Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 September 2013

Puisi Bulan September





Puisi = Meditasi



Seandainya puisi adalah suatu proses kreatif, dimulai saat persetubuhan intim dilakukan dalam sunyi, ketika mood mengapai-gapai asa, hamilah dia, diberinya asupan gizi hingga melahirkan. Maka berjatuhanlah hujan kata-kata nan sejuk lagi manis karena rasa, itulah kenapa tangan perempuan lebih piawai tentang hal ini. 

Puisi bagai meditasi, mejalin keseimbangan hidup dengan alam dan lingkungan, mengamati denting angin, mendengar desir bumi, buana bersendawa menjaring aroma kehidupan yang terpuruk hingga tertawa terbahak-bahak. 

Cianjur, 1 September 2013



Pada pasir pantai



Pada sebuah pagi, ketika tetes telah bermuara sampai keujung rambut
diantara kusut masai dan gerimis berderai
pantaimu telah kau lukis kembali menjadi purwa yang meraja
sesekali tandas oleh debur ombak untuk disimpan di palung tak bertepi
ambil saja, bawa saja, besokpun hanya kisah yang lelap tokh rindu kembali menjemputnya 

pada landai tepian ombak berderai
puisi ini berat kubawa pergi 
tidak akan lama kapanpun boleh singgah, ungkapmu
jangan salah jalan saja, pasir kita masih disini
di landai pantai yang kisahnya mudah terhapus ombak ke palungnya


Senin, 23 April 2012

Mimpi tidak pernah memihak



                                                      gambar diunggah dari Google


Sebuah mimpi yang mengerikan sepertinya, kejadiannya ketika kami masih kelas enam Sekolah Dasar dulu, kulihat saudara sepupuku yang umurannya sebayaan kebetulan nginap dirumah bersama Tanteku, sialnya si Abup malah tidur dikamarku. Dalam tidurnya Abup terkadang kejang-kejang, suaranya mengigau tak karuan, bahkan bahasanyapun tak ku kenal sedikitpun, hanya bunyi aaacchhh uuuucchh weeeer takkewerrr keweeeerr kemudian kadang di akhiri dengan suara brrruuut panjang berulang-ulang dalam ritme yang teratur hampir sama, tentu saja saya ketakutan bukan kepalang, dia sedang ngelindur atau sedang mimpi horor atau malah sedang kesurupan.
Sebuah tidur yang aneh dan mengganggu hampir sepanjang malam istirahatku, terjaga hampir semalaman memikirkan kalau terjadi apa-apa dengan dirinya, jangan jangan dia sedang digandrungi setan dan sedang berusaha dibawa kabur, sungguh ngeri memikirkannya, bagai mana mungkin tubuhnya saja gede dan kalau saja mempertahankan dirinya ketika berebut dengan genderuwo, tentu gepenglah aku…
Surara itu bener-bener bikin nyaliku ciut, sudah kucoba menutup telinga dan mataku rapat-rapat, menghimpitkan bantal tersisa di sebelah bagian kepalaku, namun suara itu tetap saja meneror, tetapi tidak seperti film horor indonesia jaman sekarang yang terlihat lucu ketika ditonton oleh anak-anak sekalipun, yang anehnya tetap diproduksi berulang-ulang. Sungguh menghawatirkan…
Tapi itu beberapa puluh tahun lalu, sekarang ketika bertemu lagi dengannya pasti maklum dia hobby banget tidur sambil mendengkur dan kehidupan malamnya pastinya susah berpisah dengan yang namanya ngorok.
Tidur sambil ngorok biasa, tetapi tidur diiringi mimpi memang ada perasaan linglung ketika bangun, bagai mana tidak ketika mimpi dikejar hantu, kuntilanak, genderuwo yang selalu mengejar kemanapun lari bahkan selalu menemukan dimana pun ngumpet, cape memang, perasaan tersebut belum tentu lunas ketika terbangun dari mimpi sialan tersebut, ngos-ngosan dengan jantung berdebar kebawa sampai bangun.
Senangnya  ketika bermimpi ujug ujug menjadi Raja, punya istana, punya selir cantik-cantik, plus tidak henti-hentinya menghitung uang pribadi ( jangan ditanya uang itu berasal dari mana, entah hasil korupsi, malak rakyat atau nilep uang pajak, pokoknya uang itu melimpah ruah di kamar istanaku sampai tidak habis-habis waktunya ketika menghitung satu-satu dalam wujud gepokan apalagi lembar demi lembar, sialnya pas ketika terbangun ku-gerakan tanganku, kulirik telapak tanganku koo raib tak tersisa, apalagi sampai tanganku nyosor memeluk salah satu dari selirku nan cantik. Nyesek bukan alang kepalang, umpatan seribu dedemit kadang meluncur reflek dari mulutku yang lugu kebingungan.
Sialnya lagi kalau pas lagi mimpi be*l atau pipis sekecil apapun, ketika pas roman muka lagi melampiaskan gerakan kebelet, pada saat  lagi tanggung kemudian dengan tiba-tiba terbangun, pas kuperiksa bagian belakangku, ku raba-raba di sekitar permukaan tempat tidurku koo ada…memalukan.
Memang mimpi selalu saja tidak memihakku…

