu yang begitu lama menyita seluruh perjalananku, kalaupun itu terjadi, paling   hanya membutuhkan  waktu satu jam lebih sedikit sehingga sampai di tempat tujuanku, jadi menurutku berdiri bergelantungan di dalam bis kota saat ini masih dalam batas kemampuanku.
Sang Kakek masih berdiri kokoh  ditopang kedua  kakinya yang tampak masih tegap, dia berada sekitar dua kursi dihadapanku, sedikit terhalang oleh penumpang lain. Menilik penampilan sosoknya jika dibandingkan dengan kondisi diri sendiri, diperkirakan umurnya sekitar tujuh puluh tahun, wajahnya dipenuhi keriput tetapi  tampak bersih dan sehat, rambutnya telah sedikit  jarang dengan warna putih ke perak-perakkan memenuhi seluruh bagian rambutnya yang agak panjang, yak, menurutku dia gondrong, terlihat kalau diamati secara seksama dari bagian belakang tubuhnya dimana dia sedang berdiri, rambutnya yang putih ikal walau tidak lebat masih menyembul dibawah topi pet nya, Tingginya kurang lebih antara 155 – 160 cm dengan berat diperkirakan sekitar 55 kg, postur ideal jika menilik sosoknya yang sudah berumur lanjut.

Yang membuat aku terbengong menyaksikannya, dia memakai celana jin agak lusuh dengan jaket sport warna biru, dipunggungnya bertengger tas rangsel bermuatan penuh diperkirakan beratnya minimal 10 Kg,  tali tas rangselnya melingkar diantara kedua pundaknya yang masih kokoh menyiratkan memang dia bukan lelaki manula sembarangan. Ketika naik bis barusan tangan kanannya menenteng kerdus bekas kemasan kueh kering berisi penuh dengan entah apa. Perkiraan beratnya minimal 25 kg, kini dus tersebut disimpan dilantai bus diantara kedua kakinya, dengan demikian sang kakek tersebut dapat memikul barang bawaan lebih dari setengah sampai hampir mendekati dua pertiga dari berat tubuhnya, sungguh suatu penampilan yang luar biasa dalam kondisi usianya dan berat beban yang harus dipikulnya , menaiki bis kota kemudian berdiri tegak ditengah goyangan bis yang serba mendadak ditengah keramaian kota Bandung, sampai dia turun dari Bus Kota pun mataku diam-diam masih terus mengaguminya, dalam hati menyisakan sekedar untuk bertanya kepada diri saya sendiri, mampukan saya dalam kondisi umur seperti Bapak tersebut dengan berat beban yang di pikulnya dapat berjalan kokoh menaiki  bis kota dengan dinamika gerakannya yang serba bergoyang ria…?.

Tujuan perjalanku sendiri membelah keramaian kota Bandung Persis seminggu setelah Hari Raya Lebaran  beserta isteri dan dua anak saya sebenarnya ingin menyempatkan diri untuk berjalan-jalan disekitar Bandung, maksud utamanya adalah mengantarkan anak perempuan saya yang selepas dari SLTA kini dapat melanjutkan pendidikannya di sebuah  Politeknik Negeri di seputaran kota Bandung yang menjadi idam-idamanya, Alhamdulillah Dia kini resmi sebagai mahasiswa, sebagai orang tua kami hanya dapat memanjatkan rasa syukur kehadirat Illahi Robbi atas segala KaruniaNya.

Menjelang masa perkuliahannya dimulai besok selepas liburan Hari Raya Lebaran, dia harus tinggal di rumah kos untuk pertama kali dalam hidupnya, sambil berniat untuk bersilaturakhmi dan menitipkan anak saya kepada pemilik rumah dimana anak saya akan tinggal  selama setidaknya sekitar setahun, karena memang kamar kontrakkannya di booking hanya selama satu tahun dan jika tahun depan anak saya masih betah tinggal disana kemungkinan masa kontrak diperpanjang untuk tahun berikutnya. Maklum Rumah kami berada sekitar 60 – 70 km jauhnya dari pusat kota Bandung yang mengharuskan anak saya harus tinggal berjauhan dalam kamar berukuran 3 X 3 m di kota Bandung.

Pulangnya kami kembali menaiki Bus kota menuju terminal Bis Antar Kota, menaiki bis kota kali ini tampak masih cukup lenggang dari penumpang dan  perjalanan kali ini pun kami kembali mendapatkan hal yang menurutku luar biasa.

Ditengah perjalan, Bis kota tersebut berhenti dan seorang ibu-ibu setengah baya menggendong anak kecil yang belakangan diketahui sebagai  cucunya sendiri bersama dengan seorang perempuan muda berbodi sekseh berlenggang menapak lantai koridor Bis Kota dengan sorotan beberapa pasang mata yang memperhatikannya termasuk saya hehehehe.

Bagaimana tidak, dia memakai celana jin ketat sebatas lutut, dilengkapi dengan kaos tipis membalut tubuh bagian atasnya yang sintal, memperlihatkan dengan gamblang lekuk serta liku postur tubuh aduhainya, tampak yang paling menonjol terletak di bahagian tengah tubuhnya tepat disekitar pinggul  serta  bagian dada disamping raut wajahnya memang menampakakan sosok sebagai perempuan yang selain cantik juga sekaligus  seksi.

Perempuan muda tersebut berjalan beriringan dengan seorang Ibu  paruh baya yang menggendong cucunya, membelah bagian tengah lantai bis kota berjalan diantara kursi-kursi tempat duduk.

Perempuan muda tersebut duduk tepat disebelahku terhalang ruang lenggang ditegah bis kota, dia sibuk memainkan gadget,  membuka-buka tampilan aneka photo-photo identitas sahabat-sahabatnya yang berderet melajur sampai kebagian bawah ruang layar gadget tersebut, untuk kemudian mengetik cepat dengan kedua jempol tangannya tanpa mempedulikan penumpang disekitarnya termasuk Ibu yang sedang duduk sambil menggendong cucunya di bangku deretan bagian depan.

Anak balita perempuan yang lucu, diperkirakan berumur sekitar 4 tahun berontak ingin turun dari pangkuan neneknya, dia berusaha untuk  duduk secara mandiri persis ditempat deretan tempat duduk di depannya yang masih kosong. Nenek anak tersebut tidak dapat menahannya, dia membiarkan cucunya yang lucu tersebut menempati dengan santai tempat duduknya yang baru  walaupun tampak sekilas raut wajah Ibu paruh baya tersebut sedikit menyiratkan rasa was-was, dia mencoba memanggil beberapa kali nama langsung tanpa embel-embel perempuan muda yang duduk dibelakangnya, belakangan aku tahu perempuan muda tersebut sebagai ibu dari anak yang kini sedang duduk manis menatap lurus kedepan kearah keramaian jalanan, namun tidak ada respon, dia mencoba mencolek lututnya agar  komunikasi antara ibu dan anak dapat berjalan lancar.

