Tampilkan postingan dengan label Prosa-Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prosa-Fiksi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 September 2013

Huruf Acak Berserak Menguap Satu-Satu









Dikerlingmu rinai menembangkan gita cinta
Di senyummu denting-denting mengalun merdu
Begitulah bunyinya.



Semuanya menari lembut gemulai lalu menghentak bagai irama satu kata dalam satu nada tanggo, kau tumpahkan huruf-huruf diantara lesung pipimu
Sejenak terdiam, merunduk dan kau mulai menembangkan nyanyi yang paling sunyi, nada-nada perih bergumul mencari pemahaman-pemahaman,
terbata nyanyianmu laksana duri yang baru menancap di daging, kidung gerimis sore masih saja mengalun
Kupasang telinga yang tersangkut di huruf-hurufmu, tidak bisa pergi, huruf-huruf berhembus semilir mendinginkan dua cangkir kopi  yang kurang setengahnya kita teguk
Diam adalah pendengaran yang paling setia ketika kesah  tetap berhamburan di bibir yang paling tidak pernah keluh, hanya kali ini saja, diam yang paling  gelisah tiba-tiba saja menyadarkan bahwa tidak ada gunanya merasa menjadi manusia-manusia yang paling terpuruk di dunia.

Kopi kita keburu dingin dan hanya kurang dari setengahnya diteguk, tidak perlu dicemaskan karena hanya tiba-tiba saja ada bah  di hulu dan mendengar  sudah lebih dari cukup apalagi ditambah sedikit penyerentak kesadaran, tuntaslah sebagai penutup suatu drama liris yang paling pilu didengar.
Tidak perlu sedu sedan itu, jika berharap punggungku beralih perlahan dari satu depa hingga hilang dari penglihatan tanpa saling terluka, tidak perlu kata maaf, tidak pernah ada yang merasa paling bersalah hanya waktu dan kesempatan untuk saling bertemu dan berbincang seadanya menyisakan hurufmu dan abjadku berserakan di bekas tapak beberapa langkah kebelakang yang tidak pernah merasa menguap sia-sia, ada rasa nano-nano juga disana, asem, terlalu manis, kecut dan diakhiri sedikit pedas hingga matamu perlu meneteskan satu atau dua butir yang membuat beku mendadak lalu mencair tiba-tiba hinggga menghilang pergi, menguap entah kemana.

Kini di beranda, setelah sekian lama, di mejaku hanya tersedia satu cangkir kopi saja, sambil melepas pandang keluar  bingkai kaca yang menjadi jarak antara kehangatan dan dingin yang rinainya sama ketika terakhir kopi kita berpasangan, riang diteguk bersama-sama, ada rasa hangat kembali, sementara huruf dan abjad yang dulu acak berserakan menguap satu-satu, naik keudara lalu mendadak sekeliling ruang senggang sekitar tubuhku dipenuhi melulu hanya huruf dan abjad, kuambil dan kupilih diantaranya satu huruf kemudian satu lagi hingga lengkaplah sudah tersusun lima huruf yang paling menggodaku kini:
RINDU

Dari file lama yang berserak di Kompyku

Minggu, 07 April 2013

Sahabat Dunia Khayal






Awan itu seolah ingin diraihnya, tangannya liar menyapu menggapai-gapai diatas pelupuk mata, sinar matanya nanar untuk kemudian berubah sekejap-sekejap berbalur sendu, menggeliat-geliat mengikuti irama lagu yang diciptakannya sendiri. Tangannya masih saja bergerak lembut sejengkal demi sejengkal kemudian sedepa memenuhi hasrat hati, terus saja ia menarikan raganya, berputar, menghentak-hentak seolah membiarkan dirinya  terbang ke awan putih. Suaranya kini terdengar lirih berguman tidak jelas, setengah berteriak tetapi tidak sedang melampiaskan amarah, kemudian sinar matanya berganti meredup, tiba-tiba saja tersedak seakan takut terlihat rasanya yang mengaduh.

Semilir lembutnya angin yang sempat
berhembus sejuk tadi serasa membelai mesra, kini mencekik selubung sukmaku. Sedang aku terbuai menikmatinya karena ia terlihat bagai belahan jiwa, perhiasan hidupku, sebelum terdengar pecahan porselen putih terhempas. Suaranya gaduh tetapi lembut membuat jari-jemari seketika terhenti menari-nari diatas keyboard lappyku. Seperti biasanya aku sedang asyik menghayal, merangkai kata dan kalimat dalam bangunan cerita sebelum gaduh itu terdengar gelisah dan peristiwa tersebut justru menarik perhatianku.

