Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Oktober 2014

Puisi Saja

Lembaran Acak 

Kepada hurup yang tersangkut dalam ingatan
kertas putih bersih diletakan dirapi-rapi
memungut kembali lembaran kehidupan
merambat sekencang cahaya mentari
suatu saat terjerembab di kamar sempitku yang kusam
tiba-tiba berada di teras rumahmu yang temaram
dengan bulan separuh bergantung diatasnya
separuh lagi riang tertinggal dalam debaran.
Dulu dan kini hanya sekelabatan bayangan acak


 --==o0o==-- 


 Terima Saja 

Walaupun sebagai usaha Individu dan kelompok 
suatu waktu menyatakan sebagai kehendak Tuhan 
itu bagus, jadi terimalah... 
Kini juga sebagai usaha individu dan kelompok 
tetapi bersungut dan bersumpah bahkan berani memalingkan kuasa Tuhan 
patut disesalkan, maka bersungutlah terus atau terima... 


 --==oo0oo==-- 


 Aku sudah tidak bilang Norak lagi 

Aku sudah tidak bilang norak lagi, sumpah... 
sudah kusampaikan permintaan maafku kepada tanah yang ku pijak 
pada tempatku bersemedi merapal mantera adiluhung 
bumi semakin gonjang-ganjing, melebihi panasnya wedus gembel 
bahkan kata maafku tidak dapat menanggung gejolak alam 
munajatku sudah kuterjemahkan dengan bahasa sastra  
bahkan dengan kromo inggil aku bersimpuh 
namun tetap sang adidaya telah memberangus meringkus 
kini, dinginnya ruang ber jeruji besi kurasakan 
barangkali itulah penghapus dosa yang setimpal 
Itu baik untukku, ucap beberapa punggawa 
agar semuanya menjadi lega agar nyawa tidak terancam

Walau aku tidak dapat merapal manteraku lagi.

Kamis, 19 September 2013

Puisi Bulan September





Puisi = Meditasi



Seandainya puisi adalah suatu proses kreatif, dimulai saat persetubuhan intim dilakukan dalam sunyi, ketika mood mengapai-gapai asa, hamilah dia, diberinya asupan gizi hingga melahirkan. Maka berjatuhanlah hujan kata-kata nan sejuk lagi manis karena rasa, itulah kenapa tangan perempuan lebih piawai tentang hal ini. 

Puisi bagai meditasi, mejalin keseimbangan hidup dengan alam dan lingkungan, mengamati denting angin, mendengar desir bumi, buana bersendawa menjaring aroma kehidupan yang terpuruk hingga tertawa terbahak-bahak. 

Cianjur, 1 September 2013



Pada pasir pantai



Pada sebuah pagi, ketika tetes telah bermuara sampai keujung rambut
diantara kusut masai dan gerimis berderai
pantaimu telah kau lukis kembali menjadi purwa yang meraja
sesekali tandas oleh debur ombak untuk disimpan di palung tak bertepi
ambil saja, bawa saja, besokpun hanya kisah yang lelap tokh rindu kembali menjemputnya 

pada landai tepian ombak berderai
puisi ini berat kubawa pergi 
tidak akan lama kapanpun boleh singgah, ungkapmu
jangan salah jalan saja, pasir kita masih disini
di landai pantai yang kisahnya mudah terhapus ombak ke palungnya


Selasa, 27 Agustus 2013

Puisi Bulan Perpisahan






Penyulam Jirah Selimut Malam


pada sebuah lamat-lamat alunan suara was-was
dihitungnya bunyi derit dan lirih meringkih ketika malam tak kuat menahan gigil
dikiranya itu selingan saja ketika desis berubah menjadi derak, menyalak, sebelum pecah bunga gelap langit menghiasi malam
denting-denting warna bertaburan mencemburui bintang gemintang, merangkai jenjang senyap, kemudian lagi, satu lagi, kemudian lagi, satu lagi, bertubi-tubi memekakkan sanggurdi takbir, tahmid dan tahlil
suara lamat-lamat semakin tenggelam
sekelumit embun tak kuasa melumat gemerlap gemeretuk tubuh malam, ia terus saja menyulam luka di jirahnya mempersiapkan pekik pagi kemenangan
ramai sudah, selepas rengkuh dibibir syawal ratusan ribu berjalan-jalan hilir mudik tampa sempat melirik, menghambur, bersolek bersama lembaran-lembaran
kemenangan entah kapan dapat diraih, tak pernah dapat dihitung sejak kapan dimulai apalagi diakhiri
anak-anak penyulam jirah selimut malam masih berderak menyusur jalanan masa




Aku ingin



Aku ingin tersungkur pada bilur-bilur subuh yang pernah singgah disebuah waktu yang rela memutar mundur jarum jam dalam birama yang teratur

Kulihat sebuah senyap yang hinggap di ujung jari kemudian tiba-tiba saja berlarian memperdengarkan suara-suara sangurdi melukai bibir berukir sampai pejah di cakrawala langit
Kini harum wangi bunga lilin berhamburan di pelataran yang tabah
Sebuah bulan pucat pasi jatuh dikeningku, keningmu, kening kita