Perempuan cantik nan sekseh tersebut memandang sesaat anak perempuan kecilnya yang sedang melambaikan tangan ke arahnya. “Tidak apa-apa “ucapnya singkat untuk kemudian perhatiannya fokus kembali memainkan benda canggih yang berada dalam genggamannya. Kini pemandangan nyaris  sempurna  tampak tiga  generasi perempuan duduk sendiri-sendiri berderet membujur mengarah ke bagian depan bis kota.

Saya hanya terbengong  memperhatikan mereka tanpa satu katapun keluar dari mulut kami, tiga generasi perempuan : Anak, Ibu dan Cucu yang  sibuk dengan kegiatannya masing-masing, sang Anak balita sibuk dengan kesendiriannya memandang keleluasaan keramaian jalanan yang semakin macet, Ibunya sibuk dengan gadget canggihnya dan sang Nenek tercintanya sibuk memperhatikan sambil sesekali memegang lengan cucunya, khawatir terjatuh.

“Saya tidak mau kau seperti itu” ucapku sambil memandang Isteri  disebelahku setelah ketiga generasi perempuan tersebut turun dengan santai dengan masih tetap menyempatkan kesibukannya masing-masing, perempuan seksi dengan gadget canggihnya dan perempuan setengah baya sibuk menahan berat beban cucunya.
Pengamatanku terhadap ketiga generasi perempuan tersebut tanpa kusadari ternyata sama-sama diperhatikan juga oleh Isteriku.

Kasih sayang seorang Nenek  terhadap Cucunya  terkadang melebihi cintanya daripada kepada Anaknya sendiri, dalam usia seperti itu kerinduan akan membelai cucunya melebihi kerinduannya kepada yang lain” Ujarnya tanpa ekspresi.
Saya hanya manggut-manggut saja, tetapi didalam hati mengucapkan kalimat yang tidak mungkin terdengar oleh siapapun yang berada dalam bis kota tersebut: “Semoga Anak perempuanku tidak memperlakukan Ibunya seperti demikian, agar mendapat berkahNya”.  :D

Selasa, 26 Juni 2012

Aku Jauh Engkau Jauh, Aku Dekat Engkau Dekat




 Keberadaan Tuhan hanya dapat dilihat sebagaimana pikiran dan hati memandang dan memikirkanNya dengan kata lain Tuhan hadir sesuai dengan prasangka hambaNya, jika hambanya berprasangka baik kepadaNya maka Allah akan baik pula, jika mempunyai prasangka buruk maka akan buruk pula yang akan ditermianya dan bersiaplah untuk menerima azabNya.

Hadits Nabi “Allah berfirman : “Aku berdasarkan prasangka hamba-Ku terhadapKu, dan Aku akan bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia menyebut-Ku didalam dirinya, maka Aku kan mengingatnya di dalam diri-Ku. Jika ia menyebut-Ku di tengah-tengah orang banyak, maka aku akan menyebutnya di tengah-tengah orang-orang yang lebih baik dari itu. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat-Ku sehasta, maka Aku akan mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku kan datang kepadanya dengan berlari.” (HR.Muslim).
Andaikan segenap manusia dan jin bersatu padu guna ber tha’at  kepadaKu, maka hal itu sama sekali tidaklah akan menambah keagungan KerajaanKu, walaupun hanya sebesar “dzarrah”.  Andaikan semuanya bersatu padu dalam pelanggaran, perbuatan ma’shiat kepadaKu walau sebesar timbangan atom,  sama sekali tidaklah akan mengurangi dari keagungan KerajaanKu. (Hadits Qudsi).

Firman Allah swt Barangsiapa yang berjihad¹, maka sesungguhnya jihad itu untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah SWT benar-benar maha kaya dari sekalian alam. ( Q.S. Al-‘Ankabut : 6)

Tuhan mutlak mengirim Utusan dan petunjukNya demi kecintaan dan kasih sayang kepada makhluknya yang memerlukan penuntun jalan menuju cahaya oleh umatnya sebagai Khalifah dimuka bumi ini.

Allah lebih dekat dari urat nadi yang ada dilehernya sekalipun sehingga segala yang dipikirkan dan tindakannya begitu nyata dapat menilai akan kemaha pengasih dan penyayangNya, segala sesuatu yang dilihat dan diperolehnya berdampak positif bagi diri dan lingkungannya, nikmat yang diberikan kepada diri dan sekelilingnya menjadi nikmat sebagai rahmat dan kasihNya. Sebagaimana yang tertera dalam syair lagu Bimbo².
Kesempurnaan hanya milik Tuhan, disisi lain kesempurnaan merupakan hal yang paling diinginkan dan dicita-citakan secara fitrah oleh manusia, bagi tiap orang berbeda- beda ke inginan yang hendak dicapainya, yang dicita-citakan malah hanya terkesan parsial saja sesuai dengan tujuan masing-masing yang hendak dicapai, jika yang diharapkan menjadi kaya maka dengan segenap kemampuannya akan diarahkan untuk menjadi kaya, bahkan kalau tujuannya hanya karena menjadi kaya semata maka segala tindak dan upaya hanya berorientasi bagaimana untuk dapat menjadi kaya kalau perlu secepat kilat, sim salabim segera tercapai sekelebat ketika dalam hati dan pikirnya terbersit dengan yang dicita-citakannya segera terkabul, maka tidak akan menutup kemungkinan yang dilakukannya akan secara instan pula, tidak peduli diperoleh dengan cara apapun dan dengan jalan bagai manapun, tidak peduli merugikan orang lain, mencederai bahkan menyengsarakan pihak lain, sekalipun nyawa-nyawa makhluk hidup disekitarnya meregang yang penting tujuannya tercapai.

Jika tujuannya hanya ingin mendapatkan dunia saja maka paling banter hanya dunia yang akan diraihnya, tetapi jika tujuannya akhirat maka dunia dan akhirat sekaligus akan digenggamnya, sebagaimana jika segala perbuatannya hanya ditujukan untuk memperoleh keridhoan Tuhan, maka setiap pekerjaan yang dilakukan akan memperoleh laba/upah sesuai yang dikerjakannya dan sekaligus mendapat pahala sebagai bekal di akhirat.

