Thanks toAlex Mero for your attention.
Hanya ingin arti hidup diberi warna, berusaha meraup mimpi melalui torehan kata yang kadang aneh tak bermakna.
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Rabu, 13 Juli 2011
Minggu, 03 April 2011
Pengalihan-pengalihan Emosi
Brrraaaak… Pintu kamar berwarna coklat muda natural persis sewarna kayu jati dibuka dengan sedikit kasar untuk kemudian ditutup kembali, Ayu berjalan beberapa langkah menuju tempat tidurnya, tasnya diletakan ditempat biasanya di sebuah meja belajar yang diterangi lampu sorot yang mengarah persis ke permukaan meja tersebut. Dalam kebisuan yang memunculkan raut wajah tampak kusut dengan garis bibir agak tertarik kebawah berkesan ngambek, rasanya ingin sekali berteriak sejadi-jadinya saat ini.
“Apanya yang salah ” Ayu berguman geram, tubuhnya dilempar ke empuknya tempat tidur yang tertata rapih, tempat tidur yang berwarna biru muda ber corak burung-burung sedang melayang mengitari ranting-ranting pohon dilatar belakang bulan tampak malu-malu bersembunyi dikerindangan pohon yang meranggas, warnanya terangkai sangat senada.
Kenapa rekan lelakinya hari ini bersikap menyebalkan, ada satu, dua orang yang menurut pandangannya cukup simpatik tetapi kenapa hari ini semuanya demikian mengesalkannya.
Kata-katanya terlalu serius, tidak peduli ditujukan kepada siapa tetapi pandangan sepasang mata itu, sepasang mata diantara berpasang pasang mata yang tertuju kepada dirinya membuatnya terasa kikuk serba salah sendiri.
“Bodoh, sangat bodoh” teriakku geram di kesendirian dalam kamar, sejenak setelah kuletakan tas sekolahku di meja belajar.
“Apa sih maksudnya”, padahal banyak cara yang dapat dilakukan jika itu memang ingin menarik perhatian, asal bukan yang menyebalkan tersebut, bualan-bualannya sangat keterlaluan ” Ku benamkan wajah ku diantara tumpukan bantal-bantal agar tenggelam dikedalannya untuk kemudian kurasakan keresahan ku sedikit memudar, hening di telinga, tidak ada suara-suara yang mengganggu lagi. Istirahat total barangkali itu yang amat diperlukan saat ini selagi pikiran ku sedang dilanda kalut.
Tiba-tiba saja aku tersentak kaget mendengar suara ketukan beberapa kali di pintu kamar, perlahan pintu terbuka dan sosok yang tidak asing lagi bagiku tampak berdiri diantara pintu dan meja belajar ku “Ayu , sedari tadi makanan sudah siap ter saji di meja makan, coba disantap nak” suara tante, adik dari ayahku lembut menyapa.
“Siap tante, ayu akan serbu, kebetulan perut lagi keroncongan, maaf tadi ketiduran sebentar” jawabku meyakinkan bahwa aku sedang dalam kondisi baik-baik saja. Pandangan mulai terlihat fokus, walau agak terkesan mengambang bagai layang-layang putus, layang-layang yang terlepas terbang bebas.
Sesuap demi sesuap makanan dalam piring hampir habis tak terasa, lidahku tidak seperti biasanya menyapa datar masakan olahan Tanteku.
Yak, aku bagai layang-layang putus, merupakan suatu personifikasi yang pas untuk menggambarkan suasana jiwa yang lagi kesal.
Masih terbayang gerakan dan ungkapan bodoh dilakukan temanku yang amat kusesalkan, “Bodoh” pikirku
Dikamarku sendirian, kupuaskan hati dengan mengotak-atik lappyku, nalar kembali pulih, membangun ketenangan rasa yang sedari tadi penuh sesak nyaris meledak, membuncah untuk kemudian mempendarkan semburat energi.
Setelah suasana hati mereda, energi emosi yang penuh sesak kini disalurkan, perpaduan rasa dan nalar dikolaborasikan melalui alur-alur harmoni. Melalui kanal-kanal, energiku diharapkan mengalir menjadi gerak positif.
Kutarik lembar demi lembar kertas putih bersih dari tumpukannya, kejujuran rasa dan fikir mengalir membentuk tarikan-tarikan pinsil hitam digenggamanku, mengalir membangun sketsa-sketsa gambar dua dimensi, hanya diri saja yang dapat menerjemahkannya, coretan-coretan cepat membentuk gerakan- gerakan, bentuk bentuk kini mulai terlihat ringkas, gambar-gambar sketsa ter tuang seolah bergerak menapak udara atmosphere sore cerah untuk kemudian ritmis agak rampak bersemangat seperti menggapai langit.
Otot jemari memanas dipadupadankan dengan kekuatan energi rasa, gesit meluncur menyendiri menerjang menusuk tajam tanpa ampun, tanpa dapat dihentikan, kekuatan terakhir dipertaruhkan seiring dengus napas yang membludak dan debaran jantung berdentam cepat, meluncur tajam memburu menyongsong kekuatan lain yang terlanjur lambat diantisifasi.