Aku Lupa, kenapa tidak disimpan di tempat cuci


Kupanggut bibirmu 
serambinya sedari tadi kugantungkan minat 
sampai sesore ini pun, ketika gerimis semakin lupa pulang ke asal 

biarlah Langitku gelap tetapi semesta jiwaku benderang karenanya
hangat yang mengalir merutuk dingin gemeretuk
tetes-tetesnya melupakan keringat yang meruap ke entah 

lalu bersamamu rasa semakin berlian
dilengkung garis nan seksi
aku tidak ingin menjadi lupa dimana tadi nikmat diletakan

dahagaku lumat
lalu lamat-lamat menelikung seluruh ruang penat
basahnya mengaliri setiap nadi dan urat syaraf

sampai otot-ototku mulai melemas
tetes terakhir benar-benar rilek nan merilekkan
kini lekuk pinggang kakumu teronggok disana

semu jelaga masih tertinggal di lapis bening nya
biarlah besok saja kubersihkan
saat ini aku sedang ingin menulis

Pryang….aku lupa tadi, kenapa tidak disimpan di tempat cuci





Revolusi pena


Jika kau anggap rima-rima ritmis menelikung kata mencari maknanya sendiri-sendiri
lalu kenapa langit menjadi merah dan jerit tangis bayi hilang susuan
kusandarkan liris pada gerimis pagi yang tak pernah usai merinai dijari-jari manis
di punggung seorang revolusinis, sinis adalah bagian dari evolusi politis budaya dan kesewenang-wenangan menjadi bara yang tak pernah padam diberangus
sayup, kuyup oleh segala atribut yang kau pasang sejak subuh hingga mentari denyar-denyarnya luruh
agar dunia tau bahwa gerak jiwa, gerak kata dan gerak pena adalah cara lain berhadapan dengan senjata.






Selasa, 21 Februari 2012

Sastra_Selaras: Psycho

Sastra_Selaras: Psycho: Semisal serapahmu kau labeli aku dengan bebal, nyebelin, belagu ataupun bego walaupun merek itu dipasung kuat dalam keningku yang garisnya...

Entri Baru

Ambil saja separuh

Ambil saja separuh, kemudian sisanya aku simpan di suatu tempat di sebuah sudut yang tak pernah terjangkau olehmu, oleh pikirmu bahkan oleh perasaanmu sekalipun,itupun kalau kau merasa ingin sekali mengetahui dan mempertanyakannya.

Ambil saja separuh jangan berlebih dulu, sehingga jikapun kau berpaling ke biru lain, setidaknya aku masih menyimpan putih yang akan menopangku ketika aneka warna sinar menyilaukan dan memabukkan.

Akan kusimpan dengan senyap separuhnya lagi, hingga kau merasa aku telah memberikan seluruhnya, sepenuhnya, seutuhnya kepadamu, kepada hatimu, agar riak tidak tiba-tiba menjadi bah, bulan tiba-tiba menjadi purnama atau pagi tiba-tiba saja menjadi terik.

Jikapun kau tau akan maksud air mengalir beriak, bulan paruh bergeser ke purnama itupun baik bagi pandangan mata untuk menghargai keindahan, baik juga bagi ekosistem alam

dan jikapun sinar pagi perlahan menerangi bumi itupun agar keindahannya terlihat perlahan sebelum terang menjadi terik, seperti saat keruyuk ayam jantan berbunyi merdu menyambut semburat matahari, bahkan ketika bunga masih kuncup sekalipun, sebelum mekar sempurna.

Aku jamin tak berasa, tak terlihat, tenang saja, mengalir, berirama dan nikmati suasana seperti embun dirinai hujan atau sinar di jilatan api.

Hanya ku simpan saja sementara sebagai sebuah proses sebelum aku yakin dan kau sadar bahwa dalam persamaan ternyata ada perbedaan dalam bungah ada sedih, kelebihan ada kekurangan, ketika tidak ada keraguan sebelum jiwamu seutuhnya menjadi satu.

Hanya sebagai uji bahtera berlayar mengarungi indahnya samudra dengan debur ganas ombak lautnya, semilir angin sepoy dengan badai menggila. Itupun tidak lebih hanya proses semata.

Harap kau maklum dan sudi memaafkanku, karena hanya proses semata, hanya berjaga-jaga.

Psycho

Semisal serapahmu kau labeli aku dengan bebal, nyebelin, belagu ataupun bego sekalipun
walaupun merek itu dipasung kuat dalam keningku yang garisnya tampak jelas berlipat
kala mata memicing memperhatikan tingkah lakumu kegerahan tidak nyaman
tetap saja takan merubah kenesmu, ayumu dan senyummu membayang seperti logo.

kusimpan saja lengkung dibibir ini agar kau geram, kekhi, jengkel ataupun rusuh
walaupun kau bermanis sendu mengalihkan laku agar aku tidak menerormu
tetap saja belum sadar bahwa matahari terbit setiap pagi menerangi bumi
tidak peduli ketika siang meninggi teriknya membuat gerah kala tak terpayungi.