Selasa, 21 Februari 2012

Sastra_Selaras: Psycho

Sastra_Selaras: Psycho: Semisal serapahmu kau labeli aku dengan bebal, nyebelin, belagu ataupun bego walaupun merek itu dipasung kuat dalam keningku yang garisnya...

Entri Baru

Minggu, 14 Agustus 2011

Romance


Ia baru saja menyelesaikan pekerjaan rumah seperti biasanya, membereskan tempat tidur sehabis kita terlelap tadi malam, mencuci piring dan tempat makanan sisa makan tadi malam, mencuci baju seluruh anggota keluarga, memasak untuk sarapan keluarga tanpa dibantu oleh tenaga kerja bayaran, kita sendiri masih mampu dengan ridho dan ikhlas katamu.

Dengan keringat masih mengucur dari keningnya, baju dasternya yang sedikit berantakan, wajahnya yang minim sekali make up, dan engkau membiarkan aku membantu alakadarnya, menyapu lantai untuk kemudian mengepelnya dengan sedikit cairan pengharum anti mikroorganisme sehingga rumah kita yang tidak besar cenderung mungil tampak lebih bersinar dan wangi.

Engkau sibuk saja menata meja makan menghidangkan masakan hangat hasil olahanmu menyiapkan  dengan praktis seperti piring-piring bersih ditempatkan diatas meja makan didepan kursinya masing-masing. Meja makan kita tidaklah besar waktu itu yak…cukup untuk menampung empat orang anggota keluarga kita, engkau aku dan sepasang anak kita yang masih balita.

Anak-anak kita sudah bersih waktu itu,  kataku dalam suatu hari libur, tadi aku memandikan keduanya dengan sedikit ada keributan kecil pada mulanya tetapi justru pada pertengahan dan akhirnya nyanyian anak-anak tempo dulu berkumandang seadanya diikuti suara koor anak-anak kita mengiringinya walau kadang kata-katanya sedikit kurang jelas karena kebalitaannya.

Meja makan itu  sudah penuh kursinya diisi masing masing anggota keluarga kita, semuanya dalam keadaan bersih sehabis mandi tadi. menyantap rakus semua yang tersedia dimeja makan karena berkat banyak tercurahnya energy  kala menyelesaikan pekerjaan rutin secara bersama-sama tadi.

