Tampilkan postingan dengan label Humor Serius. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humor Serius. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 April 2012

Rajukan yang bikin repot Ibu...


                                                     Gambar diambil dari Google image


Sepulang dari sekolah, tasnya dilempar begitu saja diatas meja,  kemudian pantatnya dihempaskan di kursi empuk ruang tamu, kakinya diselonjorkan, sedang kepalanya diletakan leluasa  ke sandaran kursi menengadah ke atas langit-langit rumah, bibirnya masih menyisakan ulas senyum berulas rona binar di wajahnya yang ceria.

“Buka dulu pakaian seragam sekolahnya nak, nanti kita makan bersama” ujar  Ibu sambil lalu, berlenggang dari pintu depan menuju ruang tengah.

“Istirahat dulu Bu, nanti saja makannya”, jawab anaknya  posisinya masih dalam keadaan semula, duduk selonjoran kaki sambil matanya menerawang jauh.

Dari ruang tengah Ibunya memperhatikan dengan seksama kelakuan anak semata wayangnya dengan penuh heran, tidak biasanya Ia bertingkah laku aneh demikian, hari-hari sebelumnya sepulang sekolah langsung nubruk pintu kamar, bahkan dalam keadaan pakaian seragam sekolah masih melekat dibadan  Ia sudah  bergegas  ke ruang makan, berteriak sekenanya “ Bu makan”, dan sejurus kemudian sudah asyik menyantap makan siangnya  dengan lahap. Tapi kali ini aneh pikir Ibu, tidak biasanya Ia melamun sendirian sambil senyam-senyum , semringah demikian.

“Bu, besok ulang tahun Randy, minta kadonya yang bagus ya…, aku ingin memberikan kado  seragam  sepak bola ala Manchester United, merah menyala, lengkap dengan kaus kakinya”

“Iya nanti kita sama-sama beli, sekarang makan dulu yaa”  ujar Ibu membujuk anaknya yang sedang aneh.

“Bu, boleh kan mencium pipi Randi besok malam sebagai pelengkap acara ulang tahunnya”.

“Tidak boleh”…jawab Ibu tegas

“Buu, aku dan Randy kan udah besar, sudah kelas dua SMP, bolehkan pacaran dengan Randy”

“Tidak boleh” jawab ibu mengulang jawaban tegas sebelumnya, matanya menatap tajam anak semata wayangnya yang sedang berusaha merajuk.

“Buuu, kenapa siiih ini ngak boleh itu nggak boleh, Randy kan anak laki yang cakep, cool, baik lagi, dia imut kooo, boleh kan yaa Buu

“Pokoknya ibu bilang tidak boleh”

“Tapi kenapa Buu”

“Sebab kau anak laki-laki nak” ujar ibu sambil mebangunkan anaknya yang sedang duduk  cemberut, kemudian memapahnya ke ruang makan.

“aaaahhhh Ibu”….

Jumat, 28 Oktober 2011

Gadis Sekseh Misterius Itu Ada di Kantor Saya






Pagi-pagi, ketika kami baru saja tiba dikantor, Saya bingung menerima kabar itu, sebuah SMS dari Boss tiba-tiba saja muncul dilayar HP, Tolong siapkan oksigen, saya hampir pingsan, saya terjebak dalam lift yang sedang melaju ke lantai atas sendirian.

Oksigen, mana ada dalam ruangan kantor ini, aku terpaksa menyiapkan seseorang sukarelawan atau sukarelawati yang bersedia untuk memberikan pertolongan pernapasan buatan dari mulut-kemulut, barangkali itu dapat membantu kesulitan Boss muda, ganteng lagi manja ini, pikirku dalam hati. Seorang karyawati yang cantik dan sekseh dikantor saya serta merta mengajukan diri sebagai donatur nafas secara ikhlas, plong rasanya pikiran yang mendadak buntu dipagi dimana aktifitas rutin baru saja akan dimulai.

Kutelpon atasanku dengan segera, bahwa pertolongan darurat sudah kami siapkan didepan lift, kutanyakan sekali lagi, apa perlu saya panggilkan dokter…?

Tidak usah, jawabnya menenteramkan hati, saya Cuma limbung, tercekat, tidak mendapatkan udara segar dalam ruang se sempit ini, ucapnya terbata-bata

Syukurlah, Bapak sakit apa, kutanyakan lagi kondisi kesehatannya agar kami siap siaga, menjaga kemungkinan jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Tidak sengaja, mendadak dan tak terkontrol, saya barusan kentut, baunya membuat hidung dan system pernapasan saya menderita karenanya.

Ooh, jawabku sedikit kaget, jangan khawatir Pak, tenang saja, saya selalu siap siaga untuk membantu, ujarku meyakinkan.

Biarlah obrolan singkat ditelepon ini menjadi rahasia kita berdua, kulirik roman muka teman-teman sejawatku, tampak tegang menunggu kedatangan Sang Boss yang sebentar lagi keluar dari lift, hanya seorang wanita cantik saja yang memperlihatkan raut muka tampak semringah…






Photo image: diunggah dari Shutterstock.com dan tidak ada sangkut-pautnya dengan kisah humor ini.

Rabu, 03 Agustus 2011

Ketika Lelaki Mata Keranjang Tidak Perjaka Lagi



Entri Baru


Siang itu, ketika cuaca sedemikian panas menyengat dijalan, banyak kendaraan yang terjebak dalam kemacetan yang panjang, debu dan asap knalpot kendaraan menyergap dan menyesakkan pernapasan, akhirnya aku berhasil mencapai pintu tempat parkir di mall tersebut, beringsut masuk satu-satu diantara kendaraan lainnya untuk mengambil tiket parkir. Ternyata sesampainya diarea tempat yang luas telah berjajar kendaraan di kedalaman lantai bawah gedung pusat perbelanjaan disekitar Kota Bandung.  Tetap saja aku harus berputar-putar mencari tempat yang kosong, mata ini demikian awas memperhatikan setiap geliat kendaraan yang bergerak sedikitpun, kekhawatiran menyenggol mobil lain atau pejalan kaki yang berseliweran diarea yang agak temaram ditambah dengan mata plus minusku yang kadang kurang awas memperhatikannya. Begitu terlihat sebuah mobil bergerak dari tempat parkirnya maka dengan sabar aku menunggunya menyelesaikan hajat mobil tersebut untuk keluar dari tempat sempit diantara mobil-mobil lainya. Dan aku sedikit lega menemukan tempat untuk segera mengistirahatkan mobilku dan segera bergegas untuk beranjak memenuhi panggilan perut yang sedari tadi tidak mau diajak kompromi. 