…dast..dast..dast…untuk kemudian kekuatan kini menjadi ringan meliuk mengatas menentang gravitasi untuk kemudian diam mematung sesuai gerakan formasi terakhir yang sempat dicapainya.
…dast..dast..dast…untuk kemudian kekuatan kini menjadi ringan meliuk mengatas menentang gravitasi untuk kemudian diam mematung sesuai gerakan formasi terakhir yang sempat dicapainya.
“Ahh andai Ibu masih berada disampingku saat ini, pastilah beliau akan senang memperhatikan anaknya mencoba menciptakan koreografi seni tari yang sempat disukainya”, Gumanku pelan.
Gerak laju layang-layang yang berlengak-lenggok kemudian tiba-tiba saja memburu menyongsong kelengahan lawan telah menginsfirasi membentuk gambar-gambar sketsa sebuah koreografi gerakan tarian rampak dan solo, suatu gerak tarian yang selama ini aku tekuni dalam beberapa bulan terakhir.
Stereo set yang tertata apik sekaligus lappy pribadi ku dihidupkan dengan posisi fitur web kamera menghadap ke ruang leluasa dalam kamar agar dapat merekam setiap formasi gerak tari. Suara musik, perpaduan irama pentatonis dan diatonis mengalun dinamis mengiringi sketsa-sketsa gambar dua dimensi yang diaplikasikan ke dalam bentuk gerak olah tubuh ter koordinasi, menyuguhkan keindahan sendratari yang harmonis antara gerak langkah dengan irama dentam musik ditingkahi bunyi-bunyi ritmis sehingga atmosphere udara dalam ruangan kamar ter isi penuh dengan nada-nada dinamis mengiringi gerak langkah tari serasi berbaur apik.
Pernah mengingat dalam setiap hendak mulai menari, ingin rasanya memakai topeng warisan turun temurun dari ibuku. Hanya dua kali aku dapat memandang detail bentuk rupa topeng tersebut secara leluasa, ketika aku masih belia sekali dan kerap ibuku giat memberi pelajaran menari dan sesaat setelah ibu meninggal, itupun karena ada selembar kertas wasiat yang ditujukan kepadaku tentang isi kotak kayu jati berukir.
“Ibu bukan penari handal, nak”, katanya suatu ketika pada saat beberapa gerak tari beliau ajarkan kepadaku, walaupun sudah terlalu lama ketika masih belum dewasa saja beliau pernah berlatih dengan tekun diajarkan oleh nenek, ibu masih mengingat sampai akhir hayatnya beberapa gerak tubuh jenis-jenis tarian tradisional.
“Keahlian dasar tari ini, ibu dapatkan secara turun temurun nak, gerak-gerak lemah gemulai dan rancak bernilai seni yang patut untuk dilestari kan”, hanya itu ucapan ibu yang masih terngiang di telingaku, ketika dalam suatu kesempatan bercerita tentang arti mengenai topeng warisan, sampai akhirnya ketekunan menari topeng tradisional terhenti dilakukan oleh ibuku semenjak beliau mengenal rasa, semenjak beliau terpaut hatinya dengan seorang pemuda simpatik yang telah merebut perhatian nya, ia rela untuk meninggal kan keterbiasaannya menari dengan alasan yang sangat pribadi, itulah sebabnya ketika aku menyampaikan sebuah cita-cita setamat SMA berkehendak melanjutkan menuntut ilmu ke sekolah tinggi seni tari, mendengar tuturanku ibu terlihat terlalu bersemangat mendorong, walaupun ayah dengan sera-merta menentang nya.
Dicobanya topeng berwajah perempuan molek warna merah jambu, diterapkan lekat-lekat kewajahku se nyaman mungkin, dihimpitnya jepitan yang menjulur sedikit di belakang bibir topeng tersebut dengan geligi kuat-kuat, ternyata pas dengan luasan wajah ku, tarikan bibir topeng merekah membuat image riasan wajah sumringah, topeng tersebut menular kan senyum mempesona pada diriku.
Kudongakan wajah ku ke atas lalu ke bawah, wajah topeng menyusur seluruh isi permukaan dinding-dinding kamar, untuk kemudian tubuhku berdiri memposisikan ke permulaan tarian.
Kaki kanan terpasang ke depan agak melekuk sedikit, demikian juga kaki kiri sedikit disimpan di bagian belakang dengan jarak satu telapak kaki, garis telapak kaki antara yang sebelah kiri dan kanan membentuk sudut 60 derajat. Mulai dari pinggang ke atas kuposisikan diri membentuk sudut tegak lurus dengan lantai sehingga menimbulkan kesan pinggul agak menjentik ke belakang dan pinggang melandai lentur, tubuhku ku miringkan agak sedikit ke kiri dengan wajah menghadap lurus ke depan, senyum merekah yang ter sirat di wajah topeng tersebut menimbulkan aura riang. Tubuh dan wajah ku mematung dalam waktu sekitar se menit, cukup lama untuk sebuah opening sendra tari.