Sejenak kemudian
seorang gadis kecil berumur kira-kira lima tahunan terdiam, terperanjat dengan kecerobohannya sendiri, dipandangnya lekat-lekat benda yang berserakan dilantai tembokan taman, seolah tak percaya bahwa tangannya sendiri yang telah menghabisinya.
“Tidak apa-apa Nak,”  seorang  Bapak sedang berusaha menenteramkan hatinya, “nanti bisa dibeli lagi   di toko sebelah.
“Tidak ada, Pak, tidak mungkin ada yang sama,
“Kan pabriknya sama Nak, pasti bentuk dan coraknya juga mirip.
“Dia temanku, sahabatku, tidak mungkin rupanya maupun baik-hatinya akan sama. Namanya memey, dan kini ia telah pergi berserakan.

Gadis kecil
yang biasanya manis kini terlihat sendu, dikeningnya yang tadi terlihat beberapa butiran keringat bersinar, kini matanya juga sembab diikuti beberapa tetesan air mata yang sulit untuk dibendung lagi.
Porselen berbentuk piala mungil barangkali sudah dianggapnya sebagai teman istimewa,  sering menemaninya bermain-main menuntun menuju alam indah di taman penuh pohon dan bunga yang tertata apik dengan kupu-kupu dan burung-burung serta sungai kecil berair jernih mengalir di dunia khayalnya, bahkan ada makhluk makhluk mungil hidup sejahtera didalamnya, semuanya mengerti dengan bahasanya, mudah untuk diajak bercengkrama bersama pohon-pohon, bunga, kupu-kupu, burung, makhluk-makhluk mungil bahkan dengan sungai kecilnyapun. Kini porselen mungil sahabatnya telah pecah berantakan.

Mari kita semayamkan dengan baik di bawah kerindangan
tanaman bunga melati jenis hutan ini, nak. Disini dibagian taman ini, seperti kakek yang telah berbaring tenang dipusaranya. Akhirnya gundukan tanah itu telah terbentuk disudut taman yang teduh lagi harum.

Bapak
tersebut kini berjalan memapah anaknya, menuju rumah yang letaknya tidak seberapa jauh dari lokasi taman bermain. Terdengar bercengkrama, sedikit menghibur, bahwa nanti akan hadir memey-memey lain yang lebih elok rupanya dan lebih lembut perangainya.
Gadis kecil itu kini hanya bisa terdiam, tidak sedikitpun menjawab, seiring langkahnya berlalu, sesekali ia menolehkan pandangan kebelakang seakan tidak rela melepas gundukan tanah yang semakin lama semakin menjauh dari penglihatannya.

====)(====

Keesokan harinya, pagi-pagi ketika matahari baru muncul sepenggalah, aku lewat didepan rumahnya lagi. Tampak gadis kecil itu sudah kembali terduduk ditangga dekat pintu masuk,  sedang asyik berceloteh dengan boneka bantal miliknya.



Rabu, 03 April 2013

Amplop Hijau Pupus di Antara Dua Gelas Kopi Kita





Malam telah beranjak larut, dikeheningan suasananya masih saja cengkerama kita terasa seperti baru saja terjadi, walau sunyi mendekap disegala sudut-sudut ruang yang tadi sempat diriangkan oleh suaramu, candamu serta tatap matamu, nyatanya serasa masih saja menari-nari lembut dihadapanku. Tetapi itu tadi yak, argumenmu meluncur jauh sampai serasa mengacak-acak puncak ubun-ubunku, aku kehabisan amunisi, bisa pula di sebut mati sanggahan, hingga secara jernih telah gagal khatam menafsirkan yang ada di pikir dan rasamu. Hmmmh sudah lah, tokh waktu sudah melintas jauh, kini sosok dan bayangmu di suasana itu pun telah raib dihadapanku, namun kau belum tergapai juga.

Amplop mungil berwarna hijau pupus terselip diantara dua gelas kopi kita yang sudah hampir habis isinya, tersurat tulisanmu yang tersusun rapi, sudah kubaca maksudnya dengan seksama dan aku mengerti serta maklum adanya. Hidup bukan hanya sehari dua hari atau setahun dua tahun tetapi berharap selalu dapat bersama selamanya. Bukankah itu angan-angan kita, atau saya yang keliru menafsirkan hubungan kita selama ini ? Sementara aku masih saja tersesat menata kalimat, entahlah, harus dimulai dari bagian mana meyakinkanmu.

Aku belum sempurna sebagai lelaki jika tidak ada hal yang dapat kubanggakan, malu rasanya menjadi pengangguran tak kentara yang masih saja hidup berkeliaran di seputaran tempat tinggal kita. Satu-satunya harapanku adalah Kota, yak kau tahu kan, hanya kota itu tempat sandaran nasib untuk menampung segala harapan kedepan, namun seperti yang kau tunjukan di setiap cakap dan tersurat dalam isi tulisan di kertas hijau pupusmu, nampaknya kau masih saja ragu. Kepastian adalah usaha dan itu membutuhkan perjuangan, tetapi kau nampaknya lelah dengan seluruh rencanaku, nyatanya lebih memilih pasti yang senyatanya dekat. Kau lebih memilih tradisi leluhurmu, selamat untukmu dan aku linglung meyakinkanmu.