Yak… berada dalam area parkir yang panas dan pengap dibeberapa lantai dibawah gedung bertingkat itu sekali lagi merupakan perjuangan menahan kesabaran di hari-hari libur panjang, dimana semua orang seolah keluar dari rumahnya untuk berada dikeramaian kota Bandung yang akhir-akhir ini sering macet. 

Mall layaknya tidak melulu sebagai tempat belanja saja, tempat rekreasi sekaligus sebagai pemuas untuk cuci mata barangkali dan merupakan lokasi yang pas buat shoping juga. Bagi yang ingin memenuhi janji kencan melepas kerinduan, makan aneka kuliner, jalan-jalan memonitor mode pakaian, mensurvai harga dan sesekali menikmati hiburan layar lebar yang tersedia dipuncak gedung mall tersebut sungguh mengasyikkan rasanya. 

Masih saja area mall merupakan tempat yang menyenangkan disekitar hiruk-pikuk orang berlalu-lalang, mall dijaman modern ini merupakan suatu tempat yang demikian sistematis penataannya, mulai dari tempat parkir yang berlokasi beberapa lantai dibawahnya, area tempat pemajangan dan penjualan komoditas fashion, peralatan dan kebutuhan rumah tangga, tempat penyajian dan penjualan aneka panganan lokal maupun internasional , tempat aneka permainan, sampai ke cinema yang nyaman dipuncaknya. Semuanya begitu tertata apik memenuhi kaidah estetika, tersusun secara efisien dan efektif berikut nona-nona cantik serta pemuda-pemuda ramah melayani semua kebutuhan pengunjung sebagai konsumen. Anda dapat membayangkan berapa dana yang diinvestasikan untuk semua sarana dan prasana tersebut menjelma menjadi kenyataan, tetapi jangan dipertanyakan berapa keuntungan dari bisnis berbajet bongsor tersebut, karena jika dibicarakan maka dikhawatirkan disangka sebagai petugas intel pajak gadungan yang berkeliaran menyelidiki keharusan kewajiban pajak perusahaan yang dibebankan kepada pemilik Mall tersebut untuk kepentingan negara. Aku hanya berpikir disini saja ditempat parkir yang dihuni ratusan bahkan mungkin ribuan kendaraan roda duadan empat  dalam kondisi terdiam, kemudian yang keluar dan masuk…..waaah.

Aku, Isteriku dan kedua anak perempuanku yang baru menginjak dewasa, telah duduk ditempat yang tersisa diarea penjualan aneka kuliner di mall lantai atas, semuanya hendak menyantap fast food yang sudah terhidang dimeja setelah antri beberapa kejap, memesan dan membayar plus pajak dan tip. Hari ini demikian padat pengunjung yang sempat aku perhatikan, tempat duduk sudah hampir terisi semua, aneka kesibukan pengunjung demikian bervariasi tingkah lakunya, bercengkrama, menikmati hidangan dengan khusuk dan ada diantaranya yang menyantap sambil tangannya sesekali mengutak-atik tombol keyboar laptop, matanya tidak beranjak dari layar LCD komputer ringkas kepunyaannya, mereka demikian serius memanfaatkan waktu dan layanan akses Wifi yang tersedia secara gratis.

Sebentar kemudian disela menyantap fastfood pesananku, kursi disebelah tempat keluargaku duduk kini sudah terisi penuh, tiga nona cantik sudah menempatinya dengan sopan, yang satu kelihatannya seperti gadis India dengan warna kulit hitam manis dengan mata serta hidung nan indah menghiasi wajahnya yang menawan, disebelahnya lagi dengan ciri-ciri etnis mandarin yang terang benderang sedang yang satunya lagi gadis ayu khas wanita indonesia asli mereka ngobrol menggunakan bahasa inggris entah apa yang dibicarakan. Aku semakin kerasan saja berada disekitar nona-nona rupawan nan molek seperti boneka tersebut, dua orang putriku dan seorang lagi yang tidak ketinggalan adalah isteriku duduk berhadapan, Yak…aku seperti pangeran yang sedang dikepung oleh putri-putri cantik dari kayangan saja layaknya. Tentu saja Aku harus menjaga sikapku jangan kegeeran dan genit layaknya oom-oom senang…mataku harus segera dikendalikan untuk tidak leluasa jelalatan menyapu keindahan disekitar, keluargaku harus dijaga keberadaannya dan nyaman duduk ditempatnya.

Sekilas dalam keasyikanku menyantap makanan, seolah aku menangkap kilatan lampu blitz yang menyorot tajam mataku tepat beberapa meter dihadapanku, suatu pemandangan yang lapang tanpa terhalang sedikitpun, sesosok perempuan berpakaian kebaya apik yang nampak mencolok diantara kerumunan orang-orang berbaju modis disekelilingnya, bersanggul serasi dengan rautan wajahnya serta kacamata coklat gelap merk terkenal bertengger di atas hidungnya yang bangir menutup sepasang matanya sehingga sulit mengidentifikasi sosoknya dengan jelas, siapa gerangan yang duduk manis menghadap sambil seolah menatap lekat kepadaku. Sekali lagi aku membuang jauh perasaan yang kegeeran abiz. Tatapi nyatanya mataku tetap saja penasan untuk sekedar melirik menyelidik, ternyata dia didampingi oleh dua orang gadis yang tampaknya diatas sedikit dari umur anaku, dan cepat kutarik kembali pengintaianku, kukonsentrasikan saja ke isi kemasan merek terkenal yang ada dihadapanku. Aku segera memeriksa sikap dari nona-nona cantik disekirtarku, aku tidak ingin nampak mencurigagan dan aneh dipikirnya, kusapu satu-satu mimik wajahnya..nampak memperlihatkan kondisi yang tetap aman-aman saja sehingga kutetapkan sekali lagi untuk melirik pemandangan perempuan unik yang sedari tadi seolah memperhatikanku…dan kali ini dia tersenyum indah nan ramah,…. tapi aku pastikan dulu apa dia tidak sedang meledekku…..dia kini menggelengkan wajahnya dengan lembut beberapa kali sehingga kelihatan semakin misterius saja. 

