Senin, 14 Desember 2015

Desember

Desember


Serasa baru sadar bahwa saya kurang suka bulan Desember, ia telah membawaku ke dalam ruang dan waktu  menjemukan, sisa hujan yang dari tadi dengan sabar turun belum juga tuntas sedang basah sudah merangsek kedalam kamar, ruang keluarga dan garasi yang karena cukup luasnya hendak kusiapkan sebagai warung saja dengan perubahan disana-sini berharap ada kesempatan yang mampir membawa kabar gembira dan segenggam pengharapan.

Desember memang genit, ia menyisakan dingin yang bukan pada tempatnya, pada siang yang seharusnya sinar matahari mewarnai kebun bunga kecilku dengan suasana cerah kini hampir tersiram kelabu disertai tangkai-tangkainya yang berguguran saat aku malah merindukannya ia mekar merekah sempurna.

Desember juga menampakan wajahnya yang garang seolah tinggal menghitung waktu dimana denting jarum jam, menit lalu kulihat detik terburu-buru berlari seakan dikejar setali lembaran uang yang harus kubereskan pada waktunya dengan segera sebelum berganti menjadi tahun depan.'
Namun Desember tetap lucu, karena disana tersimpan kenangan yang tertatih-tatih menyembunyikan kesedihannya dibalik sukacita yang mengharu biru. 

Ah Desember sebentar lagi akan berlalu dan engkau tidak putus harapan untuk menemuiku lagi di kesempatan berikutnya, bukan?




Kuda dan wanitaku yang nyentrik


Ketika debu jalanan memercik tersibak kaki-kaki telanjang
Ketika hamparan rumput hijau luas membentang
Dan selimut udara dingin itu merajah kita sampai ketulang

Aku dengan santai mengendalikan kudaku yang berlari pelan
Kaki-kakinya berjingkat-jingkat menggoyangkan tubuhku
kau yang aneh tepat berada disampingku, duduk diatas pelana kuda lainnya yang berlari gontai

Entah bagaimana caranya kau bisa berada diatas kuda betina yang tampak anggun itu
Tetapi aku tetap menyangsikan kau akan dapat leluasa mengendalikan kudamu sesuka hati
Cara dudukmu itu yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya, kau malah menghadap kebelakang.

Kupelankan derap kudaku dan mendapatkan tentang keyakinanku yang semakin mantap
kau yang cantik ingin tampak beda atau sedang gila?
Kudamu mendahului kudaku dan kini kau tampak dengan jelas dipandanganku
Wajahmu yang merayu sungguh semakin menggemaskan
Cengengesan, semringah, bercampur ketakutan
Aku malah menikmati suasana nyentrikmu
selain kutangkap raut wajah sahdumu yang sedang eksentrik
kulihat pinggul kudamu berayun pelan kiri-kanan...kiri-kanan
itu tidak bagus kawan, menganggu pemandangan yang sedang khusu kunikmati saja.
santai saja....

Selasa, 17 November 2015

Teroris Bagaikan Perokok

Mencermati bertebarannya tulisan di media sosial maupun mainstream tentang terorisme berikut aneka komentarnya yang menghangat sehubungan berguncangnya Paris jantung kota  Perancis oleh serangkaian ledakan bom bunuh diri dan penembakan yang dilakukan oleh beberapa orang  yang menewaskan lebih dari 130 orang kemudian disusul dengan serangan pesawat tempur Perancis membombardir Suriah yang menyebabkan jauh lebih banyak lagi korban tewas dan luka-luka. Maka sekedar turut berpartisipasi meramaikan, tulisan satir ini terpublish.

Teroris itu seperti perokok saja, Ujar mang Samad sembari mengepulkan asap rokoknya pelan-pelan keudara seolah ia sedang mengenyam hidup tinggal sepanjang batang rokok yang sedang terbakar di ujungnya. 

Lho.. jadi Mang Samad juga teroris kalo begitu?

Bukan itu maksudnya, saya hanya sekedar menghayal saja mencoba sedikit berimajinasi, karena koo... rokok kan sudah diklaim oleh berbagai pihak baik pemerintah bahkan organisasi se dunia pun mengecam rokok sebagai biang kerok ajang untuk memperpendek umur manusia pecandunya sebagai perokok aktif, pun bisa memapar orang yang berada disekitarnya tetapi tetap saja rokok diproduksi secara besar-besaran oleh pabrikan, berbagai merek lagi, jadi jangan salahkan perokok yang memang sedang ingin merokok. Intinya rokok ada karena banyak orang yang ingin mengambil keuntungan dari rokok itu sendiri disamping karena memang banyak penikmatnya.

Coba akang tengok iklan rokok di televisi... Berbagai merek rokok dari berbagai produsen rokok ditampilkan untuk memancing minat, mereka juga bersaing secara wah...lalu mulai dari pedagang ketengan, toko swalayan, agen rokok sampai pabrik rokok sibuk melayani pelanggan belum lagi jika memperhatikan ladang-ladang tembakau yang diolah oleh perusahaan maupun perorangan. ujung –ujungnya selalu saja do it... Duit maksudnya. Penikmat sibuk mencari duit untuk beli rokok sedang pedagang, agen dan pabrik rokok serta saudagar dan petani tembakau sibuk jual, bikin dan menanam bahan baku rokok untuk cari duit...jadi begitulah rokok bagai teror..meneror isi kantong tetapi sedap untuk dinikmati sambil menghayal disamping bagi pihak tertentu dijadikan sebagai sarana untuk mengeduk duit dari penggemarnya..

Kini saatnya saya gantian berimajinasi.

Jadi teringat kenapa dalam iklan rokok tidak menggunakan seorang dokter sebagai model iklannya walaupun tentu saja ada juga dokter yang perokok, yang ditampilkan malah artis cantik dan ganteng lagi luwes, berani serta spektakuler atau paling banter seperti memasuki ke alam dunia lain yang aneh, hal ini bertolak belakang dengan yang ditampilkan di setiap label pada bungkusnya: tampak teroris sedang mengepulkan asap rokoknya yang dihembuskan oleh seorang pria sambil bawa anak kecil padahal perempuan juga banyak yang merokok sambil gendong bayi, kemudian ditampilkan juga paru-paru yang rusak seperti terbakar suatu kontradiksi tarik ulur yang ditampilkan bersamaan dalam satu format bungkus kemasan rokok, isi dan misi yang diembannya sangat bertolak belakang sehingga hal ini menjadikan Industri rokok dan matarantainya tetap saja eksis di dunia perokokan. Anehnya kabar tentang rokok dapat memperpendek umur penikmatnya tidak sepenuhnya benar kecuali terhadap perokok yang sensitif dan perokok pasif yang rentan terhadap asap rokok, hal ini biasanya terjadi pada anak-anak dan orang yang alergi terhadap asap yang tentu saja akan menyebabkan penurunan kondisi kesehatannya. 

Barangkali celotehan Mang Samad ada benarnya, bahwa: Mungkin saja dengan tidak merokok orang bisa menjadi kaya, bisa membeli mobil atau rumah yang asri jika diuraikan secara serius tetapi santai orat-oret diatas kertas koran bekas untuk sekedar mengkalkulasi harga dari setiap bungkusnya kemudian dikalikan perbulan, tahun sampai puluhan tahun. Ujar mang Samad, masih bersikap acuh tak acuh memandang kepulan asapnya yang membumbung ke udara. Ternyata tidak semulus begitu, kebanyakan tidak persis seperti itu. Dalam prakteknya bahwa untuk hidup banyak sekali onak-aniknya karena untuk alasan hidup itu sendiri, bagaimana itu setiap acara selalu saja membutuhkan duit apalagi dalam satuan waktu tertentu. Untuk setiap jumlah lembaran uang yang nangkring di saku atau dompet boleh jadi di bank karena rutin masuk ke rekening pripadi sebagai upah bulanan kumplit berikut ATM hasil jerih payahnya selama kerja sebulan penuh ternyata banyak sekali saluran pengeluarannya demi untuk hidup itu sendiri. Jadi bisa saja jika sudah dapat membeli mobil atau rumah, tidak disangka dan tidak dinyana ujug-ujug mobil dan rumah bagus idamannya tersebut jadi terbakar hangus. Mungkin karena memang peruntukannya untuk dibakar... ujar Mang Samad cuek bebek.