 -=o0o=- 

 Dua tahun sudah, Amplop itu terselip disana, diantara lembaran-lembaran Kitab Suci yang sengaja ku dirikan diatas meja satu-satunya penghias kamar kos mungil tempat dimana aku sering merenda malam dengan bayangmu menghias di langit-langitnya, sengaja kugunakan sebagai penanda lembaran Musshap yang paling akhir kubaca sebelum nyenyak memanggil-manggil di setiap tidur malamku, berharap ketenangan nan sejuk menggelayut dikeseluruhan relung jiwa kemudian bening dan sucinya mengalir di rasamu dan rasaku. Biarlah niat suci di selesaikan oleh Tangan Yang Maha Suci.

 -=o0o=- 

 Kini, dua anak kita sibuk menari-nari diantara gerakan lucu dan tawa riangnya. Dua gelas kopi menemani asyik masyuk memandang kagum akan kreasi besar Dzat IIlahi. Diam-diam aku sempat sekedar mencuri serentetan peristiwa rindu yang telah hilang terbawa masa, sengaja kuselipkan sepucuk rurat mungil sewarna dengan suratmu dahulu, kuhiasi dengan tulisan singkat :

“Selamat Ulang Tahun Perkawinan Kita yang ke VI, semoga selalu tetap dalam LindunganNya”
Amiin.

Rabu, 13 Maret 2013

Selamat Tinggal Penjaga Kehidupan




Siang menjelang terik, debu jalanan mengudara ditengah keramaian suara-suara klakson mobil serta lalu-lalang orang-orang yang berjalan terburu-buru ditrotoar yang sibuk, aku tidak memperdulikan semuanya, berjalan saja sendirian menyusuri arah yang hampir seminggu sekali kulalui akhir-akhir ini. Pagi menjelang siang, matahari sudah hampir berada di puncaknya, jam 11.00, kulangkahi jalanan setapak demi setapak, sesekali menginjak trotoar jika lenggang dari pejalan kaki lain, setiap inci dan meter jalanan dilalui tanpa memperhatikan sekelilingnya, menunduk, pikiranku terpuruk, tersita oleh perasaan tidak menentu.

Sebenarnya sangat ingin membawa Ibu kerumah sakit dengan sedikit memaksa, namun setelah kucoba beberapa kali untuk opname, tetap saja setelah beberapa hari istirahat akan mentatar anak-anaknya ”tidak perlu dibawa ke Rumah Sakit.” Saya dan adik-adik sudah putus asa menyakinkannya, bahwa rumah sakit adalah tempat terbaik untuk memulihkan kesehatan Ibu. Pernah suatu waktu ketika ibu dipaksa dibawa ke tempat dimana sarana dan prasarana memadai dan ditangani secara profesional oleh akhlinya, ternyata malah aku dan adik-adik yang mendapatkan nasehat.

”Heh.. denger yaa, Anton anaku, seumur-umur ibu belum pernah menginap dirumah sakit dan kalau terserang juga nanti akan sembuh oleh obat ramuan kampung yang sering ibu minum, nyatanya Ibu tetap sehat-sehat saja kan.” sergahnya, aku sungguh ketakutan apalagi setelah suatu malam tanpa sepengetahuan yang lain, Ibu mencopot sendiri jarum impusan dan segala sesuatu yang melekat ditubuhnya sebagai standar perawatan, kemudian semua perangkatnya diberikan kepada perawat jaga malam agar di amankan, tentu saja paginya dipasang lagi, jarum infus kembali menusuk di urat nadi Ibu oleh perawat atas nasihat dokter, sungguh memilukan hati, bekas jarum infusan di pergelangan Ibu yang tadi malam dicabut paksa pun, selain menimbulkan luka juga nampaknya menyisakan perih yang menyakitkan.
“jarum dan selang Ini sungguh merepotkan,” ucapnya sambil meringis.

Sebagai seorang anak laki-laki satu-satunya, tidak ada lagi yang lebih mengganggu pikiranku, walau suara hiruk pikuk disekitar, semerawut nya jalanan, suara klakson yang memekakan gendang telinga, semuanya tidak kuhiraukan sama sekali, tetap saja kuacuhkan, ada pikiran yang kumat disarang tempurung kepalaku, suara itu lamat-lamat memanggil-manggil ketidak berdayaanku.

