Minggu, 08 Januari 2012

Indahnya penari Samba Dideras Hujan

sumber gambar dari Google image



Hujanpun tampaknya segan untuk reda, sedang aku masih berjalan diantara bangunan menjulang berpagar tinggi, wisata jalan kaki kali ini bagai seorang musapir kecil menyusuri luasan jalan licin diantara gedung –gedung pencakar langit. Percuma saja berteduh, tidak ada sedikitpun bangunan yang menyisakan kanopi disana untuk sekedar dapat menahan derasnya, semuanya serba masiv padat nan kokoh. Basah seluruh pakaianku, rasanya amat tanggung jika berhenti dan istirahat, walau sedikit lelah agak menahanku untuk sekedar berhenti sejenak merasakan kuyupnya.  

Kulanjutkan saja perjalanan ini, barangkali didepan sana ada kedai kecil yang menyediakan makanan hangat atau sukur-sukur tersedia kopi panas ber aroma, sehingga rehatku akan bernuansa sedikit cerah. Namun hujan ini ternyata sungguh mengasyikan, tak mengherankan jika memikat sang maestro untuk mengabadikannya dengan beberapa tarikan kuas ber cat warna – warni diselembar kain kanvas dibingkai halus dengan kayu jati berukir, hanya untuk menangkap suasananya, merasakan nuansanya sehingga setiap waktu setiap saat, keindahan ini terperangkap dalam ruang-ruang megah berpenerangan bagai percikan mutiara disudut sudutnya, hawa sejuk segar tergantikan tak alami oleh hembusan dinginnya Air Conditioning.  

Siang berkabut yang meronakan warna –warni sinar matahari tersisa, jalanan yang agak sepi, siluet pohon pohon tinggi dikejauhan bagai raksasa-raksasa penjaga, berbaris tegap namun dahan serta rantingnya bergerak-gerak, bergoyang terhempas angin lembut diantara sentuhan percikan air hujan yang menimpa dedauanan, bunga-bunga ditaman kota menambah nuansa riang, udara bersih nan sejuk kurasakan amat menyegarkan.

Perhatianku terhenti sejenak ketika beberapa anak-anak jalanan sedang asyik bermain bola plastik, tawa dan senyum mereka demikian lepas, tidak ada tekanan sedikitpun, baju-baju mereka dilepas, barangkali diamankan ditempat teduh untuk dipakai lagi ketika hujan mereda. Tubuh-tubuh kurus mereka terabaikan dari ketakutan-ketakutan, membiarkan ribuan jarum-jarum air menusuk, merajam kerempengnya, tidak terpikirkan nanti malam harus merintih kesakitan di dinginnya emperan jalan, merasakan demam tinggi dan berharap temannya bersedia untuk mewarnai punggungnya dengan merah kerokan, riang dengan teriakan-teriakannya ketika terciprat genangan air pinggir jalan yang tersapu cepat oleh laju ban mobil mewah, mereka menghambur bak penari samba, kotor serta peluh bercampur air hujan tidak jua sedikitpun mempengaruhi keriangan mereka. 

Berada agak jauh disudut luasan yang agak lapang tersebut, tersembunyi sebuah kedai kopi yang cukup terang, rehatku kini lengkaplah sudah, kopi panas, beberapa batang rokok tersisa serta panganan ringan kunikmati sambil menonton gambaran masa kecilku, masa keceriaan anak-anak yang tak lelah bermain, ingin rasanya saat ini ikut mencicipi se ceria mereka, sekedar bernostalgia menikmati waktu mundur ke masa-masa silam.


Alibukbrax

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berikan Komentar Anda