Senin, 14 Mei 2012

Sepotong Roti Buat Kaum Urban




Sepotong Roti isi dan secangkir kopi penuh rasa cinta, setidaknya itu menurutku, terhidang dalam padanan yang serasi dari sisi tekstur, penampilan dan gizi, ber jejer rapi dalam piring porselen  kecil berwarna putih bersih beserta  aroma kopi yang masih mengepul dalam cangkirnya yang cantik, kau hidangkankan semuanya diatas meja makan rapi disertai garpu dan pisau stainless still berkilat –kilat.

Itu hidangan cinta sederhana yang dengan cermat kau persiapkan dipagimu yang sengaja dibangun ketika aku masih terlelap dalam mimpi-mimpi tentang segala kecemasan yang menggerogoti nalarku. Melepas selimut dan bantalnya yang nyaman menina bobokan tubuhku, bergegas mempersiapkan diri setelah hampir selarut diburu laporan serta target pertanggungjawaban yang selalu menguntitku setiap hari, hidangan itu sudah tersedia di tempatnya dengan cantik.

Tak sempat kucermati keindahannya, karena seperti  biasanya harus bergegas berkejaran dengan matahari, meneguk kopi hangat semampunya, menyambar roti cantikmu dengan lembaran tissue untuk kulahap dalam kesempatan santai diantara kertas demi kertas laporan dan target menjemukan yang mengendalikan seluruh kehidupanku. Tak lupa harus  kucium lembut keningmu untuk semua yang ter hidang dengan penuh ikhlas tersebut.

Kau tampak sekilas melambai diantara tiang kayu dan daun pintu sementara motor kuhidupkan, melaju dijalanan yang terlupakan untuk diaspal, sosokmu yang masih mematung di pintu rumah sederhana kita menghilang gambarnya dari kaca spion di sebuah belokan menuju jalan besar dimana kesibukan lalu lintas sebenarnya sedang berlangsung,  hidup sekali lagi dipertaruhkan,  dijalanan diantara belantara gedung tinggi, kemacetan, matahari pagi yang menyilaukan serta debu-debu sialan, sekali lagi menuntut konsentrasi penuh,  tidak ada kompromi dijalanan yang semua penggunanya berpacu dengan waktu, berkejaran dengan kecepatan, sekian detik saja lengah tanpa disadari melayanglah nyawa atau paling banter meringkuk mengerang di sebuah  kamar rumah sakit beraroma antiseptic dan warna-warna serba putih.

Hanya sepotong roti isi sarat gizi berhias cantik terhidang di piringnya yang putih bersih, secangkir kopi beraroma  serta perlengkapan makan berkilat indah berjejer serasi diatas meja makan mungil di setiap pagi yang syahdu, tetapi tak sempat kunikmati dengan sempurna  keindahannya disetiap pagimu yang kau hadirkan dengan manis, kicau burung serta suara gemerisik dedauanan yang mengiringi pesonananya luput kutangkap karena gegas demikian menyita seluruh perhatian.

Menjelang malam kembali harus berjibaku di jalanan, memacu motorku diantara sliweran aneka kendaraan termasuk truk bertonase tinggi menuju rumah harapan agar dapat beristirahat  tenang di pondokku yang sederhana serta menghapus rasa  was-was penantian seorang  isteri dan anak yang menunggu seharian dengan perasaan campur aduk.

Jadi sesudah berkompromi dengan tetek bengek sistem kapitalis, dengarlah suara kami, suara para buruh migran yang mengais rejeki di kota yang super sibuk tersebut, jangan lagi kau lumuri jalanan dengan darah kami, keganasan arak-arakanmu yang brutal  itu sungguh memuakan.