“Kau tidak usah memaksakan datang repot-repot menemani Ibu di sini, kau kan banyak pekerjaan di kantor, Anakmu si Adam, apa dia baik-baik saja, lalu Isterimu tentunya sudah lama menunggumu di rumah beberapa hari ini, kau harus pulang nak, Ibu nggak apa-apa koo, masih kuat.” Suara parau terpatah-patah kerap terngiang di benak, dalam kondisi kesehatannya yang parahpun Ibu masih tetap tidak mau merepotkan anaknya sendiri.
“Tidak usah dipikirkan Bu, yang penting ibu selalu berdoa agar selamat dan sehat kembali seperti sebelumnya, Ibu tenang saja, ada Mba Narti sudah menemani mereka di rumah, lagian tadi saya sudah membelikan mainan robot-robotan untuk Adam .” ucapku sambil meletakan panganan kesukaan Ibu dan memperlihatkan mainan untuk Adam. Ibu hanya tersenyum saja.
Selalu saja Ibu begitu, ditengah ketenangan dalam kondisi apapun, diseling do’a-do’anya yang merincik disetiap pagi dan petang, dia seolah tidak melupakan keluargaku terutama Adam cucunya, sepertinya lebih berarti dari-pada dirinya sendiri dan saya sebagai anak lelaki satu-satunya.

Pikiranku yang dirundung resah tiba-tiba saja dikagetkan oleh hentakan keras seseorang menubruk tubuhku yang tidak dalam keadaan siap, ingin sekali memaki, memberi peringatan kepada orang yang telah dengan seenaknya mencelakakan orang lain ditrotoar ini, namun demi kulihat yang menubruk tadi ternyata seorang anak laki-laki kecil, maka ku-urungkan umbaran amarahku, mungkin saja saya sendiri yang salah tanpa memperdulikan pejalan kaki lain di trotoar yang sempit ini dan yang keluar dari mulutku hanya sedikit umpatan sambil berguman “ dasar anak kecil”. Anak lelaki itu lebih besar dari usia anakku, berjalan menerobos trotoar, kalau ditilik dengan seksama berumur sekitar delapan tahunan, sikutnya tadi tepat mengenai perutku sedikit dibagian bawah ulu hati, menghentak cukup keras. Sambilmeringis menahan sakit, mataku tidak lepas memperhatikan kelakuan anak yang tak tau diri itu. Ternyata bukan aku saja yang sempat kena tubruk, dia memperlakukan orang lain persis seperti yang barusan menimpaku, sepanjang trotoar ini seolah-olah hanya miliknya sendiri, orang lain yang berani menginjak miliknya akan menerima konsekwensi sikutannya. Dua orang Ibu sedikit kesal dan terbengong ketika anak tersebut melaluinya dengan menabrakkan diri diantara kedua tubuh yang tidak menyangka akan mendapat perlakuan yang tiba-tiba tersebut, berikutnya juga menimpa seorang ibu yang sedang berjalan beruduaan dengan seorang anak. Ini sudah keterlauan pikirku, aku mencoba melangkahkan kaki lebih cepat untuk mengejar.
“Raja- Rajjaa- Rajjjaaaa…..Kau mau pergi kemana Nak, terdengar suara lamat-lamat, suara seorang Ibu memanggil-manggil anaknya dari kejauhan.
“Rajjaaa kau jangan ngambek seperti itu nak, sebentar saja kau akan mendapatkannya, Ibu janji nak.” Teriak ibu tadi sambil berlari mengejar anak sundel tersebut tentu saja dengan susah payah. Kuhentikan langkahku, ibu tadi segera melaluiku dengan cepat mengejar anaknya yang urakan.
“Kau jangan nakal nak, sebentar saja pasti akan mendapatkanya.” Ibu itu sepertinya sedang meyakinkan anak ingusan tersebut untuk kemudian memapahnya, Raja yang disebut-sebut ibu tadi, kali ini menuruti perintahnya kemudian berjalan gontai, mukanya masih cemberut menandakan kekesalan yang amat sangat.

Rasa penasaranku menjadi-jadi, ku ikuti langkah kedua ibu beranak yang sedang berseteru tersebut, ternyata Ibunya adalah seorang pedagang bumbu dapur yang dijajakan diatas selembar plastik lecek sebagai alas, keberadaannya persis berlokasi dipinggiran pasar yang cukup dekat dari tempat kejadian.
“Beli bumbu dapurnya kumplit Rp 5000, Isteriku minta dibelikan bumbu untuk membuat sambal dan masak sup ayam” ujarku polos, mengingat aku tidak tau bumbu apa saja untuk membuat sayur sop dan sambal.
“Ini anak Ibu ?” ku coba memancing dengan sebuah pertanyaan untuk mengetahui sumber permasalahannya, sebenarnya aku tak peduli tetapi anak tersebut kali ini telah berurusan denganku dan beberapa orang yang tadi meringis kesakitan setelah ditubruk.
“Iyaa anak Ibu, ia sedang ngambek minta dibeliin robot-robotan, kelakuannya memang selalu tidak dapat diduga, lha uangnya belum dapat seharga itu, pengennya buru-buru saja.” - “ibu sengaja buka lapak bumbu dapur ini, karena sedari kemarin lusa ia merengek terus, jalan satu-satunya ya terpaksa hasil kebun dibawa kemari, Alhamdullilah bapak sudah membeli” ujar si Ibu sambil mempersiapkan pesanan saya.
Tas bawaanku ku buka, isinya dikeluarkan. “Robot-robotan seperti ini” ujarku sambil memperlihatkan mainan untuk anakku , “wah itu terlalu bagus Pak, Ia tadi menginginkan yang ada di toko sebelah bentuknya lebih kecil”.
“Kalau begitu ini untuk Raja, dirumahku telah banyak mainan model begini” ujarku sambil melirik roman anak tersebut, matanya berbinar, mulanya segan untuk menerima, tetapi setelah kuyakinkan akhirnya dia bersedia juga untuk menyambut mainan barunya.
“Lha koo, itu punya anaknya Bapak ini Nak, ayo kembalikan, nanti anaknya nangis”
“Tidak koo, dia masih terlalu kecil untuk bermain robot-robotan” ujarku sambil memperhatikan Raja yang sedang mengamati dengan seksama mainan barunya.