...ah hanya joke semata agar otot tidak tegang...

Minggu, 27 September 2015

Kesempatan Menghadiri Wisuda di Politeknik Negeri Bandung



Hari Sabtu kemaren tanggal 26 September 2015 saya diundang oleh pihak institusi dimana anak saya selama beberapa tahun menimba ilmu.  Anak  ketiga dari empat bersaudara yang  merupakan anak ke dua dari yang paling bontot  tersebut  akan diwisuda.  Karena jaraknya yang sangat jauh dari yang paling akhir maka saya merasakan bahwa anak perempuanku ini   terkesan berperilaku sebagai anak bungsu saja, agak manja dan butuh perhatian khusus dari orang tuanya... Setidaknya itu menurut saya pribadi saja sebagai orang tuanya walaupun di kampusnya  ternyata ia cukup mandiri dan aktif, terbukti ia pernah mengikuti beberapa aktifitas non kurikuler yang disodorkan pihak kampus yang bersifat sukarela, hanya mengedepankan sebagai ajang menimba pengalaman di laboratorium uji bisnis yang tentu saja berhubungan dengan jurusan yang dia ambil, disamping itu  ia juga berkesempatan ikut berperan dalam beberapa kegiatan non kurikuler lainnya yang disediakan oleh kampus. Menghadiri acara  wisuda di kampusnya yang mentereng dan luas setidaknya untuk seukuran saya yang notabene berasal dari daerah tentu saja merupakan pengalaman baru setelah menghadiri dua wisuda kakak-kakaknya  sebelumnya yang menimba ilmu di institusi pendidikan tinggi yang berbeda. 

Jauh sebelum berdirinya Politeknik  Negeri Bandung, Lokasi ini sebenarnya cukup akrab dijelajahi bersama sepeda motor ketika saya remaja dulu sekitar tahun 1970an sampai tahun 1985, karena dulu bersama orang tua tinggal di Cimahi dan daerah ini diliputi oleh jalan Kabupaten dan Desa tidak terlalu lebar yang merupakan jalan pintas untuk menghubungkan Cimahi dan sekitarnya dengan Jl Setiabudi Bandung dan Lembang sekitarnya. Saat ini saya kembali hadir di daerah ini bersama 1500an lebih keluarga wisudawan lainnya sehingga dengan 1500 kendaraan yang masuk dan keluar dari dan ke wilayah ini dalam waktu yang bersamaan belum lagi ditambah dengan kendaraan lainnya yang melintas dapat dibayangkan laju kendaraan akan stagnan kalau saja aparat keamanan tidak sigap dan sabar mengatasi situasi. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar dan terkendali. 

Wisuda dalam pengamatan saya pribadi berkesan  sangat sakral, melepas segala kegiatan ketat yang rutin diwajibkan bagi setiap mahasiswa disamping itu momen ini sekaligus mengharukan selain yang tertangkap secara umum tidak terlepas dari nuansa hiruk pikuk kegembiraan yang terpancar dari wajah masing-masing wisudawan. Sebagai ajang selamat tinggal dalam nuansa kemahasiswaan dan problemanya yang tentu saja sarat suka dibanding dukanya. Wisuda dapat dikatakan  sebagai ambang batas antara beberapa tahun menimba ilmu mencurahkan segenap perhatian dan disiplin yang harus digelutinya dengan dunia pekerjaan yang akan disambanginya kelak yang tentu saja menuntut situasi dan kondisi yang barangkali sangat berbeda.

Setelah menempatkan kendaraan diantara ratusan kendaraan lainnya di salah satu pelataran kampus yang  diatur secara tertib  oleh beberapa mahasiswa berjaket biru, saya dengan anggota keluarga bergegas menuju pendopo,  suasana begitu hiruk-pikuk saking banyaknya orang-orang yang berpakaian rapi dan resmi berjalan serempak ke satu arah yang sama. Di sepanjang jalan menuju pendopo berjajar pedagang dadakan yang menjajakan kuntum-kuntum bunga mawar yang cantik serta buket-buket rangkaian bunga yang dikemas indah, juga disediakan segala keperluan lainnya. Bangunan pendopo yang luas merupakan tempat berlangsungnya acara sakral tersebut bagi semua wisudawan dari berbagai jurusan.  

Gadget istri saya tiba-tiba saja berdering dari salah seorang yang tidak dikenal mengirimkan pesan yang belakangan diketahui berasal dari salah satu panitia wisuda yang anggotanya berasal dari Mahasiswa Baru (Maba), salah satu panitia  yang dipercaya mengatur segala aktifitas yang berhubungan dengan acara seremonial sakral tersebut. Ia menanyakan tentang posisi dan warna pakaian yang dikenakan istri saya dan berharap agar menunggu saja ditempat dimana saya berada sebelum mereka sampai menemui saya. Tidak berapa lama kemudian, beberapa mahasiswi berjaket biru menyapa dengan sopan bahwa ia yang akan mengantarkannya  sampai ke gerbang pendopo dan memberikan informasi secukupnya bila diperlukan, ia menghubungkan dengan  panitia seksi konsumsi dan menerangkan tentang lokasi toilet. Belakangan yang saya ketahui bahwa panitia yang berasal dari Maba tersebut memang memperlakukan hal yang sama dengan undangan lainnya. 

Di dalam pendopo, beberapa mahasiswi berjaket biru berjajar sampai ke ujung ruangan masing-masing mengacungkan selembar kertas tebal bertuliskan salah satu jurusan ilmu, di depannya berjejer kebelakang kursi-kursi tamu yang sebagian sudah terisi yang khusus disediakan untuk seluruh  undangan agar dapat duduk beristirahat dengan santai.  Dihadapan kami yang sudah dalam posisi duduk menunggu acara dumilai, berdiri layar lebar yang disediakan khusus untuk menayangkan acara pelepasan wisudawan oleh Direktur Polban dan Ketua jurusan masing-masing.

Selepas acara sakral tersebut para wisudawan mengikuti acara santai di kampus jurusannya masing-masing, derai tawa dan canda bergemuruh di luar ruangan, tangkai-tangkai bunga mawar yang dikemas cantik, beberapa rangkaian aneka bunga yang disusun berseni  dalam buketnya, boneka-boneka lucu dan benda-benda souvenir saling berpindah tangan mewarnai acara hura-hura, mereka saling memberi dan menerima dan kami para orangtua wisudawan oleh  Maba diarahkan untuk mengikuti acara yang disediakan oleh jurusannya masing-masing untuk mengikuti arahan Ketua jurusan dan menampung serta memberikan jawaban dari orang tua mahasiswa yang bertanya diseputar kegiatan akademis dan masa depan wisudawan.