dan ketika matahari lengser tergantikan gelap, lambat laun senyap menyelinap
lindap dalam suasana hening tinggal irama horror dan desir angin merajam rasa
bukankah cahaya dan gelap itu menerormu setiap saat,
setiap siang dan malam tetapi dia tetap setia, sadar akan keberadaannya, menyentak, menyelinap

karena cinta

Selasa, 03 Januari 2012

Aku tidak selalu ingin





aku tidak selalu ingin
menjadi tonggak kokoh
hanya ketika bendera naik baru selesai berkelebat
serentak semua hormat tertuju kepadaku

cukup ukiran di batu nisan saja
tertulis nama dan kurun waktu aku pernah ada
sebagai nasehat,  pengingat dan bahan cerita
bahwa engkau berasal dari dua ditambah dua

atas kehendak yang SATU


Alibukbrax

Senin, 19 Desember 2011

Inner Beauty

                                                          
 Lontaran kata, hujaman rasa melantun jenuh seiring irama dengus napas dan tatap nyala berkobar dibola matamu yang sembab lembab membasah

aku hanya bisa memposisikan diri untuk duduk bersahaja, hanya menangkap rasa tanpa sejengkalpun berniat untuk berjingkat berkelebat

kuusahankan tidak hendak menangkap jilatan api  matanya, kuhindari disaat ini, saat api itu melekat erat  di garangmu dan kau tergerus rasa hingga melelehkankan  kekesalan

kenapa tidak memberi semampu kau dapat curahkan,  kucoba bertanya menyentuh langsung sisa jilatannya yang kini sudah semakin mengerdil

sampai saat inipun bapakmu masih sedang belajar memberi,  memberi itu berada diatas,  memohon selalu memposisikan diri dibawah

berusaha Memberi  itu berkeinginan untuk menjadi kaya, kaya harta, kaya jiwa dan kenapa tidak,  menjadi kaya hati

memberi itu tidak selamanya materi, kulirik sejenak kau sudah terduduk  menunduk dan kuambil kesempatan ini untuk meyiram baranya hingga lenyap, senyap  dan dingin melingkupi hatimu

memberi  itu bisa nasihat  juga senyum ataupun  do’a  sekalipun, serta sikap keluasan hati untuk ikhlas mendulang amal

memberi itu belajar menjadi kaya sekaligus menjadi kuat ketika segala keikhlasan amal  hanya bersandar kepada Nya

maksudku, jika ada yang memberi kenapa tidak kau terima selama tidak ada sesuatu dibaliknya,  sebagai mana juga nama Nya, sebagai Pemberi  Nikmat, kenapa tidak kau ambil berkahnya 

meminta dan memohon  kemurahan sesama itu sumpek, miskin dan selalu tampak tidak berdaya walaupun nyatanya kita memang  tidak berkecukupan

tampak kau mulai bisa merapatkan kelopak matamu menjelang  pulas dikursimu  yang akhir-akhir ini jarang menghampiri sampai selarut malam memanggil-manggil nyenyakmu

pergilah tidur sehat ditempat istirahatmu hingga esok subuh,  ketika seberkas sinar  mulai tampak diupuk timur, setelah wajahmu tersiram air sejuk dan hanya kepadaNya kau merunduk bersujud memohon, kau kembali menjadi bugar, tenang  dan jernih hatimu akan memancar kuat diaura mu

Dan suatu saat nanti jikapun kau hanya disebut sebagai mantan, dan nyatanya kau mungkin  telah sibuk dengan ladang amal baru dipelukanmu, kau akan dikenang sebagai embun  jernih pelepas  dahaga  bukan sebagai sosok pengobar amarah membahana.

       Sumber gambar: innocence

Alibukbrax

Kamis, 15 Desember 2011

Berpikir dan kerjakan

Entri Baru


Persoalan hidup itu rumit, katamu masih dalam selimut pikir menempel di sudut gerakmu, persoalan itu datang dan pergi layaknya lapar yang selalu muncul ketika berpikir tentang makanan, ketika berhenti terselasaikan tuntas kemudian muncul lapar berikutnya.

Aku masih berangan-angan dengan kebebasan, sementara kau tetap bergumul dengan penyelesaian masalah, itulah hidup katamu acuh tak acuh, keningnya tetap menguncup, think…think and action, makin terbiasa semakin mengasikkan tak pernah mencengkeram jiwamu tetapi menjadi tantangan yang memperindah gairah hidup, gumannya seolah berkata-kata pada dirinya sendiri, sementara aku didaulat harus keeps your action and don’t do to thinks.

Malam buta ketika sunyi menyelimutiku, dalam nina bobok yang melenakan, aku ingin berjalan-jalan menemui diriku sendiri, mengitari sekujur tubuh tak berdaya, membujur fana dibuai irama helaan dan hembusan nafas yang naik kemudian turun teratur.


Ternyata aku adalah sebuah partikel kompleks yang pada saat tertentu diatur oleh penguasaan akalku dan pada saat yang lain dikalahkan oleh nafsu, sesuatu yang dianggap layak dikerjakan karena memang itu yang kuinginkan dan sesuatu dinilai jelek karena beranggapan itu buruk bagiku

Padahal kebebabasanku dibatasi oleh kebebasan orang lain oleh lingkungan disekitarku. Bahwa dalam alam fana ini sesungguhnya ada kekuatan Dzat yang maha agung yang akan menanyakan dan meminta pertanggung jawaban semua perbuatan di akhir hidup nanti, bahwa di dunia ini ada kekuatan yang tidak kita ketahui, yang tidak memiliki keterbatasan dengan setiap perbuatan kita, baik yang khusus maupun yang umum.

