Tampilkan postingan dengan label http://www.kompasiana.com/adiabebah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label http://www.kompasiana.com/adiabebah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Juli 2011

HJC ke 334 Cianjur Dalam Kirab Budaya Jawa Barat Wilayah Priangan II

Dalam Ranngka hari jadi Kabupaten Cianjur yang ke 334, Wakil Gubernur Jawa Barat H. Dede Yusuf Efendi, Rabu (13/7)   melepas Peserta Helaran Seni Budaya Tradisi dalam rangka Hari Jadi Cianjur ke 334 tahun 2011, bertempat di Lapang parkir Hypermart, dihadiri Wakil Bupati Cianjur dr.H.Suranto,MM, Unsur Muspida, Ketua DPRD dan Anggota, para Kepala OPD, utusan dari Kabupaten/Kota yang ikut Helaran serta sejumlah undangan lainnya. Wakil Gubernur Jawa Barat dalam sambutannya mengucapkan selamat Hari jadi bagi kabupaten Cianjur, dan mengucapkan terimakasih kepada seluruh warga masyarakat dan pemerintah kabupaten Cianjur atas terselenggaranya kegiatan Helaran ini serta semoga di tahun-tahun mendatang, kegiatan seperti ini terus ditingkatkan.
Sementara Wakil Bupati Cianjur dr.H.Suranto,MM dalam sambutannya mengemukakan, dengan hari jadi Cianjur yang ke 334 ini, marilah kita tingkatkan pengabdian kita terhadap pembangunan di Kabupaten Cianjur serta adanya kegiatan helaran ini bisa menambah hasanah budaya kita dan diharapkan helaran ini menjadi agenda tahunan di Kabupaten Cianjur.
Sementara itu ketua panitia Helaran Administratur Perum Perhutani /KPH Cianjur Ir.Hezlisyah Siregar.MF.MBA. Dalam laporannya mengemukakan,jumlah peserta yang mengikuti kegiatan helaran sebanyak 8 kabupaten/kota yang ada di Jawa Barat yaitu Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Sukabumi, Kota Sukabumi, Kota Bogor dan Kabupaten Cianjur, yang masing-masing mengirimkan 3 jenis kesenian tradisional, diantaranya Kabupaten Bandung mengirimkan seni dog-dog reak, badawang dan benjang, kabupaten Bandung Barat mengirimkan seni bangkong reang, sasapian dan mamanukan, Kota Cimahai mengirimkan keprak sayap cimahi membangun, seni keprak, keprik dan kepruk serta seni chima, kabupaten Purwakarta mengirimkan betok,genje dan ngarak dalem sumeren, Kabupaten Sukabumi mengirimkan seni topeng cepet, tebar tukik, srikandi midang pasundang hudang, Kota Sukabumi mengirmkan seni raja patih goah, bola leungeun seuneu, betok pusaka, kota Bogor mengirimkan seni patok jajar, genta adipura,awi sadana dan kabupaten Cianjur mengirimkan seni rengkong kenteng, kuda umpal dan seni pelung manggung serta diakhiri dengan arak-arakan dari tiap-tiap kecamatan yang ada di kabupaten Cianjur.(wn).

Sumber : Cianjur Cyber city
sumber: cianjurkab.
Sumber Photo :Cucum Kulsum



Selasa, 14 Juni 2011

Jangan Menangis Indonesiaku




Teringat akan syair sebuah lagu Koes Plus yang terkenal pada era tahun 1960 an berjudul Kolam susu, suatu penggambaran karya seniman music Indonesia yang demikian bangganya terhadap tanah dan Negara kelahirannya. Sebuah syair sanjungan terhadap kesuburan dan kekayaan alam kita yang demikian berlimpah ruah sampai lautan  yang berada dalam zona Territorial Ekonomi Ekslusif wilayah Indonesia pun digambarakan bagai kolam susu dimana ikan dan udang menghampiri para nelayan untuk ditangkap dan dimanfaatkan sebagai komoditi ekonomis untuk kelangsungan hidup keluarganya dan mendatangkan devisa negara, demikian juga dengan tanah nusantara dilukiskan sebagai tanah yang subur makmur jangankan benih, tongkat kayu pun dapat tumbuh menjadi tanaman yang dapat dimanfaatkan 
hasilnya.

