Hanya ingin arti hidup diberi warna, berusaha meraup mimpi melalui torehan kata yang kadang aneh tak bermakna.
Tampilkan postingan dengan label Prosa, Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prosa, Fiksi. Tampilkan semua postingan
Rabu, 06 Juli 2011
For My Daughter
Sumber Gambar : Filicker Like Daughter like Father, Oleh Meg Pickard
Anakku,
Bisa saja tulang rusuk itu tidak sesuai kodratnya lurus memanjang berkilat indah dilihat, tetapi ternyata justru bengkok melengkung, namun jangan diragukan fungsinya sungguh teramat penting untuk melindungi organ yang sangat vital didalamnya.
Dia tidak diciptakan dari benda yang teramat keras bagai besi Toledo tajam yang mampu menacap dalamsetiap benda keras lainya, tetapi cukup kuat sehingga kokoh menopang hatimu yang teramat dekat dengannya.
Jika kau paksakan juga untuk mencapai kesempurnaan menurut versimu sehingga menjadi lurus laksana pedang enak dipandang, maka aku jamin ia akan patah sehingga perlu penyembuhan yang intensif untuk kembali kepada bentuknya semula.
Anakku:
Jadilah tulang yang menopang dan menguatkanmu dalam setiap aktifitas dalam setiap gerak dalam mengatasi beban kehidupan dan selalu mensyukuri akan takdirNya.
menjadi bagian dari rangka yang mengokohkan dan memudahkan dirimu untuk berdiri tegak melangkah menyongsong badai dan ombak kehidupan yang membelai setiap saat menjelang.
Atau bisa saja menjadi duri dalam daging yang selalu melukai setiap gerak, setiap langkah sampai duri tersebut tercerabut dalam daging dan kau nyaman untuk menikmati kebebasan dalam ketidak sempurnaan.
Sampai kau akan menjadi yakin dan ikhlas bersatu dalam dagingnya, dengan darahnya untuk mencapai RidhoNya.
Senin, 20 Juni 2011
Selasa, 14 Juni 2011
Rumahku di Gerbong Kereta
Disekitar stasiun kereta api di kotaku, aku berdiri memandang tempat yang menjadi kenangan hidup lamaku yang tampak tidak jauh berubah sejak pertama aku mengakrabi daerah ini, kutenteng kamera DSLR kesayanganku dan sesekali kuambil obyek di areal stasiun ini yang menggugah kembali rasa memory lamaku. Aku masih duduk dibangku Sekolah Dasar kelas empat waktu itu,sering menunggu kedatangan sepeda ontel yang dikayuh oleh seorang bapak yang selalu mengunjungi lokasi areal pelataran parkir timur stasiun ini. Menunggu dengan penuh antusias kedatangan rutin bapak pengendara sepeda ontel merupakan sesuatu yang paling diharapkan bersama rekan-rekanku. Jika yang ditunggu sudah sampai ditempat mangkalnya, suara bel sepedanya akan berbunyi nyaring, suatu kebiasaan yang selalu dilakukan bapak tersebutmemberitahukan kepada kami semua anak-anak penghuni stasiun kereta api yang selalu setia menunggunya, disandarkan sepeda tersebut ditempat mangkal seperti biasanya di bawah kerindangan pohon trambesi yang letaknya persis sejajar sebelah timur didepan bentangan pintu stasiun.
Sebagai pelanggan setianya adalah aku dan seluruh rekanku, ketika siang hari tiba, saat bel sepeda tersebut berbunyi aku dan seluruh rekanku memburunya untuk kemudian mengerumuni, biasanya sepeda tersebut dilengkapi dengan sebuah kotak terbuat dari kayu berukuran sekitar 50 x 50 cm dengan tinggi 15 cm yang menghiasi tempat bocengannya, tidak memerlukan waktu yang lama kotak kayu tersebut sudah dirubung oleh seluruh pelanggannya.
Kenangan itu bergulir dipelupuk mataku, berjalan kemasa-masa dimana aku dan teman-temanku merenda siang maupun malam dalam suasana kehidupan yang hampir tak pernah reda, kehidupan dalam kenagan masa kanak-kanakku di Stasiun Kereta Api.
Sambil menutup telinga dengan tangan kiri kemudian tangan kanan memegang erat tubuh kecil adikku agar tidak terlepas dari genggaman, aku terjebak diantara dua rel kereta, mataku dipejamkan sekuat-kuatnya, suara deru dan debu berterbangan melintas disekitarku yang posisinya tepat berada ditengah-tengah diantara dua rel kereta yang diatasnya melaju dua buah rangkaian gerbong kereta api yang melaju cepat dengan arah yang berlawanan.
Suara gemuruh dan hembusan angin mengibas kencang dekat sekali disisi kiri dan kanan ku, aku berusaha menenangkan adikku yang menangis, suara tangis yang disebabkan oleh rasa takut yang amat sangat diantara hembusan angin yang membawa debu dan sampah ringan berterbangan diudara, kubawa tubuh adikku berjongkok supaya gerakannya tidak oleng dan agar aku dapat memeluk tubuh kurusnya lebih erat lagi.