Aku tersadar di dini hari yang basah dan mendapati kau tengah rileks bercengkerama mengadu kepadaNya


Cianjur, Alibukbrax

Kamis, 17 November 2011

Semisal serapahmu kau labeli aku dengan bebal





Semisal serapahmu kau labeli aku dengan bebal. Nyebelin, belagu ataupun bego
Walaupun merek itu dipasung kuat dalam keningku yang garisnya tampak jelas berlipat
Kala mata memicing memperhatikan tingkah lakumu kegerahan tidak nyaman
Tetap saja takan merubah kenesmu, ayumu dan senyummu membayang seperti logo.


Kusimpan saja lengkung dibibir ini  agar kau geram, kekhi, jengkel ataupun rusuh
walaupun kau bermanis sendu mengalihkan laku agar aku tidak menerormu
tetap saja belum sadar bahwa matahari terbit setiap pagi menerangi bumi
tidak peduli ketika siang meninggi teriknya membuat gerah kala tak terpayungi.


Dan ketika matahari lengser tergantikan gelap, lambat laun senyap menyelinap
lindap dalam suasana hening tinggal irama horror dan desir angin merajam rasa
bukankah cahaya dan gelap itu menerormu setiap saat,setiap siang dan malam
tetapi dia tetap setia, sadar akan keberadaannya, menyentak, menyelinap karena cinta


Alibukbrax

Minggu, 07 Agustus 2011

Ada Deru di malam gelap kala mimpi menggugat

                                                            http://bless4bliss.files.wordpress.com/2011/02/gelandangan.jpeg
Ada bulan menjabat tangan matahari ketika gelap mulai menjalar di cakrawala langit, diawal pekat tanpa mampu mereka-reka karena kerling dan senyum bibir bergincu berkejaran tak menjangkau tanya tentang ketidak pahaman

Ada penat berselimut luruh seluruh tubuh ketika letih dan kantuk bergelayut, menghentikan langkah- langkah kaki untuk sekedar duduk termangu diantara dingin beton bertulang dan langit berbintang menemani malam yang panjang

Bersama beberapa pertanyaan bisu dalam malam pekat menghitamkan bangku-bangku taman dan hijaunya kerindangan, bergelayut suara-suara samar antara desah dan rintih berpacu satu- Satu memecah kesunyian malam

Ada rindu samar berbalut nafsu bersahut berkejaran, tatkala bayang-bayang memagut malam berkelebat diantara gelap dan berkas temaram sinar bulan dan lampu jalanan, sedangkan kucing liar yang berselera memangsa molek terpantul bekelebat, bergejolak

Sedang tubuh diantara emper trotoar dingin beralaskan selembar kardus berwarna coklat kusam, masih saja bebenah memposisikan diri mengusir suara-suara dan berkas sinar agar tidak mengacaukan jadwal kehadiran mimpi yang selalu dirindukan hadir disetiap malamnya

Kerinduan mimpi itu, mimpi tentang seribu warna aneka kembang dan harumnya wangi tanah serta suara sendu ibu, melepas penat hasrat memikul beratnya matahari dipundak agar dapat disimpan dalam bejana-bejana harapan untuk diteguk sebagai pelepas dahaga peluh haus dan laparnya siang

Rindu mimpi terseok diantara suara dan sinaran, berjalan mengkayuh tubuh menjauh dari malam membara diantara bangku taman, silang sengketa jalan beton ditingkah sinar-sinar menyilaukan berkejaran dengan kecepatan

Dipinggir jalan dibawah kerindangan cahaya lampu, lelap akhirnya mampu hadir tertidur pulas, menyambung mimpi-mimpi yang belum tuntas dari malam-malam menjelang dihari-hari yang tak pernah kunjung datang memihak.

Matahari dengan sinarnya menyapa hangatkan tubuh, menggeliat menyongsong hari, selamat pagi duniaku, kini alam menghijau dan bunga-bunga tampak indah diantara bangku-bangku taman serta senda gurau burung-burung untuk kembali bergegas memikul matahari diantara peluh dan debu-debu jalanan.

Rabu, 06 Juli 2011

For My Daughter



Sumber Gambar : Filicker Like Daughter like Father, Oleh Meg Pickard


Anakku,

Bisa saja tulang rusuk itu tidak sesuai kodratnya lurus memanjang berkilat indah dilihat, tetapi ternyata justru bengkok melengkung, namun jangan diragukan fungsinya sungguh teramat penting untuk melindungi organ yang sangat vital didalamnya.

Dia tidak diciptakan dari benda yang teramat keras bagai besi Toledo tajam yang mampu menacap dalamsetiap benda keras lainya, tetapi cukup kuat sehingga kokoh menopang hatimu yang teramat dekat dengannya.

Jika kau paksakan juga untuk mencapai kesempurnaan menurut versimu sehingga menjadi lurus laksana pedang enak dipandang, maka aku jamin ia akan patah sehingga perlu penyembuhan yang intensif untuk kembali kepada bentuknya semula.

Anakku:

Jadilah tulang yang menopang dan menguatkanmu dalam setiap aktifitas dalam setiap gerak dalam mengatasi beban kehidupan dan selalu mensyukuri akan takdirNya.

menjadi bagian dari rangka yang mengokohkan dan memudahkan dirimu untuk berdiri tegak melangkah menyongsong badai dan ombak kehidupan yang membelai setiap saat menjelang.