Lagu Indonesia my loving country  lagu lain karya Kusplus, pernah merajai blantika music Indonesia di era jaya-jayanya grup band tersebut.  Indonesia subur nan makmur sudah diketahui dan dipelajari oleh anak-anak sekolah dasar pun bahwa Negara  Indonesia adalah Negara yang indah, alamnya sungguh mempesona banyak dikunjungi wisatawan domestic maupun manca Negara, kekayaan alamnya yang melimpah ruah  baik yang ada dipermukaan tanah maupun bahan tambang yang tersimpan diperut bumi Indonesia untuk di eksploitasi  dan tentunya kondisi eksisting Indonesia tersebut sangat bijaksana jika dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat dan masyarakat Indonesia bukan untuk dikeruk dan dinikmati oleh hanya segelintir orang saja yang mengaku-ngaku orang penting  bangsa Indonesia.

Budaya Indonesia yang beraneka ragam jenis dan bentuknya, segala jenis tarian indah dari seluruh pelosok Indonesia yang khas.
Keramahan Bangsa Indonesia dari setiap masyarakat yang bersuku-suku 
Pancasila sebagai lambang Negara Indonesia
Bahasa Indonesia, sebagai bahasa resmi Indonesia
Satu Nusa, satu bangsa satu bahasa, Indonesia

                                                        ======

Sejenak rehat mencermati syair lagu lawas dari Koesplus 

Kolam Susu
Syair Lagu : Koesplus

Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada hujan tiada badai kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu
Tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan pagar jadi tanaman

Minggu, 05 Juni 2011

Menapak Bumi





Seorang Lelaki pencinta komik silat berimaginasi, meyakini dirinya sudah menjadi pendekar sakti, punya banyak murid karena dapat memanpatkan aji mancala putra mancala putri yang dia anggap sebagai hasil berguru bertahun-tahun kemana-mana dan diperoleh dari hasil bertapa sekian lama di tempat-tempat angker, hasil upaya dengan segenap peluh harta dan tenaga untuk mendapatkan guru luhur  jembar penguasaan ilmunya nun jauh di dalam gua ditengah hutan lebat. Petunjuk guru yang wanti-wanti di tularkan kepadanya yaitu tidak boleh kurang maupun lebih harus bertapa berpuluh-puluh hari untuk mendapatkan buku mantera sakti mandra guna dari tuhannya. 

Setelah segala petunjuk dilaksanakan dengan tuntas, berhasilah dia memperoleh buku matera mancala putra mancala putri tersebut, diumumkan kepada seluruh negeri bahwa dia sudah menjadi manusia sakti karena keberhasilannya mendapatkan ilmu yang mumpuni. Sesumbarnya kepada para penduduk negeri telah membuat gentar yang mendengarnya, “barangsiapa yang menentang setiap petunjuk yang tertulis dari buku mantera sakti akan dikutuk menjadi kodok”. Akhirnya setelah selama bertahun-tahun dia menjadi manusia disegani oleh masyarakat karena dianggap kesaktiannya yang menonjol, dia bahkan telah berhasil merekrut beberapa murid sebagai anak didiknya. 

Namun suatu hari ketika melihat burung bersarang ditempat-tempat tertentu, pohon-pohon tumbuh dengan perbedaannya masing-masing serta air beriak disungai, didalamnya hidup ikan-ikan sebagai makhluk yang berbeda dengan hewan yang hidup didarat, mengamati matahari terbit dari timur dan tenggelam di barat kemudian tergantikan oleh bulan ketika malam sudah muncul di cakrawala berbeda jauh bahkan bertolak belakang dengan apa yang tertulis dalam buku sakti tersebut.

Setelah sekian lama dia pelajari dan renungkan dalam-dalam isi akan buku mantera sakti tersebut ternyata tidak lebih dari pengetahuan yang dimiliki anak balitanya yg kegirangan karena sudah berhasil menggambar mobil dan gunung di selembar kertas, pada kenyataannya setelah melihat hasil karya anaknya tidak ubahnya hanya berupa corat-coret tidak karuan, bahkan tidak bernilai seni sedikitpun, tampak seperti benang kusut yang terlalu ruwet. 