Suara bising dengan hiruk pikuk keributan anak kita yang sedang berceloteh, suara denting sendok beradu dengan piring-piringnya, bagaikan irama simphony indah dan suara kita, suara engkau dan aku, kata-kata yang keluar dari mulut kita ketika mengajak anak-anak untuk membersihkan badan, menyuruh belajar mencopot pakaiannya sendiri, gumanan engkau ketika salah satu dari bumbu masak atau deterjen bahkan sabun dan odol kita habis terpakai kemarin, itulah suara Alto dan mezo soprano dari suara-suara kita sendiri mendendangkan lagu damai indah mengalun merdu.

Yak… itu beberapa tahun silam ketika anak-anak kita masih kecil, masih sekolah taman kanak-kanak, yang paling besar dan sicantik kita malah belum sekolah sama sekali, usianya baru sekitar kira-kira tiga tahun lebih menjelang empat tahun waktu itu.

Lalu ketika mencoba menerawang, ketika kita masih pacaran dulu, sebelum tali perkawinan kita terikat secara resmi atas nama agama kita dan didepan seseorang yang paling kita cintai yaitu ayah dan ibu, bunga indah kerap aku berikan kepadamu dengan sedikit kejutan tentunya dan senyummu terulas indah memandang rangkaian minim bunga itu, wajahmu sungguh mempesonakan waktu itu, debaran jantung ini sering dirasakan berdegup manakala kita duduk diteras rumahmu dengan diterangi lampu memperjelas pandangku …..Betapa cantiknya engkau waktu itu, pakaian yang serasi dan sopan, lipstick terulas sedikit seolah tanpa warna yang menyolok, dan rembulanku hadir menemani rinduku yang tertahan beberapa waktu sebelumnya.

Terkadang kita berjalan-jalan menyusuri trotoar kota kita yang kecil, mencicipi hidangan yang disediakan di restoran dan penjaja makanan kaki lima, menikmatinya sambil bercengkrama, sinar matamu memancarkan pesona yang sulit aku lupakan pada waktu itu, senyummu, tawamu, candamu, cemburumu bahkan marahmu masih terekam rapi disisi jiwaku. Hanya kurang dari setahun kita menikmati masa-masa indah itu untuk kemudian aku memutuskan dengan segala keberanianku melamar engkau kepada Bapakmu yang baik hati dan bijaksana tersebut.

Pernikahan kira dirayakan dengan sangat sederhana yak… akan tetapi hikmatnya masih dirasakan hari ini juga. Beberapa bulan kita hidup bersama satu atap bersama orang tuamu, menjaring waktu dengan seadanya, untuk kemudian kita memutuskan mengontrak rumah kecil dan romansa itu mengalir bagaikan air penuh rona didalamnya, ada sedikit pertengkaran kecil tetapi itu sungguh tidak berarti. Salah satu anak kita lahir di tempat kontrakan itu dan engkau memberi nama indah dipadu dengan usulan namaku.

Kini sejak puluhan tahun masa perkawinan kita, engkau masih saja gesit mengerjakan semua tugas-tugas rutin dirumah kita,  hasil jerih payah menabung bersama sekian puluh tahun, engkau  menyisihkan uang belanja bulanan dan aku menyimpannya atas kesepakatanmu. Dulu engkau mengatakan mumpung anak-anak kita masih kecil katamu, menabung untuk masa depan kita sedikit-demi sedikit telah menjelma menjadi rumah yang teramat mungil tapi hangat.

Anak-anak kita sekarang sudah dewasa, jauh dari rumah kita, menuntut ilmu demi masa depannya, ketika liburan panjang saja rumah ini menjadi ramai dan memupus kerinduan kita dengan canda tawanya, tapi harus dimaklumi yak… kini anak kita sudah memiliki lingkungannya sendiri, dunianya tersendiri, terkadang mereka sibuk mengikuti berbagai kegiatan organisasi yang positif sehingga waktu kita untuk berkumpul semakin pendek saja. Tidak apa-apa katamu ….toch itu merupakan suatu proses pembelajaran juga, suatu bekal untuk menghadapi dan melengkapi hidupnya kelak.