Suara itu, suara yang memekakkan telinga dan samarnya pandangan ini seakan terasa berlangsung lama sekali, untuk kemudian suara dan kaburnya pandangan beranggsur-angsur hilang, dunia kini kembali terang benderang sesaat setelah sekian lama dicekam ketakutan yang teramat sangat, kini setelah semuanya berlalu saat kesadaranku sudah normal kembali aku dapat bernapas dengan lega kembali, ucap syukur kupanjatkan kepada Tuhan yang telah menyelamatkan aku dan adikku.
Itulah sebabnya kenapa aku tidak mau berada jauh berjarak dengan adikku, walaupun sesibuk apapun aku membersihkan dan menyemir sepatu orang-orang yang bersedia alas kakinya untuk dikilapkan, ekor mataku tetap tidak akan lepas dari gerak-gerik adikku yang sedang memainkan apa saja, terkadang ia sedang asik bermain mobil-mobilan hasil karyaku yang terbuat dari kemasan minuman ringan bekas yang aku sulap sehingga mempunyai roda-roda dan dapat menggelinding diatas lantai stasiun kereta.
Stasiun kereta ini merupakan tempat yang paling aku akrabi semenjak mengenal tentang siapa diriku, aku dan orang tuaku sudah berada di stasiun kereta api ini, hiruk pikuk orang yang hendak pergi maupun yang baru datang merupakan pemandangan sehari-hari dan deru kereta , baik yang bagus lagi cepat maupun kereta barang yang mengangkut berbagai benda di gerbong-gerbongnya sering terlihat mondar mandir dan berhenti di stasiun ini. Pendek kata stasiun adalah tempat yang nyaman , tempat aku bermain dan tempat aku mencari makan.
Suatu pagi ketika hendak berangkat dari gerbong tempatku tinggal, ketika aku berjalan menyusuri rel kereta hendak melakukan aktifitaskudi stasiun tersebut, aku dan adikku 4 tahun menyusur rel-rel kereta dengan hati-hati, melangkahi satu-demi satu secara teratur kayu bantalannya dengan jarak masih terjangkau oleh langkah-langkahku akan tetapi adikku yang langkah kakinya lebih pendek dari padaku tidak dapat menyentuh bantalan kayu berikutnya, ya sesekali memang harus menginjak batu-batu kerikil yang berserakan diantara bantalan kayu, memang agak lambat tetapi begitulah kedaannya terkadang aku menggendong adikku yang berat jika dibandingkan dengan berat tubuhku, aku tidak mau terlepas dari adik semata wayangku setelah ibuku diciduk aparat ketertiban dan dibawa entah kemana. Berita tersebut keketahui berdasar penuturan teman, dengan napas tersenggal hampir habis karena sekuat kemampuannya dia berlari diantara rel kereta dan masuk ke kerumunan orang-orang sehingga dapat lolos dari kejaran petugas Trantib.
“ibumu kena jaring “ katanya ngos-ngosan, “dia dibawa petugas Trantib barusan beserta ibu-ibu dan bapak-bapak pedagang yang lainnya”, aku yang saat itu sedang menggendong adikku kaget luar biasa, adikku kuturunkan, tanganku terkepal dan mukaku memerah hendak menemui beliau dilokasi yang disebutkan, tetapi empat orang teman-temanku menangkap tubuh dan tanganku, seseorang menarik tanganku ketika aku berteriak memberontak, terjatuh dihimpit dan dikunci dilantai dingin sehingga tidak bergerak lagi.
“Ingat adikmu, Anton ingat adikmu, engkau akan sama nasibnya seperti mereka , ditanggkap dan diangkut ke mobil truk untuk dibawa entah kemana” teman-teman menahanku dengan suara ngos-ngosan karena napasnya seakan hampir habis akibat berlari dari lokasi kejadian ketempatku berada, mereka serempak memegang tubuhku erat-erat, Adit melingkarkan kedua tanganya dengan kuat ke perutku dari arah belakang sedang Ubay dan Asrod masing-masing memegang kedua tanganku erat. Aku tetap berontak sekuat tenaga untuk bisa terlepas keluar dari belenggu teman-temanku, Adit malah sekali lagi menjatuhkan tubuhku ke lantai serta Ubay dengan gesit menindihku, aku berteriak sekuat-kuatnya sambil mengerahkan seluruh kekuatanku tetapi tenaga ke empat orang temanku tidak sebanding dengan kemampuanku.
“Betul Ton, ingat adik mu, siapa nanti yang akan mengasuh, siapa yang akan dengan rela memberi makan , mendongengkan cerita-cerita anak ketika hendak tidur digerbong tidak terpakai ini, lagian siapa yang akan memimpin kelompok kita, semuanya serba sibuk dan susah untuk menghidupidiri masing-masing, kau jangan konyol begini, pakai akal sehatmu, lebih baik do’akan saja ibumu cepat kembali dan berkumpul lagi dengan kamu serta adikmu, akupun dapat berkumpul disini karena berhasil terlepas dari kejaran mereka, lagian mereka saat ini sudah pergi jauh” ujar Adit dan Ubay mencoba menenangkan dan menyadarkanku.