Perbedaan persepsi tehadap imaginasi hasil menggambar antara orang dewasa dan anak menyadarkan bahwa kesaktian yang dia yakini hasil belajar dari buku matera pemberian tuhan angker ternyata diawang-awang, tidak masuk akal, tidak menginjak bumi bertentangan dengan apa yang dilihat, diamati dan dianalisa oleh pikirnya bahkan terhadap keseharian yang dialaminya sendiri, tidak sesuai dengan siklus kehidupan alam sekelilingnya. Sang lelaki mulai berpikir bahwa ada yang salah tentang tuhan yang telah memberinya buku mantera tersebut, buku manteranya tidak rasional dicermati oleh akal sehat sebagai hambanya, tidak membumi bahkan terkesan persis seperti coretan anaknya yang sekolah taman kanak-kanak pun belum dialaminya, boleh jadi buku mantera tersebut palsu atau dipalsukan oleh pemberi petunjuk bahkan bisa saja tuhan yang diyakini sebagai pemberi buku matera  memang direka-reka,  salah kaprah, salah memberikan petunjuk, ternyata bukan diperuntukan bagi makhluk dibumi yang sehari-hari dihadapkan dengan kenyataan sebagaimana sistem bumi dan makhluk yang ada diatasnya berproses…hahahaha untung kesaktiannya belum dicoba dengan kekuatan peluru senjata api, kalau tidak sempat keburu sadar dia beserta seluruh muridnya akan mati konyol diterjang besi panas, gumannya.

Buru-buru dibubarkan padepokan pengolah kesaktian yang dipimpinnya sambil memberi wejangan bijak kepada murid-muridnya agar bertindaklah menapak bumi jangan mengawang-awang. “Nak, belajarlah ilmu yang akan menenteramkan hati, memperhalus budi, menambah pengetahuan dan wawasan tentang alam dan sekitarnya, raihlah ilmu sebanyak-banyaknya untuk menjadi manusia yang berguna bagi dirimu dan bagi bangsamu.

Akhirnya buku mantera yang telah dia peroleh dengan susah payah tersebut dibakar, dikembalikan kepada alam yang telah mendidiknya kepada kearifan logis, yang mampu menuntunnya tentang hidup sehat lahir batin menapak dipermukaan bumi.

Senin, 09 Mei 2011

Akhirnya Isteriku Rela Dimadu


Menjelang maghrib biasanya aku baru pulang kerumah dari kantor, jangan ditanyakan kembali isu sensitif ini kenapa pulang kantor terlambat, malah justru menjelang maghrib bahkan kadang-kadang lepas Isha aku baru beranjak menuju rumah. Yap pertanyaan tersebut sering disampaikan isteriku juga sesaat setelah aku tiba dirumah. Awalnya sempat untuk tidak menjawab beberapa pertanyaan yang berkesan panas tersebut tentang keadaan yang sebenarnya terjadi dengan kesibukan yang aku buat sendiri selepas jam kerja, disaat kesibukan sebenarnya memang sudah berakhir sesuai dengan tujuanku semula dan dimaklumi oleh isteriku ketika pagi-pagi aku mengenakan pakaian khas kantor dan mulai pamit meninggalkan rumah mengendarai kendaraan dinasku.

Isteri keduaku memang sungguh meng-asyikkan, mampu membuat waktu demikian cepat bergulir, berjam-jam terlena dengan pesonanya, selalu dengan sabar dan selalu menerima setiap curhatku, memaklumi apa-adanya segala kelemahan dan kelebihanku. Hal tersebut membuat aku semakin keranjingan dengannya. Rindu setengah mati ketika beberapa waktu saja aku terpaksa meninggalkannya, ketika kesibukan sebenarnya telah lepas menyita waktuku.
Itulah awal  hubungan ku dengan si dia yang kucintai, dan reaksi diamku terhadap beberapa pertanyaan istriku adalah karena merasa rikuh saja, tokh aku belum terlalu dekat sekali dengannya belum mengenal luar dalam, siapa tau malah seperti hal-hal yang biasa aku geluti, awalnya saja suka untuk beberapa saat kemudian menjadi amat membosankan dan kutinggalkan dengan diam-diam, mundur secara teratur.

