Tampilkan postingan dengan label Postcard-Fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Postcard-Fiction. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Desember 2012

#Postcardfiction: Inner Beauty







Lontaran kata, hujaman rasa melantun jenuh seiring irama dengus napas dan tatap nyala berkobar dibola matamu yang sembab lembab membasah, aku hanya bisa memposisikan diri untuk duduk bersahaja, hanya menangkap rasa tanpa sejengkalpun berniat untuk berjingkat berkelebat, kuusahakan tidak hendak menangkap jilatan api  matanya, kuhindari disaat ini, saat api itu melekat erat  di garangmu dan kau tergerus rasa hingga melelehkankan  kekesalan.

"Kenapa tidak memberi semampu kau dapat curahkan",  kucoba bertanya menyentuh langsung sisa jilatannya yang kini sudah semakin mengerdil, "Sampai saat inipun bapakmu masih sedang belajar memberi,  memberi itu berada diatas,  memohon selalu memposisikan diri dibawah, berusaha memberi  itu berkeinginan untuk menjadi kaya, kaya harta, kaya jiwa dan kenapa tidak  menjadi kaya hati. Memberi itu tidak selamanya materi", kulirik sejenak kau sudah terduduk  menunduk, kuambil kesempatan ini. "memberi  itu bisa nasihat  juga senyum ataupun  do’a  sekalipun serta sikap keluasan hati untuk ikhlas mendulang amal, memberi itu belajar menjadi kaya sekaligus menjadi kuat ketika segala keikhlasan amal  hanya bersandar kepada Nya. Maksudku, jika ada yang memberi kenapa tidak kau terima selama tidak ada sesuatu dibaliknya,  sebagai mana juga nama Nya, sebagai Pemberi  Nikmat, kenapa tidak kau ambil berkahnya".

"Meminta dan memohon  kemurahan sesama itu sumpek, miskin dan selalu tampak tidak berdaya walaupun nyatanya kita memang  tidak berkecukupan", tampak kau mulai bisa merapatkan kelopak matamu menjelang  pulas dikursimu  yang akhir-akhir ini jarang menghampiri sampai selarut malam memanggil-manggil nyenyakmu.

"Pergilah tidur sehat ditempat istirahatmu hingga esok subuh,  ketika seberkas sinar  mulai tampak diupuk timur, setelah wajahmu tersiram air sejuk dan hanya kepadaNya kau merunduk bersujud memohon, kau kembali menjadi bugar, tenang  dan jernih hatimu akan memancar kuat diaura mu,  suatu saat nanti jikapun kau hanya disebut sebagai mantan dan nyatanya kau mungkin  telah sibuk dengan ladang amal baru dipelukanmu, kau akan dikenang sebagai embun  jernih pelepas  dahaga  bukan sebagai sosok pengobar amarah membahana.






Selasa, 13 November 2012

#Postcardfiction: Sekumpulan bau dalam sekeranjang tengik

Alangkah suatu keniscayaan aku berada didekatmu
Padat itu memang terlalu banyak isi, kau kegerahan.
Kutinju kejamnya dunia teriak bersuara parau, seraknya masih tersisa bau alkohol
Tetap saja kesemuanya memuakan terutama panas mendekati 40 C dan 80 persen kelembaban udara, menyiksa kita.

Tarik saja seulas agar setiap detik dan gerak tidak berbuah resah.
Ada sekelumit cerita yang ingin berbagi denganmu hai si acuh tak acuh dan aku masih mereka-reka sendiri alur nya dimulai dari mana,  bisa saja tentang sesuatu yang menerbangkan kita berdua,
bahwa suatu saat dalam tempat dan kisah antah berantah
sekonyong-konyong kita berdua menjadi pemeran utamanya.
Kita memang bagian dari peluh yang tidak dipedulikan bersuara
aah shit lehermu koo rapuh, tidak kuat lagi menyangga kepalamu
matamu menguning menjelang redup, seribu kunang seperti menari disekitarmu
tidak lah dan aww jangan, tidak perlu tumbang disini nona, malu, tauk
lagian wangi itu diantara sekian bau bertubi-tubi, nyatanya kau masih mampu bersitegak

Kita lihat saja nanti, jika pada suatu hari ada kesempatan denganmu
Aku koo ingin sekali bercerita atau tepatnya mendongeng
Tetapi lebih enak kalau engkau sendiri yang terlebih dahulu mulai bertutur
Tentang apa saja, bisa dimulai dengan sekumpulan bau dalam sekeranjang tengik
Kita memang masih bagian dari itu bukan…?,
setidaknya saat ini, saat terjejal dalam padat memuakkan
Atau malah kita sudah membusuk, tanpa kita tau dan luput untuk tersadar.

Sudah sampai teriakmu.
Nanti dulu memang sejak awal kita punya tempat tuk dituju
Ah peduli setan, semuanya harus sudah berhenti disini
Satu persatu tubuh-tubuh beringsut menuju arah tertentu
Aku berusaha mengibas-ngibas hidung, seolah tidak yakin masih ada disitu
Tetapi, terkaget, entah dimana indra penting itu berada,
semuanya terlihat sama menjadi cairan lendir menjijikan, merayap,
kemudian tergilas roda raksasa dijalanan beraspal panas