Aku masih terisak ketika alam sadarku kembali pulih kemudian memeluk adikku erat-erat, “ terlihattubuhku sudah dikelilingi oleh teman-temanku, “maafkan kawan, aku teramat marah, betul karena ada yang lebih penting saat ini, yaitu bagai mana kita dapat bertahan hidup” ucapku sambil melirik adikku, jangan sampai dia tahu bahwa ibu saat ini sudah tidak ada lagi baik di gerbong maupun di stasiun kereta ini.Ibu memang seorang yang tangguh semenjak bapak meninggalkan kami, ibu bertekad menghidupi keluarga ini dengan berjualan kopi dan panganan ringan berupa goreng-gorengan diluar areal sekitar stasiun kereta, memang lapak ibu berada diareal yang tidak diperbolehkan, ibu tidak mampu untuk membayar sewa lapak yang sudah disediakan oleh pengelola, akibatnya beliau hanya membuka lapak ala kadarnya berupa sebuah meja besar sehingga cukup untuk menampung beberapa piring berisi goreng pisang, goreng ubi, goreng ketan dan lain-lain disamping memang disediakan beberapa termos berisi air panas untuk menyeduh kopi, beberapa bungkus rokok yang sering diminta oleh beberapa pelanggannya serta tidak lupa seperangkat alat masak, kini semuanya sudah raib tak tersisa.
Sudah hampir satu bulan ibu belum kembali “ Ibumu mungkin sedang disekolahkan oleh pemerintah, belajar keterampilan yangseperti biasanya harus dimiliki oleh ibu-bu , seperti menjahit pakaian atau membikin kue-kue” jawaban bapak-bapak berseragam yang bertugas di peron ketika sempat ditanyakan kepada beliau perihal nasib ibu yang belum kembali pulang.
Saat sibuk mengasuh adiku, mengais rezeki untuk dapat makan berdua dan mengelola teman-temanku yang jumlahnya lebih dari 16 orang anak-anak penghuni gerbong kereta yang tidak terpakai lagi tersebut, tetapi hanya 5 orang saja yang paling dekat denganku, Adit, Ubay, Asrod, Fitri dan Sulastri.
Fitri dan Sulastri selalu berkumpul bersama teman-teman perempuan lainnya digerbong kereta yang terletak paling depan, sedang aku beserta adikku dan beberapa teman lelaki lainnya berkumpul dan tidur digerbong agak paling belakang dari kereta api yang sudah lama teronggok didekat stasiun.
Temanku yang lima orang umumnya tidak mempunyai orang tua kecuali aku dan adiku, aku dipercaya untuk memimpin mereka, mengkukuhkan persatuan agar setiap permasalahan dapat dipecahkan dan dicarikan jalan keluarnya bersama-sama.
“Kecepatan, yak, hanya kecepatan berlari dan berkelit saja kekuatan kita yang lainya hampir tidak punya” ujarku ketika istirahat siang aku mengumpulkan mereka dibawah pohon trambesi yang kokoh dengan daun-daun rindangnya memberi keteduhan yang ada dibawahnya, adem karena desir angin lembut dengan setiamembelai tubuh-tubuh mungil diantara terik matahari yang menyengat, tampak Ubay dan Adit serius memperhatikan setiap ucap dan gerak tubuhku, fitri dan sulastri terlihat asyik menenangkan adikku kemudian didudukan diantara keduanya, Asrod dan ubay sesekali tangannya memainkan kotak perlengkapan untuk mengkilapkan sepatu, sambil matanya tetap memperhatikan dengan asyik gerak tubuhku ketika mencoba memperagakan bagaimana caranya meloncat ke ketinggian dan turun dengan cepat, mendarat ke permukaan tanah atau lantai dengan aman. “yak, hanya kecepatan dan kegesitan saja yang kita punya, oleh karena itu hapalkan setiap lika-liku daerah sekitar kita, dan latihlah kegesitan kalian untuk tetap dapat berlari dan menghindar dengan cepat” ujarku penuh semangat, pada umumnya mereka semua memperhatikanku dengan patuh.
“Daerah sekitar stasiun ini bisa saja suatu waktu menjadi daerah yang berbahaya bagi kita semua”.
“Selain gerbong kereta yang kerap kita diami, pohon Trambesi ini yang berdiri kokoh dengan batangnya yang besar, saat ini kita sepakat untuk digunakan sebagai markas tempat kita, tempat berkumpul dan membahas segala sesuatu permasalahan diantara kita” temanku tampak mengangguk tanda setuju.
Pada umumnya tubuh teman-temanku kecil dan kurus , cukup lincah dan ringan untuk berlari dan berkelit.