Kuambil bumbu dapur yang disodorkan dan ku tolak ketika ia mengembalikan uang belanjaanku, nampaknya Raja lebih pantas untuk bermain dengan robot-robotan itu.Aku melangkah ringan menuju terminal yang tinggal beberapa menit saja sampai, sambil membayangkan wajah Ibuku, beberapa saat kemudian sebelum aku menaiki bis yang akan membawa ke rumahku, telepon genggamku berdering, Ibu telah berpulang ke HaribaanNya. “Sungguh, kami adalah milik Allah dan hanya kepadaNya-lah kami kembali.”

Kulihat Ibu telah membujur kaku namun dari wajahnya masih tersirat menyimpan senyum yang tidak asing lagi, ku kecup dingin keningnya. Setidaknya tidak sia-sia seminggu ini aku mengambil cuti walau semua pengorbananku hanya sebagian kecil saja jika dibandingkan dengan keringat dan perhatian kepada anak-anaknya, ku usung Jasad Ibuku ke masjid terdekat, berdiri dibarisan terdepan untuk mensholatkan dan ketika urugan demi urugan tanah mulai menimbun jasadnya, tak kuasa air hangat meleleh dikedua pelupuk mataku.

Terimakasih Ibu, untuk segala keringat dan darah yang menetes, semua perhatiannya  menjaga dan memelihara kehidupan anak demi anak yang telah dengan susah payah Kau lahirkan, sehingga anak-anakmu ini kini mulai lebih mengerti tentang arti tentang kehidupan.

Kamis, 17 Januari 2013

Jendela Dengan Cerita Senja






Lelaki itu terlihat duduk di tepian senja memandang kejauhan malam, ke kemegahan gunung berhiaskan awan yang menyelimuti puncaknya, gunung masih tetap terlihat misterius angkuh berdiri disana, sangat nikmat untuk ditatap berlama-lama. Malam ini kemegahannya sedang bersanding jelita dengan daya pikat rembulan, namun karena seulas senyuman menghias seraut wajah yang terbingkai rapi di sudut meja, dia menjadi ragu, sekilas rona mampu mengalahkan anggunnya pelataran penuh bunga edelweis disekitarnya serta hembusan angin dingin yang menggigilkan sampai menggemeretukan gigi-gigi, dan senja memang terlihat sudah semakin luruh melengserkan sinar mentari yang tadi sempat meraja bersinar jingga di ufuk barat. Malam kini berangsur menjelang larut menggenapi kesunyian, tinggal suara-suara serangga serta nyanyian sang kodok di kejauhan.

Suasana cukup temaram di kamar itu, beberapa sudut-sudut tembokkan berhiaskan jendela masih terlihat samar, namun sunyi tak mampu membawa ke hal lain yang lebih semarak, kecuali hanya kembali kepada malam yang semakin buram, rembulan sedang sembunyi dibalik kerajaan awan, kini membentuk gambaran hitam bergelayut diantara berkas-berkas sinar penerangan dua puluh lima watt yang menyelinap diam-diam melalui kisi-kisi ventilasi kamar serta ber-bentuk-bentuk bayangan dari pohon yang sedang dipermainkan angin seakan-akan lakon wayang purwa sedang dipujakan kepada sang kala.

Lelaki senja itu pasti ingin menceritakan kembali tentang tapak yang mampu ditorehkan dimasa darahnya sedang mendidih dan egonya sedang meliar, tetapi karena aku sedang ada dikamarku memandang ke jendelanya, tidak tau lagi apa yang sedang dipikirkannya tadi. Lama dia termangu disana kemudian daun jendelanya merapat, menutup samar pandanganku.

Semangkuk sup panas terjatuh dari genggaman ketika pagi sudah menapak dan jendela itu kini bersinar terang, di dalam kamarnya mendadak ramai dengan orang-orang, tubuh senja itu kini sedingin beku yang kaku, membujur di dipannya yang sunyi dan tanah merah berlubang telah menanti di ujung sana, disebelah nisan isteri tercintanya.
Jendela itu sudah berhenti menceritakan tentang alur tapak berbingkai yang pernah dilalui, Dia kini sudah berpulang keharibaanNya.