Pa…kok.. tisunya nggak ada sih…. anakku mengagetkan rasa penasaranku….ambil saja yang ada di tas ibu ya sayang, jawabku singkat….
kuperhatikan isteriku meraih tas tangannya dan mengambil sesuatu yang dibutuhkan anak perempuanku…sedang aku tetap saja tidak ingin teka-teki perempuan unik nan misterius ini lepas begitu saja dari pandanganku…..aneh bin ajaib….dia tidak ada lagi ditempatnya lengkap dengan kedua puterinya yang sedari tadi tampak keduanya sibuk bercengkrama, kini raib entah kemana. Aku tersentak kaget, moment tersebut lepas begitu singkat dalam waktu sekejap.
Aku paham sekarang, teringat akan sahabat dekatku..ya sahabat dekatku kalau tidak kusebutkan sebagai pacar mempesona. Dia seorang lembut lagi bijak, barangkali, sikap dan pemikirannya lebih dewasa dari pada aku ketika kuliah dulu…Dia mempunyai kebiasaan unik seperti itu, hilang saja secara misterius dari sampingku ketika mataku tidak sengaja jelalatan melihat-lihat makhluk manis lain sekaumnya….dia terbakar api emosi dan memanfaatkan kelengahanku …

Yak…teringat disuatu waktu saat aku berjalan berdampingan dari kape sederhana dikampusku setelah mencicipi panganan ala mahasiswa jaman itu menuju tempat motorku terparkir ditempatnya. Dalam kondisi bersikap seperti gentleman kubusungkan dadaku mendampinginya sambil mataku kembali kambuh, terpaku melirik mahasiswi yang lagi bercanda nun agak jauh didepanku….sebelum aku tersadarkan diri ternyata dia sudah raib begitu cepat dari sampingku…….Aduh cilaka……sudah dapat dipastikan bisa bikin runyam suasana nantinya, terpaksa aku harus mencari dimana keberadaan dia dan sekaligus harus membujuk dan minta maaf untuk kesekian kalinya…..

Makanan fastfood yang ada dihadapanku sudah habis, tinggal sisa-sisa yang sulit dicerna tubuh dan tidak berminat sedikitrpun untuk menyantapnya …..aku bergegas ketempat cuci tangan….yang lokasinya berada disudut ruangan, tersembunyi agak jauh dari tempatku duduk.
Disana ditempat cuci tangan tersebut , ternyata dia berdiri sembari mengeringkan tangannya yang basah, kepalaku bagai disambar petir, dan jantungku seolah berhenti mendadak..Dia benar-benar ada…dia tersengat juga dan terpaku berjarak sekitar delapan meter dihadapanku. Kulirik keadaan dibelakangku siapa tau istri dan anakku menguntit hendak ikut membersihkan tangannya juga, ternyata aku hanya sendirian saja, jadi rasanya aman sekali untuk sedikit ngobrol tentang keberadaannya saat ini….kuhadapkan kembali wajahku menatapnya…namun seperti biasanya dia hilang begitu saja….aku lari menuju toilet namun malang kakiku tersandung sesuatu…dan……

Geeedduubbrraaaak……tubuhku terjatuh dari ketinggian tempat tidurku di dini hari yang sunyi…………aku hanya bisa melamun kebingungan dan sedikit mencubit tanganku meyakinkan kesadaranku…. Aaaakkhh hanya Mimpi rupanya.

Cerita ini hanya fiksi humor belaka.

Rabu, 27 Juli 2011

Handphone Jadul

                                                             Image from Shutterlock.com

Ketika subuh sudah berlalu dan matahari mulai menampakan dirinya, indah dengan sinarnya menerangi alam sehabis semalaman tidur lelap diiringi hujan rintik, kemudian gelap.dengan tiba-tiba saja menyergap karena wilayah kita terkena giliran pemadaman oleh yang punya perusahaan listrik negara.

Memang bagi masyarakat sebagai konsumen tetap perusahaan tersebut kadang-kadang harus sabar dan nrimo saja ketika pemadaman listrik mampir ke wilayah tempat kita, tanpa bisa kompromi walau saat itu sedang sangat membutuhkan pasokan energi tersebut. 

Kondisi terang dan gelap adalah dua sisi fenomena alam yang tidak terpisahkan dengan siklus kehidupan makhluk yang sangat dibutuhkan dan bergantung dengan keberadaannya. 

Siang lazimnya terang adalah waktu untuk menyambut aktifitas, mencari sebakul nasi beserta lauk-pauknya sehingga dapat disantap oleh seluruh anggota keluarga pada hari esok atau hari-hari berikutnya.
Jika ada uang lebih jangan lupa ditabung, kebiasaan baik tersebut dapat untuk  nambahin beli rumah atau kendaraan, bahkan bila perlu apa yang ada didunia ini boleh ditukar dengan benda ajaib tersebut jika ada duitnya. Ujar teman saya seolah ngelantur.

Yak…tentunya yang halal, yang haram mah kagak ada untungnye , rugi belipet kali akan didapatkan di dunia maupun di akherat, ujar Pak Ustadz ketika subuh tadi sempat ngobrol sehabis bubaran dari mesjid. Orang yang menafakahkan keluarganya dengan mencari rizki dengan cara yang haram sama saja dengan meracuni dirinya beserta keluarganya sendiri.