Selasa, 08 Mei 2012

Tarian Kematian Sang Elang




Di Negeri Hindustan nan indah dalam keelokkan alam nya bak mayapada telah lahir seekorburung ajaib penyendiri, ia dengan asyiknya menikmati kehidupan sepi, akrab dengan kesunyian hingga tidak memerlukan teman termasuk pendamping setia, ia terlahir untuk hidup menikmati alam penuh rintangan dan tantangan. Suatu waktu cakarnya mencengkeram kokoh batu gamping di puncak ketinggian gunung cadas terjal yang tak pernah terjangkau oleh makhluk lainnya, saat lainnya terkadang dengan angkuhnya berdiri berayun di pucuk ranting pohon menjulang dihembus sepoy angin utara.
paruhnya menggambarkan sebuah desain perpaduan antara kekuatan dan keindahan, sebentuk alat musik terpahat diparuhnya yang kokoh dihiasi seratus lubang, tiap lubang melengkingkan dada–nada musik berbeda hingga ketika melayang diudara akan tercipta paduan komposisi suara bak orkestra melantun jernih mengalunkan nada-nada indah, terkadang lengkingan paduan irama orkestra menyayat datar kemudian tinggi menjeritkan nyanyian kesedihan hingga burung-burung serta binatang lain bahkan binatang buas sekalipun terdiam, suara jeritannya menggetarkan hewan lain penguni alam hingga melemahkan hati-hati kebinatangan mereka.
Dilangit yang cerah sang elang membentangkan sayapnya menghirup udara kebebasan diantara bongkahan awan dan birunya langit, melayang tenang bagai biduk terhanyut arus terhembus angin, matanya awas dalam jarak ratusan hingga ribuan meter, radar intuisinya bekerja memantau kerendahan memeriksa sedikit saja gerakan tubuhnya akan mengeliat bermanuver menukik menerjang hingga terpuaskan laparnya di hari itu.
Elang digdaya tertulis dalam lembaran takdirnya untuk dapat hidup seribu tahun hingga terpuaskan jiwa pengembaraannya menikmati waktu menjelajah alam dari ketinggian daratan, gurun, gunung-gunung tinggi, rimba raya hingga samudra yang membentang luas terlihat awas. Dalam alam sadarnya selain dapat melihat bentangan alam luas, sang elang dapat melihat dengan jelas oleh mata batinnya sendiri kapan waktu ajalnya akan tibasementara makhluk lain tidak dapat memahami kapan kematian akan merenggutnya.
Ketika lonceng mata batinnya berdentang mendendangkan irama takdir akhir khayatnya, nada sumbang membisikan tentang waktu, nalurinya akan menggerakan sayapnya yang semakin melemah menjelajah alam rimba raya mencari ranting-ranting dari seratus jenis pohon mengumpulkannya hingga membentuk sebuah gundukan, dalam kebisuan ia memposisikan dirinya di tengah-tengah gundukan yang telah tercipta sambil melengkingkan irama musik kesedihan, jeritan nada kematian menguar ke seantero rimba, tubuhnya mengelepar layaknya daun-daun yang sedang dipermainkan hujan angin kencang.
Jeritan irama musik kesedihanya dapat terdengar hingga ke berbagai makhluk penghuni rimba raya, hewan buas sampai melata ikut bergabung, berjalan tertunduk tanpa mengeluarkan bunyi terperangkap dalam perasaan kehilangan yang sama, lengkingan irama kesedihan semakin jelas terdengar hingga tiba di sebuah gundukan ranting seratus jenis pohon untuk dapat menyaksikan tarian kematian sebelum nafas terakhir sang elang terenggut dengan indah.
Menjelang ajal tiba, menunggu detik-detik nyawa keluar dari tubuhnya, tiba-tiba sang elang mengembangkan ekor serta sayapnya lebar-lebar hingga memercikan api menjilat ranting-ranting kering, api menjalar dengan cepat membakar seluruh gundukan ranting menimbulkan cahaya terang benderang menyinari sekitarnya hingga warna merah membara semakin lama menjadi sekumpulan abu.
Dari abu itulah elang penyendiri baru telah lahir kembali.