Atau bisa saja menjadi duri dalam daging yang selalu melukai setiap gerak, setiap langkah sampai duri tersebut tercerabut dalam daging dan kau nyaman untuk menikmati kebebasan dalam ketidak sempurnaan.

Sampai kau akan menjadi yakin dan ikhlas bersatu dalam dagingnya, dengan darahnya untuk mencapai RidhoNya.

Jumat, 01 Juli 2011

Ambil saja separuh itupun karena proses semata


CatStock Vector Illustration:


Ambil saja separuh, kemudian sisanya aku simpan di suatu tempat di sebuah sudut yang tak pernah terjangkau olehmu, oleh pikirmu bahkan oleh perasaanmu sekalipun, itupun kalau kau merasa ingin sekali mengetahui dan mempertanyakannya.



Ambil saja separuh jangan berlebih dulu, sehingga jikapun kau berpaling ke biru lain, setidaknya aku masih menyimpan putih yang akan menopangku ketika aneka warna sinar menyilaukan dan memabukkan.



Akan kusimpan dengan senyap separuhnya lagi, hingga kau merasa aku telah memberikan seluruhnya, sepenuhnya, seutuhnya kepadamu, kepada hatimu, agar riak tidak tiba-tiba menjadi bah, bulan tiba-tiba menjadi purnama atau pagi tiba-tiba saja menjadi terik.



Jikapun kau tau akan maksud air mengalir beriak, bulan paruh bergeser ke purnama itupun baik bagi pandangan mata untuk menghargai keindahan, baik juga bagi ekosistem alam dan jikapun sinar pagi perlahan menerangi bumi itupun agar keindahannya terlihat perlahan sebelum terang menjadi terik, seperti saat keruyuk ayam jantan berbunyi merdu menyambut semburat matahari, bahkan ketika bunga masih kuncup sekalipun, sebelum mekar sempurna.



Aku jamin tak berasa, tak terlihat, tenang saja, mengalir, berirama dan nikmati suasana seperti embun dirinai hujan atau sinar di jilatan api.



Hanya ku simpan saja sementara sebagai sebuah proses sebelum aku yakin dan kau sadar bahwa dalam persamaan ternyata ada perbedaan dalam bungah ada sedih, kelebihan ada kekurangan, ketika tidak ada keraguan sebelum jiwamu seutuhnya menjadi satu.



Hanya sebagai uji bahtera berlayar mengarungi indahnya samudra dengan debur ganas ombak lautnya, semilir angin sepoy dengan badai menggila. Itupun tidak lebih hanya proses semata.



Harap kau maklum dan sudi memaafkanku, karena hanya proses semata, hanya berjaga-jaga.

Selasa, 14 Juni 2011

Jangan Menangis Indonesiaku




Teringat akan syair sebuah lagu Koes Plus yang terkenal pada era tahun 1960 an berjudul Kolam susu, suatu penggambaran karya seniman music Indonesia yang demikian bangganya terhadap tanah dan Negara kelahirannya. Sebuah syair sanjungan terhadap kesuburan dan kekayaan alam kita yang demikian berlimpah ruah sampai lautan  yang berada dalam zona Territorial Ekonomi Ekslusif wilayah Indonesia pun digambarakan bagai kolam susu dimana ikan dan udang menghampiri para nelayan untuk ditangkap dan dimanfaatkan sebagai komoditi ekonomis untuk kelangsungan hidup keluarganya dan mendatangkan devisa negara, demikian juga dengan tanah nusantara dilukiskan sebagai tanah yang subur makmur jangankan benih, tongkat kayu pun dapat tumbuh menjadi tanaman yang dapat dimanfaatkan 
hasilnya.

Lagu Indonesia my loving country  lagu lain karya Kusplus, pernah merajai blantika music Indonesia di era jaya-jayanya grup band tersebut.  Indonesia subur nan makmur sudah diketahui dan dipelajari oleh anak-anak sekolah dasar pun bahwa Negara  Indonesia adalah Negara yang indah, alamnya sungguh mempesona banyak dikunjungi wisatawan domestic maupun manca Negara, kekayaan alamnya yang melimpah ruah  baik yang ada dipermukaan tanah maupun bahan tambang yang tersimpan diperut bumi Indonesia untuk di eksploitasi  dan tentunya kondisi eksisting Indonesia tersebut sangat bijaksana jika dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat dan masyarakat Indonesia bukan untuk dikeruk dan dinikmati oleh hanya segelintir orang saja yang mengaku-ngaku orang penting  bangsa Indonesia.

Budaya Indonesia yang beraneka ragam jenis dan bentuknya, segala jenis tarian indah dari seluruh pelosok Indonesia yang khas.
Keramahan Bangsa Indonesia dari setiap masyarakat yang bersuku-suku 
Pancasila sebagai lambang Negara Indonesia
Bahasa Indonesia, sebagai bahasa resmi Indonesia
Satu Nusa, satu bangsa satu bahasa, Indonesia

                                                        ======

Sejenak rehat mencermati syair lagu lawas dari Koesplus 

Kolam Susu
Syair Lagu : Koesplus

Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada hujan tiada badai kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu
Tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan pagar jadi tanaman

Senin, 09 Mei 2011

Kutanyakan pada Matahari dan Rembulan


Kutanyakan pada Matahari dan Rembulan




Ingin ku hentikan terbit terbenamnya matahari serta rembulan yang menggerogoti usia