Sangat wajar jika segala  sesuatu yang melekat pada tubuh ingin tampak sempurna, padahal Tuhan  telah dengan presisi sempurna memberikan segala ke maha pengasih dan penyayangNya, hanya saja terkadang sebagai makhluk kerap kurang pandai bersyukur.
Ketika diri merasa kecil dan hina karena merasa  berpendidikan dan berketerampilan rendah, ketika hanya mampu menjadi kuli bangunan saja misalnya, sebagai makhluk sangat wajar jika ingin berubah ke taraf yang lebih baik dengan meningkatkan keterampilan dibidang lain yang membutuhkan proses, tetapi pada saat posisi tersebut tersandang melekat dalam diri maka keterampilan sebagai buruh bangunan selain dijadikan untuk mendapatkan nafkah pribadi dan keluarga alangkah indahnya jika dibarengi dan diniatkan sebagai amal ibadah sesuai kehendak Tuhan serta membuang jauh yang dimurkaiNya demikian juga sebaliknya.

Meyakini saja dalam hati bahwa tidak mungkin semuanya untuk menjadi arsitek sehingga mustahil rancangan bangunan rumah bahkan gedung bertingkat akan berwujud nyata, jika semua ingin menjadi perancang bangunan tanpa melibatkan orang lain bahkan pengusaha pabrik dan penyedia bahan bangunan tentunya wujud bangunan mustahil dapat terbentuk. Jasa buruh untuk mendapatkan penghasilan dari bersusah payah menggali pasir, mengerjakan pembuatan bahan bangunan di pabrik-pabrik dan pekerja toko  menjajakan bahan bangunan, mengangkutnya melalui jasa profesi transportasi, mengaduk campuran bahan bangunan, menggunakan jasa memasang dan mendirikan bangunan, memasang instalasi listrik, telepon, saluran air dsb, pendeknya setiap profesi nyatanya perlu disadari sebagai bagian dari amanah yang dibebankan kepada manusia sebagai makhluknya untuk mengarungi hidup. Sebagai makhluk sempurna yang telah diciptakanNya tentunya disesuaikan dengan kapasitas yang dimiliki oleh orang tersebut bahkan tanpa disadari justru diperlukan oleh orang lain, jika saja menyadari akan hal tersebut maka Sujud syukur sangat pantas hanya tercurah kepadaNya saja, tidak kepada makhluk lain.

Menurut tokoh sufi, Ibn Sina (Avicenna), ada tiga tingkatan di dalam kehidupan kontemplatif menuju Tuhan :

1. Kehendak (sebagai tingkat pertama) yang secara pasti “berjalan”, melatih jiwa melalui keyakinannya mengarah menuju Tuhan, menundukkan jiwa duniawinya sehingga mendapat kesenangan ketika Tuhan demikian sangat dekat dengannya.
2. Melatih diri sendiri (sebagai tingkat ke dua) untuk meninggalkan tiga hal :
- Menanggalkan segala sesuatu pilihan kecuali Tuhan
- Menundukan jiwa duniawinya kepada jiwa rasional, sehingga imaginasi dan olah pikirnya hanya tertarik dan berkonsentrasi kepada hal-hal yang tinggi lagi suci.
- kesadarannya menaruh perhatian kepada kewajiban, peringatan dan laranganNya.
3. Tingkat ke tiga Membebaskan Jiwanya dari nafsu duniawi, olah pikir dan tindak hanya memenuhi kepada hal yang baik saja, hanya memberikan cinta batiniah kepada yang hanya diperintah oleh Kekasih (Tuhan).
4. Tingkat ke empat, sufi melihat Tuhan dalam segala benda
5. Tingkat ke lima,  Ia menjadi terbiasa dengan kehadiran Tuhan sebagai cahaya penerang, ia memperoleh pengetahuan langsung dan terus menerus  dalam kebersamaan dengan Tuhan.
6. Sebagai puncak dari kontemplasi  ketika sampai ke tingat ini berarti ia telah mencapai persatuan yang sempurna dengan Tuhan.(Menurut saya pribadi pada tingkat ke enam ini, bukan berarti mewujudnya Tuhan dalam diri, tetapi segala olah pikir serta tindaknya benar-benar telah adanya campur tangan Tuhan)



Note :
1. Berjihad                  : bersungguh-sungguh dalam kebaikan guna mencari ridha Allah swt.
2. Syair lagu Bimbo :  Aku dekat, Engkau dekat/ Aku jauh, Engkau jauh/ hati adalah      cermin/tempat pahala dan dosa berpadu.

Minggu, 17 Juni 2012

Komtemplasi





Pada Tahun 2012 ini, sejak tahun baru yang telah berlalu  detik demi detik,  menit, jam, hari, bahkan bulan demi bulan  telah berlari meninggalkanku, tanpa terasa selama waktu yang hilang dan tidak mungkin kembali tersebut sudah dilaksanakan segala hal yang telah kulakukan dengan tuntas.

168 hari  telah berlalu, 3010 jam telah ku jambangi, 180.600 menit  telah kucapai atau 10.836.000 detik telah ku jangkau, disana tercatat ribuan kata, ratusan kalimat  yang telah terlontar  baik terucap maupun tertulis dan sudah tak terhitung perbuatan yang telah kulakukan.
Waktu yang telah kugunakan tersebut baik siang maupun malam  tentunya telah menyibukkan  para malaikat untuk mencatatnya secara bergantian dan kini semuanya telah tuntas terangkat keatas.

Dalam lembar-lembar catatanku,  ter rekam sudah semua perkataan dan  perbuatanku dan bumi yang kita pijak ini karena gaya gravitasinya yang masih setia mendekatkanku untuk melangkah, menjadi saksi atas segala yang telah dipijak selama itu. Langit menjadi saksi atas segala yang tercatat dan  semua yang naik kepadaNya. Sedangkan matahari dan bulan juga sudah menjadi saksi dengan apa saja yang keduanya sudah disaksikan pada diriku melalui siang dan malamnya. Siapakan saksi yang maha menyaksikan. Cukuplah Allah sebagai saksi ! (1)

(1) Qur’an : S: Al-Fath :28.
Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi
Rejekiku,

Senyatanya berupa Makanan dan minuman yang telah telah kunikmati, kini telah hilang digunakan untuk ber pikir,  berjalan, bergerak, berkerja dan perbuatan lain yang menyita energi, sumbernya tentunya berasal dari makanan dan minuman tersebut, juga sebahagian nya  terbuang ke kloset, berlalu, berjalan entah sampai dimana kini atau malah menumpuk di septic tank, menjadi bio gas, menjadi bahan cair dan bahan padat lain yang mudah terurai, entahlah, yang jelas semuanya telah menghilang dari sisiku.