Saya cukup mengamati  arahan Ketua jurusan dan beberapa pertanyaan Orang tua wisudawan serta  mencermati jawabannya.  Arahan Ketua jurusan sebagaimana yang disampaikan oleh Direktur Politeknik Negeri Bandung  mengucapkan selamat kepada wisudawan dan orang tuanya yang telah mengantarkan anaknya menyelesaikan ilmu yang diraihnya bahwa harapannya, para wisudawan sebagaimana alumni POLBAN lainnya mampu mengembangkan profesionalismenya masing-masing dan siap berkarya dengan orientasi mutu dan disiplin yang tinggi serta dapat bersaing secara global. Acara dilanjut dengan diskusi antara orang tua wisudawan dan ketua jurusan yang berlangsung santai,  pada intinya mereka menanyakan tentang masa depan wisudawan baik dari sisi pengembangan akademik maupun  bidang pekerjaan yang dapat diambil sebagai upaya merintis karir, tentang perbedaan persepsi dari perusahaan, industri maupun institusi pemerintahan dalam memandang lulusan perguruan tinggi berorientasi ilmu terapan yang selama ini dikembangkan berikut solusinya, bahwa sejak beberapa lama Institusi pendidikan tersebut telah mengembangkan “Job Fair” semacam sarana yang menjembatani antara lulusan dengan kesempatan pekerjaan yang dibutuhkan oleh beberapa  perusahaan, industri maupun institusi pemerintahan  yang dapat mereka akses.  Job Fair pengertiannya semacam sarana yang menghubungkan masyarakat pencari kerja yang  menghubungkan dengan kesempatan kerja , dalam pengertian umum masyarakat menyebutnya sebagai Bursa Tenaga Kerja.

Saat ini banyak bertebaran Institusi pendidikan tinggi yang berdiri bagai menjamur di musim penghujan disertai dengan orientasi unggulannya masing-masing dan kemudahan yang di tawarkannya, ada diantaranya yang mengalami disorientasi terseret mengarah kepada komersialisme pendidikan tinggi tetapi tidak sedikit yang masih kukuh memegang idealisme sebagai institusi pendidikan yang bertujuan menjawab tantangan jaman tanpa embel-embel. Semoga POLBAN tetap memegang teguh idealisme yang selama ini dirawatnya tersebut sehingga tetap menjadi harapan bagi pelajar daerah yang ingin meneruskan pendidikan ke jenjang  yang lebih tinggi. Amin.


Selamat kepada anak saya yang telah berhasil menggapai cita-citanya.





Sabtu, 27 Juni 2015

Marhaban Yaa Ramadhan.



Foto diambil dari Google Image



Sebelum bulan Ramadhan tiba, ia memang sering kerumah untuk sekedar bermain game atau memainkan  layang-layang  dan permainan anak-anak lainnya di lapangan bersama anak saya. Umurnya kira-kira satu tahun diatas usia anak saya, ia duduk di di kelas 4 sekolah Madrasah Persatuan Islam, walaupun berbeda tata cara sholatnya dengan anak saya tetapi mereka rukun-rukun saja untuk tetap bersahabat, sepertinya wajar jika mereka merasa nyaman ketika sedang bersama-sama maka tak urung mereka senang membentuk grup teman-teman sebaya. Namun demikian ketika menginjak bulan Ramadhan tiba, ia sering tidak nampak bermain bersama  baik di rumah atau di luaran rumah, hanya pada saat di mesjid atau lebih tepatnya surau saja mereka sering terlihat. Surau,  karena tidak pernah digunakan untuk ibadah sholat Jum’at  menjadi semacam markas untuk saling bertemu diantara mereka yang juga  diramaikan dengan orang-orang baik muda maupun generasi tua untuk melaksanakan sholat wajib dan sunah selain sholat Jum’at.

Ada pengecualian jika dibandingkan dengan anak-anak lainnya ketika sedang berkumpul bersama, sebut saja ia  bernama Bilal, anak dari ayahnya yang berprofesi membuka warung kecil-kecilan di sekitar surau. Anak tersebut tampak lebih aktif dibandingkan dengan yang lainnya termasuk ketika berbicara, ia mengemukakan pendapatnya dengan intonasi lebih tinggi dari yang lainnya disamping kata-kata yang terucap lebih cepat dengan diakhiri suara ketawa cekikikan yang dapat dibedakan sebagai ciri khas kepribadiannya dibanding dengan yang lainnya. Suatu hal yang membuatku tercenung memikirkannya ketika ia secara sengaja mengajak teman-teman sebayanya termasuk anak saya untuk selalu hadir tepat waktu di setiap  adzan sholat berkumandang untuk sama-sama melaksanakan sholat di surau secara berjamaah. Berdasar keyakinannya,  apabila mereka selalu hadir menunaikan ibadah wajib maupun sunah tanpa terpenggal dengan jeda satu waktupun akan meraih bintang di dada masing-masing ketika kelak  dihadapkan dengan Kholiq  yang maha tinggi sebutnya, maka sudah menjadi pemandangan yang biasa,  Ia dan beberapa temannya selalu berdiri berjajar di shap kiri  paling depan di surau tersebut yang letaknya persis disebelah rumah saya hanya terhalang sepetak sawah saja.
Surau tersebut tidak terlalu besar seperti mesjid jami kebanyakan,  tetapi cukup dapat menampung jamaah sekitar 100 orang dalam shap yang rapat, menurutku. Jika surau kebetulan penuh sesak ketika tiba waktunya untuk melaksanakan sholat isya disambung dengan sholat tarawih, maka semua jendelanya  yang bisa dibuka dibiarkan mengalirkan udara segar disamping satu  kipas angin besar selalu berputar diatas para jamaah agar aerasi udara berjalan cukup lancar walaupun tidak sepenuhnya dapat meredam udara panas yang terpancar dari tubuh-tubuh jamaahnya, namun angin malam yang berhembus sepoy cukup membantu menurunkan suhu hingga mencapai taraf normal yang  diinginkan. Ketika usai surat Alfatihah dikumandangkan oleh Imam,  suara amin Bilal akan terdengar melengking tinggi membahana keseluruh ruangan surau bahkan lebih, sampai terdengar ke sekitar luaran mesjid. Orangdewasa yang biasa hadir dalam jemaah mesjid tidak pernah mengubris bahkan terganggu dengan ciri khasnya tersebut, bahkan ketika ia berhalangan untuk berdiri berjajar di shap paling depan oleh suatu sebab lainnya dan terpaksa ia berada dibarisan belakang, maka suara khasnya akan mencirikan bahwa ia tetap hadir untuk menjalankan kewajibannya. Mungkin,  kalaupun tidak terdengar sama sekali ciri khasnya pun dapat diartikan ada yang terggangu dengannya oleh sebab musabab ia tidak dapat hadir di surau tersebut.
Saya berkesempatan beberapa kali  bertemu dengan anak-anak yang beraktifitas persis semodel demikian seperti  yang pernah saya tulis di Kompasiana beberapa tahun lalu  yang melaporkan tentang seorang anak pemilik warung panganan yang berada dekat kantor saya dulu (...). Entah apa yang memotivasi perilaku anak-anak tersebut untuk berbuat disiplin berada di mesjid ketika bulan Ramadhan tiba, Apa karena dorongan orang tuanya atau kebiasaan yang murni tercetus dari dasar sanubarinya, saya kurang mengetahuinya secara persis tetapi yang jelas mereka kelak akan menjadi kader-kader pemelihara dan penyemarak mesjid  dimasa yang akan datang yang pada gilirannya akan menggantikan generasi sebelumnya.