Irama nada dari stereo set terus mengalun bersemangat, kemudian tubuhku mulai meliuk diikuti gerakan menjejak bumi melaju pelan berirama, wajah dan sebagian anggota badan ku gerakan ala robot ter patah-patah berganti-ganti arah, kedua tangan bergerak simetris mengambil gerakan mengibas selendang yang menjulur sebatas dengkul, kurentangkan tanganku ke posisi hendak meliuk kemudian di tekuk sebatas siku, jari-jari bergerak-gerak, lentik di telapak tangan kemudian seluruh tubuh bergetar berputar mantap, tarian ini terus mengalir ritmik dan dinamis selama kurun waktu tertentu di ruang kamar yang cukup luas untuk ukuran sebuah kamar pribadi, kemudian diakhiri dengan formasi mematung sejenak persis seperti gerakan awal tarian untuk kemudian topeng tersebut ku buka.
Suasana riang kini kurasakan, tak terlihat sisa-sisa sembab yang menggelayut di mataku, tampak berbinar setelah tuntas menciptakan dan menari kan sebuah koreografi tarian yang menurut ku indah setelah melihat hasilnya melalui putar ulang di perangkat laptopku.
Minggu depan tarian ini akan di pertunjukan dalam pesta perpisahan anak-anak kelas tiga di SMA ku, sekaligus ingin rasanya membuktikan kepada Ayahku bahwa seni tradisional juga tidak akan kalah indah dengan tari modern dan sangat patut untuk dilestarikan apalagi jika menarikan hasil ciptaan sendiri yang dipadu-padankan dengan tarian modern.
Beberapa hari ke depan latihan ini tentunya akan semakin menguras energi dan waktuku.
Selamat beristirahat dengan tenang Ibu, malam ini tampaknya ayu akan tidur nyenyak, semakin lelap merenda malam.
Ditinggal orang yang biasa ternyata luarbiasa
Dalam kondisi menggigil basah kuyup karena wajah dan rambutmu kehujanan ia datang menghadap kepada ku ,“ternyata kita sejauh ini telah mengerjakan sesuatu pekerjaan yang sama” ujarnya sambil mengembangkan senyumnya yang khas, “mubadzir keringat kita tercurah karenanya “ kataku pelan engkau malah tersenyum lembut , ” tidak ada yang sia-sia dalam setiap perbuatan yang pernah kita lakukan sebatas memang itu sesuai dengan koridor yang telah di tetapkan” katamu tenang sambil senyumnya terus saja menghiasi wajah kuyunya, tetes sisa –sisa bekas air hujan masih terimbas dari rambut dan wajahmu, tetapi senyum itu tetap saja menghias diwajahmu yang ceria.
“Ayo kita selesaikan permasalahan kita dengan parameter yang umum”, katanya mengajak diskusi, “siapa yang lebih dulu menerima pesan pekerjaan tersebut, siapa diantara kita yang lebih dulu melakukan pekerjaan dan seberapa jauh kita sudah melaksanakannya” dan sambil tertawa engakau merasa kalah dari berbagai sisi, tetapi senyum itu terus saja berkembang.
Itulah pertama sekali aku takjub kepadamu, sesosok yang dalam kondisi tidak prima sekalipun engkau masih mengejar hal-hal yang aku sendiri tidak tau memaknainya. Engkau hanya menyelesaikan solusinya sambil tersenyum sembari melaksanakan setiap pekerjaan sesuai dengan tugas dan fungsinya, bahkan lebih pikirku dalam hati, aku sering melihatmu bahkan sempat bercakap denganmu pada saat-saat orang lain mungkin sedang asyik beristirahat di kursinya yang nyaman menonton TV sambil menikmati camilan ringan pengantar malam atau tidur pulas diranjangnya yang empuk, tetapi engkau masih saja berkejaran dengan waktu meraih sesuatu untuk dibawa pulang dan dinikmati bersama dengan keluarga yang sedang menunggumu dirumah.
“Taukah kau saudara-saudaraku” ujarku dalam suatu kesempatan ngobrol antar sesama rekan yang lain di warung kopi yang biasa kita singgahi, “Dia adalah seseorang yang biasa saja, tidak ada seorang pun yang memandang dia istimewa, sosoknya, cara berpakaiannya, jenis pakaiannya, tingkah lakunya bahkan keberadaan harta bendanya pun menampakan hal-hal yang biasa-biasa saja bahkan sangat sederhana dibanding yang lainya menurutku, sehingga dia hanya dipandang oleh kita sebagai temannya atau orang lain adalah sosok yang serba biasa-biasa saja , sebagai sosok yang banyak dijumpai disekitar kita, dia tidak menonjolkan diri, tidak berkesan sombong atau tinggi hati, kesimpulannya dia itu tidak suka menarik perhatian orang lain apalagi kondisinya sedang mengidap penyakit tahunan yang sangat kronis tetapi dia tidak menampakan keluhan akan kondisi sakitnya” ujarku terheran, tampak teman-temanku mengamini semua perkataanku.