Pakaian yang pada mulanya dibanggakan setidaknya oleh diriku, yang telah dikenakan sehari-hari maupun sewaktu-waktu ketika pada saat  penting, ketika menghadap Mu atau ketika dikenakan dengan mematut-matutkan diri di depan cermin menjelang  menghormat tamu atau mengunjungi sesama, ternyata lambat laun usang juga, tercampak, kemungkinan menjadi kain pel, serbet  atau malah terbuang percuma, bahkan jika ada yang bersedia menerima, barangkali sudah disumbangkan serupa pakaian bekas.
Hanya satu yang menjadi catatan yang berguna terutama bagi diriku sendiri maupun sesama yaitu hanya Rejeki dari Mu yang telah disedekahkan. Itu yang tertulis dan akan kekal dihadapan Allah swt berupa pahala.

Sedang yang berusaha kutimbun demi berharap untuk kebaikanku dimasa yang akan datang, yang  demikian itu ternyata hanya bersiap  untuk menerima murka Nya saja.
Kemudian aku bertanya pada diriku sendiri, dimanakah kedudukanku disisi Allah swt ?
Kurenungi berdasar evaluasi diri,  kutanyakan kepada yang mengetahui ternyata semua jawabanya kutemukan : dari hadits Qudsi

Hai Anak Adam ! Bahwasanya kedudukanmu di sisi Ku Cuma tiga faktor :
a. Satu untuk Ku
b. Satu untuk mu
c. Yang satunya lagi antara Aku dengan dirimu
Adapun yang untuk Ku adalah ”Ruh”mu
Dan yang untukmu adalah amal perbuatanmu,
Sedang  yang antara Aku dengan mu ialah jika darimu “Do’a”,
maka Aku : Mengabulkan do’a mu

Oleh sebab itu ya Robb,  ampunilah segala perkataanku, ucapan, kata-kata dan kalimat yang telah kutulis maupun segala perbuatanku yang  berlumur dosa. Ampunilah semua dosa yang telah kulakukan selama kurun waktu yang telah berlalu di tahun 2012 ini maupun pada waktu-waktu sebelumnya.

Ya Allah kabulkanlah Do’a hambaMu ini. Amin.




Cianjur, 16 Juni 2012, Jam 02.00

Rabu, 06 Juni 2012

Syukur dan Sabar Ternyata Merupakan Perpaduan yang Romantis





Pernahkan mengamati sepasang keluarga bahagia disekitarmu, setidaknya dilihat melalui pengamatan kaca mata pribadi sebagai seorang sahabatnya, teman dekatnya atau orang-orang memang mengenalnya terhadap  kondisi pasangan tersebut. Mengenai hal ini justru ramai dibicarakan dalam pertemuan terbatas diantara aku dan beberapa temanku  menjelang  Jum’atan, tidak disangka   pertemuan tersebut terjebak dalam obrolan santai sekedar berkelakar saat bercanda bareng,  rileks sambil minum kopi nikmat dan sepiring kecil camilan penggugah selera, obrolan mengalir kesana-kemari sampai ke bahan bahasan mengenai kebahagiaan pasangan suami isteri.

Sebelumnya disepakati bahwa pasangan suami isteri yang bahagia adalah pasangan yang dikaruniai kenikmatan tiada tara  yaitu Keluarga yang Sakinah Mawadah Warrokhmah,  dapat terlihat dari ekspresi kedua pasangan suami isteri  yang terlihat cerah, berbinar dan tidak melupakan senyum selalu terulas dibibir keduanya namun tanpa melepas akan beramal ibadah sesuai syariat bahkan  tidak menutup kemungkinan suatu saat dapat memperlihatkan ekspresi  luapan kegembiraan yang tidak dapat disembunyikan yaitu linangan air mata sampai menangis tersedu tanda kebahagiaan yang tiada tara.

Tidak terasa mengalir saja, obrolan masuk kedalam figur pasangan yang berbahagia tersebut, ketika suatu hari suaminya berada di kantor  terlihat di ruangan aula ada acara pertemuan isteri-isteri pegawai,  entah ada halangan apa justru ibu dari anaknya ternyata tidak terlihat dalam pertemuan rutin yang banyak dihadiri oleh hampir seluruh isteri-isteri  pegawai dan karyawati di kantornya, “barangkali lupa” pikirnya tanpa memperpanjang masalah, namun ada sesuatu paling mendasar yang ingin disampaikan dan patut dikemukakan  menyangkut pertemuan rutin tersebut di rumahnya.

Ada perasaan yang tidak dapat terbendung ketika sesampainya di rumah yang asri, di dalam rumah yang  tertata rapi sang suami langsung mencari isterinya, nampak ia sedang menunggu kedatangannya dimeja makan dengan senyum semringah terulas dibibirnya yang mungil, dengan nada tersendat dan linangan air mata sang suami menceritakan kegiatan yang barusan dilihat di kantornya, bukan karena ketidak hadirannya  yang membuat air matanya meleleh, atau menanyakan  kenapa Mamah tidak bisa hadir dalam moment penting photo bersama isteri-isteri pegawai serta seluruh karyawati di perusahaan dimana suaminya bekerja, tetapi justeru beliau terharu  sambil berucap Syukur  karena  baru pertama kali menyadari bahwa isterinya ternyata paling cantik.

Mendengar reaksi spontan dari sang suami yang tiba-tiba saja sesampainya di rumah  ujug-ujug memeluk  sambil berlinang air mata, keadaan tersebut membuat sang isteri  juga menjadi larut, turut terharu betapa suaminya baru menyadari bahwa dirinya memang seorang perempuan  yang paling cantik padahal ia sudah cukup lamabersabar mendampingi suaminya yang kondisinya dibawah rata-rata pria pada umumnya, peluk mesra kedua pasangan tersebut menyiratkan sisi romantic kebahagiaan rumah tangga.

Syukur dan Sabar ternyata merupakan perpaduan yang teramat indah dalam mahligai keluarga Sakinah  Mawadah Warokhmah.

Resep pasangan berbahagia ternyata hanya  pandai bersyukur dan pandai bersabar.
“Dua hal yang akan menghampiri orang-orang yang mengharapkan kebahagiaan yaitu  harus Pandai bersyukur dan pandai bersabar “ ujar temanku serius di sela-sela seruput kopi hangat dan mengunyah camilan nikmat, dalam jeda ucapannya  matanya menatap hangat tertuju kepadaku menunggu reaksi spontan yang akan terlontar dari bibirku.
“Lantas kenapa dengan dua hal tersebut” ujarku penasaran.