Setiap hari minggu ketika matahari baru muncul dari peraduan aku dan rekan-rekanku kerap diajarkan beberapa jurus silat oleh kak Nara dibukit kecil agak jauh dan sepi dari suasana lalu lalang dibandingkan dengan stasiun kereta tempat kita hidup dan bermain diarealnya.
Aku terobsesi oleh cerita silat dari cerita bergambar yang sering kami baca, selain memang bertujuan untuk olah raga agar tubuhku sedikinya menjadi bugar dan sebagai perlindungan diri dari seranggan orang-orang jahat yang kadang-kadang berkeliaran di stasiun ini. Sedangkan mengenaiKak Nara, aku tak tahu motivasi beliau mengajarkan seni bela diri tersebut kepada kami, “Untuk ber olah raga dan menjaga diri tetapi jangan digunakan untuk bersombong diri” ujarnya mengingatkan kami semua.
Usaha mencari rezeki sebagai sarana untuk tetap hidup dan bertahan di daerah ini masih tetap dijalankan, bergerak dan bekerjamencari rezeki masing-masing, menyemir sepatu orang , menjual kantong kresek sambil sesekali meng ojekan payung jika musim hujan tiba.
Buku majalah teknik sekolah kejuruan yang aneh pikirku ketika aku menemukan sebuah buku darikotak kayu yang biasa di bawa oleh Bapak penggoes sepeda yang biasa mangkal di kerindangan pohon trambesi markas pertemuan kita, aku menyelidiki buku tersebut beberapa saat untuk kemudian kutetapkan buku tersebut dipinjam. Bapak penggoes sepeda ontel tersenyum sambil menatapku “ buku yang bagus “ untuk kemudian menulis pesananku di buku catatannya.
“Ahaaaay….Ada sesuatu yang baru untuk mencari uang yang lebih besar lagi” ucapku berteriak, teman-temanku terkaget mendengar teriakanku. “Untuk kelangsungan hidup kita”, sebuah gerobak kayu terbuat dari papan tergambar dengan rinci di buku tersebut. “Sepertinya kita bisa membuatnya, bahannya tidak terlalu susah dan kita dapat memohon bantuan kak Nara” ujarku, temanku masih terbengong, masih tidak mengerti, “begini saja, nanti sore selepas asholat Ashar kita menemui Kak Nara kita rundingkan rencana membuat Roli” ujarku melanjutkan idea bersamaku, “ Roli” ucap teman-temanku bersamaan, “ya Roli sebuah kereta darurat berjalan di atas rel, kita dapat memanfaatkan rel kereta yang tidak digunakan lagi oleh PJKA, kebetulan ada rel lama yang melintas ke sebuah pasar di halte sebelah sana tidak pernah dipakai sudah sejak lama dan Roli yang akan dibuat nanti dapat diluncurkan di sana untuk mengangkut belanjaan ibu-ibu dari pasar ke rumahnya” ujarku riang, kini teman-temanku tanpak sudah mengerti tentang ideku, “biayanya mahal barangkali Ton” ujar adit yang tampak paling responsif terhadap setiap detail ucapanku “ kita buktikan saja nanti setelah berdiskusi dengan Kak Nara beliau kan lulusan STM, sekolah kejuruan yang mengajarkan teknik” ujarku tetap riang.
Hasil kreasi bersama dibantu teknisnya oleh Kak Nara, rodanya terbuat dari laher bekas kendaraan bermotor, barang tersebut dapat dibeli dari hasil uang patungan, gerobak kayu tersebut mempunyai ukuran panjang 120 cm dengan lebar persis selebar rel kereta sehingga dapat melaju menggelinding ringan walau membawa beban berat, belanjaan orang yang berat sekalipun dapat diangkut dari pasar untuk kemudian didorong beramai-ramai. Mencari dan mengangkut barang belanjaan pelanggan serta mendorong gerobak lori tersebut kini merupakan pekerjaan yang menyibukanku bersama teman-teman.
Ternyata pengahasilan dari mengangkut belanjaan menggunakan roli ini cukup lumayan,penghasilannya dapat dipakai untuk makan dan sisanya ditabung seminggu sekali di Bank terdekat melalui Pak Lamri sebagai petugas Bank tersebut yang baik hati. Bukunya disimpan oleh beliau dan diperlihatkan jumlah tabungannya sesaat sesudah menyetorkan uang kepadanya. jumlah tabungan kita sudah terkumpul sebesar RP 346.000,- rupiah kata pak Lamri menyemangati sesaat setelah menyetorkan uang selama kurang lebih satu bulan lamanya.
Kini hari-hariku bersama teman-teman disibukan dengan mencari belanjaan langgananku di pasar untuk dimuatkan ke lori yang sengaja sudah nongkrong sejak lepas subuh sampai menjelang tengah hari dan hari-hari selain sekolah dan mendorong lori kurenda masa depanku bersama menyongsong mimpi yang terbentang di depan kita.