Yak… rumah kita kini seperti beberapa puluh tahun silam agak sepi, tinggal si jagoan anak bungsu kita yang umurnya hendak menginjak lima tahun, ramai sekali rasanya ya… dengan anak bontot kita itu, otoriter ala usianya kerap sedikit merepotkan kita. Jaraknya yang jauh dengan kakak-kakaknya, semakin banyak yang memanjakannya. Yak itu anugrah yang tak terperikan dari Allah SWT katamu selepas masa bersalin yang agak payah selesai dilaksanakan, nyatanya kini masih ada belaian dan do’a serta cerita anak-anak yang masih kita lantunkan dikala rumah ini sepi.  Sijagoan kita yang ganteng tetap saja berlari kian kemari sesekali dengan canggihnya memainkan video game yang saya sendiri bisa kalah dibuatnya…ha…ha.. Maklum anak-anak gerak refleknya dan keterbiasaannya membuat kita  kalang kabut mengimbanginya.

Semoga hari-hari yang kita jalani dengan indah akan tetap dapat mengawal perkembangan dan perjalanan hidup anak-anak kita sampai dipisahkan OlehNya.

Hanya menatap dan tersenyum saja barangkali ketika mereka memutuskan kelak untuk mengisi hidupnya menjadi bagian terkecil dari suatu keluarga lagi. Mengisi garis keturunan kita. Mudah-mudahan Allah SWT tetap melindungi kita semua Aminnn.

Selasa, 14 Juni 2011

Rumahku di Gerbong Kereta


Disekitar stasiun kereta api di kotaku,  aku berdiri memandang tempat yang menjadi kenangan hidup lamaku yang tampak tidak jauh berubah sejak pertama aku mengakrabi daerah ini, kutenteng kamera DSLR kesayanganku dan sesekali kuambil obyek di areal stasiun ini yang menggugah kembali rasa memory lamaku. Aku masih duduk dibangku Sekolah Dasar kelas  empat waktu itu,sering menunggu kedatangan sepeda ontel yang dikayuh oleh seorang bapak yang selalu mengunjungi lokasi areal pelataran parkir timur stasiun ini.  Menunggu dengan penuh antusias kedatangan  rutin  bapak pengendara sepeda ontel merupakan sesuatu yang paling diharapkan bersama rekan-rekanku.  Jika yang ditunggu sudah sampai ditempat mangkalnya, suara bel sepedanya akan berbunyi nyaring, suatu kebiasaan yang selalu dilakukan bapak tersebutmemberitahukan kepada kami semua anak-anak penghuni stasiun kereta api yang selalu setia menunggunya, disandarkan  sepeda tersebut ditempat mangkal seperti biasanya di bawah kerindangan pohon trambesi yang letaknya persis sejajar sebelah timur didepan bentangan pintu stasiun.

Sebagai pelanggan setianya adalah aku dan seluruh rekanku, ketika  siang hari tiba, saat bel sepeda tersebut berbunyi aku dan seluruh rekanku   memburunya untuk kemudian mengerumuni,  biasanya   sepeda tersebut  dilengkapi  dengan sebuah kotak terbuat dari kayu berukuran sekitar  50 x 50 cm dengan tinggi  15 cm yang menghiasi tempat bocengannya, tidak memerlukan waktu yang lama kotak kayu tersebut sudah dirubung  oleh  seluruh pelanggannya.

Kenangan itu bergulir dipelupuk mataku, berjalan kemasa-masa dimana aku dan teman-temanku merenda siang maupun malam dalam suasana kehidupan yang hampir tak pernah reda, kehidupan dalam kenagan masa kanak-kanakku di Stasiun Kereta Api.
Sambil menutup telinga dengan tangan kiri kemudian tangan kanan memegang erat tubuh kecil adikku agar tidak terlepas dari genggaman, aku terjebak diantara dua rel kereta, mataku dipejamkan sekuat-kuatnya, suara deru dan debu berterbangan melintas disekitarku yang posisinya tepat berada ditengah-tengah diantara dua rel kereta yang diatasnya melaju dua buah rangkaian gerbong kereta api yang melaju cepat dengan arah yang berlawanan.