Sesaat ketika hubunganku merasa cukup mantap, serasi dengan hati, barulah kuberanikan diri berbicara baik-baik dengan isteriku, kuambil waktu yang pas sesuai dengan kondisi moodnya ketika sedang bungah, ceria, di ruang santai yang biasa aku bercakap-cakap ringan dengannya. Kusiapkan laptopku yang banyak menyimpan data-data tentang dia termasuk pict nya. Suasana memang semakin menegang ketika mulut hendak mengucapkan dengan sebenarnya tentang semakin meningkatnya hubunganku dengannya, menurutku sih hal tersebut lumrah saja ketika waktu dan kasih sayang memang harus terbagi untuk manusia dewasa sepertiku dan sepertinya, sebagaimana tetanggaku pun demikian mencintai mobil barunya yang tampak seksi menurutku, mobil yang berbokong bulat mirif tabung dan nyaman serta bernilai prestise tinggi ketika dibawa jalan dipamerkan kepada orang-orang. Yap kerap aku iseng bertanya kepada tetanggaku tentang isteri barunya itu, dia semangat menjawab pertanyaanku dengan perasaan bangga dan bermimik amat ceria

Yak sejak dari awal aku terlibat dengan dunia blog dan keranjingan dengan blog bersama Kompasiana seolah aku lupa sementara dengan istri serta anakku, menurutku berbagi kasih dengannya berdampak positif bagiku dan bagi isteriku sendiri. Sebagaimana istriku dan anakku juga melupakan aku untuk sementara, hanyut ke dalam hobbynya masing-masing.
Pada akhirnya memang isteriku menyetujui untuk dimadu, merestui hubunganku dengan Kompasiana setelah menyimak beberapa tulisanku dan tulisan rekan-rekanku, kemudian dia maklum dengan sesadar-sadarnya ketika berjam-jam terkadang sampai begadang sibuk nulis atau hanyut dalam aneka ragam tulisan dalam blog keroyokan tersebut.

Telah satu tahun lebih sedikit  isteriku dimadu,  beberapa hari menjelang ulang tahunku bergabung dengan Kompasiana ( 3 April 2011), Alhamdulillah sudah terkumpul sekitar 80  tulisan yang sudah dibuat dan kondisinya saat ini sudah ku hapus untuk disimpan dalam file di komputer pribadiku agar lebih leluasa diedit disambung-sambung alakadarnya supaya terkesan mengalir dan membentuk suatu rangkaian tulisan.

Sampai saat inipun, walau tidak sesering  seperti awal-awal aku gabung dengan Kompasiana dulu, kerap membuat beberapa tulisan sederhana dan rasanya  aku rela koo berjam-jam menyimak beberapa tulisan teman.

Hahahaha lebay ngaaaak ya…engggaklah saya kira banyak  koo temanku yang sudah terlanjur senasib seperti saya. Just kiding tetapi benar adanya.

Indahnya ngeblog di blog keroyokan


Jaring yang dicipta seekor labah-labah saling terjalin kuat diantara bidang-bidang untuk membangun perangkap yang tersusun apik, terangkai dengan kekuatan dan nilai seni tinggi sebagai bagian dari perilaku nalurinya untuk mempertahankankan hidup bahkan untuk keberlangsungan spesiesnya, hidup mati menyendiri dengan perangkap yang diciptakan sendiri, diam menunggu serangga mangsanya terjerat.
Kesatuan, menjalin dan menjaga kekuatan bersama adalah kekuatan itu sendiri, seperti rantai saling terhubung, kelemahan dan kekuatan rantai justru terletak pada biji mata rantainya.
.
Terkagum ketika mengamati segerobolan lebah bersarang ditempat-tempat tinggi, di pohon-pohon, di pojokan bawah atap rumah, seumur hidupnya tanpa mengenal sentuhan bumi apalagi ditempat-tempat kotor kecuali ketika mati barangkali, bergiat beterbangan kesana kemari mencari sumber makanan untuk kemudian hinggap mensesap zat sari bunga, zat terlindung dalam keindahan warna-warni indah merekah. Segerombolan lebah-lebah yang kembali kesarangnya membawa hasil sesapannya tuk disimpan dapat dijadikan minuman dan makanan yang bersih, lezat lagi menyehatkan bagi dirinya dan sangat bermanfaat bagi manusia.

Demikian juga bergiat di blog, selain sebagai sarana menumpahan isi pikir dan perasaan untuk kebaikan, kesehatan jiwa dan pikir diri, juga mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi orang lain yang sempat mampir di blogku.

