Minggu, 14 Agustus 2011

Romance


Ia baru saja menyelesaikan pekerjaan rumah seperti biasanya, membereskan tempat tidur sehabis kita terlelap tadi malam, mencuci piring dan tempat makanan sisa makan tadi malam, mencuci baju seluruh anggota keluarga, memasak untuk sarapan keluarga tanpa dibantu oleh tenaga kerja bayaran, kita sendiri masih mampu dengan ridho dan ikhlas katamu.

Dengan keringat masih mengucur dari keningnya, baju dasternya yang sedikit berantakan, wajahnya yang minim sekali make up, dan engkau membiarkan aku membantu alakadarnya, menyapu lantai untuk kemudian mengepelnya dengan sedikit cairan pengharum anti mikroorganisme sehingga rumah kita yang tidak besar cenderung mungil tampak lebih bersinar dan wangi.

Engkau sibuk saja menata meja makan menghidangkan masakan hangat hasil olahanmu menyiapkan  dengan praktis seperti piring-piring bersih ditempatkan diatas meja makan didepan kursinya masing-masing. Meja makan kita tidaklah besar waktu itu yak…cukup untuk menampung empat orang anggota keluarga kita, engkau aku dan sepasang anak kita yang masih balita.

Anak-anak kita sudah bersih waktu itu,  kataku dalam suatu hari libur, tadi aku memandikan keduanya dengan sedikit ada keributan kecil pada mulanya tetapi justru pada pertengahan dan akhirnya nyanyian anak-anak tempo dulu berkumandang seadanya diikuti suara koor anak-anak kita mengiringinya walau kadang kata-katanya sedikit kurang jelas karena kebalitaannya.

Meja makan itu  sudah penuh kursinya diisi masing masing anggota keluarga kita, semuanya dalam keadaan bersih sehabis mandi tadi. menyantap rakus semua yang tersedia dimeja makan karena berkat banyak tercurahnya energy  kala menyelesaikan pekerjaan rutin secara bersama-sama tadi.

Suara bising dengan hiruk pikuk keributan anak kita yang sedang berceloteh, suara denting sendok beradu dengan piring-piringnya, bagaikan irama simphony indah dan suara kita, suara engkau dan aku, kata-kata yang keluar dari mulut kita ketika mengajak anak-anak untuk membersihkan badan, menyuruh belajar mencopot pakaiannya sendiri, gumanan engkau ketika salah satu dari bumbu masak atau deterjen bahkan sabun dan odol kita habis terpakai kemarin, itulah suara Alto dan mezo soprano dari suara-suara kita sendiri mendendangkan lagu damai indah mengalun merdu.

Yak… itu beberapa tahun silam ketika anak-anak kita masih kecil, masih sekolah taman kanak-kanak, yang paling besar dan sicantik kita malah belum sekolah sama sekali, usianya baru sekitar kira-kira tiga tahun lebih menjelang empat tahun waktu itu.

Lalu ketika mencoba menerawang, ketika kita masih pacaran dulu, sebelum tali perkawinan kita terikat secara resmi atas nama agama kita dan didepan seseorang yang paling kita cintai yaitu ayah dan ibu, bunga indah kerap aku berikan kepadamu dengan sedikit kejutan tentunya dan senyummu terulas indah memandang rangkaian minim bunga itu, wajahmu sungguh mempesonakan waktu itu, debaran jantung ini sering dirasakan berdegup manakala kita duduk diteras rumahmu dengan diterangi lampu memperjelas pandangku …..Betapa cantiknya engkau waktu itu, pakaian yang serasi dan sopan, lipstick terulas sedikit seolah tanpa warna yang menyolok, dan rembulanku hadir menemani rinduku yang tertahan beberapa waktu sebelumnya.

Terkadang kita berjalan-jalan menyusuri trotoar kota kita yang kecil, mencicipi hidangan yang disediakan di restoran dan penjaja makanan kaki lima, menikmatinya sambil bercengkrama, sinar matamu memancarkan pesona yang sulit aku lupakan pada waktu itu, senyummu, tawamu, candamu, cemburumu bahkan marahmu masih terekam rapi disisi jiwaku. Hanya kurang dari setahun kita menikmati masa-masa indah itu untuk kemudian aku memutuskan dengan segala keberanianku melamar engkau kepada Bapakmu yang baik hati dan bijaksana tersebut.

Pernikahan kira dirayakan dengan sangat sederhana yak… akan tetapi hikmatnya masih dirasakan hari ini juga. Beberapa bulan kita hidup bersama satu atap bersama orang tuamu, menjaring waktu dengan seadanya, untuk kemudian kita memutuskan mengontrak rumah kecil dan romansa itu mengalir bagaikan air penuh rona didalamnya, ada sedikit pertengkaran kecil tetapi itu sungguh tidak berarti. Salah satu anak kita lahir di tempat kontrakan itu dan engkau memberi nama indah dipadu dengan usulan namaku.

Kini sejak puluhan tahun masa perkawinan kita, engkau masih saja gesit mengerjakan semua tugas-tugas rutin dirumah kita,  hasil jerih payah menabung bersama sekian puluh tahun, engkau  menyisihkan uang belanja bulanan dan aku menyimpannya atas kesepakatanmu. Dulu engkau mengatakan mumpung anak-anak kita masih kecil katamu, menabung untuk masa depan kita sedikit-demi sedikit telah menjelma menjadi rumah yang teramat mungil tapi hangat.

Anak-anak kita sekarang sudah dewasa, jauh dari rumah kita, menuntut ilmu demi masa depannya, ketika liburan panjang saja rumah ini menjadi ramai dan memupus kerinduan kita dengan canda tawanya, tapi harus dimaklumi yak… kini anak kita sudah memiliki lingkungannya sendiri, dunianya tersendiri, terkadang mereka sibuk mengikuti berbagai kegiatan organisasi yang positif sehingga waktu kita untuk berkumpul semakin pendek saja. Tidak apa-apa katamu ….toch itu merupakan suatu proses pembelajaran juga, suatu bekal untuk menghadapi dan melengkapi hidupnya kelak.

Yak… rumah kita kini seperti beberapa puluh tahun silam agak sepi, tinggal si jagoan anak bungsu kita yang umurnya hendak menginjak lima tahun, ramai sekali rasanya ya… dengan anak bontot kita itu, otoriter ala usianya kerap sedikit merepotkan kita. Jaraknya yang jauh dengan kakak-kakaknya, semakin banyak yang memanjakannya. Yak itu anugrah yang tak terperikan dari Allah SWT katamu selepas masa bersalin yang agak payah selesai dilaksanakan, nyatanya kini masih ada belaian dan do’a serta cerita anak-anak yang masih kita lantunkan dikala rumah ini sepi.  Sijagoan kita yang ganteng tetap saja berlari kian kemari sesekali dengan canggihnya memainkan video game yang saya sendiri bisa kalah dibuatnya…ha…ha.. Maklum anak-anak gerak refleknya dan keterbiasaannya membuat kita  kalang kabut mengimbanginya.

Semoga hari-hari yang kita jalani dengan indah akan tetap dapat mengawal perkembangan dan perjalanan hidup anak-anak kita sampai dipisahkan OlehNya.

Hanya menatap dan tersenyum saja barangkali ketika mereka memutuskan kelak untuk mengisi hidupnya menjadi bagian terkecil dari suatu keluarga lagi. Mengisi garis keturunan kita. Mudah-mudahan Allah SWT tetap melindungi kita semua Aminnn.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berikan Komentar Anda