Selasa, 31 Juli 2012

Bagai Nyala Lilin, Rela Hancur Demi Penerangan


“Aku tidak ingin menjadi lilin” ujar Bunga dalam sekesiap lirikan lalu pandangannya dialihkan pada kaca jendela buram di rinai hujan, disana sini basahnya berkumpul  menjadi satu saling memadu menjadi setitik embun kemudian turun meleleh karena beratnya membentuk garis-garis akibat gaya gravitasi.

“Ini hanya sebuah poem saja “ ujar Rajab dalam tatap keheranan, aneh, suasana malam jum’at ini kok mendadak kekasihnya menjadi sensitif.

“Iya aku tahu, lilin menyala demi menerangi sekelilingnya, membiarkan dia sendiri hancur meleleh lalu habis, apa tidak konyol ituh” Bunga menimpali seolah tidak mau kalah
“Nanti dulu jangan gusar, Menerangi sekelilingnya itu pengertiannya luas koo”, ujar Rajab masih penasaran, masalah poem suasana menjadi ribet begini. “oke kalau tidak berkenan ganti topik saja”.

“Nggak usah, saya ingin tau saja pendapat kamu tentang  penerangan, coba jelaskan, saya akan setia mendengar dan menyimak” ujar bunga tetap  bersikukuh ingin melanjutkan diskusi
“Ya pengertiannya, penerangan kan menciptakan suasana terang yang tadinya gelap, itu dapat bermakna ilmu pengetahuan, yang tadinya tidak diketahui menjadi tahu, kesadaran tentang jalan hidup yang tadinya sumpek menjadi jelas solusinya atau bisa saja sesuatu yang tadinya kamu tidak mengetahui tentang jalan yang benar menjadi lurus, konotasinya maknanya demi perbaikan hidup”.

“Lalu tentang meleleh, yaa meleleh kan hancur demi makna perbaikan hidup seperti yang dimaknai oleh kamu” ujar Bunga serius , sore yang dingin kini suasananya justru mulai menghangat, “jadi menurut saya poem tersebut bermakna negatif, oke kalau lilin menyala  memberi penerangan itu dimaknai positif lalu meleleh maknanya negatif itu dapat diartikan positif berhubungan dengan negatif bisa jadi negatif kan…”.

Hahahaha, “susah kalau berdebat dengan akhli matematika kayak kamu, tetapi entar dulu kok saya jadi sependapat denganmu, kalau saya dapat memberi pengertian terhadap makna seperti lilin yang menerangi sekitar walau dirinya sendiri hancur meleleh itu persis seperti cerita dari Bapak saya dikampung, beliau sempat menasihati saya sebagai berikut :

“Janganlah kau berucap bagai ucapan orang-orang akhli ibadah, namun perbuatanmu seperti perbuatan orang-orang Munafik, Bila kamu diberi merasa kurang puas, Jika diberi cobaan tidak sabar, Kamu menyuruh orang untuk berbuat baik, nyatanya kamu sendiri tidak mengerjakannya. Kamu melarang orang , namun kamu sendiri tidak berhenti dari Perbuatan itu. Kamu mencintai orang-orang Shalih, namun kamu bukanlah termasuk golongan Mereka. Kamu membenci orang-orang Munafik, nyatanya kamu termasuk dari Mereka. Kamu berkata namun tiada kamu kerjakan. Dan kamu kerjakan apa-apa yang tidak diperintahkan padamu. Kamu minta ditepati, nyatanya kamu sendiri tidak mau menepati”*.

“Lalu persamaanya dengan poem tersebut ya mirip demikian, kau berusaha menerangi sekitar padahal dirimu hancur meleleh kan. Kau setuju..?”

“Ok aku menyimak” ujar Bunga, kini suasana menjadi terang dan Rajab Mulai merasa ngantuk, permisi pulang.