Suara gemuruh dan hembusan angin mengibas kencang dekat sekali disisi kiri dan kanan ku, aku berusaha menenangkan adikku yang menangis, suara tangis yang disebabkan oleh rasa takut yang amat sangat diantara hembusan angin yang membawa debu dan sampah ringan berterbangan diudara, kubawa tubuh adikku berjongkok supaya gerakannya tidak oleng dan agar aku dapat memeluk tubuh kurusnya lebih erat lagi.

Suara itu, suara yang memekakkan telinga dan samarnya pandangan ini seakan terasa berlangsung lama sekali,  untuk kemudian suara dan kaburnya pandangan beranggsur-angsur hilang, dunia kini kembali terang benderang sesaat setelah sekian lama dicekam ketakutan yang teramat sangat, kini setelah semuanya berlalu saat kesadaranku sudah normal kembali aku dapat bernapas dengan lega kembali, ucap syukur kupanjatkan kepada Tuhan yang telah menyelamatkan aku dan adikku.

Itulah sebabnya kenapa aku tidak mau berada jauh berjarak dengan adikku, walaupun sesibuk apapun aku membersihkan dan menyemir sepatu orang-orang yang bersedia alas kakinya untuk dikilapkan, ekor mataku tetap tidak akan lepas dari gerak-gerik adikku yang sedang memainkan apa saja, terkadang ia sedang asik bermain mobil-mobilan hasil karyaku yang terbuat dari kemasan minuman ringan bekas yang aku sulap sehingga mempunyai roda-roda dan dapat menggelinding diatas lantai stasiun kereta.

Stasiun kereta ini merupakan tempat yang paling aku akrabi semenjak mengenal tentang siapa diriku, aku dan orang tuaku sudah berada di stasiun kereta api ini, hiruk pikuk orang yang hendak pergi maupun yang baru datang merupakan pemandangan sehari-hari dan deru kereta , baik yang bagus lagi cepat maupun kereta barang yang mengangkut berbagai benda di gerbong-gerbongnya sering terlihat mondar mandir dan berhenti di stasiun ini. Pendek kata stasiun adalah tempat yang nyaman , tempat aku bermain dan tempat aku mencari makan.

Suatu pagi ketika hendak berangkat dari  gerbong tempatku tinggal, ketika aku berjalan menyusuri rel kereta hendak melakukan aktifitaskudi stasiun tersebut, aku dan adikku 4 tahun menyusur rel-rel kereta dengan hati-hati, melangkahi satu-demi satu secara teratur kayu bantalannya dengan jarak masih terjangkau oleh langkah-langkahku akan tetapi adikku yang langkah kakinya lebih pendek dari padaku  tidak dapat menyentuh bantalan kayu berikutnya, ya sesekali memang harus menginjak batu-batu kerikil yang berserakan diantara bantalan kayu, memang agak lambat tetapi begitulah kedaannya terkadang aku menggendong adikku yang berat jika dibandingkan dengan berat tubuhku,  aku tidak mau terlepas dari adik semata wayangku setelah ibuku diciduk aparat ketertiban dan dibawa entah kemana.  Berita tersebut keketahui berdasar penuturan teman, dengan napas tersenggal hampir habis karena sekuat kemampuannya dia berlari diantara rel kereta dan masuk ke kerumunan orang-orang sehingga dapat lolos dari kejaran petugas Trantib.

ibumu kena jaring “ katanya ngos-ngosan, “dia dibawa petugas Trantib barusan beserta ibu-ibu dan bapak-bapak pedagang yang lainnya”, aku yang saat itu sedang menggendong adikku kaget luar biasa, adikku kuturunkan, tanganku terkepal dan mukaku memerah hendak menemui beliau dilokasi yang disebutkan, tetapi empat orang teman-temanku menangkap tubuh dan tanganku, seseorang menarik tanganku ketika aku berteriak memberontak, terjatuh dihimpit dan dikunci dilantai dingin sehingga tidak bergerak lagi.