Minggu, 05 Juni 2011
Menapak Bumi
Seorang Lelaki pencinta komik silat berimaginasi, meyakini dirinya sudah menjadi pendekar sakti, punya banyak murid karena dapat memanpatkan aji mancala putra mancala putri yang dia anggap sebagai hasil berguru bertahun-tahun kemana-mana dan diperoleh dari hasil bertapa sekian lama di tempat-tempat angker, hasil upaya dengan segenap peluh harta dan tenaga untuk mendapatkan guru luhur jembar penguasaan ilmunya nun jauh di dalam gua ditengah hutan lebat. Petunjuk guru yang wanti-wanti di tularkan kepadanya yaitu tidak boleh kurang maupun lebih harus bertapa berpuluh-puluh hari untuk mendapatkan buku mantera sakti mandra guna dari tuhannya.
Setelah segala petunjuk dilaksanakan dengan tuntas, berhasilah dia memperoleh buku matera mancala putra mancala putri tersebut, diumumkan kepada seluruh negeri bahwa dia sudah menjadi manusia sakti karena keberhasilannya mendapatkan ilmu yang mumpuni. Sesumbarnya kepada para penduduk negeri telah membuat gentar yang mendengarnya, “barangsiapa yang menentang setiap petunjuk yang tertulis dari buku mantera sakti akan dikutuk menjadi kodok”. Akhirnya setelah selama bertahun-tahun dia menjadi manusia disegani oleh masyarakat karena dianggap kesaktiannya yang menonjol, dia bahkan telah berhasil merekrut beberapa murid sebagai anak didiknya.
Namun suatu hari ketika melihat burung bersarang ditempat-tempat tertentu, pohon-pohon tumbuh dengan perbedaannya masing-masing serta air beriak disungai, didalamnya hidup ikan-ikan sebagai makhluk yang berbeda dengan hewan yang hidup didarat, mengamati matahari terbit dari timur dan tenggelam di barat kemudian tergantikan oleh bulan ketika malam sudah muncul di cakrawala berbeda jauh bahkan bertolak belakang dengan apa yang tertulis dalam buku sakti tersebut.
Setelah sekian lama dia pelajari dan renungkan dalam-dalam isi akan buku mantera sakti tersebut ternyata tidak lebih dari pengetahuan yang dimiliki anak balitanya yg kegirangan karena sudah berhasil menggambar mobil dan gunung di selembar kertas, pada kenyataannya setelah melihat hasil karya anaknya tidak ubahnya hanya berupa corat-coret tidak karuan, bahkan tidak bernilai seni sedikitpun, tampak seperti benang kusut yang terlalu ruwet.
Perbedaan persepsi tehadap imaginasi hasil menggambar antara orang dewasa dan anak menyadarkan bahwa kesaktian yang dia yakini hasil belajar dari buku matera pemberian tuhan angker ternyata diawang-awang, tidak masuk akal, tidak menginjak bumi bertentangan dengan apa yang dilihat, diamati dan dianalisa oleh pikirnya bahkan terhadap keseharian yang dialaminya sendiri, tidak sesuai dengan siklus kehidupan alam sekelilingnya. Sang lelaki mulai berpikir bahwa ada yang salah tentang tuhan yang telah memberinya buku mantera tersebut, buku manteranya tidak rasional dicermati oleh akal sehat sebagai hambanya, tidak membumi bahkan terkesan persis seperti coretan anaknya yang sekolah taman kanak-kanak pun belum dialaminya, boleh jadi buku mantera tersebut palsu atau dipalsukan oleh pemberi petunjuk bahkan bisa saja tuhan yang diyakini sebagai pemberi buku matera memang direka-reka, salah kaprah, salah memberikan petunjuk, ternyata bukan diperuntukan bagi makhluk dibumi yang sehari-hari dihadapkan dengan kenyataan sebagaimana sistem bumi dan makhluk yang ada diatasnya berproses…hahahaha untung kesaktiannya belum dicoba dengan kekuatan peluru senjata api, kalau tidak sempat keburu sadar dia beserta seluruh muridnya akan mati konyol diterjang besi panas, gumannya.
Buru-buru dibubarkan padepokan pengolah kesaktian yang dipimpinnya sambil memberi wejangan bijak kepada murid-muridnya agar bertindaklah menapak bumi jangan mengawang-awang. “Nak, belajarlah ilmu yang akan menenteramkan hati, memperhalus budi, menambah pengetahuan dan wawasan tentang alam dan sekitarnya, raihlah ilmu sebanyak-banyaknya untuk menjadi manusia yang berguna bagi dirimu dan bagi bangsamu.