Akan kutanyakan pada siang tentang terang dan gemerlapnya bumi,
setiap kelepak gerakmu mencuri hidup dan kesenanganku

Akan kutanyakan pada malam tentang  gelap dan temaramnya bumi,
setiap kelebat bayangmu mengambil mimpi dan gairahku

ternyata semuanya berlalu dengan anggun
Ketika tiba-tiba tersentak
mengagetkan

Hidup, mimpi, kesenangan dan gairah meninggalkanku
tergesa
ketika semuanya menjadi terlambat

Minggu, 03 April 2011

Pengalihan-pengalihan Emosi






Brrraaaak… Pintu kamar berwarna coklat muda natural persis sewarna kayu jati dibuka dengan sedikit kasar untuk kemudian ditutup kembali, Ayu berjalan beberapa langkah menuju tempat tidurnya, tasnya diletakan ditempat biasanya di sebuah meja belajar yang diterangi lampu sorot yang mengarah persis ke permukaan meja tersebut. Dalam kebisuan yang memunculkan raut wajah tampak kusut dengan garis bibir agak tertarik kebawah berkesan ngambek, rasanya ingin sekali berteriak sejadi-jadinya saat ini.

“Apanya yang salah ” Ayu berguman geram, tubuhnya dilempar ke empuknya tempat tidur yang tertata rapih, tempat tidur yang berwarna biru muda ber corak burung-burung sedang melayang mengitari ranting-ranting pohon dilatar belakang bulan tampak malu-malu bersembunyi dikerindangan pohon yang meranggas, warnanya terangkai  sangat senada.

Kenapa rekan lelakinya hari ini bersikap menyebalkan, ada satu, dua orang yang menurut pandangannya cukup simpatik tetapi kenapa hari ini semuanya demikian mengesalkannya.
Kata-katanya terlalu serius, tidak peduli ditujukan kepada siapa tetapi pandangan sepasang mata itu, sepasang mata diantara berpasang pasang mata yang tertuju kepada dirinya membuatnya terasa kikuk serba salah sendiri.

“Bodoh, sangat bodoh” teriakku geram di kesendirian dalam kamar, sejenak setelah kuletakan tas sekolahku di meja belajar.
“Apa sih maksudnya”, padahal banyak cara yang dapat dilakukan jika itu memang ingin menarik perhatian, asal bukan yang menyebalkan tersebut, bualan-bualannya sangat keterlaluan ” Ku benamkan wajah ku diantara tumpukan bantal-bantal agar tenggelam dikedalannya untuk kemudian kurasakan keresahan ku sedikit memudar, hening di telinga, tidak ada suara-suara yang mengganggu lagi. Istirahat total barangkali itu yang amat diperlukan saat ini selagi pikiran ku sedang dilanda kalut.

Tiba-tiba saja aku tersentak kaget mendengar suara ketukan beberapa kali di pintu kamar, perlahan pintu terbuka dan sosok yang tidak asing lagi bagiku tampak berdiri diantara pintu dan meja belajar ku  “Ayu , sedari tadi makanan sudah siap ter saji di meja makan, coba disantap nak” suara tante, adik dari ayahku lembut menyapa.

“Siap tante, ayu akan serbu, kebetulan perut lagi keroncongan, maaf tadi ketiduran sebentar” jawabku meyakinkan bahwa aku sedang dalam kondisi baik-baik saja. Pandangan mulai terlihat fokus, walau agak terkesan mengambang bagai layang-layang putus, layang-layang yang terlepas terbang bebas.
Sesuap demi sesuap makanan dalam piring hampir habis tak terasa, lidahku tidak seperti biasanya menyapa datar masakan olahan Tanteku.

Yak, aku bagai layang-layang putus, merupakan suatu personifikasi yang pas untuk menggambarkan suasana jiwa yang lagi kesal.
Masih terbayang gerakan dan ungkapan bodoh dilakukan temanku yang amat kusesalkan, “Bodoh” pikirku
Dikamarku sendirian, kupuaskan hati dengan mengotak-atik lappyku, nalar kembali pulih, membangun ketenangan rasa yang sedari tadi penuh sesak nyaris meledak, membuncah untuk kemudian mempendarkan semburat energi.

Setelah suasana hati mereda, energi emosi yang penuh sesak kini disalurkan, perpaduan rasa dan nalar dikolaborasikan melalui alur-alur harmoni. Melalui kanal-kanal, energiku diharapkan mengalir menjadi gerak positif.

Kutarik lembar demi lembar kertas putih bersih dari tumpukannya, kejujuran rasa dan fikir mengalir membentuk tarikan-tarikan pinsil hitam digenggamanku, mengalir membangun sketsa-sketsa gambar dua dimensi, hanya diri saja yang dapat menerjemahkannya, coretan-coretan cepat membentuk gerakan- gerakan, bentuk bentuk kini mulai terlihat ringkas, gambar-gambar sketsa ter tuang seolah bergerak menapak udara atmosphere sore cerah untuk kemudian ritmis agak rampak bersemangat seperti menggapai langit.