Ingat adikmu, Anton ingat adikmu, engkau akan sama nasibnya seperti mereka , ditanggkap dan diangkut ke mobil truk untuk dibawa entah kemana” teman-teman menahanku dengan suara ngos-ngosan karena napasnya seakan hampir habis akibat berlari dari lokasi kejadian ketempatku berada, mereka serempak memegang tubuhku erat-erat, Adit melingkarkan kedua tanganya dengan kuat ke perutku dari arah belakang sedang Ubay dan Asrod masing-masing memegang kedua tanganku erat. Aku tetap berontak sekuat tenaga untuk bisa terlepas keluar dari belenggu teman-temanku, Adit malah sekali lagi menjatuhkan tubuhku ke lantai serta Ubay dengan gesit menindihku, aku berteriak sekuat-kuatnya sambil mengerahkan seluruh kekuatanku tetapi tenaga ke empat orang temanku tidak sebanding dengan kemampuanku.
Betul Ton, ingat adik mu, siapa nanti yang akan mengasuh, siapa yang akan dengan rela memberi makan , mendongengkan cerita-cerita anak ketika hendak tidur digerbong tidak terpakai ini, lagian siapa yang akan memimpin kelompok kita, semuanya serba sibuk dan susah untuk menghidupidiri masing-masing, kau jangan konyol begini, pakai akal sehatmu, lebih baik do’akan saja ibumu cepat kembali dan berkumpul lagi dengan kamu serta adikmu, akupun dapat berkumpul disini karena berhasil terlepas dari kejaran mereka, lagian mereka saat ini sudah pergi jauh” ujar Adit dan Ubay mencoba menenangkan dan menyadarkanku.
Aku masih terisak ketika alam sadarku kembali pulih kemudian memeluk adikku erat-erat, “ terlihattubuhku sudah dikelilingi oleh teman-temanku, “maafkan kawan, aku teramat marah, betul karena ada yang lebih penting saat ini, yaitu bagai mana kita dapat bertahan hidup ucapku sambil melirik adikku, jangan sampai dia tahu bahwa ibu saat ini sudah tidak ada lagi baik di gerbong maupun di stasiun kereta ini.


Ibu memang seorang yang tangguh semenjak bapak meninggalkan kami, ibu bertekad menghidupi keluarga ini dengan berjualan kopi dan panganan ringan berupa goreng-gorengan diluar areal sekitar stasiun kereta, memang lapak ibu berada diareal yang tidak diperbolehkan, ibu tidak mampu untuk membayar sewa lapak yang sudah disediakan oleh pengelola, akibatnya beliau hanya membuka lapak ala kadarnya berupa sebuah meja besar sehingga cukup untuk menampung beberapa piring berisi goreng pisang, goreng ubi, goreng ketan dan lain-lain disamping memang disediakan beberapa termos berisi air panas untuk menyeduh kopi, beberapa bungkus rokok yang sering diminta oleh beberapa pelanggannya serta tidak lupa seperangkat alat masak, kini semuanya sudah raib tak tersisa.
Sudah hampir satu bulan ibu belum kembali “ Ibumu mungkin sedang disekolahkan oleh pemerintah, belajar keterampilan yangseperti biasanya harus dimiliki oleh ibu-bu , seperti menjahit pakaian atau membikin kue-kue” jawaban bapak-bapak berseragam yang bertugas di peron ketika sempat ditanyakan kepada beliau perihal nasib ibu yang belum kembali pulang.