Lhooo kok, yaa begitulah, kata Bang Arief sambil ngucek kupi agar pahit dengan manis bercampur merata,  gimana kagak ngeracunin, keluarganya saja kagak ngingetin koo, Cuma bersenang-senang saja ketika berbelanja sana-sini, beli sesuatu agar terlihat berpenampilan tidak ketinggalan jaman, dia hanya mikir bagaimana caranya ngabisin duit sebegitu banyaknya, sampai tidak surut walau tujuh turunan..hehehe
lha ketika ketahuan ama aparat hukum,  habis deh,  photo diri ama namanya dipampang gede di media, kalo dia normal, malunya kagak mau ditinggal, melekat tuh ke seluruh anggota keluargga, udah habis-habisan, habis karena harga dirinya dan nama baik keluarganya jatuh ke dasar yang paling hina,  mau pindah rumah juga dunia ini rasanya seperti sempit, tiap ketemu orang dimana saja, walau belum tentu orang tersebut kenal sama dirinya, pikirnya semua orang  sudah terlanjur memberikan cap......nah kan, apa kagak nyap-nyap tuh,  belum lagi diakherat kelak. Wah…

Makanya jangan lupa  buat tabungan di akherat,  beramal sholeh dengan rejeki yang di jemput dengan cara halal jika ingin untungnya mau berlipat–lipat, ketika ikhlas menyertainya. Ujar pak Ustadz  menimpali.
Ketika malam menjelang selayaknya memang harus digunakan untuk istirahat, setelah siangnya menyambut hidup dengan segala problemanya. Tapi koo  dari malam menjelang sampai mendekati tengah malam, aku asik-asik saja nulis yak, nulis apa saja yang terlintas dibenak , nah  itulah kalau melaksanakan dengan suka cita, aneh juga yaaa,  paling hanya sedikit ngantuk,  untuk kemudian segera memanjakan tubuh  dengan selonjoran akhirnya tertidur pulas. 

Mati listrik ketika malam-malam memang menjengkelkan, apalagi ketika hujan turun rintik-rintik, lama lagi.
Nah dalam suasana demikian, teringat akan cerita seorang teman saya, kurang tau apakah pernah diceritakan olehnya kepada orang lain atau tidak. Saya mohon mafhum saja.
Sebuah cerita ketika teman saya  menunggu detik-detik isterinya  menjelang melahirkan dimalam yang gelap gulita lagi, hanya diterangi lampu tempel karena kebetulan listrik sedang padam.
Malam gelap, hujan rintik-rintik di rumah bersalin yang hanya dikomandani  oleh seorang Bidan desa, hal tersebut boleh di sebut sebagai  peristiwa menunggu yang  mendebarkan jantung, gugup tridak tahu apa yang harus dilakukan.

Dia mencoba berkomunikasi menggunakan telepon genggam miliknya untuk menghubungi saudaranya, namun hanya Ibunyalah yang sempat datang ketempat tersebut, Ibunya kurang dapat informasi  bahwa  listrik di tempat bersalin tersebut sedang mengalami giliran pemadaman. Jadinya alat penerangan minimal seperti lampu senter tidak dipersiapkan.

Teman saya gugupnya minta ampun ketika menghadapi peristiwa saat paling mendebarkan menjelang persalinan itu berlangsung dalam suasana gelap gulita hanya diterangi lampu tempel alakadarnya.
Persalinan tersebut berlangsung dengan susah payah ditolong Bidan Desa dengan bantuan teman saya sebagai seorang suami bersama dengan ibunya dalam suasana remang-remang. Alhamdulillah terlaksana dengan sukses, kini dia beroleh satu anak perempuan lagi. Dia tetap saja berucap syukur  karena persalinan tersebut dapat berlangsung dengan selamat walau ada sedikit permasalahan karena ada yang perlu di jahit sedikit katanya, kini anaknya menjadi dua orang perempuan yang melengkapi kehangatan keluarga.

Suasana persalinan tersebut beranjak tenang ketika lampu listrik sudah menyala, dunia kini terasa benderang kembali. Alat komunikasi yang sempat dia gunakan pada saat-saat genting tiba-tiba saja  berdering, Dia kembali merasakan kegugupan yang tak terkira, rasanya seperti lebih gugup ketika menjelang isterinya melahirkan tadi. telepon genggamnya yang terus menerus memanggil diselusurinya,  akan tetapi benda tersebut tidak juga ditemukan dimana diletakannya, dikantong celana maupun jaket nihil adanya, Dia berusaha mengamati disekitarnya, memasang telinganya lebar-lebar mencari  lokasi asal dari bunyi dering tersebut, namun usahanya kini sia-sia karena ternyata bunyinya sudah berhenti. Mukanya temanku tambah pucat, keringat dingin mulai menyergap. Alhamdullilah ketemu gumannya seolah hatinya bersorak , tergeletak ditempat tidur persalinan rupanya, terlindung diantara kain dan tubuh Istrinya yang kepayahan sehabis melahirkan....
Walaupun Hand phone jadul kalau dijual juga mungkin tidak ada yang minat, ternyata dalam situasi darurat tetap saja sangat  berguna walau hanya sekedar  dimanfaatkan sebagai alat penerangan untuk membuat lebih jelasnya pandangan mata Bidan Desa saat  sedang sibuk-sibuknya melaksanakan tugas berat menolong melahirkan satu  bayi lagi yang hadir kedunia dengan selamat.

Kegugupan yang luar biasa dari teman saya tersebut disebabkan karena  rasa khawatirnya yang mendalam, seandainya telepon genggam jadul miliknya yang tadi  digunakan sebagai alat komunikasi sekaligus juga berfungsi sebagai alat penerang yang cukup sukses membantu kelancaran proses melahirkan,  ketinggalan di kantung yang lain, di lokasi yang sudah dengan susah payah dan menanggung derita rasa sakit yang amat sangat dirasakan  oleh isterinya. 