“Jawabanya ringan”  pesannya  sambil lalu ngeloyor menuju kasir membayar semua yang terhidang di meja ketika bersama-sama ngobrol bareng, “ kalau penasaran tanyakan saja pada paman goggle, disana banyak ulasan yang membahas ke dua hal tersebut di atas secara terperinci”.

Jikalau males untuk buka-buka Google, dibawah ini dicantumkan secara ringkas berdasar daya tangkap saya mengambil makna dari syukur dan Sabar :
Bersyukur tidak hanya sebatas kata-kata yang selalu diucapkan ketika mendapatkan kelapangan, Bersyukur esensinya jauh dari pada itu karena ada keterlibatan rasa terimakasih dan penghargaan yang mendalam terhadap pemberian Allah SWT kepada umatnya, walau apapun bentuk dan rupa pemberian tersebut.

Seperti biasanya kadang tanpa terperhatikan bahwa karunia dan nikmat Allah itu bertebaran di sekeliling kita, jangankan akan jaminan Allah yang akan memberikan rezeki ketika kita dengan sungguh-sungguh mencarinya, bahkan udara (oksigen) yang kita hirup pun demikian berlimpah tersedia disekeliling kita dengan gratis, seandainya ada waktu untuk  tengok kondisi pasien di Rumah Sakit yang demikian susah payah sehingga pernapasannya tersenggal dan harus dibantu dengan tabung oksigen yang dibeli dengan harga yang relative mahal untuk ukuran orang yang hidupnya sederhana, jika selama sebulan saja pernapasan bergantung kepada tabung oksigen coba di kalkulasi nilainya tak terasa sudah demikian besar apalagi untuk keperluan selama hidup. Belum lagi ke masalah kesehatan lain yang telah diberikan Allah SWT kepada umatnya,  jika dihitung per item saja agar fungsi tubuh ini dapat hidup berjalan normal, sudah  tidak akan mampu menilai tentang ke Maha Pengasih dan Penyayangnya. Jadi Nikmat apa lagi yang kau ingkari. Bersyukur merupakan hal yang wajib bagi umat sebagai alat untuk pembuka pintu rezeki dan nikmat yang akan lebih berlimpah lagi sebagaimana dalam firmanNya :

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7)

Sabar adalah: Menahan diri dari sifat kegundahan dan rasa emosi, kemudian menahan lisan dari keluh kesah serta menahan anggota tubuh dari perbuatan yang tidak terarah.
Kesabaran merupakan salah satu ciri mendasar orang yang bertaqwa kepada Allah SWT. Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa kesabaran merupakan setengah dari  iman. Sabar memiliki kaitan yang tidak mungkin dipisahkan dari keimanan: Kaitan antara sabar dengan iman, adalah seperti kepala dengan jasadnya. Tidak ada keimanan yang tidak disertai kesabaran, sebagaimana juga tidak ada jasad yang tidak memiliki kepala. Oleh karena itulah Rasulullah SAW menggambarkan dengan jelas tentang ciri dan keutamaan orang yang beriman sebagaimana dalam hadits-haditsnya.

Seorang Mukmin jika mendapatkan suatu musibah, bencana, rasa duka, sedih, kemalangan dan hal-hal negatif lainnya, ia akan bersabar. Karena ia meyakini bahwa hal tersebut merupakan pemberian sekaligus cobaan bagi dirinya yang pasti memiliki rahasia kebaikan di dalamnya. Sehingga refleksinya adalah dengan bersabar dan mengembalikan semuanya kepada Allah SWT.

Dalam sebuah firman Allah SWT  mencintai orang-orang yang sabar.  Dalam surat Ali Imran (3: 146) Allah SWT berfirman : “Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.”

Selasa, 19 Juli 2011

Apartemen / Rusunami, Tentang program 1000 Tower, Ooh hunian kota...

   kfk.kompas.com

Kebutuhan akan Sandang, Pangan dan Papan merupakan kebutuhan mendasar bagi masyarakat, karena tidak dapat dipungkiri bahwa pemenuhan kebutuhan tersebut merupakan prasarat primer yang keberadaannya sangat penting sebagai masyarakat kaum beradab, salah satu saja dari kebutuhan tersebut tidak dimiliki maka tentu saja akan menghambat proses kenyamanan dalam beraktifitas hidup sehari-hari.
 
Sejak beberapa tahun terakhir pemerintah gencar untuk mempasilitasi kebutuhan dasar tersebut dengan berbagai program melalui institusi yang membidanginya, tidak terkecuali dengan semakin mendesaknya kebutuhan akan papan sebagai sarana tempat tinggal warga masyarakat baik di daerah maupun dikota-kota besar dengan berbagai alternatif pilihan untuk mendapatkan perumahan yang layak huni sesuai dengan kemampuannnya.

Dikota-kota besar yang sebagian masyarakat urban hidup didalamnya dengan berbagai permasalahannya ternyata kebutuhan  tempat tinggal yang layak huni ini sudah sedemikian mutlak dan dirasakan sangat mendesak, dikota besar banyak sekali masyarakat pekerja baik disektor pemerintah maupun swasta yang memerlukan tempat tinggal.

