Senin, 19 Desember 2011

Inner Beauty

                                                          
 Lontaran kata, hujaman rasa melantun jenuh seiring irama dengus napas dan tatap nyala berkobar dibola matamu yang sembab lembab membasah

aku hanya bisa memposisikan diri untuk duduk bersahaja, hanya menangkap rasa tanpa sejengkalpun berniat untuk berjingkat berkelebat

kuusahankan tidak hendak menangkap jilatan api  matanya, kuhindari disaat ini, saat api itu melekat erat  di garangmu dan kau tergerus rasa hingga melelehkankan  kekesalan

kenapa tidak memberi semampu kau dapat curahkan,  kucoba bertanya menyentuh langsung sisa jilatannya yang kini sudah semakin mengerdil

sampai saat inipun bapakmu masih sedang belajar memberi,  memberi itu berada diatas,  memohon selalu memposisikan diri dibawah

berusaha Memberi  itu berkeinginan untuk menjadi kaya, kaya harta, kaya jiwa dan kenapa tidak,  menjadi kaya hati

memberi itu tidak selamanya materi, kulirik sejenak kau sudah terduduk  menunduk dan kuambil kesempatan ini untuk meyiram baranya hingga lenyap, senyap  dan dingin melingkupi hatimu

memberi  itu bisa nasihat  juga senyum ataupun  do’a  sekalipun, serta sikap keluasan hati untuk ikhlas mendulang amal

memberi itu belajar menjadi kaya sekaligus menjadi kuat ketika segala keikhlasan amal  hanya bersandar kepada Nya

maksudku, jika ada yang memberi kenapa tidak kau terima selama tidak ada sesuatu dibaliknya,  sebagai mana juga nama Nya, sebagai Pemberi  Nikmat, kenapa tidak kau ambil berkahnya 

meminta dan memohon  kemurahan sesama itu sumpek, miskin dan selalu tampak tidak berdaya walaupun nyatanya kita memang  tidak berkecukupan

tampak kau mulai bisa merapatkan kelopak matamu menjelang  pulas dikursimu  yang akhir-akhir ini jarang menghampiri sampai selarut malam memanggil-manggil nyenyakmu

pergilah tidur sehat ditempat istirahatmu hingga esok subuh,  ketika seberkas sinar  mulai tampak diupuk timur, setelah wajahmu tersiram air sejuk dan hanya kepadaNya kau merunduk bersujud memohon, kau kembali menjadi bugar, tenang  dan jernih hatimu akan memancar kuat diaura mu

Dan suatu saat nanti jikapun kau hanya disebut sebagai mantan, dan nyatanya kau mungkin  telah sibuk dengan ladang amal baru dipelukanmu, kau akan dikenang sebagai embun  jernih pelepas  dahaga  bukan sebagai sosok pengobar amarah membahana.

       Sumber gambar: innocence

Alibukbrax

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berikan Komentar Anda