Minggu, 15 Mei 2011
Ketika Hak seseorang harus dipenuhi
Ada warna merah jingga ketika mentari singgah di tepian sungai, menggantikan dinihari berselimut embun yang menetes pelan sehabis hujan rintik-rintik semalaman, ada sungai mengalir cukup deras ketika laku menyusurinya kemudian hendak menyebrang diantara bebatuan besar kecil diarusnya, Paijo sang pemuda lajang ketika umurnya genap dua puluh lima tahun, mengukur dengan kakinya sendiri seberapa dalam dan derasnya tarikan alam semacam gaya kesetimbangan ketika dihulu volume airnya semakin meningkat, sungai tersebut hendak membagikan berkah dan karunia kedalam sebagian kecil harmoni keindahan jagat raya, tidak sebagai amuk kemarahan ketika makhluk ber derajat paling tinggi menentang dan merusak harmoni tersebut. “Air akan kembali menjadi air tidak ada yang berkurang sedikitpun ketika dalam berproses, air tetaplah menjadi air begitu seterusnya ketika berubah wujudpun akan kembali menjadi air pada saat waktunya tiba” begitu tuturan sang guru yang merasa gemas menyikapi phenomena gelisah dan amarah yang meraja lela, “dia butuh gaya dan ketika gaya tersebut hilang, jangan disalahkan ketika membabibuta” ujarnya dalam suatu pagi suram sendu ketika Paijo menikmati secangkir kopi dan goreng ubi serta hangatnya pisang di beranda rumahnya ditingkahi alunan derai hujan menumbuk bumi.
Kedalaman arus hanya setinggi lutut gumannya, belum lagi dapat memilih dan memilah batu mana yang dapat digunakan sebagai tumpuan berat badannya dan titian permukaan yang lapang untuk diinjak sebagai penumpu. Dipertengahan arus bening ditemui sebuah jambu agak besar, masak kekuning-kuningan, masih segar seperti baru jatuh dari pohon nun entah darimana asalnya kemudian terperangkap arus. Perutnya terasa keroncongan ketika berhasil memungut buah segar dan mulut serta giginya bekerja bercampur air liur yang menuntaskan panggilan harat laparnya.
Ternyata segar pikirnya, tuntas sudah panggilan isi perut, kini yang hadir di tubuhnya membangkitkan gairah energi baru untuk menapakan kaki menuju arah tujuan semula. “Sebuah rezeki kehendak Gusti Allah”, sekali lagi bibirnya berguman pelan diselingi rasa syukur.
Dalam langkah demi langkah kaki menapaki kedalaman air diantara batu-batu yang berserakan dia tetap saja tercenung atas peristiwa ketidak sengajaan, sebuah jambu agak besar segar dan sedap rasanya telah menuntaskan degup hasrat kebutuhan akan energi terbarukan, Dia tetap saja menerawang bagaimana jika jambu tersebut ada pemiliknya yang merasa geram ketika satu-satunya yang diharapkan tidak sengaja terjatuh dari pangkuan kemudian terbawa arus sungai atau jambu tersebut memang sedang ditunggu pemilik pohon agar pada waktunya dapat dipetik dan dipersembahkan kepada cucu yang penuh harap menantikannya. Paijo merasa seolah pikir dan hatinya bergejolak, hanya sebuah jambu tetapi ketika memakan bukan miliknya dan menjadikan pengambilan tidak sengaja yang menjadi hak orang lain memposisikan diri teramat menyesali nasibnya. Disusurinya pinggiran sepanjang sungai tersebut selepas menyebrangi arusnya, kehulu, barangkali ada yang dapat menerima maaf atas keteledornnya.
Diperjalanan menyusur pinggiran sungai, tak putus-putus pikirnya menanyakan apakah ada yang merasa buah jambu miliknya hanyut kesungai… Disepanjang perjalannan yang ditemui hanya gelengan kepala sebagai jawaban atas rasa kepenasarannya. Hingga akhirnya seseorang mengarahkan ke suatu rumah yang terletak dipinggiran sungai.
Disuatu tempat yang nyaman dengan kerindangan pohon besar, berdiri sebuah rumah sederhana namun cukup besar, kokoh pohon jambu besar juga menaungi rumah tersebut, rantingnya menjulur kesegala arah, ke atas permukaan sungai, dikerindangan terdapat beberapa buahnya yang sebagian belum matang. Paijo semakin yakin bahwa dari tempat inilah jambu yang dia nikmati tadi berasal, menilik dari lokasi dan besaran ukuran buah yang sama persis.