Seperti halnya Bilal yang mempunyai keyakinan bahwa berpuasa penuh di bulan Ramadhan disertai dengan aktifitas rutin di mesjid akan mendapatkan bintang dari Khaliq yang maha tinggi, maka saya dengan segala keterbatasanya pun  berkeyakinan bahwa Bulan Ramadhan membawa berkah bagi setiap muslim yang menjalankannya dengan penuh keyakinan, bahwa berpuasa sebulan penuh di disertai aktifitas yang di wajibkan secara syar’i akan berdampak seperti “Detoksifikasi” sebulan penuh dari sebelas bulan lainya, menetralisir dan mengenyahkan segala hal yang buruk baik mental maupun fisik selama hanya berpegang kepada Allah SWT, menetralisir dan meningkatkan akhlak dan amal-ibadah dengan mengenyahkan segala dosa dan keburukan akhlak disertai dengan menetralisir dan mengenyahkan segala racun dari dalam maupun dari luar tubuh  yang masuk secara sengaja maupun tidak sengaja menggerogoti tubuh sehingga pada gilirannya meningkatkan  kondisi kesehatan dan kebugaran, bahkan berkeringat, kencing dan buang air besarnya menjadi berkah tersendiri bagi mereka yang sedang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan
( http://health.kompas.com/read/2012/07/29/13592059/Puasa.Dapat.Keluarkan.Racun.dari.Tubuh ).


Jadi semakin jelaslah bahwa perintah Allah SWT yang merupakan kewajiban setiap hambanya jika direnungkan sebenarnya justru berdampak demi kebaikan hambanya sendiri. Jikapun apa yang dilakukan selama bulan ramadhan sebelumnya atau pada ramadhan kali  ini belum berkontibusi secara nyata bagi perbaikan kondisi mental dan fisik saya pribadi, tentu tidak secara serta merta  menyalahkan Allah SWT, mari kita introsfeksi kedalam diri sendiri tentang apa yang pernah dilakukan selama sebulan penuh tersebut.
 

Kamis, 25 Juni 2015

Kereta Senja


Di sebuah sore yang basah, di pandangnya pendar sinar yang tidak lagi meraja, seperti sebuah fatamorgana lembayung semu  abu-abu yang tidak lagi cerah. Senja merayap pelan merelung malam yang kelak akan dia jejak, tetapi tidak kecewa barang sedikitpun, peluhnya sudah menggenapkan ber lembar-lembar sobekan penanda yang didalamnya malu-malu serangkaian angka dari 1 sampai 31 kadang 30 suatu waktu pernah 28, ia hanya serupa penanggalan yang berlabuh di rengkuh geliat peluh yang telah berlalu.

Tetapi kini angka-angka itu terlalu pelan beranjak.
Sebuah lokomotif tua berkarat yang terengah-engah ketika beberapa gerbong dibelakangnya terlalu berisik, rodanya yang masih berkilat menggelincir mulus di rel yang sama tetapi energinya menggerutu pelan seakan berbisik kepada sesama gerbong yang berada di belakangnya.
Jangan salahkan aku.
Senja, senyap merambat lambat tetapi tetap tersenyum puas, di dadanya yang meranggas telah berjaya mengantarkan gerbong sebelumnya yang tetap setia berada dibelakangnya, beberapa stasiun telah dilalui, serombongan orang  telah Ia angkut, beberapa timbunan barang telah diantarkan ketempat yang dituju.
Kini  beberapa gerbong penuh hasrat menggelegak agar dapat meluncur di rel lain yang lebih pejal dan menantang. Energinya memang sedang menanjak.
Entahlah apakah ia akan menjadi lokomotif yang gesit merambah ke  berbagai stasiun megah yang belum pernah di jejak halamannya sekalipun atau menjadi gerbong yang kuat yang mampu mengangkut penumpang atau barang ke berbagai jurusan sesuai yang di tuju sang peretas.
Entahlah… malam telah merangkak pelan.

Tulisan ini pernah di tayangkan di Kompasiana, . http://www.kompasiana.com/adiabebah/kereta-senja_553023276ea83415348b45a8

Selasa, 26 Mei 2015

The HUMBLING Sebagai Film Bertemakan Penyakit Kejiwaan Yang Memukau.





 


Jika ingin mengetahui yang bagaimanakah akting yang keren itu? Maka jawabannya adalah peran-peran yang dibawakan oleh Al Pacino, khususnya dalam film anyarnya yaitu THE HUMBLING. Di film tersebut aktor “bajingan” gaek  jenius ini  sangat memukau sekali  memerankan Simon Axler.


Seperti seorang yang mengalami masalah penuaan diri dan merasa tidak mungkin seproduktif lagi dibanding ketika dirinya masih belia, Sang aktor kawakan ini beberapa kali mencoba bunuh diri dalam menghayati peran-peran terakhirnya di panggung Broadway, semua usahanya tersebut selalu berujung  kegagalan. Ia dinyatakan positif menderita gangguan kejiwaan oleh dokter pribadinya. Ia kini merasa  sunyi dari peran-peran menantang,  apalagi ia telah pernah mengenyam sebagai aktor sangat terkenal, dipuja banyak orang, pujian yang melambungkan namanya akibat beberapa kritikus film dan teathre yang selalu memberikan ranking teratas disetiap pertunjukannya, maka mantan aktor ini seolah mengalami semacam kelainan psikologi akut, sering melakukan dialog imajiner antara dirinya dengan lawan mainnya yang tidak lain adalah dirinya sendiri  juga, ngomong sendiri yang tidak ada ujung pangkalnya ketika mengingat peristiwa yang pernah dilakukan sebelumnya, terutama setelah kehadiran seorang gadis muda bernama Pegeen. Pegeen ujug-ujug hadir dalam masa kekacauan post power syndromnya. Mengaku sebagai anak dari seorang teman mainnya Sang aktor  dalam sebuah pertunjukan Broadway yang cemerlang, gadis yang bermasalah karena mengidap kecenderungan perilaku sex menyimpang, berhaluan Lesbianisme dengan orientasi seksualnya  lebih tertarik kepada sesama jenisnya ini, ia mengaku selama ini hanya berhubungan intim dengan beberapa pacar wanitanya saja.


Ketika umurnya sedang mengalami  peralihan  dari anak-anak ke masa remaja yaitu sekitar  berumur 8 tahunan, ia pernah diberikan hadiah sebuah cincin yang indah oleh aktor kondang ini.  Hadiah yang  diterima oleh anak perempuan menjelang dewasa tersebut justru melambungkan  imajinasinya, ia malah beranggapan layaknya sudah  sebagai gadis remaja. Perasaan yang menyiksa batinnya karena terperangkap oleh asmara yang tidak tersampaikan telah dibawanya sampai  belasan tahun lamanya. Ketika  sudah menanggung perasan asmara yang menguasai kehidupan remajanya selama  16 tahun, akhirnya keberaniannya timbul untuk menemui sang aktor hebat tersebut karena kini ia sudah benar-benar dewasa dan sang aktor sudah gaek berumur  65 tahun dan tidak sesibuk dulu lagi.


Selain berhubungan dengan perempuan aneh bernama Pegeen ini.  Axler juga selalu didatangi oleh perempuan lain yang pernah ia kenal  dalam sebuah ruangan  konseling penderita kelainan kepribadian dalam suatu  bimbingan seorang psikolog kawakan. Adalah Sybil mantan sesama penderita kelainan kepribadian, ia selalu menguntit sang mantan aktor terkenal  kemanapun pergi, walaupun Axler akhirnya berusaha mengusirnya secara halus dalam kehidupan pribadinya. Sybil mengharapkan Agar Axler bersedia  untuk membunuh suaminya yang dianggapnya telah berlaku tidak senonoh dengan anak perempuannya sendiri yang masih bayi, tentu saja dengan imbalan uang yang sangat tinggi.


Darah Axler  mendidih walaupun kemudian mencoba dengan bahasa aktornya untuk menolak keinginan Sybil. Carilah pembunuh bayaran profesional bukan aku yang hanya pandai berprofesi sebagai aktor, ujarnya kalap ketika akhirnya ia berhasil menolak mentah-mentah keinginan perempuan tersebut.  Alasan perempuan gila tersebut memilih Axler untuk membunuh suaminya, karena beranggapan bahwa dengan kepiawaian perannya sebagai aktor jempolan akan sempurna bermain watak dan beralibi ketika berhubungan dengan pihak penegak hukum.