Otot jemari memanas dipadupadankan dengan kekuatan energi rasa, gesit meluncur menyendiri menerjang menusuk tajam tanpa ampun, tanpa dapat dihentikan, kekuatan terakhir dipertaruhkan seiring dengus napas yang membludak dan debaran jantung berdentam cepat, meluncur tajam memburu menyongsong kekuatan lain yang terlanjur lambat diantisifasi.
…dast..dast..dast…untuk kemudian kekuatan kini menjadi ringan meliuk mengatas menentang gravitasi untuk kemudian diam mematung sesuai gerakan formasi terakhir yang sempat dicapainya.
“Ahh andai Ibu masih berada disampingku saat ini, pastilah beliau akan senang memperhatikan anaknya mencoba menciptakan koreografi seni tari yang sempat disukainya”,  Gumanku pelan.

Gerak laju layang-layang yang berlengak-lenggok kemudian tiba-tiba saja memburu menyongsong kelengahan lawan telah menginsfirasi membentuk gambar-gambar sketsa sebuah koreografi gerakan tarian rampak dan solo, suatu gerak tarian yang selama ini aku tekuni dalam beberapa bulan terakhir.

Stereo set yang tertata apik sekaligus lappy pribadi ku dihidupkan dengan posisi fitur web kamera menghadap ke ruang leluasa dalam kamar agar dapat merekam setiap formasi gerak tari. Suara musik, perpaduan irama pentatonis dan diatonis mengalun dinamis mengiringi sketsa-sketsa gambar dua dimensi yang diaplikasikan ke dalam bentuk gerak olah tubuh ter koordinasi, menyuguhkan keindahan sendratari yang harmonis antara gerak langkah dengan irama dentam musik ditingkahi bunyi-bunyi ritmis sehingga atmosphere udara dalam ruangan kamar ter isi penuh dengan nada-nada dinamis mengiringi gerak langkah tari serasi berbaur apik.

Pernah mengingat dalam setiap hendak mulai menari, ingin rasanya memakai topeng warisan turun temurun dari ibuku. Hanya dua kali aku dapat memandang detail bentuk rupa topeng tersebut secara leluasa, ketika aku masih belia sekali dan kerap ibuku giat memberi pelajaran menari dan sesaat setelah ibu meninggal, itupun karena ada selembar kertas wasiat yang ditujukan kepadaku tentang isi kotak kayu jati berukir.

“Ibu bukan penari handal, nak”, katanya suatu ketika pada saat beberapa gerak tari beliau ajarkan kepadaku, walaupun sudah terlalu lama ketika masih belum dewasa saja beliau pernah berlatih dengan tekun diajarkan oleh nenek, ibu masih mengingat sampai akhir hayatnya beberapa gerak tubuh jenis-jenis tarian tradisional.
“Keahlian dasar tari ini, ibu dapatkan secara turun temurun nak, gerak-gerak lemah gemulai dan rancak bernilai seni yang patut untuk dilestari kan”, hanya itu ucapan ibu yang masih terngiang di telingaku, ketika dalam suatu kesempatan bercerita tentang arti mengenai topeng warisan, sampai akhirnya ketekunan menari topeng tradisional terhenti dilakukan oleh ibuku semenjak beliau mengenal rasa, semenjak beliau terpaut hatinya dengan seorang pemuda simpatik yang telah merebut perhatian nya, ia rela untuk meninggal kan keterbiasaannya menari dengan alasan yang sangat pribadi, itulah sebabnya ketika aku menyampaikan sebuah cita-cita setamat SMA berkehendak melanjutkan menuntut ilmu ke sekolah tinggi seni tari, mendengar tuturanku ibu terlihat terlalu bersemangat mendorong, walaupun ayah dengan sera-merta menentang nya.

Dicobanya topeng berwajah perempuan molek warna merah jambu, diterapkan  lekat-lekat kewajahku se nyaman mungkin, dihimpitnya jepitan yang menjulur sedikit di belakang bibir topeng tersebut dengan geligi kuat-kuat, ternyata pas dengan luasan wajah ku, tarikan bibir topeng merekah membuat image riasan wajah sumringah, topeng tersebut menular kan senyum mempesona pada diriku.

Kudongakan wajah ku ke atas lalu ke bawah, wajah topeng  menyusur seluruh isi permukaan dinding-dinding kamar, untuk kemudian tubuhku berdiri memposisikan ke permulaan tarian.
Kaki kanan terpasang ke depan agak melekuk sedikit, demikian juga kaki kiri sedikit disimpan di bagian belakang dengan jarak satu telapak kaki,  garis telapak kaki antara yang sebelah kiri dan kanan membentuk sudut 60 derajat. Mulai dari pinggang ke atas kuposisikan diri membentuk sudut tegak lurus dengan lantai sehingga menimbulkan kesan pinggul agak menjentik ke belakang dan pinggang melandai lentur, tubuhku ku miringkan agak sedikit ke kiri  dengan wajah menghadap lurus ke depan, senyum merekah yang ter sirat di wajah topeng tersebut menimbulkan aura riang. Tubuh dan wajah ku mematung dalam waktu sekitar se menit, cukup lama untuk sebuah opening sendra tari.