Diketuknya pintu tersebut pelan dan seorang kakek menyambut dengan ramah; ” Rampes kisanak, ada angin apakah gerangan yang membawamu ke rumah sederhana ini “ ujar sipemilik rumah penuh rasa penasaran dan seraut senyum yang tak terbantahkan sebagai ujud keramah tamahan penduduk desa. Paijo menerangkan maksud dan tujuannya menemui penghuni rumah, dirinya semata hanya mencari sipemilik buah jambu untuk sekedar meminta maaf atas keteledoran terbujuk oleh bisikan perutnya yang memanggil-manggil. Pak tua hanya mendengar tuturan Paijo kemudian tertawa terbahak-bahak. “Memang buah jambu itu satu-satunya yang ditunggu anakku untuk dipetik”, ujar Pak tua ketika memeriksa pohon miliknya. “Permintaan maaf kisanak akan keteledoran memakan buah bukan haknya dikabulkan ketika syarat sudah terpenuhi“ Ujar Kakek, terlihat mimiknya memancarkan keseriusan dalam ucap. Paijo tepekur mendengar tuturan kata “syarat” satu-satu yang dapat menghapus kesalahannya, dia hanya bisa pasrah asalkan terbebas dari belenggu pikir dan perasaan, dia tetap menunggu ucapan dari bibir sang kakek berikutnya. ”Ki sanak harus rela mempersunting anak gadisku yang telah menunggu lama ketika akhirnya tidak kesampaian untuk memetik buah jambu tersebut” ujarnya sambil meraut bilah bambu dengan pisau tajam
“ Dia tunanetra” Ujar pak tua melanjutkan ucapannya, Paijo jadi tidak enak sendiri dalam posisi duduknya…
“ Dia tunawicara” Paijo semakin melongo…
“ Dia Tunarungu” Paijo semakin gelisah, bagaimana mungkin dia dapat memperisteri seorang perempuan tunanetra, tunawicara dan tunarungu, kondisi dirinyapun belum semujur teman-temannya yang telah berhasil hidup dikota, kini permasalahan baru bertambah pula. Paijo tidak dapat menolak persyaratan tersebut, yang ada dipikirnya hanya ingin lepas dari perasasaan bersalah atas keteledoran yang diciptakannya sendiri, kini Dia hanya bisa pasrah akan nasib dan berharap kemurahan Gusti Allah semata.
“Neng Ratna geulis, kesini sebentar, ambilkan dua cangkir kopi dan sepiring pisang goreng Nak, ada tamu berkunjung kerumah kita” Ujar sang kakek disambut oleh suara halus dari dalam Rumah, lho koooo….
Tidak lama kemudian muncullah seorang perempuan berparas cantik, membawa nampan berisikan dua cangkir kopi dan sepiring penuh pisang goreng yang masih mengepul, lho kooo…..
Keheranan Paijo semakin memuncak ketika sang gadis tersenyum sambil mengangguk tertuju kearahnya sebelum sosok mempesona tersebut berlalu menuju ruang dalam rumah.
Ternyata Dia hanya seorang gadis yang hanya melihat ketika memang menjadi haknya untuk dilihat, berucap ketika memang harus menuturkan kata-kata dari mulutnya yang memang haknya untuk bertutur, mendengar suara-suara yang memang haknya untuk didengar, Dia tidak melakukan apapun yang bukan haknya, seperti juga Paijo yang tidak nyaman ketika memakan buah yang bukan haknya.
Minggu, 03 April 2011
Sepotong Pizza
Padatnya lalu lintas dan riuhnya malam ini menjadi rezeki tersendiri buatku dan teman-teman. Paling tidak, kami punya peluang yang lebih besar untuk mendapatkan penghasilan. Kata Kak Satrio padaku, makin sering suatu peristiwa berlangsung maka makin besar peluangnya keberhasilannya. Itu yang pernah diajarkannya padaku saat aku bertanya padanya tentang apa itu probabilitas. Maklum, aku hanya tamatan SMP dan tidak punya biaya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Mendengar kata probabilitas pun tidak sengaja kuketahui saat aku membaca sobekan majalah pembungkus kacang yang salah satu artikelnya bertuliskan “Meningkatkan Probabilitas Sukses di Pasar Uang”.
Ah, aku tidak mengerti pasar uang itu apa. Apakah di pasar itu yang dijual hanya uang? Letaknya dimana? Dan apakah kondisinya seperti pasar tradisional tempatku biasanya menemani emak berdagang sayuran setiap pagi hingga sore? Kotor dan bau pasar.
Hanya sedikit yang kutahu. Kata Kak Satrio, salah satu mahasiswa yang pernah mengadakan bakti sosial di wilayah pemukiman kumuh kami itu, pasar uang berbeda dengan pasar yang aku lihat sehari-hari. Tapi aku malah bingung sendiri dan cuma bisa nyengir-nyengir tak mengerti mendengarkan penjelasannya.
“Woii!!!.. Jangan melamun!… Mentang-mentang jualannya dah habis.” , sebuah suara mengagetkanku. Rupanya Acung. Kulirik barang dagangannya, ternyata belum habis.
“Yeee..siapa yang ngelamun? Aku lagi mikir-mikir aja tentang materi palajaran yang diajarin Kak Satrio tadi siang” , jawabku datar.
“Hahahaa…Jo.. Paijo.. Kok masih mikirin soal itu tho? Kita ini miskin. Nggak usah mikirin tugas yang harusnya dipikirkan pejabat negara”, Acung terbahak-bahak menepuk pundakku.