Akhirnya Sybil membunuh suaminya dengan tangannya sendiri yang kemudian berhasil ditangkap Polisi. Tak urung polisi kemudian menginterogasi  Aktor yang sudah pensiun itu, karena dianggapnya pernah memberikan saran berbau kriminal kepada Sybil.


Beberapa perempuan datang  dan pergi menghampiri kehidupan Axler,  seorang perempuan berkulit hitam  yang kondisi tubuhnya  sudah menjalani operasi total sehingga menganggap dirinya sudah menjadi seorang lelaki tulen,  ia merasa sangat layak menjadi kekasih Pegeen daripada menjalin asmara dengan lelaki tua mantan aktor besar tersebut. Namun ternyata Pegeen menolak untuk kembali berhubungan dengan Priscila yang dulunya merasa sangat nyaman ketika ia benar-benar seorang perempuan tulen,  kini  sesudah dadanya rata dan ber alat kelamin palsu akibat operasi  besar-besaran yang memakan nyali dan dana yang tidak sedikit  kemudian namanya juga kini berganti menjadi  Prince. Sungguh suatu hubungan  yang hanya mendapatkan sensasi menggelikan, ujar Pegeen.


Sedangkan Axler  yang dianggap sudah menjadi kekasih sejatinya Pegeen, selalu saja ia datang  dan menginap di rumah Axler. Tentu saja  Ibunya yang mengetahui bahwa anaknya yang sangat  intim berhubungan dengan bekas teman mainnya dalam sebuah karya theatre, serta merta menentangnya, melarangnya untuk berhubungan dengan anaknya  yang menurutnya selain Pegeen mempunyai kelainan psikologis, hubungan tertaut selisih umur yang berbeda  jauh ini merupakan jalinan asmara yang teramat tidak sehat bagi kedua belah pihak .


Axler merasa tidak nyaman dengan pernyataan ibunya  Pegeen, ia  sudah dewasa dan berhak untuk menentukan jalannya sendiri. Selanjutnya ia  berusaha menanyakan bukti autentik  darimana Ibunya Pegeen mengetahui bahwa anaknya mengalami kelainan psikologis selain ia kini menjadi  seorang heteroseksual.


Karena aku adalah ibunya, aku ibunya yang pernah mengandung dan memeliharanya  sejak bayi hingga dewasa yang tentu saja mengetahui secara detail seluk beluk tentang sifat anaknya. Kemungkinan juga ia menganggap bahwa Pegeen mengidap penyakit kelainan bawaan, Ujar ibunya penuh emosi, Lambat laun Axler akan mengetahuinya sendiri.


Pernyataan Ibunya Pegeen ini yang membuat saya penasaran karena sampai akhir film pun tidak mendapatkan jawabanya, selain Pegeen kini menjadi seorang heteroseksual, tetapi di luar itu ia berperilaku normal seperti layaknya perempuan remaja lainnya, bekerja sebagai dosen seni dan theatre di universitas terkenal,  pergaulannya pun sangat  luas di berbagai kalangan.


Namun jika berbicara inkonsistensi kepribadian  film ini memang bercerita di wilayah demikian, Pegeen memelihara kepribadiannya yang menyimpang sebagai lesbian walaupun ia tidak bisa meninggalkan Axler. Ibunya Pegeen yang sekuat tenaga menentang hubungan antara Axler dan Pegeen  tidak secara terus terang menceritakan keadaan siapa sebenarnya remaja perempuan tersebut selain Axler kemudian memeriksakan kondisi spermanya ke laboratorium yang ternyata sehat,  aktif dan normal. Kondisi itulah yang menyebabkan Pegeen frustasi karena dianggapnya  Axler menginginkan anak dari Pegeen. Sebelum Axler menjelaskan secara jelas akan maksud dan tujuan memeriksakan kondisi spermanya ke laboratorium, Pegeen sudah pergi jauh dari dirinya dan tidak mungkin kembali lagi.


Axler yang selalu berhubungan dengan mantan managernya, mencoba mencari solusi permasalahan kondisi keuangannya agar dapat merintis kembali kariernya di bisnis pertunjukan. Kondisi keuangan Axler yang morat-marit akibat selama ini berhubungan dengan Pegeen yang mempunyai selera tinggi.


Axler akhirnya meninggal secara mengenaskan ketika mencoba kembali aktif di panggung Broadway memerankan karya Shakespiere  sebagai King Of Lear. Dengan penjiwaan yang nyaris  sempurna memerankan King Lear akhirnya pisau yang digunakan sebagai alat peraga pertunjukan menikam dirinya sendiri sesuai skenario. Penonton terperangah akan kehebatan aktingnya, semuanya berdiri memberikan applaus demikianpun sutrada sebelum mengetahui bahwa Axler benar-benar telah pergi untuk selamanya.


 


"The Humbling" didasarkan pada novel karya Philip Roth  yang terbit tahun 2009 dengan judul novel yang sama. Dibawah sutradara kawakan Barry Levinson menjadikan karya ini sangat menyentuh ditambah dengan dukungan aktor kawakan Al Pacino sebagai Simmon Axler, diimbangi oleh artis lawan mainnya yaitu Greeta Gerwig yang berperan sebagai Pegeen. Dalam Film ini minim sekali adegan syuur, yang banyak ditampilkan justru permainan watak dari aktor dan aktrisnya yang aduhai.


 


 


 


 

Jumat, 08 Mei 2015

Solusi Ekstrim Mengatasi Kemacetan di Kota Besar





Seperti pepatah “I don't like Mondays,” maknanya menjadi malas untuk menghadapi kembali bekerja, terutama karena diawali dan diakhiri dengan rutinitas kemacetan di ruas jalan Ibu Kota menuju dan dari tempat kerja masing-masing.


Ketika liburan panjang bertepatan karena  tanggal merah yang berdekatan dengan hari Sabtu dan Minggu, biasanya para pekerja akan  terasa nikmat ketika menjalaninya kemudian apabila waktunya akan berakhir, perasaan berat mulai bergelayut menuju ke rutinitas kehidupan normal kembali. Maka masyarakat kota yang berusaha memanfaatkan waktu jeda dari rutinitas kesibukan sehari-hari di kantor atau tempat kerja lainnya harus mulai siap-siap kembali untuk  masuk  ke kehidupan seperti biasanya, bergaul dengan rutinitas kerja pada hari Senin sampai Jum’at dengan aneka problemanya. Suasana jalanan macet menuju ke  dan kembali dari kota tidak lepas dari mengantri lambat berjam-jam di tempat tertentu walaupun dalam jakauan hanya beberapa kilometer  saja jauhnya memang hal tersebut sudah menjadi pemandangan umum. Seperti biasanya kesibukan di awal minggu, pada hari senin merupakan hari yang banyak dibenci  orang, seperti sumpah serapah umum terhadap waktu, bahwa Senin merupakan waktu kembalinya kebosanan yang  harus ditempuh, tetapi saya yakin tidak selamanya dan berlaku umum, justru kebanyakan atau sebagian orang menantinya bahkan di kejar dan didambakan apalagi oleh mereka yang berlabel pengangguran.  Di satu sisi, apabila hari senin bertepatan dengan  saatnya  gajian, maka batasan “ai don laik manday” menjadi hambar maknanya seperti berlaku bagi mereka yang akan berpisah dengan kekasih hati dan sudah kadung bersatu setelah sekian lama  memendam rasa rindu hingga tidak ingin terpisahkan karenanya. Maka hari senin seperti biasanya,  jalanan kota besar akan kembali hidup berdenyut, beberapa pekerja di kota besar akan menghadapi kembali  rutinitas kemacetan terutama pada jam-jam sibuk,  saat menuju dan pulang atau kembali ke dan dari tempat kerja dan nampaknya kepadatan itu sudah menjadi kebiasaan sehingga tidak perlu dihadapi dengan sakit kepala akibat stress berat. Jika ujug-ujug lenggangpun seolah kerja di kota besar akan kehilangan esensinya, sebab  dari kemacetan bisa jadi merupakan tempat beredarnya uang  baik  yang diterima maupun dikeluarkan.  Peredaran uang  ini layaknya sendi pokok dari dinamika ekonomi kota besar, maka kalau kemacetan hampir punah di kota besar bahwa ekonomi masyarakat kota seakan rontok. Bagaimana tidak, selama ini  orang-orang  yang berprofesi sebagai pedagang asongan yang jumlahnya tidak dapat di sebut sedikit, kehidupannya bertumpu kepada kondisi tersebut agar kompor dapurnya dapat menyala, anaknya bisa sekolah dan keluarganya tidak ribut melulu dengan alasan nafkah.