Wooow………Alhamdulilah Ucapku….memberi selamat kepada temanku karena mempunyai momongan baru lagi...hahahaha

Minggu, 03 April 2011

Selamat Malam Raul





Pernahkah suatu malam sebelum kantuk menjelang menemukan diri dalam keadaan duduk kemudian pikiran melayang tak tentu arah, tidak ada seorangpun dan bunyi apapun mengganggu, bagaimana rasanya ? stresskah, sepi, hening atau bahkan ketakutan. Malam ini ketika aku sendirian hanya ditemani secangkir kopi dan seperangkat computer, sunyi pikiranku melayang mengingat sesuatu yang telah lepas dalam memoryku dan kini aku menyusun kembali keping demi keping mengingat-ingat seolah rasanya baru kemaren terjadi.

Rumah semakin sepi hanya tertinggal suara denting…tik…tik..tik…suara berasal dari jam dinding dirumahku yang sedari tadi seperti melototin melulu …kalau dia hidup barangkali sedang mentertawakan dengan penuh suka cita melihat tingkah polahku atau bahkan merasa pilu megap-megap prihatin karena terlihat seperti sedang stress berat ….…koo ..ini orang sedari tadi hanya duduk diam ..celingak-celinguk gelisah … terkadang mengerutkan dahinya dalam-dalam seperti merenung entah memikirkan apa…

Aku  sedang memanfaatkan waktu luang ketika kantuk belum membelai alam sadarku, lelap yang membawa ke situasi yang jelas secara langsung tidak bisa mengamati keberadaan yang terdapat didalam ruangan kamarku, karena istirahat total dari organ-organ tubuh beserta seluruh indera yang melekat disana telah terambil alih oleh lelap, sebagaimana lelap menjadi suatu moment yang dibutuhkan dalam hidup dan berkehidupan ini.

Kumanfaatkan saja sisa waktu luangku sebelum mata mulai berkejab-kejap kemudian terpejam dan tubuh ini sudah lemas tidak mampu lagi menahan dan memposisikan agar kepala tetap bisa berada tegak lurus diatas tubuh saat duduk dikursiku.

Pikiranku melayang kesana-kemari, kemasa lampau, Sehingga dengan tiba-tiba saja tanpa basa-basi teringatlah akan kisah temanku dulu ketika masih sekolah di sekolah lanjutan pertama….yak aku ingat namanya Raul, dia selalu nomor satu dikelasku terutama dibidang mata pelajaran matematika.

Matematika..ha..ha…mata pelajaran yang paling aku takutkan bukan saja karena gurunya yang tanpa senyum seolah robot waktu itu, tetapi karena pelajaran tersebut memang memusingkanku, bagaimana tidak : kali, bagi tambah kurang sesekali akar tidak ketinggalan kuadrat…diotak atik bersama angka-angka njelimet…boro-boro dapat menebak jawabannya, kotretan atau kopean aku pun malah bersih dari noda sedikitpun, kadang-kadang isinya sih ada, tetapi hanya corat-coret berbentuk gambar yang kalau di lihat dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya kok hamper mirip dengan wajah sang guru ya…( hadoooh… maaf bapak-bapak dan ibu-ibu guru matematika ini hanya tulisan duduls belaka, jangan sampai diambil hati)
Pikiranku mulai melayang seketika itu, Raul yang hidupnya serius kadang-kadang sih suka bercanda juga bersama anggota anggota keluarga lainnya terutama dengan adik-adiknya.

Maksud saya bukan hanya hidup akrab antara anak-anak dan orang tuanya saja, beberapa orang memang sering muncul dan pergi dirumah itu, rumah pemberian pemerintah yang dapat digunakan seumur hidup oleh keluarga Raul. Sebuah rumah yang cukup besar untuk ukuran keluarga kecil karena ternyata oleh ayahnya diperluas bangunannya disertai penambahan-penambahan ruangan tertentu seperti kamar–kamar tidur, ruang makan dan ruang keluarga. Secara umum sih itu selayaknya memang menyalahi hukum matematika apalagi hukum ekonomi…orang rumah milik pemerintah kok dibangun…? ngabisin duit saja…tokh pada akhirnya akan diambil alih oleh pemerintah kembali… ahhhh… menurutku itu ide dudulls….ddduduls banget.

Tetapi memang tidak ada yang dapat menilai harga kenyamanan, buktinya banyak orang-orang berduit pas-pasan, pas untuk beli apa saja maksudku…eh dia pilih beli kendaraan mewah terbaru yang harganya mendekati satu milyard rupiah..lhoo kenapa nggak beli tanah saja…ato beli dollars, poundsterling, ato beli emas batangan…atao beli sebongkah berlian…kek..yang dapat dijual kembali dengan sedikit pengurangan nilai harga jual kembali, padahal biasanya harganya semakin lama malah semakin meningkat. Sebuah mobil yang nyaman sekalipun jikalau sudah lama dipakai malah semakin menurun harganya dibanding kalo beli mobil baru, apalagi mobil tersebut sudah lama dipakai terus rusak… terus tabrakan lagi, whoalaaah… tentunya nilai harganya kudu meluncur jatuh bebas seperti air terjun.

Yak… kenapa dikhususkan untuk membangun rumah itu, belakangan aku mulai mengerti karena keluarga tersebut secara umum memang sering sekali didatengin tamu anggota keluarga dari pihak ibunya Raul atau dari pihak bapaknya. Sering sekali terlihat tamu yang datang mampir menginap sampai beberapa hari kemudian pergi setelah maksud tujuannnya terlaksana.

Demikianlah rumah Raul, besar dan nyaman untuk ukuran sebuah rumah didalam komplek jika dibandingkan dengan rumah-rumah tetangganya, rumah yang cukup besar untuk menampung beberapa orang tetapi bukan itu maksudnya, rumah dengan konsep bangunannya yang terdiri dari beberapa ruang adalah untuk menampung keluasan hati orang tuanya Raul agar dapat menampung orang-orang terdekatnya dengan hati yang tulus, baik untuk tamu yang hanya sekedar bersilaturakhmi sekilas saja untuk kemudian pergi akan tetapi juga untuk orang-orang terdekat yang secara khusus memang membutuhkan tempat untuk tinggal dan berteduh selama beberapa hari sampai beberapa bulan bahkan tahun.