Jika ditilik lebih jauh, dia hanya melaksanakan kehidupannya tanpa hadir ditempat-tempat yang tidak ada manfaatnya sekalipun bahkan menimbulkan dosa baik yang disengaja maupun tidak disengaja, ketika sudah terlanjurpun, dia sudah berada disekitar itu maka dengan sopan dan tanpa meninggalkan jejak sedikitpun, dia akan menghindar tanpa ketahuan. Perilakunya tanpa dibuat-buat, baik ketika sedang mengerjakan amal soleh atau beribadah kepadaNYa sekalipun, dia terlihat selalu paling depan dan khusu apalagi dilingkungan rumahnya.
Akhir-akhir ini setelah hanya selang dua hari dari pertemuan kita yang terakhir saya mendapat kabar engkau semalaman sudah dibawa ke rumah sakit untuk kemudian beberapa jam selanjutnya kondisimu tidak sadarkan diri, dan semuanya yang hadir tepat disisinya menjadi sedemikian paniknya, walaupun ketika keesokan harinya engkau kembali bercengkrama diantara kita-kita, sebagai teman engkau tetap selalu memperlihatkan diri dengan senyum berhias diwajahmu dan keriangan-keriangan yang diperlihatkan saat itu sangat tidak biasanya, seolah-olah engkau tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Subuh itu, setelah dua menjelang ketiga hari engkau berada dirumah sakit, serasa tersentak kaget pikir ini, teringat kemarin siang dengan kerianganmu, kini engkau telah mengejutkan kita semua.
Innalillahi Wainnailaihi Rojiun, engkau telah dipanggil kehadiratNya dengan tenang, senyummu masih terulas dijasad fanamu.
Sebagai seorang biasa dipandangan orang, aku terkejut ketika yang hadir men Sholatkan engkau dimesjid terdekat dengan rumahmu begitu banyak tidak terkirakan demikian juga yang mengantar memberi penghormatan terakhir ke kuburmu jumlah yang hadir demikian banyaknya.
Selamat tinggal teman, sebagai sosok orang biasa tetapi ternyata engkau amat luar biasa, mudah-mudahan sama dipandangan Allah SWT. Amiiin
Engkau telah mendahului kita sebagai temanmu dan orang-orang terdekat denganmu, Aku malah bertanya-tanya sampaikah aku menjadi orang yang luar biasa saat akhir khayatku, dan pertanyaan itu membuat mata ini berkaca-kaca sobat, selamat tinggal kawan, semoga Allah SWT ridho atas segala amal ibadahmu .
Keselarasan
Tiba gilirannya bahwa kekuatan setiap diri bagai persetubuhan intim antara diri yang disakralkan untuk bertahan menyelaraskan dengan kekuatan alam
potensi setiap diri menjadi segala sesuatu yang menyelaraskan antara yang berada didalam dengan yang berada diluar diri
menyelaraskan sesuatu yang kuat sekaligus juga yang lemah
disukai menyelaraskan dengan yang dibenci
menyenangkan dengan yang menyedihkan
siang dengan malam
sebagaimana semak-semak mawar dengan duri-duri yang tajam pada tangkainya
menyelaraskan dengan kelopak-kelopak bunga yang merekah indah megah
antara setiap diri dengan diri-diri yang lain
antara setiap diri dengan Tuhannya
begitulah cara Tuhan menciptakan kehidupan dengan segala hiasan nya
yang diciptakanNya menyelaraskan perjalanan diri menempuh hidup
antara nafsu dengan tuntunan
memiliki dengan yang lepas dari genggaman
memilah yang diperbolehkan dan yang dilarang
sebagaimana kehidupan berujung kematian
hidup adalah pilihan-pilihan dari setiap diri dalam keselarasan
sebagaimana mati membawa setiap diri mempertanggung jawabkan segala amal perbuatan di hadapan Tuhan kelak
Lalu bagaimanakah menyulam hidup seperti jaringan laba-laba
pada akhirnya diri menjadi pusatnya
pusat neraka atau surga
oleh karena itu
aku memohon kepadaMu ya Allah akan sebuah jalan
jalan terbaik sesuai RidhoMu
jika belum sempat sempatkanlah
andai belum sampai sampaikanlah
aku hanya berusaha menyelaraskan dengan tuntunanMu
maka kabulkanlah
Selamat Pagi Rajaku
Sedang apa pagi ini Rajaku sayang, yang jelas mudah-mudahan kabar baik menyertaimu
Masihkah pagi ini kau ribet dengan apa yang harus dimakan sebagai teman menghadapi pagimu
Atau seperti biasanya, kau sedang mencari-cari sebelah sendalmu, karena pulangmu tadi malam teramat lelah dan letih sehingga kau melemparnya tidak menentu
À
Mungkin juga kau terbangun agak siang pagi ini, terburu-buru berdiri lalu berjalan menyongsong pagi mu dan lupa untuk minum barang setegukpun, dipikirmu mungkin embun pagi sudah mencukupi