Tak terasa selama kurun waktu sekitar satu tahun berkecimpung dalam blog keroyokan Kompasiana, telah lahir beberapa tulisan saya, tulisan-tulisan tumpahan pikir dan rasa yang kebanyakan diambil dari apa yang dilihat dirasakan, didengar dan dipikirkan untuk di buat sebuah tulisan sebagai bagian dari catatan pribadi yang tersimpan rapi. Isi materinya tidak ada yang aneh tentunya, karena menyarikan dalam sebuah pengalaman pribadi baik dimasa lalu dalam kenangan langkah-langkah tapak yang telah terlalui maupun yang didapat secara spontan saja selama menggauli diri sendiri mengakrabi lingkungan sekitar beserta rekan-rekan atau orang-orang yang saya protret berdasar rasa dan kemampuan pikir diri sendiri.
Banyak sekali manfaat selama bergaul dengan sesama rekan di blog keroyokan Kompasiana ini, selain sebagai sarana belajar yang tentunya tidak boleh padam walau usia telah menjelang, membaca dan menyimak tulisan rekan sekaligus menimba dan mengumpulkan pengetahuan, tertawa cekikikan dalam hati, hanya terulas senyum saja di bibir ketika materi tulisan rekan menggelitik hati.

Di aneka warna-warni karya fiksi, hati dan pikir terimbas dikedalaman rasa ketika tenggelam dalam karya rekan, sebuah kanal di jejaring Kompasiana yang menjadi paporit saya, bagiku karya fiksi dapat mempertajam, mengasah rasa dan pikir agar tidak tumpul karena waktu.

Daftar jumlah Rekanku tidak banyak memang, tetapi bukan berarti saya enggan untuk menjalin persahabatan dalam sarana yang sudah disediakan oleh admin di acount saya, tetapi memang kenyataannya saya suka sekali kelayaban di beberapa kanal untuk sekedar singgah dan menikmati karya tulis rekan yang lain, walaupun kebanyakan saya jarang berkomentar, ruang kotak yang disediakan untuk komentar sebenarnya menarik perhatianku, karena setelah menikmati karya tulis juga dapat menikmati arena diskusi yang dibangun oleh rekan-rekan lainnya, disitulah inti dari kualitas sebuah karya menurutku, kualitas karya tulis yang dapat berkembang dan mencerahkan peserta diskusi maupun pembaca fasif seperti saya, manfaatnya jadi mengunung memahami detailnya dan menjadi ajang penambah pengetahuan kumplit dan pembelajaran diskusi yang positif, sayang kotak-kotak komentar ini kadangkala menjadi arena adu argumen tidak berdasar dan melenceng dari konteksnya sehingga diskusi menjadi arena adu otot jemari ketika menyentuh tuts-tuts keyboard PC untung saja jumlahnya tidak begitu banyak dan kondisinya saat ini sudah menjadi tenang.

Hasil diskusi yang terbangun dari serangkaian komentar justru dapat menghasilkan karya tulis lain yang jauh lebih berkualitas, hal ini banyak dipraktekan oleh rekan-rekan kompasianer mumpuni yang saya sempat amati dari hasil perambahan menyimak karya-karya tulis di blog kompasiana ini, rangkaian komentar dapat dijadikan semacam sebuah penggalian ide baru yang mucul secara beriringan dan berkelanjutan.

Ada juga yang sering membuat karya dengan judul kontroversil terkadang berkesan bombastis, tetapi menurutku isi tulisanya tidak segarang judulnya dan terkesan memancing peserta yang mampir ke karyanya untuk membangun diskusi, dalam situasi demikian diperlukan admin diskusi yang handal, tidak memihak menjurus kedalam konteks, tidak terimbas kedalam judul kontropersial dalam arena diskusi.
Sepertinya saya setuju dihapusnya kanal tentang agama, agama seyogyanya memang sejalan dengan yang diyakini masing-masing, dilaksanakan dan didirikan secara internal bagi pemeluknya masing-masing.

Banyak sekali manfaat yang didapat dari blog jejaring sosial Kompasiana ini yang luput dari kemampuan saya untuk menampungnya karena demikian banyak peserta dan ragam materi yang disampaikan oleh anggotanya, Suatu blog keroyokan yang pesertanya dari Warga Negara Indonesia yang berada didalam negeri diseluruh pelosok Nusantara juga kerap lahir karya tulis dari Warga Negara Indonesia yang tinggal diluar negeri, menginformasikan tentang keindahan alam, tempat-tempat unik, sosial budaya dan lain-lain yang beraneka ragam dari berbagai pelosok negeri sendiri maupun dari berbagai negeri yang barangkali hanya sempat ternikmati dari karya tulis dan photo-photonya saja, hal tersebut tentunya sangat bermanfaat dapat menambah wawasan. Kita disini dapat menikmati berita-berita dan informasi yang berada jauh dari saudara-saudara kita yang berada diperbatasan, diluar negeri hanya dengan membuka media Kompas khususnya Kompasiana sebagai karya bangsa yang dapat dinikmati dan dimanfaatkan khususnya oleh warga bangsa sendiri. Itulah yang sempat saya kemukakan dalam tulisan pasca satu tahun berkecimpung di blog keroyokan Kompasiana ini.