Tantenya dari pihak ayahnya Raul contohnya yang ditinggal pergi oleh suaminya karena telah mendahuluinya dipanggil ke alam baka, bahkan anaknya juga sempat terlihat beberapa bulan terakhir tinggal dirumah itu dimulai semenjak rumah tersebut belum dibangun.

Tantenya waktu itu sampai beberapa tahun tinggal dirumah Raul sebelum akhirnya pergi kerumah keluarga lain karena merasa risih setelah Kakaknya yaitu ayahnya Raul sendiri telah meninggal dunia untuk selamanya.
Menurut Raul sih… sempat ditahan-tahan agar mengurungkan niatnya untuk meninggalkan rumah tersebut atau setidak-tidaknya memikirkan kembali dalam-dalam bahwa dirinya beserta anggota keluarga lain pemilik rumah tersebut menghawatirkannya, akan sangat merasa kehilangan setelah beberapa tahun tinggal bersama hanya karena gara-gara ayahnya wafat ternyata beliau memutuskan untuk pergi. Tapi hal itupun sia-sia, tantenya telah bertekad meninggalkannya….

Kalau diingat-ingat memang Ayahnya Raul jarang memperlihatkan giginya, jangan dikira giginya ompong atau kuning bahkan kotor hitam-hitam. Saya pernah melihatnya dengan mata kepala sendiri karena secara tanpa disengaja ketika setelah beliau menguap lebar-lebar, kemudian tiba-tiba saja dia memperlihatkan barisan giginya yang bersih menghadap kepadaku, kaget sih karena tertangkap basah sedang memperhatikan beliau dengan pengamatan yang mendalam tiba-tiba saja beliau menampakan wajah menghadap kepadaku dengan membuka bibirnya keatas dan kebawah memperlihatkan deretan giginya yang rapih. Aku buru-buru buang muka ….
secara lazim dikatakan sebagai orang tua yang jarang sekali tersenyum sembarangan apalagi tertawa terbahak-bahak, memang tampak sinis, tapi koo beliau terlihat adem dalam format raut mukanya yang biasa-biasa saja tanpa dibuat-buat. Ayahnya memang seorang militer yang kukuh dan disiplin selama pengabdiannya karena tuntutan dari profesinya barangkali.

Dia cenderung seperlunya tetapi pribadinya tulus sekali, tanpa ada sedikitpun pikiran-pikiran yang mengarah ke perasaan negative terhadap orang lain, acuh tak acuh tetapi pada dasarnya memang hatinya sangat perhatian, namun memang rasa simpatinya jarang sekali diperlihatkan secara vulgar. Walaupun terkadang bisa saja beliau marah dan memanggil anak-anaknya dengan kata-kata tegas atau pernah beberapa waktu ketika Raul masih duduk di sekolah Dasar apalagi ketika duduk disemester pertama sekolah lanjutan pertama, beliau dengan teratur setiap habis sholat maghrib memanggilnya, terutama Raul sebagai seorang anak laki-laki yang paling besar dirumah itu, dalam rangka membahas mata pelajaran sekolah, khususnya selalu meminta tolong untuk dikeluarkan buku matematika yang beberapa waktu yang lalu pak guru disekolah meminta muridnya untuk membeli buku yang sudah disediakan disekolahnya, dan mulailah pelajaran privat matematika diselenggarakan, hamper setiap malam selepas sholat maghrib berlalu, Raul selalu ditemani ayahnya di meja makan bukan sedang makan melulu tetapi sedang membahas pelajaran matematika yang membuat dirinya terlihat agak linglung.

Tetapi kenapa matematika, kenapa tidak bahasa Indonesia atau ilmu pengetahuan alam misalnya, kenapa matematika, yak.. aku sendiri terkadang merasa heran dan males untuk membahasnya, barangkali yang ada dipikir bapaknya, pelajaran matematika mempunyai kesan tersendiri secara pribadi atau memang karena matematika merupakan salah satu bagian dari ilmu murni yang banyak sekali gunanya…ahhh entahlah… sampai beliau wafat pun, Raul tetap enggan untuk menanyakannya..yak…. kenapa matematika ya…
Pernah suatu waktu, ketika kami kebetulan mampir kerumahnya, perasaan sih… hamper tiap malam sehabis sholat maghrib aku tidak bisa mengajaknya bermain apalagi berantem dengannya, dia harus sudah segera duduk dimeja makan dengan buku matematika terbuka diatasnya. Aku pernah mencoba menemaninya karena dia dan ayahnya tidak merasa keberatan.

Ayahnya terlihat mengamati buku matematika tersebut, sebentar kemudian menerangkan secara ringkas dan jelas beberapa teory dan contoh soal sesuai yang terdapat dalam buku tersebut…dan ketika dirasakan cukup dimengerti oleh Raul  maka dengan serta merta beliau akan memberikan tugas menyelesaikan dan tugas menjawab soal-soal yang bertaburan banyak dibuku tersebut….mabok ..dah….,
Satu hal lagi yang unik dari gaya mengajar bapaknya Raul yang tidak ada duanya didunia barangkali, beliau selalu memberikan privat pelajaran matematika gratis tidak melulu dimulai dari halaman pertama saja sesuai dengan urutan halaman buku, tetapi malah dimulai dari halaman terakhir menuju ke halaman pertama…hi..hi..hi..binun tujuh keliling, dan aku malah melongo…kasian deh kamu Raul.

Model mengajar seperti begitu meniru konsep belajar apaan sih…cara mengajar demikian sebenarnya masih misteri sampai saat inipun. Ketika Raul sudah mandiri dan bekerja, suatu waktu aku pernah bertemu Raul dikantornya yang megah lagi sejuk, sempat ditanyakan pendapatnya, dia malah tersipu-sipu, kemudian tersenyum manis… misteri tersebut belum terkuak apalagi maksudnya, barangkali Ayahnya penganut philosopi bahwa “mulai lah dulu dengan yang susah-susah tokh ketika ketemu yang mudah halaaagh cingcay lah mudah sekali diselesaikan itu”…ujarnya.