Atau kau malah saat ini seperti biasa sedang berlari-lari menyongsong mataharimu menggenapkan kilometer yang kau ciptakan sendiri
Kuharap pagi ini kau sudah mendapatkan alas kaki untuk dikilapkan oleh perlengkapan yang biasa digantungkan dipundakmu yang kecil tak berisi
À
À
Entah kenapa Nak, ibumu pagi ini mencemaskanmu, pulanglah rajaku bersama semangat dan harapan dihatimu yang bergelora
Bapakmu sudah beberapa hari terakhir ini hanya duduk diam, Dia saat ini tidak sedang mengeluhkan tubuhnya
Dia tidak sedang merasakan sakit karena kangker melahap jasad ringkihnya
Bapakmu seperti biasa sedang diam termenung dibalai-balai rumah kita merindukan Rajaku duduk bersila dihadapannya
Á
À
Anakku… Ladang kita, tanah warisan leluhur kita, walau sepetak kini tidak ada lagi yang mampu membelainya kembali, menghasilkan butir-butir penghias panci
Mengolahnya agar dapat menuntaskan setiap geliat lapar dan sisanya disimpan untuk menapaki hari-hari
Pulanglah Nak bersama semangat dan harapan dihati
Å
À
Ibu selalu menunggu dan mendo’akan mu
Harapan dan Do’a ini teriring kabar dari tetangga bapakmu bahwa engkau ada, sedang mengais rejeki dikotamu
===============================================================================
Jumat, 19 Februari 2010
Ingin membuat karya tulis, simak yang ini...
Bagaimana membuat suatu tulisan yang menarik dan enak untuk dibaca ?, hal inilah yang pernah ditanyakan anak saya yang baru duduk di kelas 11 sebuah SMA.Negeri dikotaku ketika mendapatkan tugas mengarang dari Guru Bahasa Indonesianya. Saya hanyabisa menyampaikan "tulislah apa yang kamu mau, kamu kuasai dan kamu sukai, itu saja, jangan dulu terpaku kedalah kaidah tata bahasa yang njlimet, mengalir saja....seperti dalam sebuah episode dibawah ini :
di pertengahan sepertiga malam ketika mulai muncul dan menggeser bulan meninggalkan suara hingar bingar anak-anak yang baru pulang mengaji dan saat bintang –bintang berkerlap-kerlip menghiasi langit, aku terduduk menikmati secangkir kopi dan sebatang rokok yang aku hisap pelan-pelan kemudian aku hembuskan secara perlahan pula,ventilasi ruang tv rumahku yang sederhana sengaja kusiapkan agar udara bisa bebas keluar masuk, hawa yang cukup dingin waktu itu membuat secangkir kopi dan sebatang rokok terasa lebih nikmat rasanya, ditambah dengan siaran TV film dar-der-dor yang dibintangi oleh artis Inggris terkenal,walaupun ceritanya cukup keras tapi pesan moral yang diungkapkannya menarik perhatianku.
Sebuah Film barat yang membuat aku bisa berlama-lama terduduk di kursi singgasana rumahku, Film ini solah-olah menyeret nostalgia ketika aku masih kanak-kanak, ketika Ibuku sering menceritakan sebuah kisah dongeng sebelum tidur, Cuma dalam waktu , situasi dan episode yang lain tentunya.
Keasyikanku tiba-tiba di kejutkan oleh suara putriku yang baru duduk dikelas tiga sebuah SLTP dikotaku, bernada merajuk ingin dibantu untuk dibuatkan sebuah cerita karangan bebas. Sebuah pekerjaan rumah yang ditugaskan oleh ibu guru bahasa Indonesia di sekolah katanya.
Ayolah pak, tentukan sebuah judul cerita dan bimbinglah putri untuk menuliskan rangkaian kalimatnya. Ucapnya , sambil menenteng sebuah buku catatan lengkap dengan sebuah pulpen ditangannya.
Cuma dua halaman buku tulis…. kok pak…., jika selesai dalam beberapa menit atau paling lama satu jam saja pada malam ini, putri kan bisa tidur lebih awal…hari-hari berikutnya tinggal menyelesaikan tugas pekerjaan rumah yang lainnya…….
Putri terus merajuk setengah memaksa untuk dibuatkan pekerjaan rumahnya. Film barat yang aku tonton pelan-pelan menjadi agak kabur alur ceritanya, konsentrasiku terpecah, berikutnya samar-samar sebuah selingan iklan mulai mengisi acara yang menjadi pusat perhatiannku.
Bagaimana ini .. aku kan sudah tua…sudah banyak permasalahan pekerjaan, permasalahan kehidupan lain layaknya sebagai orang tua, mengisi penuh ruang memoriku. Kalau dicoba untuk membatu juga Rasanya akan sangat tidak relevant dengan kondisi dan situasi remaja saat ini…..,gumanku dalam hati .Apalagi menceritakan sebuah karangan bebas khas remaja masa kini.