Permasalahan muncul ketika harga tanah dikota besar menjadi sedemikian melambung karena dipengaruhi oleh Hukum ekonomi pasar,  banyak permintaan maka harga akan semakin menjulang, dengan demikian untuk mendapatkan sebidang tanah dikota besar yang diperuntukan untuk tempat berpijak pembangunan rumah-rumah penduduk sudah  tidak terjangkau oleh sebagian besar masyarakat perkotaan.
Permasalahan lain ketika masyarakat urban menyerbu peluang kerja ke kota-kota besar, maka jika tempat tinggalnya jauh dari pusat perkantoran akan tejerat dengan phenomena  hidup dikota metropolitan yang serba sibuk,  sangat akrab dengan kemacetan dimana-mana, pengguna kendaraan bermotor baik pribadi maupun umum sudah semakin tidak seimbang dengan keberadaan kapasitas jalan  untuk menampungnya, lambatnya pembangunan jalan baru dibanding dengan peningkatan jumlah kendaraan bermotor  sudah sedemikian tidak sebanding dengan penambahan sarana prasarana jalan, akibatnya kemacetan menjadikan hal yang lumrah dihadapi diruas-ruas jalan yang sibuk, kondisi jalan menjadi overload, kemacetan sudah merupakan santapan sehari-hari dan merupakan resiko yang harus dihadapi oleh sebagian besar yang hidup dan bekerka di kota-kota besar. Kondisi ini akan diperparah dengan dampak yang ditimbulkannya, penyakit masyarakat dikota-kota besar tidak jauh dari kebiasaan dan pola kehidupan sehari-hari, stress,  penyakit jantung, darah tinggi, penyakit disekitar alat pernapasan dan penyakit lain yang berhubungan dengan kemacetan  sudah sedemikian akrab ditelinga yang  menggenapi penyakit-penyakit lain yang umum diderita oleh masyarakat.
Program pemerintah yang dicanangkan oleh Kementrian Perumahan Rakyat untuk mengatasi kebutuhan tempat tinggal bagi masyarakat yang hidup dan bekerja di kota besar sudah semakin mendesak keberadaannya, hal ini sebenarnya telah direspon selain dengan berbagai upaya yang betujuan untuk menghindari kemacetan yang semakin meluas diberbagai ruas jalan diantaranya adalah dengan menggulirkan program apartemen bersubsidi (rusunami) yang dapat terjangkau oleh masyarakat perkotaan dengan penghasilan antara Rp. 2.500.000 – Rp. 4.000.000 perbulan. Program dari kementrian perumahan rakyat ini yang digembar-gemborkan mulai pada tahun 2007  pada umumnya disambut baik oleh masyarakat yang hidup dan bekjerja di kota besar dengan berbagai pertimbangan sebagai berikut :

1. Harga tanah dikota besar sudah sedemikian tinggi sehingga tidak dapat dijangkau oleh sebagian besar masyarakat perkotaan.
2. Bertempat tinggal di rusunami yang  harganya relatif murah ini akan memberi solusi untuk menghindari terjebak kemacetan yang membuat stress,  akibat sebagian waktu bekerja efektifnya tersita oleh antrian panjang yang sebenarnya merupakan kejadian  diluar dari kondisi internalnya, sebagai respon dari ketidak seimbangan antara penambahan ruas jalan dengan jumlah kendaraan yang semakin meningkat. Rusunami dianggap merupakan jalan aman untuk menghemat waktu, biaya transportasi dan berkontribusi terhadap kesehatan masyarakat yang memilih alternatif untuk tingggal rumah susun , karena sebagian besar rumah susun dibangun dipusat-pusat kota yang letaknya bisa dipilih berdasarkan  kedekatan dengan tempat beraktifitas dan berkerja.
3. Karena pada umumnya apartemen  bersubsidi tidak luas cenderung mungil dengan demikian banyak sekali bajet yang dapat dihemat termasuk didalamnya adalah penggunakaan penerangan halaman rumah, pemeliharaan pekarangan rumah, biaya kebersihan rumah karena bentuknya yang mungil, penghematan penggunaan air dan biaya online internet karena dapat ditanggung renteng dengan sistem  Wifi.
4. Masyarakat perkotaan dan kaum urban kemungkinan besar banyak yang tertarik dengan program ini, karena untuk memenuhi segala kebutuhan fasilitas hidupnya dapat tersedia dengan mudah dilingkungan yang dekat  didaerah sekitarnya, seperti : sekolah, pusat perbelanjaan, tempat bermain anak-anak dan rumah sakit.

Dengan melihat berbagai keuntungan tersebut diatas tentunya banyak masyarakat yang diuntungkan dan memilih untuk tingggal di rumah susun tersebut, walaupun pada umumnya kebiasaan untuk hidup di lokasi yang tersentralisir dalam suatu ruang hunian bersama memang membutuhkan  proses adaptasi yang tidak ringan,  dalam budaya sebagian masyarakat Indonesia pada waktu di munculkannya program pembangunan 1000 towers dikota-kota besar di Indonesia ini dirasakan masih terkendala dengan kebiasaan hidup masyarakat pada umumnya yang masih menganggap hunian layaknya berhubungan dekat dengan tanah.
Keberadaan Program pembangunan apartemen bersubsidi ( Rusunami ) yang dicanagkan oleh Kementrian Perumahan Rakyat  saat ini sudah mulai kehilangan gaungnya, walaupun  pembangunannya di beberapa kota besar  saat ini masih berlangsung.  Kendala dari harapan masyarakat untuk memiliki hunian layak di apartemen dikota besar tersebut menurut REI terkendala dengan subsidi dana dan suku bunga yang dijanjikan oleh pemerintah kepada pengembang sejak permulaan dicanangkannya program tersebut, akibatnya saat ini harga hunian di apartemen sudah tidak terkena subsidi lagi, harga hunian apartemen kembali menjadi harga komersial.

Namun perlu untuk dicermati, barangkali berguna bagi masyarakat yang berminat untuk memiliki apartemen atau paling tidak rumah susun di kota anda yang menjadi idam-idaman anda, hati-hati dengan oknum pengembang petualang yang menjanjikan iming-iming yang menggiurkan, periksa bonafiditas pengembang, terdaftar di organisasi pengembang yang dapat dipercaya atau bisa saja terdaftar sebagai anggota REI, Jangan mudah tergiur oleh bujuk rayu serta promosi yang besar-besaran periksa kelengkapan perizinannya dan periksa lokasi serta harganya apakah cocok dengan harapan anda .

Mudah-mudahan pada tahun yang sedang dituju Tahun 2011, Masyarakat Urban merasa patut untuk mengatakan selamat tinggal hunian mahal diperkotaan, selamat tinggal kemacetan dan selamat untuk hidup hemat dipemukiman yang nyaman serta  sehat.


Tulisan ini pernah ditayangkan di Kompasiana pada tgl : | 31 December 2010 | 18:2 yang dihapus untuk  disimpan oleh penulis dalam pile komputer pibradi,  ditayangkan juga di Selaras ini, di reposting kembali  karena permasalahan Program Pemerintah dengan Pembangunan 1000 Tower, ternyata kurang menyentuh masyarakat Pekerja Urban  di kota besar yang berpenghasilan menengah ke bawah.

Minggu, 17 Juli 2011

Poligami membutuhkan keberanian dari berbagai pihak


Sekedar urun rembug masalah polygami diharapkan siapapun tidak gusar menyimaknya, ini hanya pendapat pribadi.