“Emangnya kalo miskin nggak boleh ya kita pinter? Sampai kapan Cung mo miskin terus? Mo susah terus? Kamu nggak berharap opo kalo suatu hari Tuhan mengubah nasib kita? Kita bisa naik mobil pribadi dan makan pizza kapan saja seperti orang-orang kaya itu”, aku menanggapi menggebu-gebu seraya menunjuk beberapa anak muda yang sedang duduk-duduk di taman sambil menikmati pizza mereka. Aku berusaha mempengaruhi Acung bahwa kita boleh miskin sekarang tapi kita harus berusaha agar di masa depan bisa punya kehidupan yang lebih baik.
Acung diam saja. Hening seakan menjadi jarak antara aku dan kawanku ini. Aku melihatnya tertunduk sejenak. Lalu mengangkat kembali wajahnya, menoleh ke arahku dan tersenyum.
Tiba-tiba saja sebuah mobil sedan hijau gelap berhenti di pinggir jalan persis di depan dimana aku dan acung bersantai, aku mulanya tak mengacuhkan, keasyikkan berbincang menyita seluruh perhatianku terutama tentang ucapan-ucapan Kak Satrio ketika memberi pelajaran kemarin, aku terbuai melamunkan apa arti kehidupan yang lebih baik itu,
“Kehidupan yang lebih baik itu tidak saja berati uang”, ujarku tanpa menatap Acung yang sedang bengong memperhatikan, “karena terkadang dengan adanya uang saja ternyata tidak cukup dapat menjamin hidup akan lebih baik”.
“De..de..bisa minta tolong, kalau jalan menuju ke pasar minggu ke arah mana ya?”, seorang bapak yang baru saja turun dari mobil yang berhenti tepat di depan tadi, meminta tolong untuk menunjukan suatu tempat yang tidak asing lagi bagiku maupun bagi Acung.
Aku beranjak dari tempatku duduk,
“Ke arah sana pak, bapak lurus saja mengingikuti jalan ini di lampu merah yang kedua belok kiri kemudian ambil arah kanan nah bapak nanti ketemu bunderan ikuti saja jalan tersebut…”
“Sebentar, sebentar …terlalu cepat menerangkannya De, rumit mengingatnya”, ujar bapak tersebut pelan.
“Emhm begini saja apakah adik bisa mengantar bapak untuk menemukan tempat tersebut?”
Aku dan acung saling pandang, barangkali inilah yang disebut peluang seperti yang disampaikan oleh Kak Satrio.
“Boleh, Pak”, ujarku. Semangat, acung tampak seperti mengamini hampir bersamaan.
Aku dan acung duduk manis dikursi belakang mobil tersebut sambil tak henti-hentinya memberi petunjuk di tempat-tempat mana harus lurus atau belok bahkan berputar untuk menuju ke tempat yang dituju.
“Jo, lihat ada tv nya”, ujar acung pelan. Aku manggut-manggut tanda takjub. Inilah barangkali yang disebut hidup lebih baik, kita dapat mengunjungi tempat-tempat lain yang jauh hanya dengan duduk manis di dalam mobil yang sejuk dan harum, tidak ada lagi peluh dan pegal, tidak terasakan lagi panas menyengat serta debu-debu menyesakkan napas, di sini kenyamanan dapat dirasakan dengan santai.
Di tempat yang dituju aku dan acung mendapatkan beberapa lembar uang kertas, cukup untuk beberapa hari makan di warungnya Bi Iyem.
“Ada dua bahkan tiga hal yang dinikmati hari ini ujarku, kita dapat uang yang keduanya dapat merasakan sejuk dan harumnya mobil tersebut sedangkan yang ketiga kita tidak usah lagi berkejaran naik metro mini apalagi malam sudah hampir larut begini, hanya tinggal beberapa langkah berjalan ke arah belakang pasar sudah sampai lah dimana kita dapat berteduh dan tidur dalam keadaan agak lebih baik dibandingkan di pinggir jalan”, acung malah menaggapinya dengan santai tak bersuara.
Malam ini aku dan acung nampaknya dapat tidur nyenyak di dalam rumah singgah dimana teman-teman lain juga sedang pulas merenda malam bergeletakan tidak teratur di lantai beralaskan kasur busa.
Sebelum lelap menyergap, acung sempat menanyakan tentang sebuah kertas tebal, berbentuk segi empat agak lebih besar dari permukaan korek api, disitu tertera tulisan Ir.Bayu Rangga Krisnamuti, alamat Jl. Paseban Dalam no 45678 dan masih terngiang di telingaku ucapan dari bapak yang memberikan kartu nama tersebut, “besok lusa aku dan Acung akan didaftarkan di Sekolah Menengah Atas terdekat dengan seluruh biaya pendidikan dan pakaian seragam akan ditanggung sepenuhnya oleh bapak tersebut”.
Malam ini mimpi tampak indah terasa, pemandangan tampak lapang dengan jalan agak lebar sehingga lebih leluasa untuk melangkah, langkah-langkah pasti menuju kehidupan lebih baik yang telah membentang di depan matanya, tinggal semangat yang dijaga agar tak mudah padam.
Langganan:
Postingan (Atom)