Saat  sibuk mengasuh adiku, mengais rezeki untuk dapat makan berdua dan mengelola teman-temanku yang jumlahnya lebih dari 16 orang anak-anak penghuni gerbong kereta yang tidak terpakai lagi tersebut, tetapi hanya 5 orang saja yang paling dekat denganku, Adit, Ubay, Asrod, Fitri dan Sulastri.
Fitri dan Sulastri selalu berkumpul bersama teman-teman perempuan lainnya digerbong kereta yang terletak paling depan, sedang aku beserta adikku dan beberapa teman lelaki lainnya berkumpul dan tidur digerbong agak paling belakang dari kereta api yang sudah lama teronggok didekat stasiun.
Temanku yang lima orang umumnya tidak mempunyai orang tua kecuali aku dan adiku, aku dipercaya untuk memimpin mereka, mengkukuhkan persatuan agar setiap permasalahan dapat dipecahkan dan dicarikan jalan keluarnya bersama-sama.
Kecepatan, yak, hanya kecepatan berlari dan berkelit saja kekuatan kita yang lainya hampir tidak punya” ujarku ketika istirahat siang aku mengumpulkan mereka dibawah pohon trambesi yang kokoh dengan daun-daun rindangnya memberi keteduhan yang ada dibawahnya, adem karena desir angin lembut dengan setiamembelai tubuh-tubuh mungil diantara terik matahari yang menyengat, tampak Ubay dan Adit serius memperhatikan setiap ucap dan gerak tubuhku, fitri dan sulastri terlihat asyik menenangkan adikku kemudian didudukan diantara keduanya, Asrod dan ubay sesekali tangannya memainkan kotak perlengkapan untuk mengkilapkan sepatu, sambil matanya tetap memperhatikan dengan asyik gerak tubuhku ketika mencoba memperagakan bagaimana caranya meloncat ke ketinggian dan turun dengan cepat, mendarat ke permukaan tanah atau lantai dengan aman. yak, hanya kecepatan dan kegesitan saja yang kita punya, oleh karena itu hapalkan setiap lika-liku daerah sekitar kita, dan latihlah kegesitan kalian untuk tetap dapat berlari dan menghindar dengan cepat” ujarku penuh semangat, pada umumnya mereka semua memperhatikanku dengan patuh.
Daerah sekitar stasiun ini bisa saja suatu waktu menjadi daerah yang berbahaya bagi kita semua”.
Selain gerbong kereta yang kerap kita diami, pohon Trambesi ini yang berdiri kokoh dengan batangnya yang besar, saat ini kita sepakat untuk digunakan sebagai markas tempat kita, tempat berkumpul dan membahas segala sesuatu permasalahan diantara kita” temanku tampak mengangguk tanda setuju.
Pada umumnya tubuh teman-temanku kecil dan kurus , cukup lincah dan ringan untuk berlari dan berkelit.

