Selasa, 28 Oktober 2014

Puisi, Petrichor dan Tarian Hujan




Dengan bahasa apa bisa aku katakan ketika hujan baru mulai, bau tanah menguar ke udara, terhisap pelan oleh indera pernapasan dan ranting-ranting pohon mulai menggigil terbawa kibasan daun-daunnya yang basah tersapu angin. 


Ouch... 


Ingatkah kau akan tarian itu, ketika hujan pertama menabur kita berdua, kesaung bambu pinggir jalan kita terburu-buru, suara rintiknya diatas genting mencipta melodi sunyi, dan dipelatarannya yang mulai basah tergenang, diam-diam engkau malah sengaja menyongsong deraiannya, wajah tengadah menatap langit seolah menelisik muasal butiran, ketika menunduk sebentar, kau mulai mengibaskan rambutmu yang basah, menciptakan jipratan horisontal laksana ombak merayu pantai, kepalan tangan kirimu kausimpan dibelakang pinggang sedang tangan kanan menjulur seolah hendak memeluk alam, lima menit sudah kau telah mencitakan koreografi tari paling sunyi. Di saung itu, aku hanya bisa terpaku di balai-balainya tanpa suara tanpa mantera.


 Cianjur, 28 Oktober 2014

1 komentar:

Berikan Komentar Anda