Wah….Bapak nggak bisa Nak…..memoriku sudah beku rasanya untuk menangkap sebuah kisah cerita remaja masa kini….., ungkapku……tapi….., cobalah renungkan barang sejenak…, kalau perlu pejamkan matamu , sambil selonjoran ditempat tidur juga ngga apa-apa, hiaslah ruang khayalmu…., hadirkan sebuah peristiwa disekelilingmu yang menarik perhatianmu atau yang paling berkesan mendalam dibenakmu…, boleh hal yang menggembirakan hatimu atau sebuah episode kisah hidup yang membuat hatimu gundah atau lucu sekalipun. Pokoknya perhatikan realitas disekelilingmu yang paling berkesan ditangkap oleh indramu Tentang KebesaranNya. Hadirkan yang paling berkesan tersebut sehingga dekat, sangat dekat dimatamu, tangkaplah kata-kata yang melayang-layang disekitarnya dan rangkaikan menjadi sebuah kalimat untuk kemudian tulislah mengikuti alur cerita sesuai dengan perbendaharaan kata dan pengetahuan dalam memorimu. Alangkah lebih baik jika disisipkan hasil referensi dari buku-buku bermutu….barangkali itu lebih orisinil mengikuti cerita masa remajamu … dari pada hasil corat-coret Bapakmu ini.
Terus tulis… .…tulis terus…paragraph demi paragraph…tuangkanlah makna KebesaranNya yang terkandung didalam alam imaginasimu….takan terasa tugasmu akan selesai……. Ungkapku berlagak menasihati.
Kata-kata nasihat tersebut kuucapkan santai sambil sesekali terdengar samar-samar suara sound system film lepas dari sebuah tayangan tv yang sedari tadi kunikmati .
Akh … Bapak ini,…nasihatnya panjang tapi tetap nggak mau bantu putri…. Ya.. kapan selesainya……ucapnya sedikit agak menggerutu……untuk kemudidan terdengar suara Ibunya memanggil dari balik pintu kamar …….
Nak sini …coba ibu bantu…..Putriku berjalan gontai menuju arah suara ibunya ……..
Nasihat yang diucapkan tadi, hampir persis sama dengan kata-kata yang diungkapkan seorang pengurus sebuah mesjid dikota asalku beberapa puluh tahun silam, ketika aku seumuran lebih sedikit diatas anakku sekarang. Seorang bapak paruh baya yang diwaktu luangnya rajin menulis di sebuah buku yang cukup tebal, jika beliau sedang menulis , beberapa buku cetakan terlihat didekatnya, buku tersebut digunakan sebagai bahan referensi dari karya tulis yang selalu beliau sampaikan di depan Umat pada waktu ceramah mengisi tausyiah ibadah solat Jum’at. Pak Ustad biasa aku memanggilnya, beliau bertahun-tahun menjadi dewan pengurus mesjid. Suatu bentuk pengabdian yang tidak ada imbalannya selain mengharapkan kemurahan dan keridhoan Alloh SWT Semata. Semoga menjadi Suatu perniagaan yang sangat menguntungkan, sebagai tabungan di Akhirat kelak… Amin……..
Beberapa lama kemudian, karena suatu proses dalam kehidupan masa remajaku dan mungkin juga karena orang tuaku beberapa kali membawaku pindah rumah, Pak Ustad sudah lama tidak aku jambangi. Suaranya yang berwibawa tidak pernah aku dengarkan lagi, Tausyiahnya yang menyejukan dan menenteramkan hati tidak pula aku resapi. Terkadang sempat aku merindukannya…… Masih adakah beliau disana…… mengurus sebuah mesjid yang tidak terlalu besar tetapi juga tidak terlalu kecil, letaknya berada persis dipinggir sebuah gang kecil……………Wallohuallam…………………
Untuk periode berikutnya dalam episode hidupku rasanya menjadi seperti gelap gulita, hidup seperti tidak tentu arah ,aku selalu menuruti kata hatiku yang menggelegak dalam masa pencarian …… kemudian alam berganti menjadi remang-remang, dan akhirnya terang kembali. akan tetapi kondisi itu tidak memamakan waktu yang begitu lama, gelap gulita kembali menyelimuti hidupku….dan kemudian alhamdullilah kini terang kembali……mudah-mudahan begitu adanya………..
Pak…pak… Bangun pak….Pindah tidurnya….. ke tempat tidur ….disini dingin …. lagi pula tidur dikursi dengan posisi setengah duduk demikian , kalau terlalu sering kurang baik bagi kesehatan……istriku kelihatannya mencoba membangunkanku….
Sejurus kemudian aku terjaga ……..aku berusaha mengumpulkan kembali kondisi sadarku …….Astaghfirulloh ……rupanya aku bermimpi..tadi… aku menoleh jam dinding diruanganku, ternyata saat ini sudah hampir menunjukan jam setengah dua malam…….dari mana ya..tadi, dimulainya episode kisah dalam mimpiku……….jawabanya............….aku lupa lagi..……..