Setiap hari minggu ketika matahari baru muncul dari peraduan aku dan rekan-rekanku kerap diajarkan beberapa jurus silat oleh kak Nara dibukit kecil agak jauh dan sepi dari suasana lalu lalang dibandingkan dengan stasiun kereta tempat kita hidup dan bermain diarealnya.
Aku terobsesi oleh cerita silat dari cerita bergambar yang sering kami baca, selain memang bertujuan untuk olah raga agar tubuhku sedikinya menjadi bugar dan sebagai perlindungan diri dari seranggan orang-orang jahat yang kadang-kadang berkeliaran di stasiun ini. Sedangkan mengenaiKak Nara, aku tak tahu motivasi beliau mengajarkan seni bela diri tersebut kepada kami, Untuk ber olah raga dan menjaga diri tetapi jangan digunakan untuk bersombong diri” ujarnya mengingatkan kami semua.
Usaha mencari rezeki sebagai sarana untuk tetap hidup dan bertahan di daerah ini masih tetap dijalankan, bergerak dan bekerjamencari rezeki masing-masing, menyemir sepatu orang , menjual kantong kresek sambil sesekali meng ojekan payung jika musim hujan tiba.
Buku majalah teknik sekolah kejuruan yang aneh pikirku ketika aku menemukan sebuah buku darikotak kayu yang biasa di bawa oleh Bapak penggoes sepeda yang biasa mangkal di kerindangan pohon trambesi markas pertemuan kita, aku menyelidiki buku tersebut beberapa saat untuk kemudian kutetapkan buku tersebut dipinjam. Bapak penggoes sepeda ontel tersenyum sambil menatapku “ buku yang bagus “ untuk kemudian menulis pesananku di buku catatannya.
Ahaaaay….Ada sesuatu yang baru untuk mencari uang yang lebih besar lagi” ucapku berteriak, teman-temanku terkaget mendengar teriakanku. “Untuk kelangsungan hidup kita, sebuah gerobak kayu terbuat dari papan tergambar dengan rinci di buku tersebut. “Sepertinya kita bisa membuatnya, bahannya tidak terlalu susah dan kita dapat memohon bantuan kak Nara” ujarku, temanku masih terbengong, masih tidak mengerti, “begini saja, nanti sore selepas asholat Ashar kita menemui Kak Nara kita rundingkan rencana membuat Roli” ujarku melanjutkan idea bersamaku, “ Roli” ucap teman-temanku bersamaan, “ya Roli sebuah kereta darurat berjalan di atas rel, kita dapat memanfaatkan rel kereta yang tidak digunakan lagi oleh PJKA, kebetulan ada rel lama yang melintas ke sebuah pasar di halte sebelah sana tidak pernah dipakai sudah sejak lama dan Roli yang akan dibuat nanti dapat diluncurkan di sana untuk mengangkut belanjaan ibu-ibu dari pasar ke rumahnya” ujarku riang, kini teman-temanku tanpak sudah mengerti tentang ideku, “biayanya mahal barangkali Ton” ujar adit yang tampak paling responsif terhadap setiap detail ucapanku “ kita buktikan saja nanti setelah berdiskusi dengan Kak Nara beliau kan lulusan STM, sekolah kejuruan yang mengajarkan teknik” ujarku tetap riang.

Hasil kreasi bersama dibantu teknisnya oleh Kak Nara, rodanya terbuat dari laher bekas kendaraan bermotor, barang tersebut dapat dibeli dari hasil uang patungan, gerobak kayu tersebut mempunyai ukuran panjang 120 cm dengan lebar persis selebar rel kereta sehingga dapat melaju menggelinding ringan walau membawa beban berat, belanjaan orang yang berat sekalipun dapat diangkut dari pasar untuk kemudian didorong beramai-ramai. Mencari dan mengangkut barang belanjaan pelanggan serta mendorong gerobak lori tersebut kini merupakan pekerjaan yang menyibukanku bersama teman-teman.
Ternyata pengahasilan dari mengangkut belanjaan menggunakan roli ini cukup lumayan,penghasilannya dapat dipakai untuk makan dan sisanya ditabung seminggu sekali di Bank terdekat melalui Pak Lamri sebagai petugas Bank tersebut yang baik hati. Bukunya disimpan oleh beliau dan diperlihatkan jumlah tabungannya sesaat sesudah menyetorkan uang kepadanya. jumlah tabungan kita sudah terkumpul sebesar RP 346.000,- rupiah kata pak Lamri menyemangati sesaat setelah menyetorkan uang selama kurang lebih satu bulan lamanya.

Kini hari-hariku bersama teman-teman disibukan dengan mencari belanjaan langgananku di pasar untuk dimuatkan ke lori yang sengaja sudah nongkrong sejak lepas subuh sampai menjelang tengah hari dan hari-hari selain sekolah dan mendorong lori kurenda masa depanku bersama menyongsong mimpi yang terbentang di depan kita.