Tidak ada maksud di hati dalam tulisan ini untuk menyinggung dan memojokan seseorang, golongan, kaum ataupun agama, oleh karena itu jika ada kesalahan mohon dimaafkan.
Sekali lagi saya kagum terhadap perilaku lebah, mudah-mudahan dalam mengelola akun pribadi dalam Blog kebersamaan ini terimbas oleh gerak dan laku kebersamaan lebah untuk dapat ditarik manfaatnya.

Kutanyakan pada Matahari dan Rembulan


Kutanyakan pada Matahari dan Rembulan




Ingin ku hentikan terbit terbenamnya matahari serta rembulan yang menggerogoti usia

Akan kutanyakan pada siang tentang terang dan gemerlapnya bumi,
setiap kelepak gerakmu mencuri hidup dan kesenanganku

Akan kutanyakan pada malam tentang  gelap dan temaramnya bumi,
setiap kelebat bayangmu mengambil mimpi dan gairahku

ternyata semuanya berlalu dengan anggun
Ketika tiba-tiba tersentak
mengagetkan

Hidup, mimpi, kesenangan dan gairah meninggalkanku
tergesa
ketika semuanya menjadi terlambat

Kamis, 14 April 2011

Awalnya dari Baca


Sepertinya aku tidak akan mungkin terlepas dari sesuatu yang dapat kubaca, media bacanya dapat berupa apa saja, khususnya paling nyaman ketika  sedang berhubungan intim dengan sebuah buku yang isinya sangat menarik perhatianku, hanya pada saat-saat tertentu saja sebuah buku lepas dari genggamanku.

Tempat-tempat yang sering aku berdiam diri kemudian hanyut dikedalaman  isi sebuah buku letaknya yadi ruang santaiku, tetapi tidak terlepas juga dengan tempat duduk  yang bisa kunikmati buku tersebut dalam suasana tenang, bisa di kursi tamu di ruang tamu, kursi makan, kursi taman atau ditempat-tempat  dimana aku bisa duduk konsentrasi dengan nyaman.

Aku mempunyai perpustakaan kecil dirumahku dimana buku-bukuku tidak ditempatkan dalam rak-rak khusus sehingga tampak terlihat berderet-deret terpajang dengan rapih dan serasi, buku-bukuku yang tidak terlalu banyak hanya disimpan dilemari kecil terkadang memang bertumpuk di meja kerjaku, sebagian  buku-buku lamaku malahan tersimpan dalam koper tertutup sehingga kalau suatu saat memerlukannya tinggal dibuka dan dipilih sesuai dengan yang  diinginkan.

Disamping itu aku kerap mengunjungi perpustakaan daerah yang ada di wilayah sekitar tempatku tinggal, menjadi anggota dan aku dapat meminjam buku-buku yang memang kuperlukan, walaupun kondisi perpustakaan tersebut jumlah koleksi bukunya masih terbatas tetapi itupun sudah cukup bagiku untuk tidak bosan-bosannya berkunjung ke perpustakaan daerah yang banyak didatangi oleh pelajar, mahasiswa lokal dan orang-orang pencinta buku di daerahku. Alangkah senangnya memang ketika kita dapat berkumpul diruang baca perpustakaan, walaupun tidak saling kenal dan bercakap hanya bersapa ringan, tersenyum kemudian beberapa diantara mereka tenggelam dikedalaman isi sebuah buku,  kunikmati saja keasyikan dalam keheningan diantara banyak orang. Paling  sering  buku yang dipilih  biasanya dibawa pulang untuk disimak dirumah.