Tinggal Bunga merenung sendirian dimalam musim penghujan

*Sumber referensi : Hadits Qudsi

Selasa, 08 Mei 2012

Tarian Kematian Sang Elang




Di Negeri Hindustan nan indah dalam keelokkan alam nya bak mayapada telah lahir seekorburung ajaib penyendiri, ia dengan asyiknya menikmati kehidupan sepi, akrab dengan kesunyian hingga tidak memerlukan teman termasuk pendamping setia, ia terlahir untuk hidup menikmati alam penuh rintangan dan tantangan. Suatu waktu cakarnya mencengkeram kokoh batu gamping di puncak ketinggian gunung cadas terjal yang tak pernah terjangkau oleh makhluk lainnya, saat lainnya terkadang dengan angkuhnya berdiri berayun di pucuk ranting pohon menjulang dihembus sepoy angin utara.
paruhnya menggambarkan sebuah desain perpaduan antara kekuatan dan keindahan, sebentuk alat musik terpahat diparuhnya yang kokoh dihiasi seratus lubang, tiap lubang melengkingkan dada–nada musik berbeda hingga ketika melayang diudara akan tercipta paduan komposisi suara bak orkestra melantun jernih mengalunkan nada-nada indah, terkadang lengkingan paduan irama orkestra menyayat datar kemudian tinggi menjeritkan nyanyian kesedihan hingga burung-burung serta binatang lain bahkan binatang buas sekalipun terdiam, suara jeritannya menggetarkan hewan lain penguni alam hingga melemahkan hati-hati kebinatangan mereka.
Dilangit yang cerah sang elang membentangkan sayapnya menghirup udara kebebasan diantara bongkahan awan dan birunya langit, melayang tenang bagai biduk terhanyut arus terhembus angin, matanya awas dalam jarak ratusan hingga ribuan meter, radar intuisinya bekerja memantau kerendahan memeriksa sedikit saja gerakan tubuhnya akan mengeliat bermanuver menukik menerjang hingga terpuaskan laparnya di hari itu.
Elang digdaya tertulis dalam lembaran takdirnya untuk dapat hidup seribu tahun hingga terpuaskan jiwa pengembaraannya menikmati waktu menjelajah alam dari ketinggian daratan, gurun, gunung-gunung tinggi, rimba raya hingga samudra yang membentang luas terlihat awas. Dalam alam sadarnya selain dapat melihat bentangan alam luas, sang elang dapat melihat dengan jelas oleh mata batinnya sendiri kapan waktu ajalnya akan tibasementara makhluk lain tidak dapat memahami kapan kematian akan merenggutnya.
Ketika lonceng mata batinnya berdentang mendendangkan irama takdir akhir khayatnya, nada sumbang membisikan tentang waktu, nalurinya akan menggerakan sayapnya yang semakin melemah menjelajah alam rimba raya mencari ranting-ranting dari seratus jenis pohon mengumpulkannya hingga membentuk sebuah gundukan, dalam kebisuan ia memposisikan dirinya di tengah-tengah gundukan yang telah tercipta sambil melengkingkan irama musik kesedihan, jeritan nada kematian menguar ke seantero rimba, tubuhnya mengelepar layaknya daun-daun yang sedang dipermainkan hujan angin kencang.
Jeritan irama musik kesedihanya dapat terdengar hingga ke berbagai makhluk penghuni rimba raya, hewan buas sampai melata ikut bergabung, berjalan tertunduk tanpa mengeluarkan bunyi terperangkap dalam perasaan kehilangan yang sama, lengkingan irama kesedihan semakin jelas terdengar hingga tiba di sebuah gundukan ranting seratus jenis pohon untuk dapat menyaksikan tarian kematian sebelum nafas terakhir sang elang terenggut dengan indah.
Menjelang ajal tiba, menunggu detik-detik nyawa keluar dari tubuhnya, tiba-tiba sang elang mengembangkan ekor serta sayapnya lebar-lebar hingga memercikan api menjilat ranting-ranting kering, api menjalar dengan cepat membakar seluruh gundukan ranting menimbulkan cahaya terang benderang menyinari sekitarnya hingga warna merah membara semakin lama menjadi sekumpulan abu.
Dari abu itulah elang penyendiri baru telah lahir kembali.

Minggu, 26 Februari 2012

Rintih Tangis Rahwana



Tetesan air mata, tidak diisyaratkan sebagai ekspresi kesedihan saja, tetapi bisa menyiratkan rasa penyesalan, bahagia, takjub bahkan masyuk terhadap sesuatu yang menyentuh hati. Tangisan seorang bayi merupakan luapan rasa yang demikian misterius, tangisan itu pulalah yang ia gunakan untuk mengkomunikasikan kebutuhan dasarnya, haus, lapar, sakit, dan sebagainya.


Jangan menilai suatu buku dari sampulnya demikian pepatah yang sering kita dengar, maknanya menjadi banyak tafsir, bahwa ketika melihat seseorang banyak yang menasihatkan jangan melihat dari tampang dan penampilan luarnya saja, tetapi lihatlah hatinya. Bukankah banyak yang memakai busana mengikuti trend mode terkini, tidak ketinggalan dengan sarana yang selalu menyesuaikan dengan trend mutakhir, tetapi lihatlah rasa kemanusiaanya nyaris tidak mempunyai peduli, banyak yang diberikan amanah untuk mengemban mandat dari masyarakat umum tetapi setelah memangku jabatan, dorongan rakyat menjadi hilang maknanya.

Demikian juga dengan Tahta, Harta dan Wanita, kadang tiga serangkai ini menjadi inti dari keserakahan manusia.

Perjuangan Rahwana yang berusaha untuk mempersunting seorang perempuan cantik isteri resmi dari Rama, raja sakti mandra guna menjadi demikian menarik untuk disimak.

Dalam kebudayaan Sunda, dengan segala daya juangnya, Rahwana berhasil mendapatkan seorang Puteri teramat cantik, Dewi Sinta walaupun masih berstatus isteri dari Rama. Rama berusaha untuk merebut kembali isterinya dari sang durjana.