Jumlah kendaraan yang diproduksi dan dijual oleh pabrikan otomotif yang menyerap banyak tenaga kerja tentu tidak ingin mati suri, memproduksi tetapi tidak laku dijual kemudian menunggu situasi sambil ngap-ngapan menuju kebangkrutan, akibatnya menyalahkan prediksi yang sudah dirancang sebelumnya. Apabila setiap tahun pabrikan kendaraan menciptakan dan memproduksi kendaraan terbarunya menyesuaikan keinginan pasar dengan dijejalkankannya aneka kemudahan hasil teknologi terbaru yang memanjakan penggunanya dengan kenyamanan dan keamanan  ternyata mengalami penurunan jumlah konsumen. Belum lagi jika mengamati arus transaksi jual beli kendaraan seken. Dengan demikian pabrik kendaraan seolah tidak peduli dengan kondisi macet malah dari kemacetan tersebut pengendara dan penumpang tidak perlu stres berat karena tekonologi akan mengatasinya.


Lalu Pintu tol yang juga banyak menyerap tenaga kerja dan peredaran uang begitu banyak tentu tidak ingin dianggap sepele, keberadaannya meraup  uang sebanyak-banyaknya dari pemilik kendaraan yang melintas, sehingga tidak heran jika menuju ke dan di dalam kota besar keberadaan pintu tol terlihat berlapis-lapis banyaknya,  memposisikan diri agar jumlah kendaraan yang masuk ke arealnya dipastikan tidak berkurang, malah cenderung harus sebanyak-banyaknya agar uang masuk bertambah besar pula, sehingga tidak heran apabila kemacetan ini memang diharapkan dan dirindukan oleh institusi tertentu maupun jika di amati dari sisi perputaran roda ekonomi kota, walaupun di dalam kemacetan tersebut sebenarnya kehilangan waktu produktif pengendara dan menguapnya berkilo-ton bahan bakar secara percuma yang berubah menjadi asap knalpot mengotori udara kota besar yang dapat disetarakan dengan raibnya senilai duit .


Mengikuti tabiat dari sifat perilaku menejemen modern yang dengan sengaja mengkotak-kotakan segala urusan menjadi beberapa bagian, maka solusi mengatasi kemacetan di kota besar  yang tertulis di bawah ini adalah sebagai salah satu solusi mengikuti tabiat ekonomi dari sekian banyak kiat yang perlu dipikirkan untuk direalisasikan, termasuk apa yang pernah saya tulis sebelumnya tentang pentingnya berdiri beberapa apartemen yang lokasinya di dekatkan dengan kantor-kantor dimana banyak karyawan bekerjanya untuk menekan laju kendaraan yang berseliweran memacetkan beberapa ruas jalan penting di kota besar.


Pemandangan kondisi kota-kota besar memang pakemnya seperti demikian, kalau tidak macet seakan bukan kota besar lagi apalagi disebut sebakai ibukota. Kondisi tersebut akan berbanding terbalik ketika  memasuki areal markas tentara, orang yang masuk  akan faham ketika harus melalui prosedur lapor dulu ke pos keamanan dan berusaha menjaga tata-tertib dan sopan santun seakan sudah tertanam dalam perilakunya selama masih berada di wilayah tersebut, boro-boro terjebak dalam pusaran kemacetan atau terjadinya  huru-hara. Dengan demikian kenapa kota besar tidak meniru kondisi seakan di markas tentara tersebut, sehingga pabrik kendaraan boleh terus memproduksi dan deretan pintu tol dipersilakan berlapis-lapis sebanyak yang diperlukan, tetapi pedagang asong tentunya akan semakin berkurang karena tidak menjanjikan transaksi yang menghasilkan keuntungan bagi kantong pribadinya sehingga mereka  perlu mencari lokasi lain yang lebih profitable.


Tentu saja hal ini akan menuai hasilnya  jika beban kemacetan dibagikan ke lokasi yang sudah terpolakan dengan cermat. Beberapa lokasi di sekitar batas kota dijadikan layaknya reservoir, persis ketika memperlakukan tabiat aliran air untuk kegiatan produktif.  Sebanyak hukum alam yang mencurahkan air ke suatu luasan wilayah  jika beberapa bagiannya dikumpulkan di suatu tempat yang aman di  beberapa lokasi penampungan atau bendungan kemudian disebar secara teratur dan terkondisikan seperlunya, maka banjir yang menumpuk di satu wilayah akan sedikit banyak akan teratasi.


Di beberapa lokasi di batas kota yang dijadikan sebagai target akses pintu masuk ke wilayah kota besar  perlu dijaga ketat oleh aparat yang diperlengkapi dengan aturan dan sangsi ketat, termasuk menyediakan areal parkir luas yang dapat menampung sejumlah kendaraan yang akan memasuki wilayah kota tersebut, sedang di dalam kota sudah disiapkan moda transfortasi milik pemerintah maupun umum yang dapat mengangkut sebanyak orang yang hendak masuk dan menuju ke tempat-tempat yang tersebar di dalam  kota. Dengan demikian pemasukan uang ke kas negara di geser dari dalam kota ke perbatasan, dari pintu-pintu tol yang berlapis di dalam kota sebagian besar  dialirkan ke tempat parkir luas dan moda transportasi yang dipersiapkan secara khusus, aman dan nyaman. Pedagang asongan dapat dibina menjadi pedagang yang lebih bermartabat di lokasi yang sudah disediakan di tempat-tempat parkir tersebut.


Kendaraan pribadi tentu saja harus berhenti dan parkir disana selama jam-jam sibuk seperti  pada umumnya terjadi di siang hari, kecuali kendaran angkutan umum  baik barang maupun orang untuk memenuhi kebutuhan mereka yang akan menuju tempat tujuan. Perubahan ini tokh tidak mengganggu pendapatan apalagi  hilang menguap bahkan kemungkinan akan bertambah,  sedang waktu produktif dan berkilo-kilo liter bahan bakar yang terbuang percuma di lokasi kemacetan dapat ditekan. Kendaran yang boleh beredar di dalam kota hanya kendaraan umum dan kendaraan pribadi yang memang sebelumnya sudah  terdata dan berdomisili di dalam kota dengan dibubuhi tanda khusus.


Pertanyaannya apakah masyarakat akan merasa nyaman dengan perubahan tersebut terutama mereka yang memiliki kendaraan yang super nyaman dan kesibukan yang luar biasa? Jawabannya tentu saja bisa selama pemerintah dapat mengantinya dengan kenyamanan dan keamanan lain yang sepadan sebagai penggantinya. Kenapa tidak.