Irama nada dari stereo set terus mengalun bersemangat, kemudian tubuhku mulai meliuk diikuti gerakan menjejak bumi melaju pelan berirama, wajah dan sebagian anggota badan ku gerakan ala robot ter patah-patah berganti-ganti arah, kedua tangan bergerak simetris mengambil gerakan mengibas selendang yang menjulur sebatas dengkul, kurentangkan tanganku ke posisi hendak meliuk kemudian di tekuk sebatas siku, jari-jari bergerak-gerak, lentik di telapak tangan kemudian seluruh tubuh bergetar berputar mantap, tarian ini terus mengalir ritmik dan dinamis selama kurun waktu tertentu di ruang kamar yang cukup luas untuk ukuran sebuah kamar pribadi, kemudian diakhiri dengan formasi mematung sejenak persis seperti gerakan awal tarian untuk kemudian topeng tersebut ku buka.

Suasana riang kini kurasakan, tak terlihat sisa-sisa sembab yang menggelayut di mataku, tampak berbinar setelah tuntas menciptakan dan menari kan sebuah koreografi tarian  yang menurut ku indah setelah melihat hasilnya melalui putar ulang di perangkat laptopku.

Minggu depan tarian ini akan di pertunjukan dalam pesta perpisahan anak-anak kelas tiga di SMA ku, sekaligus ingin rasanya membuktikan kepada Ayahku bahwa seni tradisional juga tidak akan kalah indah dengan tari modern dan sangat patut untuk dilestarikan apalagi jika menarikan hasil ciptaan sendiri yang dipadu-padankan dengan tarian modern.

Beberapa hari ke depan latihan ini tentunya akan semakin menguras energi dan waktuku.
Selamat beristirahat dengan tenang Ibu, malam ini tampaknya ayu akan tidur nyenyak, semakin lelap merenda malam.

Keselarasan









Tiba gilirannya bahwa kekuatan setiap diri bagai persetubuhan intim antara diri yang  disakralkan untuk bertahan menyelaraskan  dengan kekuatan  alam
potensi setiap diri menjadi segala sesuatu yang menyelaraskan antara yang berada didalam dengan yang berada diluar diri

menyelaraskan sesuatu yang kuat sekaligus juga yang lemah
disukai menyelaraskan dengan yang dibenci
menyenangkan dengan yang menyedihkan
siang dengan malam

sebagaimana semak-semak mawar dengan duri-duri yang tajam pada tangkainya
menyelaraskan dengan kelopak-kelopak bunga yang  merekah indah megah
antara setiap  diri dengan diri-diri yang lain
antara setiap diri dengan Tuhannya

begitulah cara Tuhan menciptakan kehidupan dengan segala hiasan nya
yang diciptakanNya menyelaraskan perjalanan diri  menempuh hidup
antara nafsu dengan tuntunan
memiliki dengan yang lepas dari genggaman
memilah yang diperbolehkan dan yang dilarang
sebagaimana kehidupan berujung kematian
hidup adalah pilihan-pilihan dari setiap diri dalam keselarasan
sebagaimana mati membawa setiap diri  mempertanggung jawabkan segala amal perbuatan  di hadapan Tuhan kelak

Lalu bagaimanakah menyulam  hidup seperti jaringan laba-laba
pada akhirnya diri menjadi pusatnya
pusat neraka atau surga

oleh karena itu
aku memohon kepadaMu ya Allah akan sebuah jalan
jalan terbaik sesuai RidhoMu
jika belum sempat sempatkanlah
andai belum sampai sampaikanlah
aku hanya berusaha menyelaraskan dengan tuntunanMu
maka kabulkanlah

Selamat Pagi Rajaku

Sedang apa pagi ini Rajaku sayang, yang jelas mudah-mudahan kabar baik menyertaimu
Masihkah pagi ini kau ribet dengan apa yang harus dimakan sebagai teman menghadapi pagimu
Atau seperti biasanya, kau sedang mencari-cari sebelah sendalmu, karena pulangmu tadi malam teramat lelah dan letih sehingga kau melemparnya tidak menentu

À

Mungkin juga kau terbangun agak siang pagi ini, terburu-buru berdiri lalu berjalan menyongsong pagi mu dan lupa untuk minum barang setegukpun, dipikirmu mungkin embun pagi sudah mencukupi
Atau kau malah saat ini seperti biasa sedang berlari-lari menyongsong mataharimu menggenapkan kilometer yang kau ciptakan sendiri
Kuharap pagi ini kau sudah mendapatkan alas kaki untuk dikilapkan oleh perlengkapan yang biasa digantungkan dipundakmu yang kecil  tak berisi

À
À

Entah kenapa Nak, ibumu pagi ini mencemaskanmu, pulanglah rajaku bersama semangat dan harapan dihatimu yang bergelora
Bapakmu sudah beberapa hari terakhir ini hanya duduk diam, Dia saat ini tidak sedang mengeluhkan tubuhnya
Dia tidak sedang merasakan sakit karena kangker melahap jasad ringkihnya
Bapakmu seperti biasa sedang diam termenung dibalai-balai rumah kita merindukan Rajaku duduk bersila dihadapannya

Á
À

Anakku… Ladang kita, tanah warisan leluhur kita, walau sepetak kini tidak ada lagi yang mampu membelainya kembali, menghasilkan butir-butir penghias panci
Mengolahnya agar dapat menuntaskan setiap geliat lapar dan sisanya disimpan untuk menapaki hari-hari
Pulanglah Nak bersama semangat dan harapan dihati
                                                                                 Å
À

Ibu selalu menunggu dan mendo’akan mu
Harapan dan Do’a ini teriring kabar dari tetangga bapakmu bahwa engkau ada, sedang mengais rejeki dikotamu

===============================================================================