Epik perjuangan Rahwana untuk mempertahankan seorang perempuan pujaan hati demikian heroisme, mengerahkan segenap kemampuannya menghadapi seorang ksatria sakti mandra guna penggenggam pusaka panah sakti, Dia tiada gentar, tidak juga mundur menghadapi sang suami dewi sinta, dia menghadapinya sendirian dengan gagah berani walau apapun yang terjadi.

Rama membentangkan panah pusaka sakti melesat bagai kilat keangkasa, dalam sekelebatan menembus tubuh Rahmana, Rahwana ambruk untuk kemudian raksasa bermuka sepuluh tersebut dapat bangun lagi, setiap panah sakti menembus dadanya dia selalu dapat bangkit kembali begitu menyentuh bumi. Rama kewalahan untuk membunuhnya.

Namun pada pertempuran terakhir berdasarkan nasihat dari Maha Guru, bentangan panah pamungkas itu melesat, panah pusaka sakti yang dapat mengikuti kemana pun Rahwana pergi, untuk kesekian kalinya kini menembus jantung sang angkara, akhirnya memang benar-benar ambruk. Dalam keadaan sekarat ia berusaha menemui isteri yang sejak lama mendampinginya sebagai isteri sah, Manondari di Istananya Alengka tersentuh hatinya ketika melihat suaminya luka parah, menjelang wafatnya, sang raksasa gagah perkasa tersebut menangis tersedu.

Banondari, istri Rahwana terharu melihat suaminya meneteskan air mata. Raja digdaya yang mahakuat, penakluk tiga dunia, dunia bawah tanah, dunia manusia, dan dunia para dewa, itu ternyata dapat menangis.


Dalam komposisi kecapi suling tembang sunda Cianjuran “tangisan rahwana” demikian menyayat menembus kalbu, memberi petuah terakhir kepada isteri yang masih di cintainya, menuangkan segenap rasa pilu, kini penyesalannya telah menjadi bubur, lebur meninggalkan rasa cinta sebenarnya dengan sepenuh hati .



Entah kapan tembang “ceurik Rahwana” ini tercipta, sebagai sebuah karya anonym tempo dulu tembang cianjuran “ceurik rahwana” yang dimainkan dalam petikan kecapi dan alunan suling berlaras pelog, denting dan alunannya menjadi mistis, suara bening pesindennya seperti datang dari dunia dan masa yang berbeda.

Kegilaan Rindunya rahwana dalam suatu karya tembang versi adaptasi

Versi adaptasi lain dari tembang Sunda "Banondari" dalam "Bangbung Hideung"

Syair versi asli dalam tembang cianjuran Ceurik Rahwana


Ceurik Rahwana

Banondari, anu lucu,

bojo kakang anu geulis, geuning, anu geulis

Kadieu sakeudeung heula, Akang rek mere pepeling,

aduh geulis, mere pepeling

Geura sambat indung bapa samemeh akang pinasti

Duh, engkang rungruman kalbu,

pupujan lahir jeung batin, Gusti, lahir jeung batin

Aya naon pangersa tara-tara ti sasari, aduh Gusti, teu

tisasari

Nyauran ragrag cisoca

Abdi mah saredih teuing

Aduh, Enung anu ayu,

nu geulis pupujan Ati, geuning pupujan ati

Akang tangtu ngababatang,

samemeh akang pinasti, aduh geulis, akang pinasti

Arek menta dihampura, lahir tumekaning batin

Pisanggem abdi kapungkur,

lilisan ka lenggah Gusti, geuning, ka lenggah gusti

Ka salira engkang pisan,

ngaturanan temah wadi, aduh Gusti, da temah wadi

Mung engkang kalalanjoan,

ngajur nafsu teu dihiding

Kaduhung, akang kaduhung

kataji nu lain-lain, geulis, nu lain-lain

Kaiwat goda rancana

kagembang ku Sintawati, aduh geulis, ku Sintawati

Geuning kieu balukarna

malindes malik ka diri

Kulu-kulu Bem (Panambih)

Bulan dina mega malang

Langit taya aling-aling

Mega kayas semu biru

Ditabur bentang baranang

Endahna hiasan alam

Tingkariceup tingkaretip

Tepi ka langkung kagagas

Rusras ka jaman ka tukang,

Mung Allah anu uninga

Kaayaan hate kuring

Hese mapalerkeunnana

Heunteu weleh mikaeling

Sanajan dipikir panjang

Nya dalah dikumahakeun

Nu puguh batin nalangsa

Kasawang dina lamunan

Teu beunang mun dipikiran

Nyuat ati sanubari

Geus puguh ari ti peuting

Sumear angin di pasir

Nebak kana dangdaunan

Teu bisa ngedalkeun lisan

Hate ceurik jero ati

Ngumbara asa sorangan