Bayangkan saja…soal-soal tersebut masih saja aku dan Raul pelototin tanpa dapat jalan keluarnya sekalipun, sesekali memang aku coba membuat coretan-coretan angka-angka dikertas kopean maksudnya ngotret atau ngkope, akhirnya memang tidak jauh-jauh amat, Aku hanya tercenung ketika jawabannya sungguh amat susah dan jika sudah waktunya habis kira-kira satu jam dari pertama beliau mulai mengajar sampai jam menunjukan denting pas waktunya selesai, aku malah belum dapat menjawab satu soal pun, lama-lama pusing tujuh keliling.….yak..ketika ayahnya Raul sedang beranjak kedapur untuk mengambil minuman, sedang aku dan Raul berkutat dengan soal–soal susah apalagi jawabannya…..buru-buru aku kabuuuur, pikirku itu lebih nyaman dibanding duduk dimeja panas bagai pesakitan hee-eemh ,

Menurut Raul sih, setelah waktu yang telah ditentukan tersebut berakhir, beliau akan memeriksa hasil pekerjaan anaknya, mengamati jawaban, yang salah harus diselesaikan kembali sampai betul semua…jika mandek maka pelajaran tambahan akan dimulai lagi sampai tuntas. Soal-soal tersebut harus dapat diselesaikan dengan predikat benar semua….dan jika masih ada yang salah apalagi sampai membantahnya karena perasaan ngantuk sudah mulai menyerang, sebenarnya menurut Raul bukan kantuk sih, tetapi karena acara dilayar TVRI waktu itu sedang menayangkan film seri kegemarannya dan Raul tidak mau acara tersebut terlewatkan….Nyatanya Bapaknya akan ngamuk-ngamuk.

Perlu diketahui ya soudara-soudara bahwa Bapaknya Raul hanya memberikan les privat kepada anak laki-laki sulungnya hanya pada tahun-tahun pelajaran yang kritis saja, yaitu kelas 6 Sekolah dasar, kelas satu SMP, kelas tiga SMP dan kelas satu SMA itupun hanya sampai membahas soal-soal dibuku yang dibeli disekolah tersebut, jika sudah tuntas semuanya paling sekitar satu bulanan dari 6 bulan (satu semester) pelajaran tersebut digeluti, selebihnya seingat saya tidak terlalu disiplin-disiplin amat kalau tidak boleh dibilang bebas.

Hari ini, hari ketika aku dan Raul sudah dewasa apalagi ketika menghadapi beberapa pekerjaan dikantorku aku terkadang merenung sendiri….itulah yang aku namakan bentuk perhatian yang tidak tampak dilihat, tidak luwes, tidak bermanja-manja tetapi amat berguna bagi diri Raul dan berkesan bagi saya pribadi terutama sebagai bekal dalam menghadapi pelajaran-pelajaran lain dikemudian hari (matematika kayaknya dipakai disetiap disiplin ilmu)…

Masa-masa tersebut diatas adalah masa-masa yang menurut penilaian ayahnya Raul sebagai masa kritis dari siklus perkembangan anak yang harus diluruskan sampai anak tersebut sudah mampu mengontrol dirinya sendiri sebagai orang dewasa…lhoo.….itu menurut pendapatku ya… berdasarkan pengalaman kontak fisik dan pikir dengan Raul beserta ayahnya, beliau tidak memperlihatkan rasa sayangnya secara terang-terangan apalagi berlebihan kepada anak-anaknya, tanpa penjelasan yang njelimet akan maksud dan tujuannya …Nak harus begini …harus begitu… tetapi menerapkannya secara langsung dengan prakteknya….Buktinya Raul mampu menerangkan dipapan tulis sekolah ketika Guru pelajaran mathematika membahas soal-soal pelajaran tersebut dan Raul hamper tidak pernah mendapat nilai kurang dari angka delapan pada waktu itu, seringnya sih Angka sepurna, betul semua.

Setelah Raul Kelas dua SMA dst… Ayahnya didak secara langsung membimbingnya untuk menyelesaikan permasalahan pelajaran khususnya matematika dirumahnya, kecuali kalau ditanyakan, mungkin pelajaran matematikanya semakin susah sehingga lupa lagi membahas dan menjawab soal-soalnya.
Saat ini ketika aku teringat temanku, Raul dimanakah engkau sekarang berada…?

Kabarnya kau sudah menjadi pejabat di negeri yang entah dimana ? satu kata saja yang ingin ku ucapkan malam ini, “Selamat Malam Raul”