Polygami akhir-akhir ini menjadi topic yang cukup hangat untuk dibicarakan dan didiskusikan secara santai dikalangan para pria yang normal, pastinya ada yang pro dan kontra, saya rasa itu lumrah dan manusiawi berdasarkan pertimbangan rasional tidak berdasar nafsu belaka, sehingga masalah poligami menjadikan topic pembicaraan dan diskusi yang menjadikan enak dan sejuk untuk di dengar dan dicermati bahkan bisa menjurus kepada situasi yang lucu . Ya ..karena ada maunya …kali …bagaimana tidak, seorang yang berstatus suami dari istrinya dan ayah bagi anak-anaknya memandang perempuan lajang dengan segala kelebihan meberikan semangat dan cipta rasa greget bagi Pria.

Awalnya dari kesengajaan atau dengan tiba-tiba saja ketika pertemuan dengan perempuan idaman lain itu terjadi, kemudian berlanjut ke kisah pertemanan, saling kontak , sharing berbagai hal sehingga saling mengetahui kelebihan masing-masing. Situasi kembali berbunga-bunga setiap keduanya sempat saling curhat dan bercengkrama, saling mengagumi .
Kebalikannya perhatian terhadap istrinya sendiri yang sudah bergaul lahir batin sekian lama dalam satu rumah dalam satu ranjang , tempat tidur bersama bahkan telah dikaruniai beberapa putra dan putri, semakin besar menginjak kedewasaan sang anak akan mempertanyakan bahkan bisa protes terhadap perilaku ayahnya yang berubah total dan telah tega menyakiti hati ibunya sendiri , pada gilirannya akan timbul perasaan yang paling ditakuti olehsemua ayah yang normal ketika timbul anti pati dan pemberontakan batin dari jiwa sang anak tersebut terhadap bapaknya sendiri.

Dalam kondisi seorang Suami mabuk cinta dengan seorang perempuan idaman lain, ketika memandang perempuan yang notabene Istrinya sendiri dapat teramati dengan jelas, melihat detil kekurangannya, demikian fasih dan rinci setiap jengkal fostur fisiknya yang konon kabarnya telah berubah, sedikit sekali memperhatikan penampilannya dibandingkan ketika pertamakali dia pernah mencintainya dengan sepenuh jiwa,  larut dalam proses pacaran memadu kasih sekian lama. Kehidupan keduanya seolah tidak ada yang lebih indah dipandang mata. Hubungan suami-istri berasa tidak normal lagi, fantasi seorang suami tersita dengan bentuk fisik perempuan yang berparas cantik dan molek menurut ukuran kacamata pandangnya. Dan belum lagi ketika mengkalkulasi ala perhitungan matematika, bagai mana sikap seorang istri ketika melayani dan menggaulinya lahir batin dalam hidup dan berkehidupan selama kurun waktu hidup bersama .

Ada beberapa komponen ketika pria atau perempuan memandang seorang yang pantas dikatagorikan sebagai pasangan yang cocok sebagai pendamping hidupnya, yaitu berdasar kepada agamanya dan pelaksanaan real menjalankan ibadah sesuai dengan ketakwaan yang diyakininya, Bentuk fisiknya yang sedap dipandang, Harta kekayaannya dan kepribadiannya serta kedalaman pengetahuannya yang membuat nyaman dan tenteram untuk bercengkrama sehingga timbul semangat dan tumbuh harga dirinya sebagai seorang pria yang patut di sejajarkan dengan hero bak peran utama sebuah film jagoan yang merasa patut untuk melindungi segenap jiwa raga pasangannya dan keluarganya . Suatu perpaduan  antara anak manja yang butuh kasih sayang  dan sosok dewasaa yang ingin dianggap matang dan bertanggung jawab.
Tidak adil dirasakan oleh pihak istri ketika suaminya hanya melihat dan memandang istrinya dari sudut kelemahannya saja dengan menapikan Kelebihannya yang selama ini mereka rajut bersama-sama, dari mulai  saat ketika  proses pacaran  berlangsung (kalau memang itu ada) dan dalam kurun waktu sekian lama pengabdiannya, pencurahan kasih sayangnya terhadap suami yang dicintainya. Sudah kenyang rasanya menempuh onak duri , pasang surut serta naik turun dinamika kehidupan bersama yang dikecap rasa manis ranum mekarnya bunga cinta kasih sehingga beroleh anak-anak yang ganteng dan cantik yang paling dicintainya. Ketika sesaat kemudian ketakutan yang  dirasakan oleh sang istri bahwa bekas kekasihnya yang kini menjadi pendamping hidupnya suatu waktu  terbagi rasa kasih sayangnya antara suami dan anak-anak yang disayanginya, tapi kemudian toh kenyataan yang  dirasakannya sebagai karunia yang tak terhingga selama ini di cecapnya .
Dunianya yang disulam pelan tapi pasti sehingga membentuk suatu gambar hasil lukisan bersama yang tertata apik selama ini, seolah hilang tanpa bekas terbakar oleh bayang-bayang siluet yang terbersit dalam angan-angan fantasinya. Ya …memang kolaborasi dan kerja bareng selama kurun waktu tersebut saat ini beroleh buah hati dan kemapanan yang lazim sebagai hiasan dunia yang paling dicintainya, pelan-pelan terasa kabur warnanya, harumnya kini menjadi memudar.
sehingga seorang pria berdasarkan hasil  perhitungan yang matang merasa memandang polygami merupakan jalan keluar yang patut dilakukan karena sesuai dengan syariat.

Ketika menyangkut hak-hak kaum perempuan yang merasa terdholimi. Penghianatan komitmen bersama sewaktu memadu kasih sebelum melangsungkan perkawinan, menjadi hal yang sangat mendasar untuk direalisasikan secara serius. Bahkan kini ada yang berpendapat dan mendesak agar pada saat akad nikah terucap hendahnya diikrarkan pula point tidak akan melakukan polygami dari pihak calon suami yang dituntut oleh pihak perempuan, jika syarat-syarat istri telah terpenuhi, seperti :  kondisi fisik dalam keadaan sehat lahir batin, mendapatkan keturunan yang diidamkan dan tidak ada satu hal pun yang memberatkan seorang pria untuk menerima hak-haknya sebagai seorang suami yang normal. Seperti layaknya Fatimah Al Zahra anak kandung Nabi Muhamad Saw yang tidak pernah dimadu seumur hidupnya oleh Sayidina Ali bin Abu Thalib Ra suaminya, atau Siti Khodijah istri Nabi Muhamad Saw walaupun dinikahinya dalam keadaan status janda tetapi juga tidak pernah dimadu sampai beliau wafat.