Tadi Rumah kita terkena aliran pemadaman listrik…kok pak……sebentar padam….sebentar ….terang….mana lilin tinggal sepotong lagi…..ucap istriku sambil membereskan tempat tidur.. nadanya sedikit agak kesal mungkin ditujukan ke pemilik listrik atau mungkin juga ke aku….., bisa saja karena aku tidak membantu sedikitpun menyalakan lilin atau cempor di rumahku……….
tapi kenapa ko ngga mbangunin…toh..…cempornya kusimpan disudut sana kok…….ucapku sambil menunjuk kesebuah lentera kecil yang berada dekat sebuah kulkas tua…dan kemudian aku berusaha untuk berjalan gontai menuju kamar kecil..…
Wah …sekarang udah terang kok..pak………ujar isteriku sanbil berjalan menuju kamar.
Itulah sebuah episode kehidupan yang kadang terang benderang untuk kemudian …remang –remang….bahkan mungkin akan terus padam…demikian juga dengan pendengaran,kadang terdengar dengan jelas, kemungkinan juga Tuli dari yang Hak dan yang Bathil….Audzubillah himindzalik….mudah-mudahan Alloh SWT tetap melindungi kita dari godaaan setan yang terkutuk….Aamin….
………Selanjutnya aku meneruskan aktifitasku yang tertunda dikeheningan malam…....kunyanyikan bait syair lagu Tombo Ati dalam hati…..
Cianjur, 16 Februari 2010…. Adiabebah….
Sebuah Film barat yang membuat aku bisa berlama-lama terduduk di kursi singgasana rumahku, Film ini solah-olah menyeret nostalgia ketika aku masih kanak-kanak, ketika Ibuku sering menceritakan sebuah kisah dongeng sebelum tidur, Cuma dalam waktu , situasi dan episode yang lain tentunya.
Keasyikanku tiba-tiba di kejutkan oleh suara putriku yang baru duduk dikelas tiga sebuah SLTP dikotaku, bernada merajuk ingin dibantu untuk dibuatkan sebuah cerita karangan bebas. Sebuah pekerjaan rumah yang ditugaskan oleh ibu guru bahasa Indonesia di sekolah katanya.
Ayolah pak, tentukan sebuah judul cerita dan bimbinglah putri untuk menuliskan rangkaian kalimatnya. Ucapnya , sambil menenteng sebuah buku catatan lengkap dengan sebuah pulpen ditangannya.
Cuma dua halaman buku tulis…. kok pak…., jika selesai dalam beberapa menit atau paling lama satu jam saja pada malam ini, putri kan bisa tidur lebih awal…hari-hari berikutnya tinggal menyelesaikan tugas pekerjaan rumah yang lainnya…….
Putri terus merajuk setengah memaksa untuk dibuatkan pekerjaan rumahnya. Film barat yang aku tonton pelan-pelan menjadi agak kabur alur ceritanya, konsentrasiku terpecah, berikutnya samar-samar sebuah selingan iklan mulai mengisi acara yang menjadi pusat perhatiannku.
Bagaimana ini .. aku kan sudah tua…sudah banyak permasalahan pekerjaan, permasalahan kehidupan lain layaknya sebagai orang tua, mengisi penuh ruang memoriku. Kalau dicoba untuk membatu juga Rasanya akan sangat tidak relevant dengan kondisi dan situasi remaja saat ini…..,gumanku dalam hati .Apalagi menceritakan sebuah karangan bebas khas remaja masa kini.
Wah….Bapak nggak bisa Nak…..memoriku sudah beku rasanya untuk menangkap sebuah kisah cerita remaja masa kini….., ungkapku……tapi….., cobalah renungkan barang sejenak…, kalau perlu pejamkan matamu , sambil selonjoran ditempat tidur juga ngga apa-apa, hiaslah ruang khayalmu…., hadirkan sebuah peristiwa disekelilingmu yang menarik perhatianmu atau yang paling berkesan mendalam dibenakmu…, boleh hal yang menggembirakan hatimu atau sebuah episode kisah hidup yang membuat hatimu gundah atau lucu sekalipun. Pokoknya perhatikan realitas disekelilingmu yang paling berkesan ditangkap oleh indramu Tentang KebesaranNya. Hadirkan yang paling berkesan tersebut sehingga dekat, sangat dekat dimatamu, tangkaplah kata-kata yang melayang-layang disekitarnya dan rangkaikan menjadi sebuah kalimat untuk kemudian tulislah mengikuti alur cerita sesuai dengan perbendaharaan kata dan pengetahuan dalam memorimu. Alangkah lebih baik jika disisipkan hasil referensi dari buku-buku bermutu….barangkali itu lebih orisinil mengikuti cerita masa remajamu … dari pada hasil corat-coret Bapakmu ini.
Terus tulis… .…tulis terus…paragraph demi paragraph…tuangkanlah makna KebesaranNya yang terkandung didalam alam imaginasimu….takan terasa tugasmu akan selesai……. Ungkapku berlagak menasihati.