Membaca buku seperti memetik buah ilmu pengetahuan yang berkilauan berserakan di jagat raya, bahwa setiap diri dikaruniakan segala sarana dan prasarana untuk menggali nya, memanfaatkan karunia Tuhan yang telah demikian maha pengasih dan maha pemurah dengan memberikan kelengkapan organ-organ tubuh yang tiada terukur nilainya, mencari ilmu dapat disejajarkan sebagai bentuk pengejawantahan rasa syukur terhadap penciptanya.  Panca indera yang berkonsentrasi penuh ketika menyimak sebuah buku yang menarik, cocok dan bermanfaat dengan minat pribadi menjadi motivasi untuk terus menggali dan menganalisa dengan menggunakan karunia Tuhan tersebut, bahkan ketika telah sampai kepada hasil, mencernanya dialam alur pikir, justru semakin banyak pertanyaan-pertanyaan yang kemudian timbul dan berkembang meminta jawaban-jawaban dan semakin tenggelam dan mengetahui lebih mendalam tentang suatu ilmu semakin menyadari bahwa ternyata pengetahuan itu demikian luas dan komplek, memungkinkan untuk terus mencari dan menyimak lebih dalam lagi.
Pepatah mengatakan” ilmuwan sejati bagai tanaman padi  semakin berisi butiran malah semakin merunduk”, karena menyadari ilmu yang didapatnya demikian luasnya, semakin banyak yang digalisemakin banyak pula yang belum di ketahui dirangkaian pengetahuan yang saling ada  keterkaitan satu dengan yang lainnya,  saling melengkapi didalamnya.

Memilah dan memilih minat terhadap kandungan suatu buku, terasa asyik ketika alur dan rangkaian kata dalam buku tersebut mencuri perhatian pikir dan hati sehingga menempatkan seseorang seperti mempunyai teman yang sehati, sepikiran bahkan jika tidakpun akan menimbulkan polemik jiwa dan pikir yang semakin asyik saja, untuk selanjutnya menginginkan rasa untuk mengetahui lebih mendalam dari buah karyanya untuk kemudian ketika lembar demi lembar telah dilumat habis seakan menempatkan diribagaikan merasa telah kehilangan teman yang selalu setia dekat dengan kita dan karyanya  mengendap dalam alam pikir bahkan kesadaran dari pembacanya.

Memetik ilmu sepertinya tidak dibatasi umur dan kondisi fisik, setidaknya ilmu pengetahuan dapat kita kumpulkan baik secara sadar maupun tidak sadar baik dalam format lembar-lembar kertas atau media lainnya bahkan dengan membaca alam disekitar kita pun bagaikan membaca ilmu pengetahuan yang sedemikian luas dan tidak terbatas untuk disimak, terhampar dihadapan kita dengan gratis. Patut dicermati bahwa yang paling dekat dengan kita adalah tubuh kita sendiri serta yang terhampar di lingkungan sekitar kita. Mengamati mekanisme tubuh dan fenomena alam yang terjadi disekitar kita, membaca anatomi tubuh dan mekanisme yang ada didalamnya, membaca alam yang sehari-hari nampak dalam pelupuk mata seakan tidak akan habis-habisnya untuk dicermati  menjadi sumber pengetahuan yang demikian menarik disimak.

Mencari ilmu khususnya membaca buku  tidak terbatas pada umur, kondisi fisik, bahkan kalimat bijakmengatakan “raihlah ilmu semenjak dari buaian hingga keliang lahat”, kalimat motivasi ini memberitahu dan mengingatkan kepada setiap diri, berlaku terhadap siapa saja baik yang fisiknya normal maupun yang mempunyai keterbatasan akibat tidak berfungsinya panca indera ataupun karena faktor umur, tetapi semangat untuk meraih dan menghimpun ilmu pengetahuan ternyata dapat dilakukan oleh siapa saja, kapan saja dan dimana saja.

Dan ketika pengetahuan sudah terhimpun menjadi suatu kebijakan diri,  semakin berbagi kepada sesama baik verbal maupun non verbal, tulisan ataupun lisan bahkan dapat disampaikan dalam bebagai sarana dan prasarana yang beraneka ragam untuk dipilih. Pengetahuan yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain ketika dibagikan ke sesama selain berdampak positiv terhadap nilai amal bahkan dapat meningkatkan keberadaan finansial, layaknya seperti mengambil dan mengumpulkanmutiara-mutuara dari dasar lautan, kemilau indahnya membuat diri berbinar dan mempunyai nilai, semakin tinggi kualitasnya semakin tinggi nilainya Semakin rajin berbagi bukannya semakin menipis kemudian hilang tak berarti didalam benak akan tetapi malah semakin berlipat semakin rinci dan semakin kaya menganeka-ragam, saling melengkapi menuju harmonisasi pikir, ilmu pengetahuan dan kebijakan.