Polygami kini menjadi momok yang menakutkan bagi istri-istri yang normal dengan tanpa mempertimbangkan alasan apapun yang tidak masuk diakalnya, Istri yang tidak mau dipolygami  dianggapnya bahwa seorang istri, tidak mau berbagi (Sharing) dengan wanita manapun sehingga menggangu semua yang telah didapat bersama demgan suaminya dalam kurun waktu mengarungi bahtera kehidupan rumah tangganya.

Polygami pada dasarnya adalah keberanian dari seorang suami untuk berbagi tentang segala sesuatu yang dimilikinya selama ini, kesehatan dan hasrat biologisnya, harta kekayaan, kasih sayangnya dan anak-anak yang paling dicintainya dengan perempuan lain yang memenuhi syarat sah baik agama maupun Negara dengan seadil-adilnya sesuai tuntutan Nash.

Keberanian dan keadilan menjadi topic perdebatan yang seolah tidak berujung kepada kesimpulan yang melapangkan bagi kedua belah pihak yang hendak berpolygami, pihal Suami atau pihak istri.
Berbeda dengan konsep polygaminya Nabi yang sejuk ketika kita membacanya dalam suatu riwayat yang sempat tercerna oleh kacamata awam seperti saya ini.  Karena Beliau adalah Nabi dalam bimbingan Alloh SWT, Seorang Nabi yang diakui cemerlang dalam segala hal, strategi dan politiknya . Beliau juga seorang panglima perang yang tangguh dimedan pertempuran dan banyak kelebihan lainnya selain perilakunya dan buah pikirnya begitu mencerahkan pada jamanNya saat kejadian tersebut berlangsung, akan tetapi juga diyakini hikmahnya menembus ke era lain yang kita tidak dapat mengetahui dan memahaminya, sehingga panji-panji Islam berkibar sampai dengan saat ini bahkan sampai kiamat nanti.
Konsep Keberanian dalam kontek poligami adalah keberanian untuk harsrat berbagi antara istrinya tersebut diatas dengan perempuan lain diluar anggota keluarganya , untuk kemudian menuju jenjang perkawinan sah secara agama dan hukum Negara dengan berlaku seadil-adilnya sesuai tuntutan Nash.

Keberanian tersebut seyogyanya selain harus dimiliki oleh pihak suami juga dituntut dengan ikhlas dan ridho dari pihak istri secara sadar tidak ada tekanan apapun dan dari manapun. Karena paradigma berbagi (sharing) ini akan berimbas kepada pola hidup kedua belah pihak, terutama akan lebih berat dirasakan oleh pihak istri dibanding sang suami normal yang tentunya happy- happy aja.
Ya ….memang masuk akal, karena pihak istri harus menanggung keberanian dengan hati yang ikhlas dan ridho untuk kemudian melayani segenap kemampuannya dengan  jiwa yang  tercabik-cabik pada saat berbagi dengan perempuan lain. Berbagi tentang hasrat biologis suami bahkan mungkin sekujur tubuh seutuhnya dari sang suami, kasih sayangnya , harta kekayaan dan anak-anaknya yang paling dicintainya yang merasa khawatir akan terkurangi jatah rezekinya. Ya memang semuanya menyangkut perhiasan dan keindahan dunia yang tiada bandingannya sebagai pelengkap dari hidup dan berkehidupan. Pada gilirannya akan menghasilkan keberanian polypalent dari dinamika hidup dan berkehidupan sebagai seorang suami yang berpolygami dengan segala resiko dan tantangan yang harus dilaluinya, selayaknya tidak melulu masalah kenikmatan dan fantasi seksual dengan mengumbar nafsu syahwat belaka.

Konsep keadilan, ya…keadilan itu menurut saya adalah hak prerogatif Alloh SWT semata, tidak ada rasa keadilan yang hakiki dapat memenuhi kepada berbagai pihak secara adil selain Keadilan dari Alloh itu sendiri. Tidak ada yang sama detailnya, sifatnya, nasibnya bahkan matinya dari setiap diri manusia yang diciptakan oleh Alloh, bahkan yang kembar identikpun akan ada perberdaannya jika konsep keadilan itu adalah penyamarataan. Barangkali yang paling rasional adalah keadilan berdasar pendekatan proporsional. Sesuai dengan kemampuannya untuk memikul beban dan fungsi kehidupannya didunia. Keadilan sebenarnya adalah ketika kita sebagai umat dihisab dihadapanNya , menurut amal baik dan segala dosa yang pernah dilakukan selama kita hidup mengisi waktu di dunia ini. Konsewensinya adalah surga atau neraka.
Ya.. Persoalan Ridho dan ikhlas dalam berbagi terhadap masalah keduniawian ini adalah masalah persepsi Jiwa , Jiwa yang berserah diri hanya kepada Alloh Swt sajalah sang pencipta setiap diri dan bumi dengan segala isinya yang menentramkan ketika beroleh cobaan yang berakibat berlipat gandalah amal solehnya, yak….karena perempuan adalah makhluk yang diciptakan Alloh dengan ladang amalnya yang tak ternilai banyaknya ketika ridho dan ikhlas melahirkan anak-anaknya, melayani dan berpartner memimpin keluarga. Bahkan wafatnyapun terhadap isteri yang sakinah mawadah wa rokhmah demikian itu, tanpa proses hisab yang menilik kepada timbangan baik buruk setiap langkah dalam perilaku kita sehari-hari. demikian keterangan yang saya dapat selama ini  dalam suatu kesempatan menyimak beberapa referensi yang saya dapat.
Tanpa Hisab Yaitu suatu kondisi derajat tertinggi yang diberikan Alloh Swt kepada isteri yang mempunyai karakteristik demikian yang membikin iri para syuhada yang telah rela mencari kematian dimedan pertempuran yang ganas dalam membela panji-panji Islam .
bagi perempuan yang terlanjur dipolygami Ya…lebih baik ikhlas dan ridho saja dari pada berkeluh-kesah untuk mencoba memahami dunia dan melampiaskan hawa nafsunya yang tidak terkendalikan sehingga berujung kerugian kedua kali.

Jangan ditanyakan kepada saya dengan pertanyaan ”berminatkah anda untuk Berpolygami”…karena saya merasakan diri masih sebagai suami pecundang yang belum mampu bersikap adil sempurna  untuk bisa berbagi terhadap apa yang selama ini kami miliki. Ya…karena ala kadarnya saja yang saya punya.(Demikian pendapat sahabat saya seorang Pria sekaligus seorang Suami dari istrinya dan Bapak bagi anak-anaknya)…
Tamat.

Mohon agar dimaafkan kalau ada salah-salah kata.