Kata-kata nasihat tersebut kuucapkan santai sambil sesekali terdengar samar-samar suara sound system film lepas dari sebuah tayangan tv yang sedari tadi kunikmati .
Akh … Bapak ini,…nasihatnya panjang tapi tetap nggak mau bantu putri…. Ya.. kapan selesainya……ucapnya sedikit agak menggerutu……untuk kemudidan terdengar suara Ibunya memanggil dari balik pintu kamar …….
Nak sini …coba ibu bantu…..Putriku berjalan gontai menuju arah suara ibunya ……..
Nasihat yang diucapkan tadi, hampir persis sama dengan kata-kata yang diungkapkan seorang pengurus sebuah mesjid dikota asalku beberapa puluh tahun silam, ketika aku seumuran lebih sedikit diatas anakku sekarang. Seorang bapak paruh baya yang diwaktu luangnya rajin menulis di sebuah buku yang cukup tebal, jika beliau sedang menulis , beberapa buku cetakan terlihat didekatnya, buku tersebut digunakan sebagai bahan referensi dari karya tulis yang selalu beliau sampaikan di depan Umat pada waktu ceramah mengisi tausyiah ibadah solat Jum’at. Pak Ustad biasa aku memanggilnya, beliau bertahun-tahun menjadi dewan pengurus mesjid. Suatu bentuk pengabdian yang tidak ada imbalannya selain mengharapkan kemurahan dan keridhoan Alloh SWT Semata. Semoga menjadi Suatu perniagaan yang sangat menguntungkan, sebagai tabungan di Akhirat kelak… Amin……..
Beberapa lama kemudian, karena suatu proses dalam kehidupan masa remajaku dan mungkin juga karena orang tuaku beberapa kali membawaku pindah rumah, Pak Ustad sudah lama tidak aku jambangi. Suaranya yang berwibawa tidak pernah aku dengarkan lagi, Tausyiahnya yang menyejukan dan menenteramkan hati tidak pula aku resapi. Terkadang sempat aku merindukannya…… Masih adakah beliau disana…… mengurus sebuah mesjid yang tidak terlalu besar tetapi juga tidak terlalu kecil, letaknya berada persis dipinggir sebuah gang kecil……………Wallohuallam…………………
Untuk periode berikutnya dalam episode hidupku rasanya menjadi seperti gelap gulita, hidup seperti tidak tentu arah ,aku selalu menuruti kata hatiku yang menggelegak dalam masa pencarian …… kemudian alam berganti menjadi remang-remang, dan akhirnya terang kembali. akan tetapi kondisi itu tidak memamakan waktu yang begitu lama, gelap gulita kembali menyelimuti hidupku….dan kemudian alhamdullilah kini terang kembali……mudah-mudahan begitu adanya………..
Pak…pak… Bangun pak….Pindah tidurnya….. ke tempat tidur ….disini dingin …. lagi pula tidur dikursi dengan posisi setengah duduk demikian , kalau terlalu sering kurang baik bagi kesehatan……istriku kelihatannya mencoba membangunkanku….
Sejurus kemudian aku terjaga ……..aku berusaha mengumpulkan kembali kondisi sadarku …….Astaghfirulloh ……rupanya aku bermimpi..tadi… aku menoleh jam dinding diruanganku, ternyata saat ini sudah hampir menunjukan jam setengah dua malam…….dari mana ya..tadi, dimulainya episode kisah dalam mimpiku……….jawabanya............….aku lupa lagi..……..
Tadi Rumah kita terkena aliran pemadaman listrik…kok pak……sebentar padam….sebentar ….terang….mana lilin tinggal sepotong lagi…..ucap istriku sambil membereskan tempat tidur.. nadanya sedikit agak kesal mungkin ditujukan ke pemilik listrik atau mungkin juga ke aku….., bisa saja karena aku tidak membantu sedikitpun menyalakan lilin atau cempor di rumahku……….
tapi kenapa ko ngga mbangunin…toh..…cempornya kusimpan disudut sana kok…….ucapku sambil menunjuk kesebuah lentera kecil yang berada dekat sebuah kulkas tua…dan kemudian aku berusaha untuk berjalan gontai menuju kamar kecil..…
Wah …sekarang udah terang kok..pak………ujar isteriku sanbil berjalan menuju kamar.
Itulah sebuah episode kehidupan yang kadang terang benderang untuk kemudian …remang –remang….bahkan mungkin akan terus padam…demikian juga dengan pendengaran,kadang terdengar dengan jelas, kemungkinan juga Tuli dari yang Hak dan yang Bathil….Audzubillah himindzalik….mudah-mudahan Alloh SWT tetap melindungi kita dari godaaan setan yang terkutuk….Aamin….
………Selanjutnya aku meneruskan aktifitasku yang tertunda dikeheningan malam…....kunyanyikan bait syair lagu Tombo Ati dalam hati…..
Cianjur, 16 Februari 2010…. Adiabebah….
Langganan:
Postingan (Atom)