Sabtu, 11 April 2015

Sekelumit Tentang Perasaan






Bahwa manusia adalah makhluk sempurna yang diciptakan Tuhan. Lalu saya pun mulai bertanya kepada diri sendiri untuk kemudian mencari keterangannya. Berarti dengan anugrah yang telah diberikan Tuhan melebihkan penciptaan manusia dibandingkan dengan binatang dan makhluk hidup lainnya termasuk malaikat ataupun syeitan sekalipun. Kemudian..., saya kira sudah cukup sampai disini saja dulu sebelum membahas panjang lebar tentang manusia sebagai khalifah di bumi karena saya bukan berlatar belakang pendidikan yang mempelajari secara khusus tentang ilmu agama khususnya agama Islam, biar ulama saja yang lebih faham untuk menjelaskan keterangannya secara rinci sesuai yang tertera di dalam Al-Qur’an maupun hadist.

Saya hanya mencoba mencari tahu tentang keberadaan manusia itu sendiri sesuai hasil penelitian para akhli. Manusia mempunyai organ yang paling penting lagi rumit yaitu otak  yang bertugas mengendalikan semua fungsi tubuh. Otak merupakan pusat dari keseluruhan tubuh. Jika otak dalam keadaan sehat, maka akan mendorong kesehatan tubuh serta menunjang kesehatan mental. Sebaliknya, apabila kondisi otak terganggu, maka kesehatan tubuh dan mental pun bisa ikut terganggu. Menurut para akhli otak merupakan organ tubuh yang paling penting sekaligus paling rumit dimana dterdapat bagian–bagian yang berbeda menurut fungsi dan tugasnya, beragam fungsi dan tugas otak manusia lah yang membedakan antara manusia dengan makhluk lain ciptaan Tuhan.
Secara umum masyarakat luas beranggapan bahwa hal-hal yang berhubungan dengan perasaan yang erat kaitannya dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan emosi (pusat Emosi) seperti : cinta, benci, cemburu, kasih sayang, susah, senang, gembira, sedih, marah, perhatian dan segala hal yang berada di tataran emosi berpusat di dalam hati, sehingga ketika seseorang merasa  kecewa  atau merasa kurang berkenan terhadap sesuatu, sering mengekspresikan dengan meletakan telapak tangan di bagian dada, disekitar kira-kira tempat bersemayamnya organ hati, padahal sejak lama para akhli yang meneliti tentang Otak berkesimpulan bahwa : otak  selain berfungsi sebagai pusat kecerdasan dan intelektual seseorang juga befungsi sebagai pusat memory, pusat emosi dan hal lain yang banyak fungsinya yang sangat rumit. Sementara ekspresi lainya yang sering terlihat adalah, ketika dengan muka merah padam karena emosi, serta merta mengacungkan jari telunjuknya mengarah ke kepala yang menunjukan tentang kebodohan (idiot) kepada pihak lainnya. Timbul pertanyaan apakah benar yang di ekspresikan oleh orang tersebut? Mari kita teliti pembahasan para akhli di bawah ini.

Menurut beberapa akhli yang meneliti tentang otak mengemukakan bahwa : dibagian tengah otak terdapat organ yang menyerupai seperti bentuk kerah baju membungkus batang otak yang lazim disebut sistem limbik, Limbik berasal dari bahasa latin yang berarti kerah. Bagian otak ini sama dimiliki juga oleh hewan mamalia sehingga sering disebut dengan otak mamalia. Komponen limbik antara lain hipotalamus, thalamus, amigdala, hipocampus dan korteks limbik. Sistem limbik berfungsi menghasilkan perasaan, mengatur produksi hormon, memelihara homeostasis, rasa haus, rasa lapar, dorongan seks, pusat rasa senang, metabolisme dan juga memori jangka panjang. Bagian terpenting dari Limbik Sistem adalah Hipotalamus yang salah satu fungsinya adalah bagian memutuskan mana yang perlu mendapat perhatian dan mana yang tidak karena terdapat keterkaitan erat yang berhubungan dengan sistem emosional seseorang, seperti membedakan perlakuan terhadap anak kandung dengan anak-anak lainnya, terhadap isteri, suami atau pacar dibandingkan dengan orang lain dsb .

Sistem limbik menyimpan banyak informasi yang tak tersentuh oleh indera. Dialah yang lazim disebut sebagai otak emosi atau tempat bersemayamnya rasa cinta dan kejujuran. Carl Gustav Jung  menyebutnya sebagai "Alam Bawah Sadar" atau ketidaksadaran kolektif, yang diwujudkan dalam perilaku baik seperti menolong orang dan perilaku tulus lainnya. LeDoux mengistilahkan sistem limbik ini sebagai tempat duduk bagi semua nafsu manusia, tempat bermuaranya cinta, penghargaan dan kejujuran.

Berdasarkan paparan tersebut di atas, menurut pemahaman saya dapat disimpulkan bahwa : Kita, khususnya saya pribadi sering terjebak ke dalam hal-hal yang berhubungan dengan fungsi otak ini, berkutat hanya diantara bagian otak yang mempunyai fungsi sebagai pusat emosi ini (baca: sistem Limbik, seperti yang dimiliki juga pada umumnya oleh hewan mamalia) dibandingkan dengan bagian otak lainnya, bukannya mengendalikanya sehingga bermanfaat kepada hal-hal yang sifatnya menguntungkan. Para ulama mengatakan, manusia memang sebagai tempatnya salah dan khilaf sehingga sering terjerumus kedalam dosa daripada pahala, berkecimpung di tataran dunia dibandingkan dengan ke Ilahian, padahal menurut ulama selanjutnya, kematian itu pasti datangnya dan dalam kondisi tidak membawa apa-apa yang di kumpulkan dan di perjuangkan dengan begitu kerja keras sampai tanpa memperhatikan lagi aturan, norma dan kaidah yang terdapat dalam kitabNya dan HadistNya. Pendek kata,  pada umumnya, khususnya saya pribadi cenderung menggunakan fungsi bagian otak yang dihubungkan dengan ambisi pribadi yang bersifat keduniawian ini dibandingkan dengan tujuan khusus yang lebih hakiki lagi sifatnya yaitu membawa bekal untuk sesuatu yang pasti ketika berkunjung ke kampung akhirat kelak, tempat segala dosa, pahala dan ibadah kita diperhitungkan dihadapan Tuhan pemilik dan pemelihara semesta alam dan segala isinya. Itu saja. Untuk lebih jelasnya tentang fungsi otak secara ringkas dapat di lihat disini http://www.aktivasiotak.com/fungsi_otak.htm

Ya setiap manusia adalah khalifah dimuka bumi, layaknya supir, masinis atau nakhoda yang diperjalanan seharusnya membawa atau mengangkut yang baik-baik saja menuju stasiun atau tujuan akhir, namun apa daya yang baik dan dan tidak baik, yang halal maupun haram berkelindan diantaranya untuk di diperhitungkan pada akhirnya.

Lalu sudah seberapa jauhkah saya berfungsi sebagai khalifah? Sambil celingak-celinguk mengintung seolah sedang mengaudit diri sendiri tentang untung rugi....ah rumit, serahkan saja kepada yang maha pencipta mudah-budahan diberikan kekuatan dan kesabaran dalam menangguk hidup ini dalam hal kebaikan menuju ridhoNya dan mohon ampunan jika terdapat kesalah dan dosa-dosa. Titik.