Selasa, 19 Oktober 2010

Replika Menara Eifel berubah menjadi burung




Rasanya sudah beberapa menit berlalu anton bulak-balik di beranda rumahnya, ada rasa tegang yang amat sangat, tampak terlihat dari roman mukanya yang pucat dan sedikit berkeringat walau malam ini udara sedang dilanda mendung, hujan rintik-rintik semenjak sore tadi tidak henti-hentinya tercurahseolah diturunkan dengan perlahan dari atas langit yang kelabu, keningnya ditekuk agak mengkerut,
memperjelas garis-garis yang menghiasi wajahnya, semakin kentara memperlihatkan roman agak geram, matanya garang terus saja berkeliaran mengawasi setiap sudut ruangan. menyapu setiap jengkal wilayah kekuasaannya.
Tadi ia jelas sekali terlihat masuk melalui pintu depan, gumannya. Kini entah kemana dia ngeloyor, berjalan dengan tenang saja, melangkah seolah tidak memperdulikan yang punya rumah memperlihatkanstrees berat. Sedari tadi Anton sudah memasang kuda-kuda pertanda siap siaga menghadapi musuh besarnya, sementara kedua tangannya tetap saja memegang alat pemukul dengan erat setelah tergesa-gesa tadi mencari perkakas untuk mempertahankan diri, berjaga-jaga siapa tau makhluk tersebut menyerang dengan tiba-tiba, sehingga tanpa sadar dia meraih apa saja yang ada didekatnya untuk sekedar dapat digunakan sebagai pemukul, sebuah gagang sapu yang tersandar dipinggir tembok dekat pintu beranda dia sambar dengan cepat tanpa kompromi.
Makhluk bengis tersebut tetap saja tidak menampakan diri, gelisah Anton semakin menjadi-jadi, dia mencoba merunduk, matanya liar menyusur setiap kolong tempat duduk dan meja….sekonyong konyong saja kini dia meloncat kaget…
makhluk tersebut ada disana, teriaknya …dia ngumpet dibawah kolong kursi, pada kenyataannya dengan spontan anton terjajar mundur beberapa langkah kebelakang. Kuda-kudanya yang tadi tampak kokoh kini hancur berantakan, gagang sapu yang tadi dipegang erat dengan kedua tangannya kini disandarkan kedadanya, napasnya turun naik, matanya mendelik dia tidak berani melangkah sejengkal pun.
Istrinya yang sedari tadi memperhatikan tingkah polah suaminya kini tertawa cekikikan, dia bejalan menuju makhluk yang bersembunyi dibawah kursi tersebut sambil mendesiskan kata-kata huuuss…huuusss….hhhusss, Ia mengibaskan sebelah sendal plastik, mengusir makhluk yang paling ditakuti Anton dan kucing tersebut terbirit-birit berlari menuju pintu kemudian berjalan gontai keluar meninggalkan rumah dengan anggunnya.
Carnipor Phobia barangkali atau tepatnya cat phobia …haa..ha..ha..
Isterinya terus saja berlenggang dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa, kemudian memanfaatkan kesempatan tersebut untuk membersihkan lantai beranda rumahnya,sapu ijuk yang terlanjur diambil dari genggaman suaminya  dia kibaskan menyapu remah-remah bekas makanan kecil anak bungsunya.
Anton melongo, sisa-sisa kaget masih belum raib sempurna dari rasa cemas yang mencengkeramnya tadi.

==================================================================================

Replika menara eifel mungil tersebut terlepas dari dekapannya, benda kesayangan teman anton yang paling diagungkan olehnya kini tampak tergeletak, siempunya benda terlelap sesekali memperdengarkan bunyi dengkur mengiringi nyenyak istirahat total.
Anton muda dan rekan lain melongo, baru kali ini benda keramat yang selalu dia simpan dengan rapi tersebut tergeletak bebas tanpa perlindungan apapun.
Perjalanan tadi, menyusuri ngarai menuju tempat rekreasi cukup melelahkan segenap rekan anton, kira-kira delapan km selama kurang dari dua jam telah ditempuh untuk menuju rumah peristirahatan ini , Sebuah rumah vila kecil sederhana kapasitas empat orang anak. Kini vilatersebut telah dihuni dengan nyaman selama kurang lebih dua hari. Sebuah acara rekreasi hura-hura yang diadakan sekolah SLTP selepas acara ulangan umum yang cukup menguras pikir dan energi, kini rasanya seolah telah bebas lepas.
Telah tiba saatnya seluruh kelas dua b SLTP tersebut untuk bersenang-senang, jalan setapakberliku mengikuti kontur pegunungan dilahapnya dengan suka cita, sesekali suara koor anak-anak mengalun dengan lincah menyanyikan lagu-lagu riang, berjalan mengular berderap,menghentakan kaki menyusur jalan berliku.
Hawa pegunungan didaerah Bandung utara yang sejuk segar, antara Pakar Dago-goa Jepang menuju tempat rekreasi dihiasi sungai-sungai kecil didalamnya. Huuuugghh …sungguh indah tempat ini. Pikir Anton….
Namun selepas makan siang menuju sore, Anton dan rekannya cukup membuat matanya susah untuk tetap terbuka, selonjoran saja dilantai vila menonton acara satu-satunya yang tertangkap pesawat televisi monocrome diruangan tersebut. Sekejap itulah salah satu rekan Anton sudah terlelap melupakan mainan miliknya yang paling dirahasiakan. Replika Menara eifel yang tampak dari hadapan anton berdiri agak miring kekanan.
Dalam moment sekejap tersebut melahirkan kreatifitas spontan tiga orang anak SLTP tersisa termasuk Anton didalamnya. Mereka perhatikan benda tersebut dengan seksama, seseorang berjalan keluar mengumpulkan bulu-bulu halus ayam kampung yang bertebaran setelah tadi dipotong siempunya vila untuk lauk-pauk acara makan siang dan malam.
Replika menara eifel tersebut kini sudah berubah wujud telah dihias cantik menyerupai burung indah, tampak kepalanya sedang mendongak keatas, kelangit-langit ruangan vila. Tubuhnya diselimuti rekatan bulu-bulu halus ayam kampung sehingga bentuknya mirip sekali dengan sosok Anis kembang kepunyaan Paman. Anton yang bersuara merdu.
Hasil kreatifitas nan indah tersebut kini diamati dari kursi tempat duduk masing – masing, dalam suasana terkagum atas kreasi spontan mereka, tidak tau dari arah mana datangnya, melangkah tanpa meninggalkan jejak suara sedikitpun, tampak seekor kucing betina gemuk sedang mengendap-ngendap mengincar mangsa semakin dekat dengan menara eifel yang berhias, malah kini menjadi dua ekor… soo what….
Kontan saja seluruh rekan Anton terkesiap melonjak belingsatan dari tempat duduknya masing-masing, sebagian berusaha melindungi menara burung tersebut yang lainnya berusaha mengusir dua ekor kucing betina gemuk dengan membabi-buta, suara gaduh menyebabkan sipemilik replika yang tadi tertidur lelap kini bergerak-gerak siuman, menggesekan punggung telapak tangan, membangunkan matanya.
Setelah agak tersadar dia tersentak kaget, matanya melotot, berteriak menjerit memandang replika menara eifel kesayangannya kini berubah menjadi burung……