Sabtu, 04 April 2015

Entrepreneur



Kebetulan saya kenal lelaki itu sejak dahulu, ketika orang lain sebayanya berebutan dan sibuk ingin menjadi pegawai negeri sipil (PNS) dan pegawai BUMN, ia malah mempunyai rencana yang amat kuat untuk menjadi interpreneur sejati. Entahlah apa yang melatarbelakangi cita-citanya itu, yang jelas referensi tentang wirausaha itu sudah banyak bahkan sejak jaman dahulukala ketika ditemukannya kiat-kiat wira usaha sesuai per jenis produksi, ia malah hanya mengandalkan pengetahuan yang di dapatnya secara langsung dari bisnis orang tuanya paling tidak ia ingin menjalankan bisnis sesuai dengan keyakinannya. Jika tidak kesampaian pun tidak apa-apa ia menjadi peternak saja di areal lahan yang cukup luas milik orang tuanya, dapat dibayangkan betapa ternak-ternaknya bebas sesuka hati bermain di arealnya dan makan sekenyangnya.


Saya tidak merasa heran ketika ia mulai membangun toko sederhana yang menyediakan kebutuhan pokok masyarakat sampai ke kebutuhan lainnya yang memang mutlak harus tersedia di rumah-rumah setiap keluarga. Mulai dari beras sampai sapu dari kecap sampai aneka panganan jadi yang dititipkan oleh industri kecil makanan rumahan yang ia seleksi terlebih dahulu, bahkan kerap ia memberi bimbingan perihal higiene dan sanitasi pengolahannya sampai ke estetika penyajian dan citarasanya yang unik, maka usahanya semakin lama semakin berkembang saja seiring bisnisnya mendapat kepercayaan dari pihak perbankan dan industri produksi kebutuhan rumah tangga yang dimasukan ke tokonya. Akhirnya ternyata usahanya memang berkembang pesat menjadi toko swalayan serba ada yang berdiri tiga  lantai di tempat strategis dimana langganannya  berlalu lalang berkunjung untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya masing-masing  sampai kepada orang-orang yang hanya sekedar berekreasi kuliner untuk sekedar menyantap makanan olahan yang belakangan tersedia di tokonya. Disamping itu, ia menjalin hubungan bisnis dengan pengusaha lokal sampai pengusaha yang berlabel waralaba.

jika mengamati jumlah Karyawan tetapnya paling sedikit tokonya merekrut 30 tenaga kerja laki-laki maupun perempuan muda yang terbagi atas dua shift kerja dengan upah di atas UMR lokal.



Semakin tokonya berkembang dengan banyaknya karyawan muda yang segar lagi cantik dan tampan. Isterinya yang memang cukup cakap berbisnis karena memang sama-sama membangun usahanya dari sejak kecil sampai menjadi besar, maka iapun mulai mengambil alih kepenguasaan tokonya. Kondisi ini semakin memberikan kelonggaran kepada lelaki tersebut untuk berpikir secara cerdas, mengambil peluang untuk memanfaatkan waktu luang, sumber daya dan kepercayaan pihak-pihak yang berhubungan dengan bisnisnya untuk menambah lagi jumlah usahanya.



Selisih beberapa waktu kemudian seiring waktu, keberhasilan bisnisnya pun semakin bertambah. Di beberapa tempat strategis lainnya telah berdiri toko swalayan miliknya dari dua, tiga sampai akhirnya memiliki empat perusahaaan swalayan yang tidak kalah ramainya dibandingkan dengan usaha-usaha sejenis yang ada di kotanya, tentu saja berikut mengangkat seorang manajer piawai yang telah diseleksi secara ketat sesuai dengan kriterianya sehingga dapat mengelola bisnisnya dengan cekatan sekaligus juga merangkap sebagai pemiliknya, bagaimana tidak karena managernya adalah isteri-isterinya yang aduhai, baik di tempat kerja maupun dalam mengurus rumah tangga. Sedangkan lelaki tersebut selain bertindak untuk dan atas nama kepala keluarga juga layaknya berfungsi sebagai komisaris dari ke empat perusahaanya yang bertugas mengawasi, mengevaluasi jalannya usaha dan memberi saran perbaikan secara rutin dalam jadwal yang sudah disepati bersama dan fungsi lain layaknya komisaris merangkap sebagai kepala keluarga.



Saat ini memang banyak berdiri berbagai macam toko serba ada yang ber label ....Mart bertebaran dibeberapa kota sampai merambah ke desa dengan manajemen terkoordinasi, terintegrasi dari hulu sampai hilir. Secara hanya berpikir sederhana saja  sebenarnya ia merasa khwawatir tentang perkembangan bisnis usaha swalayan yang menjamur tersebut, karena hal itu hanya menciptakan segelintir pengusaha konglomerat saja yang sueper kaya tanpa memberi peluang kepada yang lainnya, sedang apabila menerapkan kiat bisnisnya setidaknya ia telah berhasil mencetak 4 manajer sekaligus pemilik perusahaan dengan sedikitnya memberi peluang kerja kepada 120 karyawan  ditambah memberikan kesempatan untuk pekerja bisnis beberapa pengusaha industri rumahan lokal mulai dari telur ayam kampung, ayam ras dan  telur asin, olahan berbagai ikan dari ikan asap, goreng belut sampai olahan baby fish ( ikan kecil yang di goreng) belum lagi pangan olahan lainnnya seperti berbagai macam getuk dari berbagai bahan dasar, kue lapis sampai nasi kuning campur dadar telor dan irisan tempe yang dikemas cantik, disamping itu tentu saja membangun kerjasama dengan pengusaha lokal yang memanfaatkan lahan longgar di areal bisnisnya, maka susah sekali menebak berapa usaha industri rumahan yang bersama-sama terlibat langsung maupun tidak langsung dengan bisnisnya.


Jadi Ia sebenarnya sependapat dengan beberapa kepala daerah dan kota yang menerapkan peraturan untuk membatasi pengusaha toko serba ada intergrated dari hulu sampai hilir yang merambah beberapa kabupaten, kota sampai ke pelosok desa yang secara bisnis tentu saja dapat mematikan pengusaha lokal. Bayangkan saja jika ada seratus pengusaha saja seperti lelaki tersebut maka dengan mudah dapat dihitung berapa manager piawai yang merangkap sebagai pemilik perusahaan termasuk jumlah karyawan yang direkrut berikut industri kecil pengolahan makanan khas daerah yang dapat ditampung hasil produksinya, belum lagi jika dalam cakupan propinsi ahh terlalu jauh menghayal, tetapi kenapa tidak.



Lalu timbul pertanyaan dalam benak saya sendiri sudah seberapa jauh upaya bisnis yang sudah dirintis oleh saya pribadi?



Maka sambil celingak-celinguk takut diketahui oleh seisi keluarga, sesungguhnya saya merasa cukup bahagia ketika sudah diberi kesempatan untuk dapat duduk sendirian dari beberapa menit sampai hitungan jam bermeditasi di ruang khusus di rumah saya pribadi, di depan komputer pribadi juga hanya untuk secara leluasa dapat berpikir dan berkhayal sehingga dapat menulis beberapa esay dan cerita pendek maupun cerbung sekalipun yang sangat sederhana. Kegiatan ini sudah berlangsung sejak beberapa tahun yang lalu sampai dengan saat ini dengan tanpa mendapatkan gangguan maupun rongrongan dari pihak manapun juga, sekaligus mohon dimengerti oleh seisi keluarga bahwa kegiatan ini tanpa mendapatkan imbalan apapun apalagi keuntungan finansial daripadanya, cukup hanya sekedar mendapatkan kepuasan batin dapat menyalurkan hobi dan uneg-uneg saya yang tertinggal didalam kepala untuk segera di tuangkan dalam format microsoft Word yang disimpan dalam file di komputerku atau di publish melalui media sosial dan blog pribadi, sedangkan dibidang lain tentu saja tugas dan fungsi sebagai kepala keluarga juga harus terpenuhi. hahaha